Hati-hati dalam Menjalani Kehidupan

Hati-hati dalam Menjalani Kehidupan
Ilustrasi/Generasi millinial.net

SERBA CEPAT dan instan. Itulah kenyaatan kehidupan yang kita alami pada saat ini.  Pribahasa “biar lambat asal selamat” hampir sudah tidak belaku lagi.

Berbagai kendaraan diproduksi agar mampu melaju cepat. Ribuan kilometer jalan tol dibangun sebagai sarana pendukungnya. Sayangnya, para pengendara terlena dengan kecepatan dan melupakan kehati-hatian. Akibatnya,  kecelakaan lalu-lintas yang merenggut korban terjadi hampir setiap hari.

Kini, bukan hanya kendaraan saja yang harus beradu cepat. Konsumsi makanan pun harus disajikan dengan cepat saji. Berbagai  produk makanan siap saji bermunculan, namun demikian akibat negatif dari berlebihan mengkonsumsinya sudah tak menjadi perhatian.

Demikian pula dalam hal popularitas. Dahulu untuk menjadi orang terkenal dalam suatu hal, seseorang harus merangkak dari nol. Dalam dunia yang serba digital dan serba media sosial seperti sekarang ini,  seseorang dapat dengan cepat terkenal. Apalagi jika ia melakukan sesuatu yang menjadikan dirinya viral.

Dalam dunia dakwah pun sama. Dahulu kala, untuk benar-benar menjadi ustadz, seseorang harus benar-benar mendalami ilmu agama di pondok pesantren atau mengikuti pendidikan khusus keagamaan. Ia wajib mempelajari dan menguasai deretan kitab kuning berbahasa Arab sebagai sumber fatwa, kompetensi, dan disiplin keilmuan agama.

Kini,  banyak jalur cepat untuk menjadi seorang ”ustadz”. Asal nampak memiliki ilmu agama, mampu beretorika,  membuat sensasi dalam berpidato,  plus ada tim marketing, seseorang sudah bisa mendapatkan gelar “ustadz”,  dan mendapatkan tawaran undangan berceramah keagamaan.

Dalam hal mengetahui berbagai masalah jangan lagi ”diragukan”. ”Mbah Google” selalu siap membantu dan menggelontorkan ilmu,  dan dengan ”senang hati” menjawab setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam dunia akademis pendidikan formal pun tak jauh berbeda. Kini banyak program kesarjanaan yang bisa ditempuh dalam waktu singkat. Beberapa puluh tahun lalu, jangankan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan S-2 atau S-3, untuk mendapatkan gelar S-1 saja, seseorang memerlukan waktu lama, hampir 4-5 tahun,  dan ia wajib bergelut dengan tumpukan buku.

Dalam kehidupan bermasyarakat pun sama. Kini semua ingin cepat sejajar dengan orang lain, terutama dalam hal mengejar gaya hidup. Banyak orang yang sudah tidak lagi mempertimbangkan kemampuan diri, makna, dan manfaat yang diperoleh dari gaya hidupnya. Prinsip hidup yang penting gaya selalu menjadi pegangan.

Dalam hal kepemilikan dan penggunaan media sosial misalnya, kebanyakan orang hanya mengikuti gaya hidup. Banyak postingan maupun komentar yang sebenarnya tidak bermakna dan tidak bermanfaat.

Postingan yang bersifat sensasional sering diangkat dengan harapan bisa viral dan menjadikan dirinya terkenal. Tak sedikit pula dari mereka yang melakukan komentar yang termasuk ke dalam pelanggaran hukum. Akibatnya,  ia diadukan kepada pihak berwajib, diproses, disidangkan, dan berakhir menjadi penghuni kamar dingin berjeruji besi.

Rasulullah saw sering mewanti-wanti agar kita senantiasa waspada dan hati-hati dalam menjalani kehidupan.  Peringatan Rasulullah saw tersebut sering disampaikan dengan tujuan agar kehidupan umatnya bermakna, dan mengantarkan kepada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Berdasarkan sabdanya,  setidaknya ada tiga pangkal pokok keselamatan hidup. Pertama, menjaga lisan, dalam arti hati-hati dalam menyampaikan pendapat maupun komentar, baik secara lisan maupun tulisan. Kedua, memperluas tempat tinggal atau rumah, dalam arti menjaga etika dan komunikasi di rumah agar anggota keluarga tetap betah tinggal di rumah.

Pendidikan dan akhlak seseorang yang paling utama didapatkan di rumah yang penuh kehangatan. Di dalamnya terjalin komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling memperhatikan, saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Ketiga, mengakui dan menyesali setiap perbuatan dosa. Tak ada seorang pun manusia selain para Nabi dan Rasul yang tidak pernah tergelincir kepada perbuatan dosa. Semua orang pernah melakukannya. Taubat, menangisi, mengakui,  dan menyesalinya merupakan  jalan terbaik untuk menghapusnya.

Itulah pesan Nabi saw tentang pokok pangkal keselamatan hidup yang oleh Imam at Tirmidzy dimasukan menjadi salah satu koleksi hadits dalam kitab ”al Jami’u al Kabiir”,  ”Abwaab al Zuhud, Bab Maa Jaa fi Hifd al Lisan” hadits nomor 2.406.

Intinya, kecepatan menjalani kehidupan pada saat ini memang sudah menjadi tuntutan hidup yang tak terelakan. Namun demikian, kehati-hatian dan kebermaknaan dalam menjalaninya harus lebih dikedepankan.

Bagaimanapun juga, keselamatan seseorang masih tetap terletak dalam kehati-hatian dalam mentaati dan memegang teguh pedoman hidup, terutama pedoman hidup yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.***

 

Penulis, Pemerhati dan Prkatisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.   

Komentar

Loading...