Breaking News

Islamophobia, Ketakutan yang Dipaksakan

Islamophobia, Ketakutan yang Dipaksakan
Ilustrasi.

PIDATO Emmanuel Macron, Presiden Perancis  yang mendeskriditkan Islam telah kembali mengingatkan kita akan sebuah istilah rancu yang ditujukan kepada Islam. Istilah tersebut adalah Islamophobia. Hal yang menjadi rancu dalam istilah tersebut adalah penggunaan kata phobia.

Phobia berasal dari bahasa Yunani, phobos yang berarti takut. Phobos sendiri merupakan sosok dewa yang menakutkan. Biasanya digambarkan dengan sosok berwajah seram, bertaring tajam yang bercucuran darah, dengan latar belakang gambar api yang membara. Tugas dewa ini adalah mengusir musuh-musuh yang mengacaukan negeri Yunani.

Kartini Kartono dalam “Patologi Sosial 3, Gangguan-Gangguan Kejiwaan” (1986 : 146) menyebutkan, phobia adalah ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional, dan tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi atau objek tertentu. Masih menurut buku ini, beberapa penyebab phobia diantaranya pernah mengalami ketakutan hebat yang disertai rasa malu dan bersalah.

Secara keilmuan, istilah “Islamophobia”  yang berkembang pada saat ini bukanlah istilah yang mengacu kepada psikologi klinis, seperti misalnya nomophobia (ketakutan berlebihan ketika berpisah dengan handphone), ophidiophobia (ketakutan berlebihan akan ular), atau pyrophobia (ketakutan berlebihan akan api). Namun, istilah Islamophobia lebih mengarah kepada emosi dan sikap negatif yang diarahkan kepada Islam dan umatnya.

Berdasarkan definisi phobia tersebut, tak salah rasanya jika kita berburuk sangka kepada para pencetus Islamophobia, jangan-jangan mereka menciptakan istilah  tersebut karena mereka pernah berbuat kecurangan terhadap Islam dan umatnya. Mereka menyadarinya dan merasa malu, namun tak mau mengakui kecurangannya. Untuk menutupi perilakunya mereka membuat istilah tersebut.

Dilihat dari akar sejarahnya, secara konseptual, istilah Islamophobia muncul di Eropa pada abad ke-13. Pada tahun 1912, istilah ini muncul pertama kali dalam bahasa Prancis “Islamophobe”.  Pada tahun 1920-an, istilah “Islamophobia” muncul dalam bahasa Inggris.

Pada tahun 1918, Étienne Dinet dan Sliman Ben Ibrahim dalam  buku karyanya “La Vie de Mohammed, Prophete d'Allah (Kehidupan Muhammad, Sang Nabi Allah)”  menggambarkan Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) sebagai garis politik resmi Prancis ketika menghadapi tentara-tentara Muslim dalam Perang Dunia Pertama. Dengan demikian, sebenarnya, istilah “Islamophobia” lebih menggambarkan tentang ketakutan masyarakat Barat terhadap kebangkitan dunia Islam era pascakolonial.

Islamophobia merupakan “senjata” yang sengaja diciptakan untuk melemahkan kekuatan Islam. Para konseptor istilah ini sengaja membuat stigma agar semua orang menganggap Islam dan umatnya sebagai ancaman yang membahayakan kehidupan bangsa-bangsa di dunia.  Logika-logika sesat tentang Islam mereka munculkan seperti Islam tidak menghargai kaum wanita;  Islam disebarkan dengan pedang (kekerasan); Islam tak mendukung demokrasi; Islam merupakan ancaman bagi pemerintahan yang sah,  dan lain sebagainya.  

Strategi ini berhasil mereka sebarkan, bahkan bisa menembus pikiran orang-orang yang mengaku muslim. Tak sedikit orang yang mengaku muslim merasa takut dengan ajaran agamanya sendiri, takut dengan syari’at Islam, takut dengan saudaranya sendiri yang benar-benar taat melaksanakan ajaran Islam, bahkan merasa resah jika al Qur’an dan sunnah Rasul dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di negara-negara tertentu, konsep Islamophobia dijadikan “senjata” ampuh untuk melumpuhkan umat Islam dan segala aktivitasnya. Islamophobia sering dilakukan baik secara verbal, visual,  maupun fisik.

Pidato Emmanuel Macron, presiden Prancis yang tengah hangat dibicarakan pada pekan-pekan ini merupakan bentuk Islamophobia secara verbal. Sebelumnya telah diawali warganya dengan melakukan Islamophobhia secara visual, yakni dengan membuat kartun Nabi Muhammad saw. 

Sementara secara fisik, Islamophobia sudah beberapa tahun ini dilakukan beberapa negara. Mereka menganiaya umat Islam dan membatasi seluruh ruang geraknya agar tak leluasa melakukan aktivitas keislamannya. Cina menteror  muslim Uyghur, Israel menteror dan membantai orang-orang Palestina,  otoritas Myanmar menganiaya muslim Rohingya, dan masih banyak kasus lainnya.

Jika kita melacak peristiwa dalam sirah Nabawiyah, sebenarnya ketakutan terhadap Islam sudah ada sejak jaman Arab jahiliyah. Para tokoh kaum  Quraisy pada waktu itu dengan berbagai cara menolak dakwah Rasulullah saw.

Di hati kecilnya,  mereka mengetahui akan kelahiran dan kebenaran Nabi akhir zaman sebagaimana yang pernah mereka dengar dari para leluhurnya, juga dari kita-kitab agama terdahulu. Demikian pula dengan akan datangnya agama yang mulia, Islam. Namun demikian, perasaan takut akan kehilangan kekuasaan dan wibawa, akhirnya mereka menyembunyikan kebenaran tersebut. Untuk menutupinya, mereka menyebarkan propaganda negatif tentang Nabi Muhammad saw dan ajaran yang dibawanya.

Mereka menciptakan stigma terhadap Nabi, mereka mengatakan Rasulullah saw tukang sihir; berpenyakit ayan; orang yang sakit ingatan, dan lain sebagainya. Selain menciptakan stigma terhadap ajaran Islam, mereka pun mengajak orang-orang  pada waktu itu untuk membatasi ruang gerak umat Islam secara sosial dan ekonomi. Mereka mengajak orang-orang untuk tidak berinteraksi sosial dan tidak bertransaksi ekonomi dengan kaum muslimin.

Saya yakin, banyak kalangan terkemuka Barat yang mengakui kehebatan Islam, namun seperti halnya para tokoh kafir Quraisy, mereka merasa takut kehilangan segala sesuatu yang telah mereka miliki pada saat ini. Mereka takut kehilangan kekuasaan dan wibawa mereka yang pada ujung-ujungnya mereka takut kehilangan harta mereka. Akhirnya pengakuan kebenaran Islam mereka buyarkan dan diganti dengan menyebarkan stigma.

Kita harus membuktikan, tak ada alasan untuk merasa takut dengan kehadiran Islam dan umatnya. Islam bukan ciptaan Nabi Muhammad saw apalagi ciptaan para pemuka Islam, namun langsung diturunkan Allah, Dzat yang Maha Mengetahui akan kehidupan masa lalu, hari ini, dan pada masa yang akan datang. Islam hadir di muka bumi untuk membawa kedamaian, ketentraman, kenyamanan hidup bagi seluruh makhluk Allah.

Umat Islam wajib menciptakan kedamaian dan ketentraman hidup bagi seluruh makhluk Allah dimanapun  ia tinggal. Ajaran Islam melarang melakukan penganiayaan terhadap siapapun selama mereka tak mengusik ajaran Islam dan kehidupan umatnya.

Konsep Islamophobia harus kita luruskan. Kita harus memberikan terapi  kepada orang-orang yang sudah teracuni konsep Islamophobia yang rancu tersebut.

Seperti sudah disebutkan pada tulisan-tulisan sebelumnya, memperlihatkan akhlak yang baik;  mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan; toleran terhadap agama dan kepercayaan orang lain merupakan cara terbaik untuk meluruskan konsep Islamophobia. Dengan cara seperti ini, diharapkan dapat menjadi terapi bagi pengidap Islamophobia, dan mengurangi kesalahpahaman orang-orang  nonmuslim terhadap Islam. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...