Hamba Ramadhan

Hamba Ramadhan
Ilustrasi seorang hamba. Foto: U-Report

Oleh: Ade Sudaryat

“BELUM! Rasulullah saw belum wafat. Ia sedang menghadap Tuhannya laksana Nabi Musa bin Imran menghadap Tuhannya. Ia tak akan wafat sebelum binasanya kaum munafik.” Demikian kata sahabat Umar bin Khaththab saking tak percaya akan berita kewafatan Rasulullah saw.

Mendengar Umar r.a. yang bicara berapi-api, Abu Bakar r.a. yang tengah berada di rumah Rasulullah saw segera keluar untuk menenangkan Umar bin Khaththab r.a. “Hai Ibnu Khaththab, diamlah! Tenangkanlah hati dan pikiranmu! Benar sekali Rasulullah saw telah wafat. “ Kata Abu Bakar r.a.

Berkali-kali ia menyuruh Umar bin Khaththab r.a. untuk diam, namun Umar r.a. tak menghiraukan kata-katanya. Tak mau berdebat berkepanjangan, ia segera meninggalkan Umar. Sebelum ia meninggalkannya,  ia berkata, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya ia telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, Ia kekal, tak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah, surat Ali Imron : 144. ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.’ ”

Mendengar Abu Bakar r.a. membacakan ayat tersebut, lesulah tubuh Umar r.a. Ia yang tadinya berdiri gagah, lantang berbicara, ia tertunduk, kemudian duduk. Air matanya menetes, ternyata orang yang dicintai dan selalu dibelanya telah wafat.

Sampai disini dulu kisah-kisah terakhir wafatnya Rasulullah saw. Mari kita analogikan dengan Ramadhan kita yang baru saja meninggalkan kita. Seperti halnya Umar r.a. yang tak percaya akan wafatnya Rasulullah saw, banyak orang yang masih tak percaya, begitu cepat Ramadhan suci nan penuh berkah meninggalkan kita. Satu bulan tak terasa, begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita bertemu Ramadhan, kini kita harus sudah berpisah lagi. Banyak orang yang meneteskan air mata. Diiringi mata basah, kedua tangan tengadah agar masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan nan berkah.

Namun demikian, terkadang perasaan sedih dan kerinduan beribadah seperti pada bulan Ramadhan hanya berlangsung beberapa hari saja. Istikamah beribadah tergantikan rasa lelah mencari nafkah. Akhirnya ibadah seadanya saja tak seperti ibadah pada masa bulan berkah. Tak sedikit pula orang-orang yang bukan saja mengurangi porsi ibadahnya, namun total meninggalkan kebiasaan ibadah. Jangankan ibadah yang sunat hukumnya, yang wajib pun mereka laksanakan alakadarnya saja.

Selama ini kita merayakan lebaran sekaligus sebagai “upacara” pembubaran kebiasaan baik selama bulan Ramadhan. Haruskah kebiasan seperti ini berlangsung selamanya?

Sejatinya, bulan-bulan selepas Ramadhan dijadikan ajang pembuktian keberhasilan ibadah yang kita lakukan selama “mengikuti pelatihan” pada bulan Ramadhan. Kita tak boleh berhenti berjuang berbuat baik, tak boleh berhenti berbakti kepada Allah. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q. S. Al-Insyirah : 7-8).

Muhammad Husain Ya’qub dalam karyanya Asrar al Muhibbin mengatakan, “Orang yang paling jelek adalah orang yang menjadi “hamba Ramadhan”. Ia yakin kepada Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Mereka rajin beribadah pada bulan suci tersebut karena keyakinannya pada bulan tersebut Allah sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya. Namun, setelah Ramadhan usai, ibadah dan keyakinannya kepada Allah ikut usai juga. Ia tidak lagi rajin beribadah kepada Allah.”

Masih menurut  Muhammad Husain Ya’qub,  “barangsiapa yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, kemudian ia bertekad kuat, selepas Ramadhan ia akan menerapkan segala nilai-nilai mulia di luar  Ramadhan;  sekuat tenaga menjauhi segala perbuatan maksiat; menjauhi sikap sombong sambil tetap istikamah dalam melaksanakan ibadah seperti selama bulan Ramadhan, bahkan lebih meningkat dalam melaksanakannya, maka besar kemungkinan ibadah shaum Ramadhan dan  ibadah lainnya selama bulan Ramadhan yang dilakukan orang tersebut dirterima Allah Swt. Sebaliknya, barangsiapa yang perilaku ibadahnya selepas Ramadhan semakin menurun, lebih jelek dibandingkan dengan pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadhan; kembali berbuat dosa dan maksiat dengan sengaja; besar kemungkinan ibadah shaum orang tersebut ditolak Allah swt.”

Sementara Ibnu Rajab dalam karyanya Lathaif al Ma’arif (halaman 395 - 396) menyebutkan, “Barangsiapa yang menamatkan ibadah shaum Ramadhan, kemudian ia melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw seraya bertekad kuat untuk istikamah dalam melaksanakan ibadah; berbuat amal saleh seperti ketika bulan Ramadhan; menjauhi perbuatan maksiat, maka jika perbuatannya tetap seperti ini, sudah dipastikan ia akan menjadi penghuni surga.  Sebaliknya, barangsiapa yang menamatkan ibadah shaum Ramadhan,  kemudian ia melaksanakan Idul Fitri hanya sekedar untuk berpesta pora dan hura-hura; menghambur-hamburkan harta seraya malas melaksanakan ibadah; kembali lagi berbuat maksiat, bisa jadi keadaan demikian merupakan ciri dari orang yang ibadah shaum Ramadhannya ditolak Allah Swt.”

Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita melakukan evaluasi terhadap aktivitas ibadah dan akhlak kita. Apakah ibadah yang kita lakukan selepas Ramadhan semakin meningkat atau malah sebaliknya, semakin menurun? Apakah akhlak kita semakin baik atau bertolak belakang dengan kesalehan kita selama kita berada pada bulan Ramadhan? Apakah kedermawanan kita semakin meningkat atau malah kembali diselimuti kekikiran?

Dengan senantiasa memohon kekuatan kepada Allah swt agar kita mampu mengendalikan kesombongan yang ada pada diri kita, apa yang dikemukakan Muhammad Husain Ya’qub dan Ibnu Rajab, setidaknya dapat kita jadikan ukuran untuk mengetahui sejauh mana kualitas ibadah shaum dan ibadah-ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Sangatlah berbahagia, apabila ibadah shaum kita mabrur, diterima Allah swt.

Semoga Allah senantiasa memberikan sikap istikamah kepada kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya, menjadikan diri kita benar-benar sebagai hamba Allah, bukan hamba Ramadhan. ***

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jabar.

Komentar

Loading...