Generasi Qurrata A’yun

Generasi Qurrata A’yun
Ilustrasi.net

SECARA bahasa “qurrata a’yun” berarti penyenang hati; penyejuk mata hati. Dalam al-Qur’an, kata “qurrata a’yun”  ini diulang sebanyak tiga kali dalam tiga surat, yakni dalam surat as-Sajdah : 17; surat al-Qashash : 9; dan surat al-Furqan : 74 (Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, al Mu’jam al Mufahras li alfaadh al Qur’an al Kariim, halaman 688).

Surat as Sajdah : 17 berkenaan dengan berbagai macam  nikmat yang diberikan kepada kaum mukminin. Allah akan menyediakan berbagai nikmat yang dapat menjadi penyejuk hati bagi mereka yang benar-benar beriman. Sementara seorang mukmin tak bisa menduga-duga nikmat mana yang akan menyenangkan hatinya.

Surat al Qashash : 9 berkenaan dengan kisah Nabi Musa a.s. ketika masih bayi. Karena hasutan ramalan para ahli dukun, hampir-hampir saja Nabi Musa a.s. ketika bayi dibunuh Fira’un. Hatinya luluh ketika mendengar permohonan istrinya untuk  mengadopsi sang bayi, semoga kelak akan menjadi sebagai penyenang hati.   

Sedangkan surat Q. S. al Furqan : 74 adalah permohonan setiap mukmin sejati agar diberi pasangan dan keturunan yang dapat menyejukan hati yang kelak diharapkan akan menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Apabila kita melakukan analisa sederhana terhadap kriteria “qurrata a’yun” dari ketiga surat tersebut, di dalamnya kita akan mendapatkan  nilai-nilai keyakinan dan keberanian, keteguhan, nilai-nilai kehidupan, kekuatan, dan keteladanan.

Keyakinan atau keimanan yang kuat dalam jiwa seseorang akan menjadikan dirinya yakin akan segala pemberian nikmat dari Allah. Ia tak akan memperdulikan besar dan kecilnya suatu pemberian, namun ia akan melihatnya kepada Dzat yang memberi kenikmatan tersebut.

Karenanya, ia senantiasa bersyukur atas segala pemberian nikmat dari-Nya. Ia sangat yakin, nikmat yang telah diberikan-Nya merupakan bagian dari ukuran kehidupan dari-Nya.  Nikmat apapun yang diberikan-Nya akan berharga bagi kehidupan di dunia dan akhirat manakala diterima dengan sepenuh hati, disyukuri, dan dipergunakan untuk mengabdi kepada-Nya.

Sifat lainnya dari seorang yang menjadi “qurrata a’yun” adalah memiliki sifat pemberani.

Istri Fir’aun berani mengemukakan pendapatnya untuk mengadopsi bayi laki-laki, padahal suaminya seorang otoriter. Pada waktu, Fir’aun memiliki kebijakan yang tak bisa ditawar siapapun, setiap bayi laki-laki harus dibunuh.

Sang istri berhasil membujuk suaminya, dan bayi laki-laki itu pun selamat. Bayi tersebut tiada lain adalah Nabi Musa a.s yang kelak akan mengalahkan Fir’aun sang otoriter.

Dalam kehidupan kesehariannya, seorang yang menjadi “qurrata a’yun” memiliki keyakinan akan kebenaran aturan Allah dan rasul-Nya. Karena keyakinannya akan segala ketentuan Allah dan kebenaran terhadap aturan-Nya tersebut, ia tak memiliki rasa takut kepada siapapun.

Ia hanya takut kepada-Nya. Buah dari ketakutan-Nya adalah keberanian bertindak tegas dalam menyampaikan kebenaran tanpa meninggalkan tata krama, akhlak yang baik dalam melakukannya.

Ia berpegang teguh kepada nilai-nilai kehidupan hakiki yang telah Allah gariskan. Keimanan yang terpatri di hatinya membuahkan hasil akhlak yang mulia.

Ia sangat yakin sekali kesempurnaan keimanan akan terpancar dalam akhlak yang baik. Kejujuran, keistikamahan, kesabaran, pantang mencerca dan menghina, menegakkan kebenaran dan keadilan selalu menghiasi kehidupan kesehariannya.

Seorang “qurrata a’yun” menjadi dambaan setiap orang. Ia diharapkan menjadi pelopor dan pemimpin bagi orang lain. Kepemimpinannya diharapkan membawa diri setiap orang,  lebih jauhnya lagi umat yang ada di sekitarnya dapat menjalankan ketaatan  dan kebaikan menuju rida-Nya.

Untuk dapat memimpin setiap orang atau umat menuju kepada kebaikan, seorang “qurrata a’yun” akan menjadikan dirinya cermin bagi orang lain. Dalam arti, ia akan memberikan keteladanan kepada orang lain. Ia pantang menyuruh orang lain melakukan perbuatan baik, sementara dirinya tenggelam dalam kubangan kejelekan.

Seorang yang menjadi “qurrata a’yun” akan pantang menjadikan dirinya sebagai sarang kebohongan dan ketidakadilan. Karenanya, ia merupakan orang yang memiliki “quwwah” atau kekuatan dalam memegang prinsip-prinsip kehidupan. Ia memiliki kekuatan untuk melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan, keistikamahan, dan berbagai prinsip hidup yang dimilikinya tak menjadikan dirinya sombong, tak merasa lebih baik dari orang lain. Namun dirinya merupakan orang yang tengah berusaha menjadi lebih baik. “fastabiqul khairat”,  orang yang sedang berlomba-lomba menuju kepada kebaikan. Ketawadukan dan ketabahan menjadi sikap yang menyertai dalam setiap langkah perbaikan diri.

Kebahagiaan sudah pasti akan kita raih manakala kita memiliki pasangan hidup dan keturunan yang menjadi “qurrata a’yun”.  Suatu kebahagiaan yang  tak akan  bisa dibandingkan dengan apapun  jika pasangan hidup dan keturunan kita menjadi penyejuk hati di dunia dan akhirat.

Semoga kita ditaqdirkan Allah menjadi bagian dari hamba-hamba Allah yang berpredikat “qurrata a’yun” .

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...