Joseph Ernest Renan, Roger Garaudy, dan Emmanuel Macron

Joseph Ernest Renan, Roger Garaudy, dan Emmanuel Macron
Roger Garaudy.

JOSEPH  Ernest Renan merupakan salah seorang filosof Perancis abad ke-19. Ia lahir 28 Februari 1823. Sesuai dengan latar belakangnya sebagai filosof, ia banyak melahirkan berbagai teori dari hasil renungan-renungan filsafatnya.

Sang Filosof ini sangat mengagumi ilmu pengetahun dan agama yang dianutnya, yakni kristen. Tak heran jika pendidikannya banyak dihabiskan di pendidikan tinggi gerejawi di kota asalnya yaitu Tréguier.

Pada tahun 1838,  Renan mendapat tawaran untuk belajar di Seminari Saint-Nicolas-Du-Chardonnet.  Selain belajar di seminari Saint Nicolas, Ernest Renan juga pernah belajar di Seminari Iissy-Les-Moulineaux dan seminari Saint-Sulpice.

Pada tahun 1852,  ia mendapat gelar doktor sastra dengan disertasinya tentang filsuf muslim,  Ibnu Rusyd. Kemudian Pada tahun 1863 ia menulis sebuah buku berjudul “Vie de Jésus” (kehidupan Yesus). Ia menulis kehidupan asli Yesus dan mengungkap mitos-mitos semutar kehidupan Yesus.

Masih banyak karya lainnya, namun satu hal yang perlu digarisbawahi, ia mendapat gelar doktornya dengan meneliti pemikiran filosof muslim, Ibnu Rusyd. Oleh karena itu, setidaknya ia telah mengenal sebagian kecil dari ajaran Islam.

Satu kisah menarik dan harus menjadi autokritik bagi kita sebagai muslim adalah ketika  Renan berdialog dengan Muhammad Abduh, seorang ulama dan intelektual muslim asal Mesir. Ia berdialog dengan sang ulama inetelektual seputar nilai-nilai keluhuran Islam dan Kristen.

Pada mulanya, sang filosof Perancis tersebut terdesak, ia mengakui konsep-konsep keluhuran Islam. Namun tak dinyana, kemudian ia berkata, “Coba tunjukkan kepadaku  diantara umat Islam yang merupakan gambaran dari konsep-konsep keluhuran Islam yang hebat yang tadi Anda sebutkan?”

Mendapat pertanyaan tersebut, Muhammad Abduh tertunduk sedih. Ia tak dapat menyangkal bahwa kaum muslimin masih terbelakang.

Dialog tersebut terjadi pada akhir abad ke-19. Pada saat itu dunia Islam sedang mengalami kemunduran. Negeri-negeri muslim dijajah Barat, padahal sebelumnya pada abad ke-13, dunia Islam berada pada puncak kejayaan.

Meskipun mempelajari pemikiran filosof  muslim, sampai akhir hayatnya  Renan tak masuk Islam. Ia meninggal pada usia 69 tahun, tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1892 di Paris, Perancis. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Montmartre di Paris.

Masih berkenaan dengan filosof  Perancis, ada satu lagi filosof terkenal asal Perancis, yakni Roger Garaudy. Ilmuwan dan Filosof ini lahir pada 17 Juli 1913 di Marseille, Prancis, dan wafat pada 13 Juni 2012. Menginjak usia 69 tahun, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Latar belakangnya yang beragama Kristen namun aktif di Partai Komunis sering menimbulkan benturan dan gejolak dalam jiwanya. Berkali-kali ia mencoba menyatukan antara konsep Marxisme dan iman Kristiani. Namun demikian, secara konseptual keduanya bertentangan satu sama lain, tak mungkin bersatu. Kristen mengajarkan ihwal transendensi dan harapan akan akhirat. Sementara Marxisme penekanannya kepada materialisme historis, dan  mengingkari segala transendensi serta kepercayaan akan hal-hal ghaib.

Benturan dan gejolak dalam jiwanya sering melahirkan  pemikiran-pemikiran  yang nyeleneh dan selalu memberikan kritik keras terhadap konsep komunis.  Hal ini mengakibatkan pada tahun 1970 ia dipecat dari kepartaian komunis  .

Singkat cerita, setelah dipecat dari Partai Komunis ia mencurahkan pemikirannya kepada peradaban, termasuk peradaban Islam. Jauh sebelum ia masuk Islam, ia sudah bersimpati terhadap Islam dengan menyumbangkan pemikirannya tentang peradaban Islam.

Satu hal yang membuatnya masuk Islam adalah keadilan dan kebijakan yang dilakukan para algojo ketika ia menjadi tahanan politik di Aljazair. Pada September 1940,  ia dan sejumlah tahanan lainnya digelandang ke sebuah kompleks  penjara di kawasan gurun Aljazair. Hukuman itu berlangsung 33 bulan lamanya.

Hukuman di penjara ini merupakan  awal Garaudy menekuni agama-agama. Di negeri asing tersebut, ia banyak menghabiskan waktunya dengan mempelajari kitab-kitab suci Taurat, Injil, dan al Quran. Kesempatan tersebut pun merupakan kali pertama baginya berinteraksi langsung dengan masyarakat Islam.

Pada Maret 1941,  sejumlah tahanan politik melakukan pemberontakan di kompleks tahanan, namun pihak penguasa rumah tahanan dapat mengendalikannya dengan sigap dan cepat. Sesaat kemudian, komandan penjara mengumpulkan semua tahanan yang terlibat di sebuah lapangan terbuka.

Dengan penuh murka, sang komandan mengeluarkan para tahanan dan dijemur di bawah terik matahari dan panasnya gurun pasir. Sang komandan penjara menyuruh regu algojo yang berkebangsaan Aljazair untuk menembak mereka sampai mati. Akan tetapi, seluruh algojo menolaknya. Pada awalnya, Garaudy heran dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Sebab, cekcok mulut antara komandan dan para algojo menggunakan bahasa Arab yang tidak dipahaminya.

Belakangan, Garaudy mengetahui pokok persoalannya dari seorang  sipir. Para algojo itu membangkang instruksi sang komandan karena kehormatan sebagai muslim melarangnya melepaskan tembakan kepada orang-orang tidak bersenjata. Perilaku tersebut menjadikan dirinya semakin simpati terhadap Islam, dan mendorong dirinya untuk semakin mendalam mengenal Islam,  dan pada akhirnya mengantarkan dirinya mengucapkan dua kalimah syahadat.

Berbeda dengan Renan dan Garaudy  dua tokoh ilmuwan Perancis yang dihormati, Emmanuel Macron begitu benci terhadap Islam. Jika kedua ilmuwan, filosof  besar asal negaranya tersebut mau berdialog, berdiskusi, meneliti tentang Islam, tidaklah demikian dengan Macron. Ia begitu membenci Islam tanpa lagi mau berpikir ulang terhadap pernyataannya yang memojokkan, menghina, dan melecehkan Islam dan Nabi Muhammad saw.

Sangat sayang sekali Presiden Perancis termuda di negaranya ini tak memiliki wawasan keagamaan dan kenegaraan yang dapat mengangkat kemuliaan negaranya. Ia hanya menjadikan agama sebagai bahan kampanye ketika ia mencalonkan diri menjadi presiden saja.

Pada masa-masa kampanye, Oktober 2016, dalam pidatonya ia sangat menghargai seluruh agama, termasuk Islam. Ia mengatakan, “Negara harus netral karena merupakan jantung dari sekularisme. Kita berkewajiban untuk membiarkan semua orang menjalankan agama mereka dengan adil.”  

Namun, ternyata pidatonya tersebut hanya retorika untuk menarik suara saja. Sebab setelah menjadi presiden, pernyataannya ketika kampanye bertolak belakang dengan kenyataan setelah ia menjadi presiden. Sangatlah bijak jika ia menghormati seluruh ajaran agama termasuk agama Islam.

Perancis merupakan negara maju dan besar. Saudara-saudara kita yang beragama Islam banyak yang berdomisili di sana. Ilmuwan yang cerdas dan para pemimpinnya yang berpengaruh di dunia  pun banyak di sana.

Salahkah apabila kita berharap, ada ilmuwan dan kalangan terkemuka Perancis pada saat ini yang mengikuti jejak Roger Garaudy,  bersimpati kepada Islam dan pada akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadat?

Salahkah jika kita berdoa seperti ketika Rasulullah saw berdoa, memohon kepada Allah agar memperkuat Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab?

Salahkah jika kita berdoa dan berharap agar ada pemimpin besar dunia yang bersimpati terhadap Islam, umatnya, dan kemudian dengan tulus hati memeluk Islam, menjadi pembela Islam seperti Umar bin Khattab? ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut

Komentar

Loading...