Huru-Hara Drama Hari-Hari

Huru-Hara Drama Hari-Hari
Huru Hara Drama Hari-hari

Oleh: Peri Sandi Huizche

Huru-Hara adalah sebuah reportoar teater yang akan dipentaskan oleh mahasiswa-mahasiswi semester 3 dan semester 5, Prodi Teater ISI Surakarta. Hura-Hari sendiri kami maknai dari berbagai kepingan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pertunjukan drama, Hura-Hara.

Apa relevansi drama panggung dengan kehidupan yang juga sudah sangat drama ketimbang drama? Bukankah drama korupsi, acara ILC, sinetron hidayah yang berjilid-jilid menguras air mata, status media sosial sisa perang Kamfret dengan Cebong, dan berita-berita viral kian menyusup ke dalam kehidupan serta menguras energi untuk memahami konflik yang lebih realis dari drama realis itu sendiri.

Drama yang tersaji dalam kehidupan sehari-hari berikut  konflik-konflik itu tampak kian performatif di layar TV maupun di smartphone kita. Belum lagi, akhir-akhir ini masalah banjir terus menerus diproduksi narasinya, rakyat memberikan mosi tidak percaya pada pemerintah yang pro rezim gusur, politikus yang satu berbeda argumen dengan politikus lainnya, dan masih banyak kejadian mengerikan serta tak kalah tragis bila dibandingkan dengan tampilan anak-anak semester 3 dan 5 ini.

Misalnya, pada pertunjukan "Aktor-Aktor yang Tersesat" karya Irwan Jamal, seorang aktor tidak datang ketika pertunjukan akan digelar satu jam kemudian. Lantas empat aktor itu mereka-reka kejadian "apa" yang hendak dipentaskan; padahal itu adalah pertunjukannya; atau "Dunia Seolah-Olah" karya Yoyo C Durahmah yang menceritakan ketertekanan tokoh-tokoh dalam penjara lalu menyelesaikannya dengan narasi seolah-olah bisa diatur dan diwujudkan oleh si Mpu pencerita yakni Dalang, karena ialah penguasanya.

Aktor Hura Hara

Kesan huru-hara juga ditunjukkan pada naskah Ieunesco berjudul "Kursi-Kursi" dan naskah saduran "Kereta Kencana" oleh Sutrisno Pello menjadi "Kereta Jawa". Kita akan menemukan dua bilah peristiwa yang autentik atas keterasingan, yang juga melahirkan pandangan-pandangan eksistensial atas makna hidup khas penulisnya.

"Kursi-Kursi" membentangkan narasi pasca-perang dunia yang berdampak pada narasi penantian dua tokoh atas si tokoh ahli pidato dalam wujud prematur-anomali. Padahal ia digadang-gadang oleh dua tokoh tersebut bisa menyampaikan pesan-pesan hidup kepada para tamu undangan yang sangat penting dan mewakili ahlinya-ahli di dunia. Namun, akhirnya tak tersampaikan dengan sempurna. Dua tokoh itu memilih bermain dengan kematian. Sedangkan pada "Kereta Jawa" menuntaskan penantian pada Ratu Adil dengan sempurna sempurna.

Apakah drama bisa menyelesaikan masalah sosial yang terjadi? Mungkin jawaban saya tak akan pernah memuaskan, tapi itu tak penting. Karena yang lebih penting adalah kehadiran pembaca dalam pertunjukan yang secara keseluruhan akan mempertontonkan drama kehidupan.

Salam
Peri Sandi Huizche
Buruh Negara di Prodi Teater ISI Surakarta.

Komentar

Loading...