Kaderisasi Pemimpin

Kaderisasi Pemimpin
Ilustrasi.net

WALAUPUN tidak seruncing seperti di kalangan kita saat ini,  kisah pertentangan antara generasi tua dan generasi muda pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Pada masa-masa dakwahnya, Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid yang belum genap berusia 20 tahun menjadi panglima perang.

Pada waktu itu, kaum generasi tua merasa kurang berkenan dengan pengangkatan tersebut. Apalagi dalam pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid terdapat Abu Bakar dan Umar, dua sosok shahabat Nabi saw yang sangat disegani dan dihormati semua orang.

“Masa dua orang tokoh terkemuka, orang tua menjadi prajurit, sementara sang muda menjadi panglimanya?” Demikian komentar orang-orang.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah saw mengumpulkan mereka yang kurang berkenan dengan pengangkatan Usamah bin Zaid. Di hadapan mereka, Rasulullah saw bersabda, “Sebagian orang kurang berkenan dengan kepemimpinan Usamah bin Zaid. Sebelumnya mereka juga kurang berkenan dengan kepemimpinan ayahnya (Zaid bin Haritsah), meskipun ayahnya layak menjadi panglima.”

“Usamah pun layak menjadi panglima. Dialah orang yang paling kusayangi setelah ayahnya. Aku berharap dia termasuk orang-orang terbaik di antara kalian. Karena itu perlakukan dia dengan baik.” Lanjut Rasulullah saw.

Rasulullah saw wafat sebelum pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid berangkat ke tempat tujuannya. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Usamah bin Zaid tetap menjadi panglima sebagaimana wasiat Rasulullah saw.

Secara kasat mata, kita dapat memahami pengangkatan Rasulullah saw terhadap Usamah bin Zaid yang masih belia menjadi panglima. Tujuannya tiada lain agar terjadi alih generasi serta lahirnya kader-kader penerus dakwah.

Rasulullah saw sangat mafhum, suatu saat, generasi tua akan berkurang segala-galanya. Untuk itu harus dipersiapkan kader dari generasi muda sebagai  penggantinya. Dengan demikian, kaderisasi itu bagian dari sunnah Rasulullah saw.

Sang generasi tua selayaknya tidak merasa dirinya lebih utama daripada generasi muda. Apalagi  jika keadaan sang generasi muda lebih mumpuni dalam ilmu, wawasan,  dan wibawanya. Generasi tua selayaknya menghindari prinsip  “yang muda tak boleh bicara, tak boleh memimpin sebelum mereka beranjak tua.”

Generasi tua selayaknya  berprinsip "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" (di depan memberi teladan, di tengah membimbing, dan di belakang memberi motivasi). Apalagi jika kaum muda sudah mumpuni dalam keilmuan, wibawa,  dan wawasannya. Biarkan mereka menjadi “Usamah bin Zaid” masa kini.

Sebagai bagian dari pelaksanaan sunnah Rasulullah saw, umat Islam sudah selayaknya mempersiapkan dan melakukan kaderisasi dalam setiap bidang kehidupan, terutama dalam kepemimpinan umat. Kaderisasi tersebut dapat kita latih mulai dari masjid. Hal ini sederhana, tapi insya Allah akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat dan masyarakat.

Apabila kita cermati, pada saat ini hampir setiap aktivitas masjid di sekitar kita dipimpin generasi tua. Imam shalat berjemaah, khatib, bahkan muazin pun “dikuasai”  generasi tua. Mereka belum berani memberikan kepercayaan dan tongkat estafet dakwahnya kepada generasi muda.

Lalu apa pentingnya kaderisasi imam masjid ini? Memang nampak sederhana. Namun bila kita benar-benar memperhatikan perjalanan dakwah Rasulullah saw, ia telah menjadikan masjid sebagai pusat penggemblengan kader-kader umat yang handal.

Di masjid pula Rasulullah saw menjelaskan wahyu yang diterimanya, menjawab pertanyaan para sahabat, membudayakan musyawarah, bersilaturahmi dengan para sahabat serta kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang menyangkut kepentingan umat.

Dari hasil menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat ini, telah melahirkan banyak kader-kader umat yang handal dan memiliki ghirah yang tinggi terhadap keislamannya. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dikenal sebagai khulafa al-Rasyidin merupakan generasi pertama yang unggul hasil gemblengan Rasulullah saw yang dipusatkan di masjid.

Zaid bin Tsabit yang kemudian lebih dikenal sebagai sekretaris Rasulullah saw merupakan generasi berikutnya yang juga digembleng di masjid. Demikian pula halnya dengan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash, dua orang sahabat nabi yang disegani kawan dan lawan.

Masih banyak sahabat lainnya yang semuanya merupakan alumni masjid Rasulullah saw. Mereka merupakan kader yang tidak saja cakap dalam urusan agama, namun juga sangat memahami urusan sosial kemasyarakatan. Sungguh menakjubkan strategi Rasulullah saw dalam membina umat berbasis masjid. 

Berkenaan dengan strategi dakwah Rasulullah saw, Sayyid Qutub menyimpulkan, “Salah satu faktor keberhasilan Rasulullah saw dalam dakwah dan pembinaan masyarakat adalah melaksanakan pola pembinaan masyarakat berbasis masjid.” 

Kita sangat merindukan lahirnya generasi dan alumni masjid seperti sahabat Rasulullah saw. Untuk dapat melahirkan generasi tersebut, salah satu jalannya adalah memfungsikan kembali masjid secara maksimal. Kita harus mengampanyekan agar umat peduli, mencintai, memakmurkan masjid, dan mempersiapkan kader-kader “panglima” masjid dari kalangan generasi muda yang sudah terbina dengan baik.

Masjid bagi umat Islam merupakan starting point pemberdayaan dan kemajuan umat. Semakin piawai umat Islam dalam mengelola, memberdayakan masjid dan jemaahnya, insya Allah kemajuan akan segera dapat diraih.

Kini saatnya generasi tua mempercayai dan memberikan tongkat estafet dakwahnya kepada generasi muda yang sudah terbina dengan baik. Izinkan mereka untuk berlatih menjadi “panglima” umat berawal dari aktifitas keumatan melalui masjid. Mari kita ciptakan perubahan dan kemajuan diri kita sendiri, bangsa, dan negara ini dimulai dari masjid.

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.” (Q. S. 9 : 18).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...