Jalan Cerita, Gang Gagasan

Jalan Cerita, Gang Gagasan
Ilustrasi

Jalan Cerita senantiasa ramai oleh pengendara motor, mobil pribadi, kendaraan umum, dan pejalan kaki. Setiap hari Cerita Pendek bersama anak kandungnya, Imaji, setiap hendak pergi ke Gang Gagasan, Cerita Pendek dan Imaji selalu melewati jalan yang sama, Jalan Cerita.

Sekali waktu Cerita Pendek mampir ke rumah temannya, Tuan Kritikus. Kepadanya Cerita Pendek bercerita, Imaji sering bereriak-teriak ketika melihat sekelompok orang berpakaian putih-putih membuang-buang air mineral baik air kemasan dalam botol, gelas, maupun galon.

"Boikot, boikot, boikot!" Dengan garang seorang lelaki berpakaian putih berteriak.

"Bakar produk penista agama dan nabi kita!" Suara mereka lebih nyaring dari deru knalpot kendaraan.

Imaji, lanjut Cerita Pendek, bergegas ke tengah kerumunan dan menyelinap ke sela-sela orang-orang yang terus membuang produk air kemasan itu ke tengah jalan. Dihampirinya seorang lelaki yang sekujur tubuhnya penuh tato sedang memperhatikan orang-orang yang membuang air kemasan.

"Kenapa diam?"

"Kamu tahu siapa saya?" hardiknya kepada Imaji.

"Itu yang ingin saya pastikan. Badanmu penuh tato, napasmu bau alkohol," bisik Imaji. "Kamu bukan orang baik-baik," tegas Imaji. Lelaki itu tertawa. "Bagaimama kalau air-air itu kita rampas?" Imaji bertanya ragu.

"Bahahahaha. Akhirnya, akhirnya ada teman ke neraka.". Imaji merangkulnya.

"Tenang, aku punya banyak anak buah. Biar anak buahku yang bekerja, kita ngopi sambil gembel-gembel itu bekerja"

"Mau diapain air hasil rampasan itu?" Desak Imaji.

"Kita jual, sebagian tukar dengan air kemasan merk lain lalu kita berikan kepada mereka."

"Mereka yang kamu maksud siapa?"

"Mereka yang teriak-teriak boikot itu."

Imaji dan lelaki kekar itu tertawa.

***

"Itu menarik, tapi klise." jawab Tuan Kritikus.

"Tak adakah kata atau kalimat lain selain 'klise'? Timpal Cerita Pendek.

"Seharusnya, imaji jangan menemui preman bertubuh kekar." katanya, "akan lebih menarik kalau yang ditemui adalah buruh-buruh yang bekerja di pabrik air kemasan itu. Bayangkan, bagaimana para buruh itu mengemasi air yang disedot dan diolah dari tanah kelahiran para buruh itu. Kemudian keuntungan dari penjualan lari ke negara yang kata mereka, kata mereka menghina nabi."

"Ah, itu bukan hanya klise. Dasar kritikus kebanyakan minum air kemasan." Cerita Pendek beranjak.

"Eh, hendak kemana?"

"Pulang. Mau menulis cerita pendek yang tak klise." jawab Cerita Pendek.[]

Mahwi Air Tawar, lahir dan besar di Sumenep Madura, 28 Oktober 1983. Cerpen dan puisi Mahwi juga termuat di sejumlah antologi bersama. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit, Tanéyan (2015), Tanah Air Puisi, Puisi Tanah Air (2016), Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi (2018).

Mahwi juga sudah menerbitkan buku kumpulan cerpennya, di antaranya Blater (2010), Karapan Laut (2016). Blater terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2012.

Cerpennya yang berjudul “Pulung” terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari STAIN Purwokerto 2011. Ia juga terlibat sebagai kurator Temu 4 Penyair Indonesia, kurator dan editor buku kumpulan puisi perdamaian Menggerus Arus, Menyelami Aceh, (puisi perdamaian penyair 8 Negara, 2018), ia pernah menjadi peserta dan kurator kegiatan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Saat ini Mahwi tinggal di Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...