Breaking News

Jembatan Naleung Terancam ‘Ambruk’, Siapa Peduli

Jembatan Naleung Terancam ‘Ambruk’, Siapa Peduli
Tiang penyangga jembatan sudah kropos, kini hanya menunggu patah dan ambruk. Siapa peduli dengan kondisi ini. Foto/cakradunia.co/Rachman.

SUDAH hampir 14 tahun silam, sejak pembangunan jembatan penghubung di Gampong Naleung, kecamatan Julok, Aceh Timur masyarakat bisa menikmati kemudahan untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun, ancaman terisolir Gampong Naleung semakin hari akan menjadi kenyataan yang tak akan terelakkan, jika pemerintah tidak segera menangani jembatan utama warga setempat akan terancam ambruk.

Jembatan sepanjang 100 meter dan Lebar 3 meter telah menjadi kekhawatiran masyarakat akan terancam terisolir setelah kondisi besi peyangganya dari hari ke hari mengalami korosi akibat kandungan air asin dan papan kayu alas jembatan sudah puluhan kali di ganti akibat kelapukan.

Dengan jumlah penduduk Gampong Naleung 1.080 Jiwa ini, jembatan menjadi akses termudah, ramai dan hemat dalam memenuhi kebutuhan kesehatan, pendidikan dan peningkatan perekonomian bagi warga.

Jarak menuju ibukota Kecamatan Julok melintasi jembatan hanya sekitar 3 kilometer, jika melewati jalur darat dengan berputar jauh warga harus menempuh jarak 10 kilometer melewati sejumlah kampung dengan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan.

Keuchik Gampong Naleung, Zainuddin Jembatan Naleung menjadi akses penghubung utama bagi warga desa dan semua anak-anak sekolah mulai dari SD, SMP, dan SMK Negeri 1 Julok ada diseberang gampong mereka yang hanya berjarak kurang dari 1 kilometer.

“Hasil dari petani tambak dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya, jembatan Naleung merupakan harapan besar kami, agar selalu utuh,”ujarnya Keuchik Din, begitu sapaan akrabnya.

Pelajar Gampong Naleung saat melintas jalan menuju sekolah di Julok sekitar 1 kilometer lebih. Foto/cakradunia.co/Rachman 

Zainuddin terus bercerita bahwa dua bulan lalu di tengah pandemi Covid-19, baru saja selesai merehap dengan anggaran dana gampong sisa pembayaran bantuan langsung tunai (BLT) amanah pemerintah,  karena kondisi sekarangnya lantai jembatan yang terbuat dari papan mulai lapuk kembali.

“Kayu dengan kualitas bagus saja paling bertahan hanya 1 tahun. Karena sudah lapuk, mau tak mau lantai jembatan harus kami rehab, agar warga dan anak-anak sekolah kami mudah akse ke Julok. Bila runtuh dan tak bisa digunakan sayang, warga harus memutas jauh,” katanya.

Dengan kondisi jembatan sekarany, dalam bayangannya bila air sedang pasang, boat nelayan tidak bisa melewatinya  dan juga bagi anak sekolah tidak bisa untuk menuju ke sekolah kecuali air surut. 

Penulusuran cakradunia.co, sejumlah kondisi penyangga sudah banyak terlepas, patah dan rusak. Belum lagi dalam beberapa tahun terakhir, menurut informasi yang dihimpun telah  terjadi pemotongan besi tua penyangga, membuat masyarakat semakin resah, entah sampai kapan jembatan tersebut bertahan.

Selama kondisi jembatan mengalami kerusakan parah, dari pengakuan masyarakat telah banyak calon pejabat atau calon anggota dewan dari pusat hingga kabupaten dalam mencari suara, berjanjii akan mewujudkan aspirasi membangun kembali jebatan secara keseluruhan.

Kaur Umum dan Perencanaan Gampong Neleung, M. Amin mengatakan pembangunan dengan menggunakan anggaran dana gampong saja untuk pengiriman material harus melewati gampong Lhokseuntan dengan biayanya  bertambah ongkos pengiriman. Karena jembatan sudah tidak bisa lagi dilintas truk ukuran besar.

“Pernah ada janji, sehingga pernah kita coba mengukur bangunan dengan harapan akan ada kabar baik bagi masyarakat. Namun, yang hadir hanya tim teknik dari anggota dewan pusat, dan buktinya sampai sekarang belum ada tindak lanjut sama-sekali,” ujar M. Amin.

Lantai jembatan setelah direhap dengan dana gampong. Foto/Cakradunia.co.Rachman 

Di sore hari saat santai duduk di warung kopi, warga gampong menimpalkan cerita bahwa pada masa mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf masih mencalonkan diri di tahun 2017. kami pernah mendengar akan membangun jembatan naleun. Namun, kini Bang Wandi sudah tidak berada di Aceh. 

“Pak Gubernur mana lagi, kami akan mengadu nasib ini, sehinggara jalur utama kami tidak terancam putus,” timpal Abdullah.

Setelah perhelatan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Aceh Timur tahun 2017, ada kandidat yang tidak memenangkan pada pilkada tersebut, namun dia sempat menggatikan lantai papan dengan dana pribadinya  melihat sangat prihatin. Namun, dia tidak bisa berbuat lagi setelah gagal.

“Sekarang kami harus pragmatis saja. jika ada calon pejabat daerah baik legislatif maupun eksekutif yang ingin mendapatkan suara di daerah ini, sebelum pemilihan janji terus dan bubuhi materai. Siapkan pembangunan jembatan,  kaku kita pikirkan suara satu gampong untuk diri penyumbang itu,”ucap M. Amin

Tahapan pengajuan proposal sudah pernah beberapa kali diajukan, namun belum ada realisasi. Di perhelatan pemilihan kepala daerah, warga menunggu dari pemerintah secara langsung juga belum ada jawabannya. Kedepan, kalaupun ada anggota atau ada calon politisi yang ingin mendapatkan kursi, biasanya setelah mendapatkan kursi jabatannya, program masa kampanyenya hanya sebegaia janji-janji manisnya saja.

Munazir Sekertaris Tuha Peut Gampong (TPG) mempertanyakan, seperti apa jadinya jika nanti jembatan Naleung tidak ada lagi, bagaimana hasil petani tambak untuk di bawa keluar dengan jalur melewati Gampong Lhokseuntang yang jauh dan harus mengeluarkan biaya transportasi akan membengkak dan anak sekolah tidak mungkin harus menempuh jarak sejauh itu.

“Bila rusak atau putus jembatan Naleung, kondisi warga semakin sulit. Bagi petani tak mungkin mengakut dengan menggunakan becak. Jadi ini sulit, maka pemerintah harus memikirkan untuk memperbaiki jembatan itu,”katanya penuh harap.

[Rachman]

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...