iklan bener Duka Cita Gub - Bambang

Hingga Pantai Seberang:

Jawa dari Pandangan Seorang Insider

Jawa dari Pandangan Seorang Insider
Novel, Hingga Negeri Seberang

Oleh:Aquarina Kharisman Sari

Ketika seorang wanita menulis atau berwacana, maka dia segera disebut feminis. Seolah-olah, hanya penganut gerakan feminisme saja yang berbicara tentang wanita. Bila ada cerita tentang wanita-wanita yang menjadi subjek di dalam cerita, maka disebutlah tokoh-tokoh wanita itu memiliki “kuasa,” atau “melawan” sesuatu yang menghegemoni. Entah apa yang disebut-sebut menghegemoni itu, apakah sistem, atau relasi antar manusia?

Novel ini adalah tentang wanita-wanita, orang-orang Jawa. Mereka tak melawan apa-apa. Mereka justru menjadi refleksi atas egalitarianisme jender khas Asia Tenggara yang sudah dikenali para antropolog. Kalaupun di dalamnya terkesan ada perlawanan, itu adalah perlawanan terhadap suatu narasi dominan, atau narasi tunggal tentang Jawa.

Dalam budaya populer, narasi tentang Jawa telah dipengaruhi oleh semangat orientalisme. Ia tetap tempat yang penuh tahayul, klenik, dengan dukun-dukun jahat. Wanita Jawa juga masih diimajinasikan seperti jaman kolonial: eksotis, erotis, innocent, dan pihak yang meraih “kuasa” setelah terlebih dahulu diperdaya dan ditindas lingkungan sosialnya. Lihat saja film-film horor Ibukota, segala macam hantunya berasal dari Jawa. Bahkan yang secara kultural sesungguhnya indah dan mengandung makna filosofis atau spiritual tertentu, telah dikonstruksi sedemikian rupa untuk mempertahankan imaji tentang Jawa yang eksotis dan innocent (primitif).           

Jawa dalam novel ini adalah masyarakat yang memiliki filosofi dan spiritualitas, dan kehidupan wanita-wanitanya adalah sebuah sub-kultur. Wanita-wanita ini mencari cinta. Betapa, pandangan manusia tentang Tuhan dipengaruhi oleh cara pandang dan tafsir mereka tentang cinta. Tuhan bisa hadir dalam bentuk laki-laki, atau wanita, atau netral jender; Tuhan bisa hadir sebagai penguasa tiran, atau seorang kekasih. Tuhan bisa hadir sebagai alam atau kekosongan alias bukan apa-apa.

Kebudayaan memberi pengaruh atas cara pandang ini. Seorang manusia urban mungkin melihat Tuhan di dalam teks atau khotbah yang berapi-api; seorang petani mungkin melihat Tuhan dalam rasa syukurnya atas hasil bumi dan kedamaian di tanah lapang.

Ternyata, Tuhan tak tunggal secara tafsir. Tafsir itu begitu bebas dan independen, digali sendiri oleh wanita-wanita ini saat berusaha memaknai cinta dalam hidup mereka. Tafsir itu tidak dikungkung oleh suatu lembaga (secara formal saja begitu). Namun dalam kehidupan, tak ada lembaga resmi, atau kekuasaan, yang menghalangi bagaimana para wanita mengamini tuhan-tuhan sesuai kebutuhan batinnya masing-masing.                                               

Kata “kuasa” terdengar terlalu dramatis. Mengapa satu pihak harus memiliki kuasa atas pihak lain, apalagi dalam relasi dua manusia? Dalam novel ini tak ada siapapun yang menguasai siapapun. Yang ada hanya orang miskin atau orang kaya, wanita priyayi atau gadis jelata dan lain-lainnya. Wanita-wanita yang kehilangan diri sendiri, terperdaya ambisinya sendiri, dan akhirnya menemukan dirinya sendiri. Kalaupun ia miskin, patah hati, ditinggal selingkuh atau kawin, itu bukan karena penindasan, namun hanya kesialan karena bertemu orang-orang pembawa sial. Dan hidup memang kadang sial kadang beruntung, kadang bergelora kadang melempem, kadang manis kadang kecut. Tak perlu mendramatisasinya. Kehidupan ya begitu itu. Sepanjang perjalanan, ada percik-percik Tuhan yang mengena dan membuat wanita-wanita ini merenung dan menata lagi, merenung dan menata lagi. Dan itu tak akan berhenti, hingga mereka menyeberang. Menuju Yang Sejati.[]

Komentar

Loading...