Gema & Bumerang

Gema & Bumerang
Ilustrasi.net

GEMA itu pantulan suara. Gema biasanya berada di tempat-tempat yang luas dan kosong. Bisa di gedung yang tinggi dan luas, atau di gunung-gunung yang berlembah dan sepi. Ketika kita berteriak di tempat-tempat tersebut, suara kita akan mermantul kembali kepada kita, seolah-olah ada yang  meniru-niru akan suara kita. 

Suara dan kata-kata yang ditirunya, persis seperti suara dan kata-kata yang kita ucapkan. Suara dan kata-kata yang baik akan memantul dan ditiru dengan baik, sementara suara dan kata-kata yang jelek akan memantul dan ditiru dengan jelek pula.

Selain gema yang suaranya memantul dan kembali kepada kita, ada pula senjata tradisional yang ketika dilemparkan, senjata tersebut akan kembali kepada diri kita. Salah satu senjata tersebut adalah bumerang. Konon kabarnya, senjata ini merupakan senjata tradisional suku Aborigin di Australia.

Senjata berbentuk mirip busur ini merupakan senjata yang “setia” kepada pemiliknya. Jika senjata ini tidak mengenai sasaran yang dibidik, senjata ini akan berputar, kembali kepada pemegangnya.

Jika kita mencoba mengambil pelajaran dari gema dan bumerang, kehidupan kita ini  laksana gema dan bumerang. Apapun yang kita lakukan selama hidup di dunia ini akan kembali kepada diri kita sendiri. Baik dan buruk dari perbuatan kita, suatu saat akan kembali kepada diri kita. 

Elizabeth Owens (2004 : 83) dalam salah satu bukunya “Discover Your Spiritual  Life” mengatakan,  “Ketika kita memperlihatkan tingkah laku yang baik, kebaikan akan tertarik ke arah kita. Ingatlah, suatu hal akan menarik hal lain yang serupa. Karena itu, berlaku pula kebalikannya. Ketika kita bertingkah laku buruk, berarti kita tengah menarik keburukan terjadi kepada diri kita. Singkatnya, terdapat pengaruh timbal balik atas segala tindakan. Kita harus sadar, tindakan baik atau buruk yang kita lakukan kepada orang lain, pada suatu saat akan kembali kepada diri kita sendiri.“

Masih menurut  Elizabeth Owens, “Ketika kita menolong atau memberikan sesuatu kepada orang lain, pada suatu saat akan kembali lagi kepada kita. Demikian pula, ketika kita mencurangi seseorang, kita juga akan dicurangi. Ketika kita bergosip tentang orang lain, seseorang akan bergosip tentang kita. Rasa sakit yang dirasakan orang lain karena perlakuan kita, mungkin tidak akan dikembalikan secara langsung oleh orang yang telah kita sakiti, tapi ia pasti akan kembali seperti bumerang atau gema dalam masa-masa tertentu dari kehidupan kita.”

Dalam hal memberikan pertolongan, terutama berupa uang atau barang, kebanyakan orang selalu menganggapnya uang atau harta yang kita miliki telah berkurang atau hilang. Anggapan ini sangatlah keliru. Jalaluddin Rumi, seorang ulama sufi pernah berujar, “Apa yang kita dermakan dari sebagian harta kita, sesuatu apapun yang kita anggap hilang dari diri kita, suatu saat akan kembali lagi kepada kita dalam bentuk yang lain.”

Al Qur’an dan hadits telah menegaskan, Allah akan senantiasa menolong hamba-hamba-Nya, selama mereka berkenan menolong hamba-hamba Allah lainnya. Demikian pula ketika seseorang mendermakan dari sebagian hartanya, Allah akan menggantinya beratus-ratus kali lipat. Seperti dikatakan Jalaluddin Rumi, penggantinya bisa berupa harta seperti yang telah kita keluarkan,  bisa juga  dalam bentuk lain. 

Dalam sebuah hadits dikatakan, sedekah yang kita keluarkan, bisa menjadi salah satu tameng dari datangnya musibah. Sedekah yang kita keluarkan bisa pula menjadi salah satu wasilah terbebasnya dari penyakit yang kita derita. Disini terbukti jelas, apapun yang kita keluarkan akan kembali kepada diri kita dalam bentuk yang lain.

Alam yang luas ini, merupakan bagian dari ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah. Sangatlah bijak apabila kita mampu mengambil pelajaran dari setiap hal yang terjadi di alam ini. Gema yang pernah kita dengar atau bumerang yang pernah kita lihat merupakan gambaran nyata dan pelajaran berharga bagi kita.  Apapun yang kita lakukan, perbuatan, ucapan yang baik dan buruk akan kembali kepada diri kita.

Selayaknya, kita selalu bersikap waspada dan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Ke-islam-an yang telah kita  ikrarkan, berbagai ibadah yang telah kita laksanakan harus berpengaruh terhadap diri kita dan orang lain. Akhlak kita, perbuatan dan ucapan kita harus menyelamatkan diri kita dan orang lain.

Setiap hari, selayaknya kita senantiasa meningkatkan kualitas keilmuan, ibadah, dan  akhlak baik kita. Sangatlah bijak apabila setiap hari kita memiliki tekad untuk senantiasa menolong siapapun seraya berupaya tidak menyakiti fisik dan perasaan siapapun yang bergaul dengan kita.

Kita harus terus meyakinkan diri, perbuatan yang kita lakukan dan ucapan yang keluar dari lisan kita, pada suatu saat akan kembali kepada diri kita. Kalau tak kembali kepada diri kita di dunia ini, di alam tanpa batas kelak, di hari pembalasan, apapun yang kita lakukan selama hidup di dunia ini akan Allah perlihatkan kepada kita, diadili, baik dan buruknya akan kembali kepada diri kita. 

Keselamatan dan kecelakaan yang akan kita alami kelak di akhirat sangat tergantung kepada keimanan dan perilaku kita selama hidup di alam fana ini. Perbuatan apapun yang kita lakukan selama di dunia ini merupakan gema kehidupan atau senjata bumerang bagi diri kita.

 “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian (dari perbuatan jahatmu) itu untuk dirimu sendiri” (Q. S. Al-Isra : 7).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Komentar

Loading...