Breaking News

Iskandar, dari Giling Obat Hingga Jadi Pejabat

Iskandar, dari Giling Obat Hingga Jadi Pejabat
Iskandar, S.Sos, M.Si, Kadis Pariwisata Kota Banda Aceh.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

MUNGKIN banyak staf bahkan pejabat di Balai Kota Banda Aceh tidak tahu bagaimana perjalanan Iskandar, S.Sos, M.Si meniti karir hingga kini menjadi Kadis Pariwisata  Kota Banda Aceh.

Media cakradunia.co sendiri yang sudah lama mengenal sosok Iskandar (51) baru sekarang tahu, ayah empat anak ini pernah menjadi tukang giling obat bertahun-tahun di apotik Banda Aceh.

Ketika itu, alumni Sekolah Menengah Farmasi ini bekerja di Apotik Rahmi Farma dan enam bulan kemudian diterima sebagai asisten apoteker di Apotik Kimia Farma.

Namun, setelah dua tahun lebih berkutat dengan dunia farmasi, dia merasa tak betah bekerja di ruang sempit yang sangat terkungkung dari dunia luar yang hari-hari termasuk giling obat dan penuh dengan resep-resep.

Bosan dengan suasana itu, lalu terpikir untuk mengubah nasibnya ingin menempuh pendidikan umum dengan mengikuti ujian persamaan di SMA Safiatuddin Lamprit Banda Aceh dan tamat tahun 1988.

“Waktu di apotik saya bekerja di ruang sempit dan sangat terkungkung, terasa dunia ini sangat kecil bang. Waktu itu, saya terpikir harus segera ubah haluan untuk melanjutkan sekolah umum,”katanya mengenang masa lalu sambil tertawa lepas kepada cakradunia.co di salah satu sudut kota Banda Aceh beberapa hari lalu.

Iskandar: belasan tahun kelola keuangan Balai Kota. Foto/Cakradunia.co/Helmi Hass

Setelah mengantongi ijazah SMA, Iskandar berminat ingin menjadi pamong di pemerintahan. Untuk itu, dia mencoba melanjutkan pendidikan ikatan dinas dan alhamdulillah di terima di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) hingga selesai pada tahun1991, kemudian diangkat menjadi PNS sebagai staf bagian keuangan di Balai Kota  Banda Aceh, ketika itu Walikotanya Drs Baharuddin Yahya.

Ditengah kesibukkannya mengurus keuangan rumah tangga Balai Kota, semangat Iskandar untuk menimba ilmu tak pernah berhenti. Untuk mempersiapkan masa depannya lebih baik, dia harus menyelesaikan kuliah S1 nya di sekolah tinggi swasta. Saat itu, dia memilih Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Banda Aceh dan lulus pada tahun 1995, tidak lama kemudian diangkat menjadi Kasub TU Keuangan Pimpinan di Walikota.

Setelah hampir 10 tahun mengelola keuangan di Balai Kota, Iskandar melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang S2-nya di Fakultas Ekonomi Unsyiah dan rampung tahun 2002.

Ketika Mawardi Nurdin menjadi Walikota tahun 2005, Iskandar dipromosikan menjadi Camat Bandar Raya dan tiga tahun kemudian dimutasi jadi Camat Kuta Alam. Belum setahun di sana, pada 2008 diangkat lagi menjadi Kepala Satpol PP dan WH  Banda Aceh.

Pada tahun 2010, Iskandar dilantik sebagai Kepala Kantor Lingkungan Hidup dan dalam tahun itu juga dimutasi lagi jadi Kepala Inspektorat Banda Aceh. Setelah empat tahun menjabat sebagai ‘bos’ pengawasas keuangan dan pembangunan pada 2014 menjadi Asisten Pemerintahan.

Dalam mutasi setahun kemudian jadi Ketua Bappeda (2015), lalu balik lagi jadi Asisten Ekonomi Pembangunan pada tahun 2017 dan kini jadi Kadis Pariwisata Banda Aceh yang dijabat mulai tahun 2019 lalu hingga sekarang.

Iskandar, sederhana dan murah seyum. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Sepanjang tahun 2005 sampai 2019 atau selama 14 tahun, Iskandar mengalami sembilan kali mutasi jabatan – yang paling banyak mutasi dalam eselon II. Dari catatan ini, boleh jadi Iskandar sangat banyak pengalaman dalam menjalankan pemerintahan di berbagai sektor di Pemko Banda Aceh. Mungkin bisa mengalahkan banyak pejabat di Balai Kota.

Namun, sosok suami Irma Sari ini sangat tenang dalam mengembankan tugasnya, sehingga banyak orang tidak tahu kalau lagi berpapasan dengannya di luar jam dinas kantor bahwa Iskandar seorang pejabat teras di Balai Kota. Kesederhanaannya dan senioritasnya dalam jabatan membuat dia tampak enjoy dalam menjalani pekerjaan dan selalu menebarkan senyum.

Lalu, bagaimana ketika mantan Kepala Satpol PP dan WH ini menjabat sebagai Kadis Pariwisata Banda Aceh. Iskandar mengakui harus banyak belajar, karena dunia pariwisata masih sangat awam baginya selama puluhan tahun menjadi pejabat.

Dalam dunia pariwisata, bagi Iskandar, yang sangat penting bagaimana membangun inovasi dan kreatifitas setiap waktu. Karena semua mitranya adalah pelaku pariwisata, mulai dari pihak PHRI, entertaiment, para EO hingga seniman.

“Di pariwisata ini banyak tantangannya bang, tapi juga sangat mengasyikkan. Saya terus belajar dan bekerja keras untuk menghidupkan kembali kunjungan wisata di Kota Banda. Harus membangun inovasi dan kreatifitas tanpa henti, ”kata Ketua Yayasan Politeknik Aceh ini optimis.

Tantangan eksternal sangat banyak. Kondisi itu muncul, karena masyarakat belum terbiasa dengan dunia pariwisata, sehingga sering terjadi gesekan dan berkembang berbagai isu negatif. Sedangkan tantangan internal, SDM di Dinas Pariwisata belum memadai sebagaimana yang diinginkan, mungkin hanya 50 persen yang paham bahwa pariwisata Islami memiliki pasar yang mencerahkan bagi masa depan Kota Banda Aceh.

Bila ada tempat kuliner yang berkembang jauh dari pusat keramaian akan diduga ada macam-macam, dikhawatirkan terjadinya khalwat.Namun, disisi lain ekonomi rakyat harus menggeliat tumbuh untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka setiap hari.

Dilema ini, secara bertahap ingin disinergikan sehingga ada titik temu yang menguntungkan bagi perkembangan wisata dimasa mendatang.

Membangun wisata, bagi Iskandar, butuh kesabaran dan harus lebih memahami karakteristik banyak orang, bagaimana menyadarkan masyarakat jadi ramah, jujur dan menyenangkan bagi tamu yang datang berkunjung ke Kuta Raja untuk menikmati kuliner yang rasanya selalu dikenang ketika mereka kembali ke kampung halamannya.

Iskandar bersama keluarga, Irma Sari (istri) dan sang buah hati, Muhammad Reza Maulana, Spd, Muhammad Hafidz Ananda, Muhammad Fazlur dan si bungsu, Muhammad Syamil Aulia.Ist

Untuk itu, Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh terus mensosialisasinya sisi positif bagi wisatawan terutama melalui pegiat wisata, seperti Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Aceh, Asosiasi Pelaku Pariwisata Aceh (Asiata), Pramuwisata Aceh, termasuk para seniman untuk membantu mengedukasi pariwisata ke warga guna mengembalikan geliat ekonomi di tengah pandemi covid-19 ini.

Diakui Iskandar, selama kasus virus corona, Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Banda Aceh sangat anjlok. PAD dari sektor pariwisata, perhotelan hanya tinggal 35 persen lagi. Kondisi ini sangat besar imbasnya bagi pelaku sektor ekonomi ini.

Padahal, urutan pertama untuk PAD Banda Aceh selama ini dari sektor pariwisata, baik melalui perhotelan maupun restoran. Bila dalam satu tahun saja ada wisatawan datang ke Banda Aceh mencapai 500 ribu orang dan masing-masing membawa uang Rp 1 juta, maka perputaran uang di sektor ini cukup banyak.

“Coba bayangkan bang, 10 persen saja untuk pajak dari jumlah kunjungan Itu. Ini baru dua sektor hotel dan restoran saja, belum lagi ekonomi kreatif, pertunjukan, soufenir, travel dan lain-lain. Namun, pajak itu tidak sepenuhnya sampai ke kas daerah. Ini, perlu dievaluasi, sehingga kantong-kantong PAD tidak terus bocor,”urai alumni S2 Ekonomi Unsyiah ini mengingatkan.

Sementara, pemindahan Pasar Peunayong Banda Aceh ke Lamdingin untuk mengubah wajah kota sesuai program Waterfront City yang sudah lama di rencanakan yaitu menyatunya taman kota dan kuliner akan segera terwujud.

Arealnya dimulai dari jembatan Peunayong hingga batas komplek masjid akan ditata sebagai kawasan gampong bersejarah. Peunayong yang didiami manyoritas warga WNI turunan Tionghoa itu akan menjadi kampung kebersamaan dan keberagaman.

“Gampong Peunayong akan kita tata seapik mungkin, sehingga desa pinggir sungai itu nantinya akan menjadi obyek wisata sejarah yang menarik. Untuk itu, lonceng Laksamana Cheng Ho akan dikembali ke sini, sebagai sejarah kampung Tionghoa atau China Town,”sebutnya.

Termasuk juga sejarah Marcopolo yang pernah berlabuh di Peunayong melalui Krueg Aceh akan menghiasi Peunayong yang dikenal dengan minuman khas wine Aceh.

“Rupanya, minuman wine Aceh yang populer itu “ijok mameh” mungkin juga sudah dijadikan minuman “Tuak” asli yang rasanya sangat khas, sehingga dikenang oleh Marcopolo,”tutur laki-laki kelahiran Peuniti Banda Aceh, 13 September 1968 ini sambil tertawa lebar.

Iskandar, selalu memanfaatkan waktu libur santai bersama keluarga. Ist

Dalam bayangan, mantan penggiling obat ini, obyek wisata Peunanyong mengingatkannya pada The Molten Village (kampung tradisional Melayu) yang merupakan salah satu obyek wisata di sekitar Melaka River Cruise. Kampung yang mempertahankan kontruksi rumah Melayu tempo dulu bisa disaksikan dari  tepi sungai yang melintasi Kota Malaka, Malaysia.

“Menyusuri sungai Krueng Aceh hingga ke kuala Lampulo  sama seperti kita menyusuri sungai Melaka yang di kiri kanannya dipenuhi bangunan bersejarah, sangat indah. Jadi ini, perlu kita wujudkan,” kata ayah Muhammad Reza Maulana.   

Ketika menjadi pejabat yang mengurus pariwisata Ibukota Propinsi Aceh, Iskandar mereview kembali bagaimana tragedi Tsunami yang begitu dahsyat melanda kota Banda Aceh akan meninggalkan banyak  jejak ganasnya gelombang raya yang akan menjadi situs sejarah  diberbagai sudut desa dan kota. Ingin sekali, ada sebuah gampong bekas amukan tsunami itu tetap seperti apa adanya, dibiarkan jadi sebuah museum alam “Gampong Tsunami” sebagai saksi sejarah bagi penduduk dunia. 

Namun, jejak itu sudah hampir sebagian besar tak berbekas. Kini, hanya tinggal sejumlah kecil bukti sejarah bahwa Tsunami pernah hijrah dan meluluhlantakkan kota tua Banda Aceh yang sudah berusia 815 tahun, pada suatu pagi, Minggu kelabu, 26 Desember 2004 lalu - yang mayat-mayatnya bak anai-anai bertaburan separuh Kuta Raja.

Helmi Hass

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...