Jangan Bosan dengan 3M + 1 T

Jangan Bosan dengan 3M + 1 T
Ilustrasi. pujodadi-kecbonorowo.kebumenkab.go.id

SAMPAI  saat ini, melaksanakan 3M + 1 T (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, dan Tidak berkerumun) masih dinilai ampuh dalam mencegah dan mengendalikan tersebarnya pandemi Covid-19. Karenanya, demi kemaslahatan bersama, kita harus tetap melaksanakannya.

Jika keampuhan 3M + 1 T ini kita adopsi dan diperluas kependekannya, jargon ini bukan hanya ampuh dalam mencegah tersebarnya pandemi Covid-19 saja, tapi juga merupakan salah satu kunci meraih kemaslahatan  kehidupan kita. Adapun 3M + 1T yang dimaksud adalah Musyawarah, Munajat, Mujahadah, dan Tawadhu’.

Musyawarah merupakan upaya mencari solusi dari rumitnya masalah. Jika berkenaan dengan jamaah atau organisasi, musyawarah bisa dilakukan secara terbuka atau terbatas dengan jamaah atau anggota organisasi. Adu argumen dan pendapat pasti terjadi disertai pengambilan keputusan yang cepat maupun alot. Namun, apapun keputusan yang diambil dari hasil musyawarah keuntungan dan kerugiannya akan ditanggung bersama,  dan tidak akan merugi orang-orang yang mengambil keputusan dari hasil musyawarah.

Musyawarah bukan hanya diperlukan ketika kita berjamaah atau berorganisasi, namun musyawarah diperlukan juga ketika kita memiliki persoalan pribadi. Dalam hal ini, musyawarah identik dengan meminta nasihat atau petunjuk dari orang lain untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi. Namun demikian, dalam meminta petunjuk atau solusi dari masalah yang kita hadapi, kita harus menghindarkan diri dari sifat mengeluh atas persoalan yang kita hadapi.

Selain itu, kita harus benar-benar mencari orang yang kapabel dalam mencarikan solusi atas permasalahan yang tengah kita hadapi, dan yang paling penting orang tersebut dapat kita percaya. Satu hal lagi yang paling penting, orang tersebut tidak  akan menceritakan lagi permasalahan kita kepada orang lain, terlebih-lebih jika dijadikan konsumsi publik.

Selain mencari orang yang dapat kita percaya untuk memecahkan masalah yang kita hadapi, kita harus “bermusyarah” dengan Allah. Kita memohon petunjuk kepada Allah atas segala permasalahan yang tengah kita hadapi. Shalat istikharah merupakan salah satu upaya  “bermusyawarah” dengan Allah, meminta petunjuk-Nya dalam  mencari solusi terbaik  dari berbagai dilema masalah yang tengah kita hadapi.

Shalat istikharah dan berzikir merupakan bagian dari Munajat.  Perbuatan ini merupakan serangkaian permohonan kepada Allah agar kita dapat sabar dan berhasil dalam menyelesaikan segala problema kehidupan yang kita hadapi. Munajat merupakan  pengakuan akan ke-Mahakuasaa-an Allah, hanya Dia yang pantas senantiasa kita libatkan dalam segala aspek kehidupan.

Munajat juga merupakan sunnah atau perilaku para Nabi dan Rasulullah dalam menjalani kehidupan ini. Meskipun mereka sudah dijamin segalanya oleh Allah, tak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang melepaskan bermunajat kepada Allah dalam melaksanakan tugas yang diembannya. Siang-malam mereka berjuang menyampaikan risalah dari Allah tanpa sedetik pun meninggalkan munajat kepada Allah.

Rasulullah saw senantiasa mewasiatkan kepada kita untuk selalu bermunajat, berdo’a, baik dalam menghadapi persoalan yang dianggap kecil, terlebih-lebih jika menghadapi persoalan besar. Berbagai munajat bisa kita laksanakan, baik melalui zikir selepas shalat, melaksanakan berbagai shalat sunat, membaca al Qur’an, maupun zikir-zikir lainnya.

Satu hal yang perlu kita catat dan kita yakini, tak akan merugi orang-orang yang senantiasa melibatkan Allah dalam meniti tangga kehidupannya. Ketenangan, kenyamanan, dan tentu saja kebahagiaan akan diperoleh orang-orang yang senantiasa melibatkan Allah dalam kehidupannya.

Namun demikian, munajat kepada Allah jangan sampai melepaskan unsur kemanusiaan kita, yakni mujahadah atau sungguh-sungguh dalam melakukan ikhtiar. Ketika akan berangkat ke medan peperangan, Rasulullah dengan khusyuk bermunajat kepada Allah, namun ia tidak melupakan sosok dirinya sebagai manusia yang memiliki kelemahan, karenanya ia pun melakukan upaya maksimal mempersiapkan dirinya agar tidak terluka dalam kancah peperangan. Sebelum berangkat ke medan peperangan, ia melengkapi dirinya dengan baju besi dan pedang yang tajam.

Suatu perbuatan yang patut kita teladani, Rasulullah saw saja yang segalanya dijamin Allah, ia masih melakukan mujahadah, melakukan upaya maksimal dalam melakukan suatu perbuatan, apalagi kita. Oleh karena itu, munajat, menyerahkan segala urusan kita secara total kepada Allah harus diiringi pula dengan mujahadah, bersungguh-sunguh dalam melakukan ikhtiar.

Keberhasilan kita dalam hal apapun hanya akan diperoleh manakala kita benar-benar tidak mengenal lelah dalam berikhtiar, dan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah-langkah ikhtiar yang kita lakukan.  Tergolong suatu perbuatan sombong manakala kita hanya memiliki keyakinan, tanpa melibatkan Allah, apapun yang kita upayakan akan memperoleh keberhasilan.

Orang yang benar-benar meyakini akan Kebesaran dan Kekuasaan Allah, ia akan merasakan dirinya lemah, tak memiliki daya dan kekuatan apapun tanpa pertolongan Allah. “Laa haula wa laa quwwata illa billah.” Tak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.

Orang yang menyadari akan kelemahan dan ketidakberdayaannya, ia akan bersikap tawadhu’, merasa hina,  dan merasa rendah di hadapan Allah. Ia merasakan benar-benar  membutuhkan pertolongan Allah.

Allah hanya akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya. Ia tak akan membiarkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya  berkubang  sendirian dalam menghadapi permasalahan yang mereka anggap sulit. Ia pun akan memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang tawadhu’, merasa hina di hadapan-Nya.

Sebaliknya, Ia akan menghinakan orang-orang yang sombong, orang yang merasa kuat, dan tidak melibatkan  Allah dalam meniti setiap tangga kehidupannya. Kelelahan dan permasalahan yang tidak pernah mendapatkan solusi, kesedihan dan ketidaktenangan hidup akan diperoleh orang-orang yang sombong. Secara materi mereka hidup dengan harta yang melimpah, namun hatinya kering, gersang, jauh dari kebahagiaan.

Selayaknya kita senantiasa menerapkan musyawarah, munajat, mujahadah, dan selalu menjaga ketawadhu’an kita dalam meniti setiap tangga kehidupan. Dengan cara seperti itu kehidupan kita akan bermakna bagi sesama seraya tidak nirpahala di hadapan Allah. Semoga. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...