Jika Penyimpanan Tak Memadai, Akses Vaksin untuk 3 Miliar Orang Terancam

Jika Penyimpanan Tak Memadai, Akses Vaksin untuk 3 Miliar Orang Terancam
Petugas medis Rusia menyuntik relawan dengan vaksin potensial Sputnik V di Moskow, beberapa waktu lalu. | AP/Alexander Zemlianichenko Jr

CAKRADUNIA.CO, Gempala - Akses vaksin Covid-19 untuk sekitar 3 miliar orang terancam. Alasannya karena tak semua negara memiliki fasilitas memadai untuk menyimpan vaksin. Padahal, vaksin Covid-19 yang paling menjanjikan sekalipun memerlukan penyimpanan dengan standar tertentu mulai dari pabrik hingga ke tangan penerima vaksin. 

Negara kaya sekali pun memiliki kesulitan menyimpan vaksin. Apalagi jika vaksin itu memerlukan penyimpanan pada suhu minus 70 derajat celsius. 

Pandemi Covid-19 telah memasuki bulan ke-8. Namun, investasi di bidang penyimpanan vaksin tampaknya tertinggal dibandingkan perkembangan dari vaksin itu sendiri. 

Para ahli logistik memperingatkan bahwa banyak wilayah di dunia yang kekurangan fasilitas pendingin yang memadai untuk mendukung program vaksinasi. Wilayah-wilayah yang rentan antara lain Asia Tengah, sebagian besar India, Amerika Latin kecuali negara besar, Asia Tenggara, dan nyaris seluruh wilayah Afrika. 

Salah satu contohnya bisa ditengok di Burkina Faso, Afrika. Sebuah klinik yang terletak di Kota Gampela, menjadi cermin klinik di berbagai negara dunia berkembang. Gedung berbalut debu itu melayani 11 ribu warganya. 

Sejak lemari pendingin rusak pada musim gugur lalu, klinik ini tidak lagi bisa menyimpan vaksin tetanus, demam kuning, TB, atau vaksin untuk penyakit lainnya. Menurut seorang perawat, Julienne Zoungrana, staf klinik hanya bisa mengandalkan motor untuk membawa vaksin dari rumah sakit di Kota Ouagadougou, dalam wadah dengan pelapis yang menjaga tetap dingin.

Artinya, membutuhkan sekitar 40 menit perjalanan pulang dan pergi dengan melalui jalan sempit yang kerap di tengah kepulan debu, jalan tak rata, dan berbatu.

Perempuan di Burkina Faso menerapkan protokol jaga jarak saat melaksanakan shalat berjamaah Ramadhan lalu.- (REUTERS/Anne Mimault)

Seorang pasien yang berkunjung ke klinik di Gampela mengatakan, program vaksinasi akan menghadapi tantangan tersendiri di wilayahnya. sang pasien, Adama Tapsoba (24 tahun), harus berjalan empat jam di bawah terik matahari untuk membawa bayinya mendapat vaksinasi rutin. Kadang ia harus menanti berjam-jam untuk diperiksa dokter.

"Tentu sulit sekali mendapatkan vaksin (Covid-19)," ujarnya, sambil membetulkan letak gendongan bayinya yang baru berusia lima bulan. "Orang harus antre di rumah sakit, dan bisa saja mereka akhirnya pulang dengan tangan kosong."

Untuk menjaga rantai penyimpanan vaksin yang memadai di negara berkembang, organisasi internasional telah mengupayakan pemasangan puluhan ribu lemari pendingin bertenaga surya. Menjaga suhu vaksin tetap stabil sejak tahan pembuatan hingga diberikan kepada pasien membutuhkan mobil pendingin, listrik yang bisa diandalkan, jalan yang tenang, dan tentu saja perencanaan yang baik. 

Untuk Burkina Faso, peluang terbesar untuk mendapat pasokan vaksin adalah dari inisiatif global Covax, yang dipimpin Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan aliansi vaksin Gavi. Tujuan utama Covax adalah mengawasi kandidat vaksin unggulan yang dikembangkan lalu menyalurkannya kepada yang membutuhkan.

Menurut WHO, saat ini ada 42 kandidat vaksin yang menjalani fase uji coba klinis. Sedangkan 151 vaksin lainnya masih dalam tahap evaluasi pra-klinis. Beberapa vaksin yang paling menjanjikan menurut penilaian Covax saat adalah vaksin yang harus disimpan dalam suhu 2-9 derajat celsius. 

Produk Pfizer misalnya, termasuk kandidat vaksin unggulan. Vaksin ini harus disimpan pada suhu ultracold atau amat dingin. Perusahaan sudah merancang tempat penyimpanan vaksin mereka. Kini mereka juga tertarik untuk bergabung dengan Covax dan menandatangani kontrak dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.

Penyimpan medis pada suhu hingga minus 70 derajat celsius bahkan jarang ditemukan di rumah sakit AS dan Eropa. Banyak para ahli menilai, negara Afrika Barat yang pernah menderita wabah Ebola pada 2014-2016 mungkin paling siap di benua tersebut. Alasannya, vaksin Ebola membutuhkan penyimpan ultracold. 

Namun, bagi lebih dari dua pertiga bagian dunia, teknologi maju menjadi hambatan. Ini menurut penilaian perusahaan logistik asal Jerman, DHL. Padahal, miliaran penduduk di benua Afrika tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk mempertahankan suhu penyimpanan vaksin.

Salah satu hambatan lainnya adalah jauhnya jarak pengiriman vaksin. DHL memperkirakan ada 15 ribu kargo penerbangan yang dibutuhkan untuk memvaksinasi seluruh penduduk planet Bumi untuk melawan Covid-19. 

"Kami ingin menemukan jembatan penghubung," kata Katja Busch, petinggi DHL, mengacu pada upaya mempersempit jurang pemisah dalam penyimpanan vaksin. "Ini soal investasi, sebagai anggota masyarakat, inilah yang harus kita lakukan."

Bahkan jika penerbangan cukup dingin dan sering, ada risiko lainnya. WHO memperkirakan bahwa separuh dari vaksin secara global mungkin terbuang sia-sia. Penyebabnya antara lain karena terpapar panas atau ampul yang pecah saat transit. 

"Vaksin itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja di hangar... karena vaksin akan rusak dan mungkin tidak akan bisa dipakai lagi --atau bahkan lebih buruk lagi, bisa saja orang tetap mendistribusikannya," kata Glyn Hughes, kepala perusahaan kargo global International Air Transport Association.

Vaksin itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja di hangar.

Kini diperlukan aneka kreativitas. Gavi dan badan PBB yang mengurusi anak-anak, Unicef, bereksperimen dengan drone untuk mengirimkan vaksin. Sementara pejabat India memunculkan ide untuk memanfaatkan jaringan penyimpanan makanan beku yang tersebar luas di negaranya. Penyimpanan makanan itu mungkin akan dialihfungsikan untuk menyimpan vaksin.

"Mereka berpikir, jika orang bisa berpikir bagaimana mengirimkan es krim, berarti mereka juga bisa mengantarkan vaksin," kata Tinglong Dai, peneliti khusus bidang logistik kesehatan di Johns Hopkins University, AS. [ROL]

Komentar

Loading...