Jabatan itu Medan Jihad

Jabatan itu Medan Jihad
Ilustrasi.net

PADA tulisan sebelumnya telah dipaparkan ragam aktivitas yang tergolong jihad dan mati syahid. Pada tulisan kali ini penulis memunculkan kembali kata jihad. Harapannya agar setiap orang, baik muslim maupun nonmuslim tidak mengidap “jihadphobia”, tidak takut dengan kata “jihad”. Kata jihad tidak selalu bermakna perang fisik dengan mengangkat pedang atau senjata lainnya.

Hal tersebut sama halnya dengan konsep “bela negara”. Tidak selamanya “bela negara” harus dilakukan dengan aktivitas mengangkat senjata alias perang. Bela negara merupakan suatu sikap patriotisme mengangkat harkat, martabat, dan kemuliaan negara. Karenanya, setiap perbuatan baik yang dapat mengangkat harkat, martabat, dan kemajuan negeri tergolong ke dalam perbuatan “bela negara”.

Menjadi seorang aparat atau pejabat negara yang amanah, jujur, tidak berkhianat, tidak menggunakan jabatan/kekuasaan untuk kepentingan sendiri dan golongan merupakan perbuatan yang termasuk ke dalam bela negara. Dari sudut pandang Islam, seorang pejabat muslim yang jujur dan amanah, ia tergolong kepada seorang mujahid yang tengah berperang di medan laga.

Adapun medan laganya bukanlah medan laga yang bising dengan desingan suara peluru atau dentuman suara bom yang meledak, namun ia tengah berjuang melawan berbagai bisikan dari dirinya agar tidak menyalahgunakan atau menyelewengkan jabatannya. Perang melawan musuh di medan laga secara fisik itu berat, namun lebih berat lagi jika yang harus dilawannya adalah bisikan hawa nafsu yang ada pada dirinya.

Tidaklah mengherankan jika melawan hawa nafsu, tergolong kepada jihad besar. Banyak orang yang gagah berani di medan laga, mampu mengalahkan musuh-musuhnya yang bersenjata lengkap, namun ia tak mampu mengalahkan bisikan kegagahan hawa nafsunya sendiri.

Islam sangat menghargai orang-orang yang mengurus dan melayani kepentingan khalayak selama ia berbuat adil, jujur, dan amanah. Dari sekian banyak orang yang akan mendapatkan perlindungan Allah kelak di padang mahsyar, salah satunya adalah pejabat/pemimpin yang adil, jujur, dan amanah. 

Seorang pejabat yang mengurus kepentingan rakyatnya, ia seperti amil zakat yang mengurus harta zakat untuk dibagikan kepada para mustahiq. Bukan perbuatan mudah untuk dapat menahan diri agar tidak tergoda dengan tumpukan uang dan barang yang ada dalam kekuasaannya. Tak sedikit amil zakat yang menyelewengkan kekuasaannya, menggunakan uang atau barang yang terkumpul dipakai untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau golongannya. Demikian pula, banyak pejabat yang menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau golongannya.

Dua kasus korupsi yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, dan Menteri Sosial Juliani Batubara merupakan bukti nyata dan aktual penyelewengan jabatan. Betapa banyak pejabat yang tidak tahan dengan godaan uang, barang, dan bisikan hawa nafsu serta bujukan dari lingkungan sekitarnya untuk menyelewengkan jabatannya.

Dari dua kasus korupsi tersebut, yang menghentak perasaan publik adalah kasus korupsi yang dilakukan menteri sosial. Betapa tidak, ia dan kroninya begitu tega melipat dana bantuan sosial untuk rakyat yang tengah hidup dalam situasi himpitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Ia benar-benar gelap mata, tidak lagi dapat membayangkan penderitaan rakyat akibat perbuatannya.

Disinilah bukti, jabatan dan kekuasaan merupakan medan peperangan bagi para  pemangkunya. Ia harus gagah berani melawan bisikan hawa nafsunya yang mengajak menyalahgunakan kekuasaaannya.

Ia pun harus siap dibenci jika tidak mengikuti bisikan kroni-kroni dan lingkungannya yang mengajak atau memberi peluang untuk menyelewengkan jabatannya. Ia pun harus berperang, sekuat tenaga menutup mata dan telinga, melipat tangannya dari iming-iming pemberian hadiah atau suap  jika ia bisa membukakan pintu kolusi dengan pihak lain.

Rasulullah saw, menggolongkan para pejabat yang jujur, amil zakat yang jujur setara dengan orang-orang yang tengah berperang di medan laga. Oleh karena itu, tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan, jabatan dan kekuasaan itu adalah medan jihad. “Orang yang jujur ketika menjadi amil (pengurus zakat, pengurus kepentingan khalayak) laksana orang yang berperang di jalan Allah sampai ia kembali ke rumahnya (H. R. Ahmad, Abu Daud, at Tirmizi, dan al Hakim).

Pejabat yang benar-benar jujur dan amanah, ia adalah seorang mujahid yang tengah berperang melawan hawa nafsunya. Ia pun sedang berperang melawan berbagai godaan manis dari pihak lain untuk menyelewengkan jabatannya. Hadiah maupun suap yang selalu menjadi tawaran bagi pejabat, ia tolak keras. Sebab apapun bentuknya, hadiah maupun suap bertentangan dengan hukum positif maupun hukum agama (syari’at Islam).

Rasulullah saw mengangkat Ibnu al Lutbiah menjadi pejabat pengurus zakat (amil zakat). Suatu ketika, ia datang menghadap Nabi saw, dan berkata, “Ini bagian untukmu, dan ini hadiah untuk saya.”

Singkat kisah, mendengar perkataan tersebut Rasulullah saw memerintahkan agar orang-orang yang telah diangkat sebagai pejabat yang ditunjuk untuk mengurusi kepentingan umat, hendaklah ia jujur, tidak menerima suap dan hadiah. Apapun bentuk suap dan hadiah yang diberikan kepadanya, tak mungkin dilakukan siapapun jika ia tidak memiliki jabatan atau kekuasaan yang membuat dirinya disegani semua orang.

Seseorang yang memangku suatu jabatan dan kekuasaan harus memandangnya sebagai titipan dari Allah.  Kelak, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas jabatan atau kekuasaan yang diembannya. Karenanya,  ia wajib berhati-hati dalam mengemban amanah tersebut.

Kejujuran dan amanah, mementingkan kepentingan khalayak, tidak egois, tidak khianat, profesional; hanya menerima upah/gaji sesuai ketentuan; dan didasari keyakinan kepada Allah harus menjadi pegangannya. Dengan cara seperti ini, jabatan atau kekuasaan yang diembangnya akan berharga dan mulia di hadapan manusia dan Allah swt. 

Sudah bukan rahasia lagi, jabatan dan kekuasan selalu identik dengan tawaran kemewahan baik berupa fasilitas, uang, harta, dan kemewahan lainnya. Jika moral seorang pejabat sirna, keyakinannya lemah, sikap jujur dan amanahnya lenyap dari dirinya, ia akan menjadi orang yang rakus, menggunakan jabatannya untuk mencuri dan memakan hak-hak orang lain.

Sepintas, harta orang-orang yang menyalahgunakan jabatan atau kekuasaan nampak menggiurkan. Uang dan harta bisa berlimpah dalam waktu sekejap. Namun demikian, dalam jangka panjang, sebenarnya mereka tengah berjalan menuju lubang kecelakaan dan kehinaan yang ia gali sendiri. Ia sedang “bunuh diri” dengan menggunakan senjata yang ia sandang, yakni kebohongan dan ketidakjujuran.

Berbahagialah para pejabat yang jujur dan amanah. Mereka setara dengan orang-orang yang tengah berperang. Jika ia berhasil “memenangkan peperangan”, setelah usai  mengemban amanat jabatannya, ia akan hidup mulia tanpa cercaan dari siapapun. Seandainya ia meninggal ketika mengemban tugas sebagai seorang pejabat atau penguasa yang jujur dan amanah, pahala gelar mati syahid akhirat akan menjemputnya. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

  

Komentar

Loading...