Hari Buruh & Maknanya Ditengah Pandemi

Hari Buruh & Maknanya Ditengah Pandemi
Ilustrasi Hari Buruh. Foto/

Oleh: Lalik

Hari ini diseluruh dunia  termasuk Indonesia memperingati hari buruh sedunia atau sering kita sebut May Day. May Day ini diperingati sebagai bentuk peringatan untuk mengenang perjuangan para buruh yang sudah mengubah jam kerja, yang mulanya 12 jam menjadi 16 jam, dan akhirnya diubah menjadi 8 jam kerja.

Kita semua pasti tahu tentang kelas masyarakat yang fundamen peran-peran sosialnya di dalam masyarakat, negara dan kita semua pasti tahu tentang itu, tentang kelas yang menopang infratsruktur sistem, yang namanya ekonomi dimana kaum buruh adalah motor penggerak terpenting dalam perputaran roda perekonomian.

Berbicara mengenai pekerja maka erat kaitannya dengan kata “buruh”. Makna kata buruh seharusnya dipahami lebih mendalam oleh seluruh warga negara Indonesia. Hal ini tentu agar tidak terjadi bias makna pada masyarakat bahwa buruh hanya dimaknai sebagai para pekerja yang berada di pabrik-pabrik saja, tetapi juga setiap orang yang mendapatkan upah termasuk pada kategori buruh.

Menurut UU No 13 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 3 tentang Ketenegakerjaan, “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”. Melalui undang-undang ini makna buruh sebenarnya mempunyai arti yang lebih luas dan tidak hanya terbatas kepada para pekerja yang berada di pabrik-pabrik saja. Maka kita bisa contohkan bahwa profesi seperti dokter, guru, bahkan pekerja kantor sekalipun masuk pada kategori buruh. Sehingga selayaknyalah gerakan buruh tidak dimaknai secara sempit hanya kepada para pekerja pabrik saja.

Bicara soal buruh hingga detik ini masih menjadi persoalan tiada henti-hentinya untuk dibahas. Seolah-olah menjadi objek kajian yang perlu dibahas. Persoalan-persoalan buruh yang tak kunjung berakhir tersebut antara lain seputar kesejahteraaan, upah buruh (UMR), sistem kontrak, outsourcing, PHK sudah menjadi benang kusut.

Namun kali ini peringatan hari buruh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, biasanya setiap tanggal 1 Mei ini aksi turun jalan seringkali dilakukan oleh kaum buruh  untuk menyuarakan permasalahan yang dialami buruh, namun karena pandemi global ini aksi itu ditiadakan (Lampos.com, 01/05/2020).

Dilansir juga dari CNBC Indonesia, peringatan hari buruh tahun ini tetap dilaksanakan walau keadaan tidak bersahabat akibat pandemi global yang terjadi. Namun aksi tahun ini agak berbeda dari biasanya, peringatan hari buruh kami isi dengan kegiatan kemanusiaan yakni membagikan Alat Pelindung Diri (APD), bukti bahwa buruh peduli tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan menangani penyebaran covid-19 ini, pungkas Andi selaku Presiden KSPSI. (CNBC Indonesia.News.com, 01/05/2020).

Parahnya, pemerintah kadang tak berpihak kepada mereka. Hemat saya pemerintah sejatinya sebagai alat penyelamat nasib kaum buruh, tidak hanya daerah tapi sampai ke pusat haruslah saling bahu membahu melihat kondisi buruh di negara ini dengan utuh.

Kita tidak boleh pandang sebelah mata terkait persoalan ini. Karena buruh menginginkan upahnya layak sesuai dengan kewajiban yang telah dikerjakan. Upah yang terkadang mereka terima minim dan kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan hadirnya UU Omnibuslaw hak-hak buruh bisa saja terpangkas tanpa mempertimbangkan aspek keadilan sosial.

Posisi buruh di lapangan, sering kurang beruntung karena hubungannya dengan pemilik modal tak selalu berjalan mulus. Kepentingan diantara keduanya berbeda, perspektif buruh ia bekerja untuk mendapatkan upah, karena ia telah menggunakan tenaganya untuk pengusaha. Upah yang diterima tak sekedar untuk dirinya, tetapi juga anggota keluarganya sendiri. Tentu kontradiktif dengan pemikiran pemilik modal yang berpendapat bahwa laba dan keuntungan (profit) adalah tujuan akhir yang utama.[]

Lalik, Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang

Komentar

Loading...