Hak Milik Pribadi dan Etika Perilaku

Hak Milik Pribadi dan Etika Perilaku
ILustrasi.Ist

Oleh: Lalik

Dalam upaya menunjukkan fungsi sosial dan perlunya kepemilikan pribadi atas alat produksi dan kesenjangan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan yang mengiringinya, kita, pada saat bersamaan, memberikan bukti tentang kebenaran moral dari milik pribadi dan tatanan sosial kapitalis yang berdasar atasnya. Moralitas adalah kepatuhan terhadap berbagai persyaratan bagi sebuah eksistensi sosial yang dituntut dari setiap individu sebagai anggota masyarakat.

Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations (1776) menyebutkan bahwa masyarakat makmur adalah masyarakat yang menerapkan aturan pasar bebas dan pengakuan terhadap hak milik pribadi. Kepemilikan dalam perspektif liberal diserahkan kepada semua warga Negara secara bebas dan bersaing, individu yang mampu menguasai harta benda karena modal yang dimiliki dapat menguasai semua barang produksi.

Seorang manusia yang hidup dalam keterasingan tidak memiliki aturan moral yang harus ditaati, ia tidak perlu ragu-ragu melakukan apa pun yang menurutnya menguntungkan baginya, karena ia tidak perlu mempertimbangkan apakah ia akan merugikan orang lain dengan perbuatannya. Tapi sebagai anggota masyarakat, seseorang, dalam melakukan apa pun, harus mempertimbangkan bukan saja keuntungan langsung untuk dirinya sendiri, namun juga tuntutan untuk mengukuhkan keberadaan masyarakat.

Kehidupan seseorang dalam masyarakat hanya mungkin bila ada kerja sama sosial, dan setiap orang akan sangat dirugikan jika organisasi sosial yang mengatur kehidupan dan produksi rusak. dalam mewajibkan seseorang untuk mempertimbangkan masyarakat dalam setiap tindakannya, bahwa ia harus membatalkan sebuah tindakan yang, walaupun menguntungkan baginya, dapat mengganggu kehidupan sosial; masyarakat tidak menuntutnya untuk mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain.

Pengorbanan yang diwajibkan hanya pengorbanan yang bersifat sementara: penolakan atas sebuah keuntungan langsung dan relatif kecil, demi manfaat akhir yang jauh lebih besar. Kelangsungan masyarakat sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja sama dan memilki tujuan sama dalam hidup, merupakan kepentingan setiap orang. Barangsiapa melepaskan keuntungan sesaat untuk menghindari membahayakan kelangsungan hidup masyarakat sesungguhnya mengorbankan keuntungan lebih kecil demi keuntungan lebih besar. Makna dari perhatian terhadap kepentingan umum sering disalahpahami.

Nilai moral penghormatan dianggap terletak pada fakta tentang pengorbanan itu sendiri, pada penolakan terhadap sebuah kepuasan langsung. Orang menolak untuk melihat bahwa apa yang berharga secara moral bukanlah pengorbanan itu, tapi tu juan yang dicapai oleh pengorbanan itu, dan orang berkeras bahwa pengorbanan, penolakan itu sendiri mengandung nilai moral. Namun pengorbanan mengandung nilai moral hanya ketika pengorbanan itu dilakukan untuk sebuah tujuan moral.

Ada perbedaan yang besar sekali antara seseorang yang mempertaruhkan hidup dan harta bendanya untuk tujuan yang baik, dengan orang yang mengorbankan keduanya tanpa menguntungkan masyarakat dalam hal apa pun. Segala sesuatu yang berfungsi melestarikan tatanan sosial memiliki nilai moral; segala sesuatu yang merugikan tatanan sosial adalah amoral. dengan demikian, ketika kita berkesimpulan bahwa sebuah institusi bermanfaat bagi masyarakat, orang tidak dapat mengajukan keberatan bahwa hal itu amoral.

Penulis Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...