Hening vs Bising

Hening vs Bising
Desa Giethoorn, Belanda.Ilustrasi

HENING itu sunyi atau sepi.  Tempat yang  hening biasanya memberikan efek ketenangan. Tempat yang hening merupakan tempat istirahat untuk melepaskan lelah atau sekedar menghilangkan kepenatan agar hati dan pikiran kembali segar. 

Perkampungan yang dikelililingi pesawahan,  gemerciknya suara air  bening yang dihiasi ikan berenang riang, dan  merdunya suara burung  merupakan gambaran tempat yang hening. Demikian pula, bukit dengan berbagai pepohohan hijau,  dihiasi nyanyian burung merupakan tempat yang hening. Semilir angin dan udara segar menjadikan diri kita nyaman dan tenang tinggal di sekitarnya. Karenanya, orang-orang berduit senang membangun villa, tempat peristirahatan  di tempat-tempat  hening seperti itu.

Mereka membangunnya  menyesuaikan dengan alam. Tak memakai bangunan gedung berbahan batu bata, tapi terbuat dari bahan alami, baik kayu maupun bambu. Tak memakai listrik, tak ada kompor gas, dan alat elektronik lainnya, benar-benar alami. Ia sengaja membangunnya untuk mendapatkan keheningan alami yang dapat menyegarkan pikiran, menghilangkan kepenatan dari berbagai beban kehidupan.

Penduduk yang tinggal di perkampungan sudah sejak lama menikmati keheningan. Udara segar, nyanyian burung, dan indahnya gemercik air yang terdengar pada pagi dan sore hari.  Mereka hidup  rukun dan damai. Kalaupun ada perselisihan antara warga, sesepuh kampung, baik tokoh agama, Rukun Tetangga (RT), dan Rukun Warga (RW) segera turun meredamnya.

Persaudaraan, ramah kepada semua orang, gotong royong,  dan saling membantu menjadi hiasan kehidupan sehari-hari. Kesadaran mereka hidup bergotong-royong dan saling membantu diperoleh dari ajaran para sesepuh agama di masjid. Para sesepuh agama menyampaikan  petuah dengan “hening”,  tanpa tuntutan duniawi. Mereka benar-benar tulus menyampaikan petuah agama  demi kebaikan akhlak dan ketaatan warga kepada sang Khaliq.

Masjid menjadi tempat pelarian orang-orang yang ingin menyepi, mengadukan segala keluh kehidupan kepada Pemilik Kehidupan. Tempat suci ini pun menjadi tempat meminta solusi kepada sesepuh agama yang bijak dan toleran dalam mendengarkan keluhan hidup yang dihadapi jamaahnya.

Masjid benar-benar menjadi tempat sakral. Tempat suci yang tak boleh dikotori, jangankan dengan sesuatu yang  najis, sekedar mengeluarkan kata-kata kasar saja sudah tak boleh. Para sesepuh masjid mengeluarkan aturan, meskipun tidak tertulis tapi sangat ditaati, misalnya di masjid tak boleh bersiul, apalagi sampai membunyikan musik.

Semua gambaran tadi merupakan gambaran situasi perkampungan dahulu kala  yang penuh keheningan dan kedamaian. Kini rasanya sulit mencari perkampungan yang benar-benar hening. Dengan kemajuan teknologi, kini keheningan di perkampungan telah tergantikan dengan berbagai kebisingan.

Suara gemecik air dengan hiasan  ikan berenang riang hanya ada di akuarium. Nyanyian burung di perkampungan yang dikelilingi sawah dan pepohonan hijau, kini tergantikan dengan hentakan berbagai suara musik keras dari setiap rumah, suara gergaji mesin para penebang pohon,  juga tergantikan dengan deru suara mesin pabrik. Nyanyian burung yang indah hanya ada di dalam sangkar sempit yang  mengebiri kebebasannya untuk terbang tinggi. Langit nan biru menjadi kelabu karena asap dari mesin-mesin pabrik dan kendaraan.   

Masjid, tempat yang suci, kini tidak hening lagi. Suara handphone dengan berbagai ringtone-nya sering berbunyi keras  membuyarkan kekhusyukan zikir. Meskipun tertulis himbauan di pintu masjid, “Masuk Masjid, HP dimatikan/di-silent-kan”,  masih banyak yang tak menghiraukannya.

Tak jarang, ketika shalat Jum’at  tengah berlangsung, berbagai ringtone  handphone  berbunyi nyaring. Bukan dari jamaahnya saja, terkadang ringtone handphone khatibnya pun  berbunyi nyaring, ia lupa mematikannya. Zikir atau mendengarkan lantunan ayat suci yang harus menjadi hiasan utama di masjid tergantikan dengan mendengarkan berbagai ringtone handphone.

Selama tinggal di masjid, ibu jari yang seharusnya sibuk “memainkan” tasbih sambil membaca zikir, kini tergantikan dengan sibuk memainkan gadget atau handphone yang ada di tangan. Sibuk melihat barang yang akan dibeli secara online yang terkadang dihiasai dengan iklan-iklan yang mengumbar aurat. Petuah agama yang dulu benar-benar toleran, membawa pesan kedamaian, saling menghormati, dan saling menghargai, kini tergantikan dengan saling menghujat dan saling menjelekkan.

Kini hampir semua keheningan digantikan dengan berbagai macam kebisingan. Alam yang indah diganti dengan “kebisingan” berbagai polusi yang mengotorinya. Sampah plastik, pestisida, asap pabrik dan kendaraan serta berbagai barang lainnya membuat lingkungan kita menjadi tercemar.

Kita nampak sudah enggan bersahabat dan berlaku ramah kepada alam sekitar kita. Janganlah mengherankan jika banjir, kekurangan air, ketidaksuburan tanah, gerahnya udara,  dan lain sebagainya menimpa kita. Semua itu merupakan balasan atas ketidakramahan kita kepada  alam sekitar kita.

Kehidupan bermasyarakat yang hening digantikan pula dengan berbagai kebisingan sosial-politik. Persaingan hidup yang semakin ketat menyebabkan orang tidak mau lagi saling bantu. Kehidupan yang dilandasi egoisme melanda setiap jiwa. Apalagi di bidang politik, kebisingan yang memekakkan telinga sering terjadi. Saling kritik sampai saling hujat antar politisi, perang  urat syaraf, sampai bertengkar sudah dianggap lumrah. Kalaupun ada perdamaian  hanya sesaat,  disesuaikan  dengan kepentingannya masing-masing.  Mereka memegang rumus utama dunia politik, “tak ada kawan abadi, tak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Masing-masing individu, kini kesulitan mendapatkan keheningan baik secara psikologi,  sosial, ekonomi, maupun politik. Di sekitar lingkungan hidupnya sudah sarat dengan berbagai polusi  udara dan suara. Kesulitan hidup yang setiap saat selalu menghadang menjadikan diri setiap individu semakin resah dan gelisah. Perdebatan dan perselisihan antar politisi pengelola negara membuat kehidupan semakin bising, tidak nyaman. 

Kini, keheningan menjadi sesuatu yang mahal untuk kita dapatkan. Sekedar untuk tidak diganggu suara ringtone handphone saja sulit untuk mendapatkannya. Benar karena sudah zamannya, kita tak mungkin bisa lari dari dampak  semua kemajuan ini. Namun demikian, kita tak boleh larut dalam kebisingan hidup terus menerus. Kita harus kembali menghidupkan keheningan, minimal keheningan dalam diri kita.

Kita harus menyediakan waktu khusus untuk kembali menghidupkan keheningan tersebut tanpa terganggu suara ringtone handphone atau suara kebisingan lainnya. Kita harus kembali menghidupkan zikir, membasahi lisan, menghidupkan hati dengan banyak memuji Sang Pencipta Kehidupan, Allah swt,  seraya kembali mempererat tali silaturahmi dengan sahabat dan kerabat.

Zikir merupakan ruh kehidupan yang akan menjadikan jiwa kita hidup dan bergerak. Orang yang senantiasa berzikir ibarat ikan di lautan, seumur hidupnya tinggal di lautan yang bergaram, tapi tubuhnya tak terasa asin. Demikian pula, orang-orang yang senantiasa berzikir, mengingat Allah, meskipun hidup di tengah-tengah berbagai kebisingan,  hatinya akan tetap hening dan tenang, tidak larut dan hanyut dalam kehidupan yang semakin bising dan penuh persaingan.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan zikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q. S. ar Ra’du : 28).

 

Penulis, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan Agama Islam, penikmat buku-buku Filsafat dan Tasawuf. Tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.

 

Komentar

Loading...