Hiperpopularitas

Hiperpopularitas
Ilustrasi.net

KETIKA menyebutkan unsur-unsur penciptaan manusia, sebagian ahli tasawuf  menyebutkan empat unsur yang ada pada diri manusia, yakni unsur tanah, air, angin, dan api. 

Idealnya, keempat unsur ini menumbuhkan karakter baik bagi perkembangan kehidupan manusia, tetap dalam keadaan fitrah layaknya ketika pertama kali keluar dari rahim ibu. Namun hal tersebut tidaklah mungkin. Lingkungan hidup manusia dan karakter manusia lainnya sering lupa dan menjadikan jiwanya kotor, tergelincir pada perbuatan khilaf.

Karakter tanah yang idealnya subur,  menumbuhkan berbagai “tanaman” kebaikan, dalam kenyataannya “tanahnya”  banyak terkena polusi yang menyebabkan tanaman kebaikan tersebut tidak bisa tumbuh dengan baik. Polusi yang mengotori kesuburan karakter  tanah tersebut diantaranya, ria, hasud, sombong, dan berbagai akhlak jelek lainnya.

Sementara itu, karakter angin menjadikan manusia layaknya angin yang tidak stabil. Arah kehidupannya sering berubah-ubah, kadang ke utara, kadang ke selatan, atau ke arah lainnya. Dalam hal keyakinan atau keimanan dan berbuat kebaikan, manusia sering seperti karakter angin. Kadang-kadang menjadi angin yang berhembus kencang, kadang juga menjadi angin sepoy-sepoy. Keimanan kita kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah. Demikian pula dalam berbuat kebaikan, malas dan rajin datang saling bergantian.

Karakter air yang seharusnya merendah, mengalir ke arah yang lebih rendah, karakternya malah dipaksa menyamai karakter api yang selalu mengarah ke atas. Kehidupan kita yang seharusnya  penuh dengan sifat-sifat kemanusiaan, merendahkan diri di hadapan kekuasaan Yang Maha Kuasa, kita malah sering ingin menyamai kekuasaan-Nya. Kita yang harusnya tawaduk merasa rendah hina di hadapan Yang Maha Agung, kita malah ingin menyamai keagungan-Nya.

Kita sering merasakan menjadi makhluk terhormat yang layak mendapatkan penghormatan dan kemuliaan. Kita sering merasakan diri sebagai makhluk yang berkuasa di muka bumi dan layak bertindak sekehendak diri seraya melanggar aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Segala perbuatan, amal-ibadah, bahkan kehidupan dan kematian yang seharusnya kita serahkan kepada-Nya, dalam kenyataannya kita serahkan kepada selain-Nya. Amal-ibadah, kehidupan dan kematian kita serahkan demi kehidupan dunia. 

Salah satu kehidupan dunia yang sering dikejar manusia adalah puja-pujian manusia yang bermuara kepada  popularitas dan banyaknya pengikut. Ria yang merupakan penyakit dalam beramal sering kita dekap erat dalam kehidupan, salah satunya popularitas. 

Kita sering merasa bangga jika apapun yang kita lakukan mendapatkan pujaan dan pujian, dan merasa sedih jika orang-orang tidak menyebut-nyebut amal atau aktivitas kebaikan kita.

Demikian pula dengan popularitas,  banyak orang yang berjibaku untuk mendapatkannya. Mereka ingin menjadi pujaan yang dielu-elukan banyak orang,  pengikut dan pengagum.

Sejak dahulu kala, dari zaman kehidupan yang masih kuno sampai kehidupan yang serba modern seperti sekarang ini, popularitas selalu menjadi target yang selalu dikejar kebanyakan orang. Banyak cara dilakukan untuk meraihnya, mulai dari cara yang yang biasa sampai yang luar biasa, mulai dari cara yang wajar sampai cara yang tidak wajar, bahkan di luar nalar.

Dalam bahasa Arab terdapat suatu pribahasa, “bul zam zam fatu’raf” ,  kencingi sumur zam zam, nanti kamu jadi orang terkenal. Mengencingi sumur zam zam merupakan perbuatan nekad yang aneh dan nyeleneh, sebab kaum apapun di kota Makkah sangat menghargai sumur zam zam. 

Pribahasa tersebut  merupakan “resep” yang biasa dilakukan orang-orang Arab zaman dahulu yang ingin populer secara instan, terkenal di kalangan masyarakat. Mereka melakukan perbuatan aneh dan nyeleneh, sensasional, tak wajar, dan di luar nalar demi popularitas. 

Kini, pribahasa yang digaungkan orang Arab dahulu sering bergaung kembali di tengah-tengah kehidupan kita dengan istilah yang berbeda namun tujuannya sama, yakni demi popularitas. Demi konten media sosial agar banyak follower dan populer, ada orang yang rela berbuat sesuatu yang tidak wajar dan di luar nalar. 

Tindakan “prank”  yang pernah populer beberapa waktu lalu sering dilakukan orang demi konten mereka di media sosial agar banyak ditonton dan mendapatkan follower setia. Banyak orang-orang yang sengaja membuat “setting” peristiwa demi popularitas. Pansos alias panjat sosial demi popularitas sering banyak dilakukan orang-orang tertentu. 

Kasus ‘babi ngepet” yang lagi heboh di sebuah kampung, Sawangan Depok Jawa Barat merupakan contoh nyata dari pribahasa Arab tadi. Konon seorang yang bernama AI, seorang “ustadz” di kampung tersebut ingin terkenal dan banyak pengikutnya. Ia  membuat suatu settingan tentang adanya seseorang yang memelihara “babi ngepet’ demi kekayaan. Hal ini dilakukan setelah mendengar banyak masyarakat yang sering kehilangan uang.  Ia seolah-olah menjadi “superhero” yang dapat menaklukkan “babi ngepet”, pencuri uang masyarakat.

Semuanya ia lakukan demi popularitas dan banyaknya pengikut. Benar saja, AI dapat mencapai popularitas, selain menghebohkan, ia pun populer karena disorot berbagai media. Namun sayang,  jeruji besi telah menanti di hadapan mata. Ia telah melanggar hukum, disangkakan meresahkan masyarakat dan sebagai penyebar berita bohong. 

Dari sudut pandang ilmu sosial-budaya, ketergila-gilaan seseorang akan popularitas terkenal dengan istilah hiperpopularitas. Pada zaman modern dan serba internet seperti pada saat ini banyak orang yang ingin populer melebihi kenyataan dan kemampuan dirinya. Ia ingin mewujudkan fantasi-fantasinya dalam kehidupan nyata. Banyak orang yang terobsesi menjadi terkenal dan melupakan kenyataan dan kemampuan dirinya. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang yang melakukan perbuatan sensasional demi popularitas. Tergila-gila dengan pujian, pengikut, dan popularitas. 

Meminjam istilah Jean Baudrillard dalam bukunya “Simulacra and Simulation”, manusia-manusia modern sering terjebak dalam gambar dan pencitraan. Mereka terlalu memuja penampilan, mendahulukan kemasan daripada isi, mengejar popularitas seraya melupakan esensi, makna, dan manfaat dari popularitas itu sendiri.  

Seperti sudah saya sebutkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, ibadah puasa (shiam)  yang kita lakukan pada akhirnya harus bermuara menjadi sikap shaum, sikap berani menahan diri. Salah satu wujud dari menahan diri adalah mengendalikan keinginan untuk dipuja, dipuji, dan populer.

Berbeda dengan ibadah shalat, zakat, haji, dan umrah yang terlihat gerakan ibadahnya, selama tidak dikatakan kepada orang lain,  ibadah shaum yang dilakukan seseorang merupakan ibadah yang benar-benar tersembunyi, hanya dia dan Allah yang mengetahuinya. Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan, orang yang tengah melaksanakan ibadah shaum sebaiknya berusaha tidak memperlihatkan kelesuannya di hadapan orang,  agar ia tidak diketahui sedang berpuasa.  Hal ini mengajarkan agar kita mampu mengendalikan perasaan ingin populer.

Perbuatan terbaik adalah perbuatan yang mengalir, apa adanya, sesuai dengan kenyataan dan kemampuan diri. Orang yang memaksakan diri,  tergila-gila dengan popularitas apalagi jika dilakukan sebagai ajang panjat sosial dan sensasional belaka,   popularitas yang diraih hanyalah popularitas sesaat,  hampa makna, malah bisa jadi popularitas yang diraih mengantarkannya ke jurang yang penuh nista seperti yang dialami AI dengan kasus hoax “babi ngepet” di  Sawangan Depok Jawa Barat”. 

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...