Ini 4 Fakta BI Rate dan Gejolak Ekonomi Global yang Perlu Diwaspadai Indonesia

Ini 4 Fakta BI Rate dan Gejolak Ekonomi Global yang Perlu Diwaspadai Indonesia
Bank Indonesia (Foto: Okezone)

CAKRADUNIA.CO, Jakarta  - Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) di angka 3,5% basis poin (bps). 

Kondisi ini muncul karena mempertimbangkan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga. Berikut empat fakta BI Rate hingga kewaspadaan Indonesia akan gejolak ekonomi global, Sabtu (20/11/2021) dikutip okezone. 

1. BI Pertahankan Suku Bunga Berdasarkan asesmen secara keseluruhan, Rapat Dewan Gubernur BI pada 17 - 18 November lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 3,50%. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, keputusan itu mempertimbangkan perlunya stabilitas nilai tukar rupiah. 

"Keputusan ini mempertimbangkan perlunya stabilitas nilai tukar rupiah dan akselerasi ekonomi," kata Perry di Jakarta, Kamis (18/11/2021). 

2. Jaga Stabilitas Keuangan dan Ekonomi, BI Borong SBN BI juga diketahui menambah likuiditas di perbankan (Quantitative Easing) dengan membeli SBN Pasar perdana untuk pendanaan APBN 2021. Hingga 16 November lalu, jumlahnya meningkat Rp137,24 triliun untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.  

Sepanjang 2021, Perry mengaku BI telah melakukan pembelian SBN sebesar Rp143,32 triliun. Pembelian tersebut terdiri dari Rp67,87 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO). "Kita akan menjaga stabilitas keuangan dan perbaikan ekonomi," katanya.

3. Permintaan Kredit Membaik, BI Dorong Perbankan Turunkan Suku Bunga Perry juga menyebut, BI masih melihat adanya ruang untuk penurunan suku bunga kredit seiring pulihnya kegiatan masyarakat dan dunia usaha. Pasalnya, BI mencatat permintaan kredit mulai membaik sejalan dengan hal tersebut. 

Dari sisi penawaran, standar penyaluran kredit oleh perbankan melonggar seiring dengan menurunnya persepsi risiko. Seluruh kelompok penggunaan kredit telah tumbuh positif, terutama kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Sebab itu, BI akan terus bersinergi di sektor keuangan untuk mendorong peningkatan kredit perbankan. 

"BI juga terus mendorong perbankan untuk melanjutkan penurunan suku bunga kredit sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kredit kepada dunia usaha," kata Perry. 

4. Ekonomi Dunia Membaik, Tapi Masih Perlu Diwaspadai Secara virtual, Perry juga menyebut bahwa pada triwulan IV 2021, pemulihan ekonomi global diperkirakan akan terus berlangsung. Hal ini dikonfirmasi oleh berbagai indikator dini pada Oktober 2021, seperti Purchasing Managers' Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel, termasuk mulai berkurangnya keterbatasan energi di China. 

"Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi global 2021 sekitar 5,7% dan tetap baik pada 2022. Kenaikan volume perdagangan dan harga komoditas dunia masih berlanjut, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang," jelasnya. 

Walau begitu, masih ada ketidakpastian pasar keuangan global didorong kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat karena inflasi terus berlangsung. "Perkembangan tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia," pungkasnya.[okz]

Komentar

Loading...