Ibadah Shaum itu Metamorfosis

Ibadah Shaum itu Metamorfosis
ilustrasi.Romantis.com

TERKADANG  menjijikan, membuat geli dan takut bagi sebagian orang. Keberadaannya sering menjadi musuh bagi petani. Berbagai pestisida dibuat untuk memberantasnya agar tak menjadi hama tanaman. Seperti itulah keberadaan ulat yang hidup di sekitar kita. Dalam musim-musim tertentu, di beberapa daerah,  keberaadannya seakan-akan meneror ketenteraman warga. Puluhan hingga ratusan ulat merayap, masuk melalui dinding-dinding rumah. 

Sesudah sekian lama hidup menjadi pengganggu, tibalah saatnya ulat untuk mengeram. Ia menutupi dirinya dengan semacam anyaman berserat. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ia menutupi dirinya dengan bungkusan serat alami. Di dalam sarang yang disebut kepompong ia tak melakukan apapun selain diam, malahan nampak seperti makhluk mati. Ia tak mau lagi merayap di dinding atau di lantai rumah-rumah, juga tak mau lagi memakan dedaunan tanaman milik para petani.

Setelah sekian lama melakukan proses diam, lambat laun, dirinya berproses menjadi kepompong. Tak lama kemudian kepompong tersebut berubah menjadi makhluk lucu yang digemari, yakni kupu-kupu. Bukan saja digemari kebanyakan orang, ia pun menjadi idola petani, karena penyerbukan beberapa tanaman terbantu dengan keberadaan kupu-kupu. 

Di dunia fauna lainnya tersebutlah seekor ular ganas nan berbisa. Tingkahnya lebih meresahkan daripada kelompok ulat yang sekedar menggelikan dan menjijikan. Keberadaan ular lebih menakutkan, karena serangan dan gigitannya dapat mematikan. Banyak ular berbisa yang bisa membunuh manusia hanya dengan satu kali gigitan saja. Ular kobra, ular sanca, dan berbagai ular berbisa lainnya merupakan ular-ular yang populer dan paling banyak ditakuti orang.

Setelah sekian lama hidup dan menjadi bagian dari rantai makanan di lingkungan kehidupan fauna yang ada di alam ini, ular pada umumnya memiliki waktu-waktu tertentu untuk diam, melakukan proses penggantian kulit.  Ia akan terdiam lemas di sarangnya. Diganggu pun ia tak akan melawan. 

Setelah sekian lama diam, kulitnya pun berganti dengan kulit yang baru. Ia memiliki “baju baru” untuk dipamerkan di lingkungan kehidupan fauna. Setelah memakai “baju baru” ia nampak lebih indah, namun siapapun yang bertemu dengannya harus berhati-hati, sebab tingkahnya akan lebih ganas daripada sebelum ia memakai baju baru tersebut. Ia bisa menyerang dan memangsa siapapun, baik yang mengganggu dirinya maupun bagi yang tidak mengganggunya.

Dalam dunia ayam, seekor ayam betina mampu bertahan selama rata-rata duapuluh satu hari. Ia mengerami telur agar menetas menjadi anak ayam sebagai “generasi’ penerus kehidupannya. Selama proses pengeraman, ia mengurangi makan, minum,  dan turun berkeliaran di luar sarangnya, kecuali hanya beberapa saat saja. Setelah melalui proses diam, berani menahan makan dan minum, berani menahan suhu tubuhnya yang meningkat panas, telur yang dieraminya pun menetas, melahirkan anak-anak ayam menjerit-jerit dan lucu.

Proses metamorfosisnya ulat menjadi kupu-kupu,  diamnya ular ketika hendak “berganti baju”, dan ayam betina yang diam mengerami telur merupakan gambaran sederhana dari ibadah shaum yang kita lakukan. Dalam proses diamnya ketiga fauna tersebut ada proses menahan diri dari makan dan  minum, juga menahan diri dari menyerang makhluk lain. Dalam bahasa Arab, proses menahan tersebut disebutnya “imsak”. 

Inti dari ibadah shaum yang kita lakukan pun adalah imsak. Dalam ibadah shaum kita harus melakukan imsak dari berbagai hal-hal yang telah ditentukan syari’at. Tidak boleh makan, minum, berhubungan suami istri, dan harus menahan diri dari berbagai tingkah dan ucapan yang bisa merusak kualitas ibadah shaum. Allah telah menetapkan pedoman melaksanakan ibadah shaum yang kemudian dicontohkan Rasulullah saw. 

Dalam melaksanakan ibadah shaum, proses pelaksanaan dan keberhasilan “metamorfosis” diri setelah melaksanakannya sangat tergantung kepada kesungguh-sungguhan kita sendiri. Apakah ibadah shaum yang kita lakukan laksana ulat yang asalnya menjijikan kemudian berubah menjadi kupu-kupu lucu yang bermanfaat? Apakah ibadah shaum yang kita lakukan laksana ular yang “berganti baju baru” yang semakin ganas? Ataukah ibadah shaum kita akan menetaskan “telur-telur” menjadi makhluk yang lucu dan bermanfaat?

Itu hanya sekedar analogi. Intinya ibadah shaum yang kita tengah laksanakan harus dijadikan proses metamorfosis jiwa kita berubah ke arah yang lebih baik seperti yang digariskan dalam al Qur’an. Muara akhir dari pelaksanaan ibadah shaum adalah menjadi insan yang bertakwa. La’allakum tattaquuna.

Menjadi insan yang bertakwa maknanya adalah menjadi insan yang berakhlak mulia. Manusia yang jiwanya diliputi dengan nilai-nilai tinggi kemanusiaan, bukan jiwa manusia yang diliputi dengan nilai-nilai kebinatangan (bahimiyah). Karenanya, Syaikh Ahmad Ali Jurjawi, seorang ulama dari Mesir mengatakan, ibadah shaum merupakan proses diam, “mengeram” agar bisa menetaskan akhlak-akhlak yang baik pasca melaksanakannya.

Ibadah shaum yang berhasil adalah shaum yang berproses laksana metmorfosis. Merubah ulat menjadi kepompong, dan kemudian menjadi kupu-kupu lucu yang bermanfaat. Keberhasilan ibadah shaum juga harus seperti keberhasilan ayam betina yang mampu menetaskan telur-telur yang dieraminya. Sementara ibadah shaum yang gagal adalah laksana seekor ular yang diam karena sedang melakukan proses “berganti baju”. Ia menjadi lebih ganas, lebih berbisa, setelah memiliki baju baru.

Keimanan, ibadah,  dan akhlak kita harus meningkat lebih baik selepas kita melaksanakan ibadah shaum. Nilai-nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang, saling menghormati, dan nilai-nilai baik lainnya harus semakin meningkat dalam hidup kesehariaan kita. Jika sebelum melaksanakan ibadah shaum kita senang berbuat maksiat, berbuat dosa, merampas hak-hak orang lain, maka selepas ibadah shaum, semua perbuatan maksiat tersebut harus benar-benar terhenti.

Kita mesti berlindung kepada Allah dari sikap shaum seperti ular yang diam karena “tengah menanti” baju baru. Selepas memiliki baju baru, tingkahnya lebih galak dan ganas daripada sebelumnya. Sungguh suatu kerugian, jika ibadah shaum yang kita lakukan pun hanya dipakai ajang untuk menanti memakai baju baru di hari Idul Fitri seraya tiada perubahan ke arah yang lebih baik dari keimanan dan akhlak kita. Derajat ibadah shaum yang kita peroleh hanya kemampuan menahan lapar dan dahaga saja.

Ibadah shaum laksana ‘diamnya ular” inilah yang sering Rasulullah saw peringatkan kepada umatnya. Banyak orang yang melaksanakan ibadah shaum, namun tidak meninggalkan bekas apapun dalam kehidupannya, selain lapar dan dahaga saja. Tentunya kita harus belindung dari kesia-siaan ibadah shaum seperti ini.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...