Junta Myanmar Pesta Pora Ketika Ratusan Rakyatnya Dibunuh

Junta Myanmar Pesta Pora Ketika Ratusan Rakyatnya Dibunuh
Ilustrasi Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, saat melakukan inspeksi pasukan. (AFP/Ye Aung Thu)

CAKRADUNIA.CO - Junta militer Myanmar dilaporkan menggelar pesta mewah dan jamuan makan malam pada akhir pekan lalu, sementara para serdadu dan polisi menembaki rakyat yang ikut berdemontrasi  menentang  kudeta.

Dilansir CNN, Selasa (30/2), dalam rekaman video yang beredar di media sosial terlihat Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, berada di dalam jamuan makan malam di Ibu Kota Naypyitaw pada Sabtu (27/3) pekan lalu.

Dalam video itu, Min terlihat berjalan di karpet merah dengan mengenakan setelah pakaian rapi dengan dasi dan jaket berwarna putih. Saat itu dia menyapa sejumlah tamu undangan.

Jamuan makan malam itu digelar usai parade militer untuk memperingati Hari Angkatan Bersenjata.

Kegiatan itu digelar setiap tahun untuk memperingati perang kemerdekaan melawan tentara pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.

Pada saat itu juga bertepatan dengan Hari Tabaung atau peringatan bulan purnama yang juga menandai akhir sistem penanggalan nasional di Myanmar.

Selain itu Hari Tabaung juga dinilai penting bagi umat Buddha Myanmar yang memperingatinya dengan cara berkunjung dan berdoa di pagoda.

Dalam pidato di parade militer, Min mengatakan akan berusaha menjaga keselamatan rakyat dan menegakkan demokrasi. Sampai saat ini junta militer Myanmar belum memberikan pernyataan terkait kegiatan jamuan makan malam itu.

Padahal tepat di hari itu, aparat keamanan Myanmar menembak mati 114 orang pedemo di 44 kota kecil dan besar. Di antara korban meninggal terdapat anak-anak dan remaja.

Menurut catatan Perhimpunan untuk Bantuan Tahanan Politik Myanmar (AAPP), sampai saat ini korban meninggal selepas  kudeta pada 1 Februari lalu mencapai 510 orang.

Menurut laporan saksi, aparat keamanan Myanmar semakin gelap mata dengan menggelar razia dadakan dan mendatangi rumah penduduk yang dianggap menjadi sarang kelompok pro demokrasi.

Menurut para saksi, aparat Myanmar bahkan tega melepaskan tembakan senjata api secara acak dan merekamnya. Hal itu membuat jumlah korban jiwa dalam pergolakan di negara itu terus bertambah.

Bahkan di Kota Bago, aparat keamanan Myanmar menembaki penduduk yang tengah melayat persemayaman jenazah seorang mahasiswa, Thae Maung Maung (20), yang meninggal dalam unjuk rasa.

Menurut AAPP, pasukan dan polisi Myanmar tidak segan melempar granat ke arah penduduk sipil yang berdemo. Bahkan, kata mereka, serdadu Myanmar menggunakan senjata mesin untuk memberondong warga sipil.

Tekanan dari dunia, baik di kawasan Asia Tenggara maupun negara berpengaruh seperti Amerika Serikat hingga Inggris, nampaknya belum mampu membuat junta Myanmar tunduk, meski sudah dikenakan berbagai sanksi. Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pun nampak tidak berdaya untuk mencarikan jalan keluar dalam gejolak di Myanmar.

(cnni)

Komentar

Loading...