Gadis Gowes (1)

Gadis Gowes (1)
Gadis Gowes

Cerbung Halimah Munawir

Bab. I

Persahabatan

        Segelas air hangat menyiram tenggorokan kedua sahabat usai melepas mukena , kemudian siap gowes, sebuah rutinitas pagi yang tak pernah bolong untuk mereka. Begitulah  Kalingga dan Beb , dua sahabat SMA yang dipertemukan Kembali pada kampus yang sama dengan mengambil mata kuliah sama pula. Akhirnya mereka berdua sepakat satu kamar kos. Maklum jarak rumah mereka dengan kampus cukup jauh. Terutama Kalingga, dia adalah anak rantau. Dan bagi Kalingga yang pernah menjadi atlet sepeda ini, sehari saja tak bersepeda, seperti ada sesuatu yang hilang dan rasanya sekujur badan pegal tak terbilang. Sementara Beb. sesungguhnya bukan tipe orang suka olah raga, apalagi di pagi hari. Semangat bangun pagi adalah berkah dari virus positif yang di tularkan Kalingga. Virus yang ampuh membangunkan jiwa raga Beb untuk hidup sehat dan segar karena mendapat asupan  oksigen gratis , kalori terbakar, hormon endorfin dalam tubuh terbakar, pikiran jadi segar dan hidup terasa selalu semangat. Plus plus lainnya yang lebih penting yang menjadikan Beb semakin ketergantungan bangun pagi, dia menjadi mengetahui sedikit banyaknya manfaat gowes. Yang pasti Beb bisa meminimalkan resiko diabetes yang menjangkiti orang tuanya. Karena konon diates adalah sebuah penyakit yang bisa menyerang keturunannya.

        Sesekali terkadang Beb malas bersepeda, namun Kalingga tidak habis akal untuk menghirup udara segar dan membakar karbo.

     “Ayo bangun.. waktunya gowes!”

       “Gue lagi malas!”

     “Kalau kita jogging nasi uduk, malas nggak?”

Mendengar nasi uduk, mata Beb langsung melek. Dan dengan sigap ke kamar mandi untuk cuci muka.

     “Let’s go!” Beb menarik tangan Kalingga untuk keluar dari kamar.

     “Dasar!” Kalingga tertawa. Nasi uduk di warung mpok Ivo memang rasanya mantap. Sambel kacangnya  maknyos. Yang pasti, Beb paham  manfaat Jogging yang tak kalah penting dari manfaat bersepeda.

        Jogging merupakan jenis olah raga kardio yang memompa darah lebih cepat ke jantung sehingga menormalkan tekanan darah, kolestrol dan kadar gula darah dalam darah. Paru paru juga menjadi mempunyai kapasitas yang besar untuk sistem pernafasannya, otot kuat, sistem imum pun kuat.

       Kalingga dan  Beb, bersahabat sudah sejak SMA. Lulus dari SMA mereka sama sama mendaftar ke Universitas Indonesia. Sebuah universitas kebanggaan negeri yang sangat di dambakan dari kebanyakan anak anak lulusan SMA dapat masuk. Tak heran jika dibuka pendaftaran baru ribuan lulusan SMA berduyun duyun mendaftar dan adu nasib untuk dapat di terima. Bintang kejora berpihak pada dua bunga gadis gowes  Kalingga dan Beb.  Persahabatan yang lama terjalin menjadikan mereka satu sama lain mengetahui kelemahan masing masing. Kalingga tahu betul orang tua Beb jika membangunkan sahabatnya di pagi hari harus  mengelitik kaki Beb berkali kali. Dan kadang setelah tunaikan sholat subuh,  Beb Kembali  tuntaskan tidurnya sampai batas hasrat. Tak jarang ia terlambat datang ke sekolah.  Hingga seisi rumah memberi julukan N’dut of being. Namun Beb yang cuek, hanya nyengir kuda dengan julukan itu. Karena secara nyata memang dia kebluk.     

      Sementara bagi Kalingga hidup adalah sebuah perjuangan untuk meraih mimpi-mimpi bahwa anak kampung juga bisa mendunia. Dan pilihan mimpi Kalingga adalah menjadi Gadis Gowes. Maka sejak mengenal bangku sekolah dasar, Kalingga  berjuang keras untuk dibelikan sepeda. Kemudian pulang pergi sekolah dengan menggowes sepeda walah jarak tempuh 1 kilometer dengan jalan berkelok serta banyak tanjakan pula. Maklum, ia hidup di perkampungan yang jauh dari keramaian.

     Jika senja menyapa, Kalingga menggowes sepeda di antara pematang sawah sambil senandungkan lagu dengan penuh ceria. Dan setiap ada lomba sepeda dimanapun ia selalu ikut. Piala berjejer di almari diantara rupa ceria sang juara. Dan kalau dulu acap kali ia harus menguras air mata untuk ganti sepeda, tidak dengan setelah ia rajin ikut lomba. Karena sering kali hadiah lomba berbentuk rupa sepeda. Kemudian  demi mimpinya itu pula ia hijrah ke kota sejak SMA. Namun beban kuliah membuat mur mur mimpi menjadi atlit mulai kendor. Kiriman uang dari orang tua tidaklah cukup untuk hidup sebagai anak kos. Hingga ia harus kerja untuk memberi privat bahasa Inggris yang ia kuasai sejak SD. Atau sebagai penterjemah buku anak anak kampus. Namun walau mur mur mimpi menjadi atlit dunia kendor, bukan berarti semangat untuk menebarkan virus olah raga sepeda surut. Kalingga tetaplah Kalingga. Mimpi itu tetaplah terus  menggayut di kepala. Baginya hanya soal waktu yang belum tepat. Sebagai anak tertua, ia ingin menunjukan kepada adik adiknya pendidikan adalah nomor satu. Dan status gelar adalah sebuah kebanggaan orang tua yang hanya berstatus petani.

       Setelah menghabiskan waktu setengah  jam  jogging, Kalingga dan Beb pun melakukan pendinginan di halaman terbuka milik ibu kos. Sebuah halaman yang banyak di tumbuhi pohon pisang dan beberapa pohon pete.   Sedang asyiknya mereka melakukan pendingan, Beb melihat  sosok ibu paruh baya berbalut lilitan kain dengan kebaya yang terbuat dari bahan katun. Jalan berending bersamanya laki laki muda dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat kendil, botol berisi air putih, bunga di cawan kecil serta lampu templok berisi minyak tanah. Tepat di kebun, dibawah pohon mangga, sang ibu memerintah lelaki muda tersebut meletakan kendi pada lubang yang menganga pada tanah merah. Tak lama kendi diletakan, tanpa perintah lagi lelaki itu menguburnya lalu sang wanita paruh baya menebarkan bunga serta menyiram air mawar pada gundukan tanah sambil mulutnya berkumat kamit. Kemudian  sebelum kaki mereka beranjak dari tempatnya berdiri, sebuah lampu kecil di letakan disana. Ritual yang tak lepas dari pandangan dua pasang mata, berjalan singkat dan lancer.
      ""Apa  yang di kubur ya, beb? " Tanya Kalingga dengan kening berkerut.
       " Apa bayi anaknya ibu kos meninggal waktu melahirkan ya? Gw dua hari lalu lihat ibu kos bawa anaknya yang hamil itu udah meringis meringis kayak mau melahirkan." jawab Beb.
      " Masa sih bayinya meninggal? " kalingga terlihat berpikir keras.
      " Kalau meninggal, kenapa nggak pasang bendera kuning ya?" lanjutnya.

       “Nggak masuk logika!” lanjutnya.

      “Dan ukuran bayi itu kan panjang. Masa bisa masuk dalam kendi kayak film Herry Porter? “ Beb menimpali sambil menahan senyum.
      " Ah....sudahlah, kita harus ke kampus lebih pagi. Jangan sampai kita terlambat datang." Kalingga menarik tangan Beb untuk segera masuk rumah kos dan bersiap ke kampus. Pagi ini mau meeting evaluasi tentang lomba sepeda.

     “Tunggu bentar Ling, gue penasaran!”

     “Eh, loe mau tau aja urusan orang sih?”

      “Bukan begitu maksud gue.”

     “Sudah ayo, kan kita mau rapat. “

Kalingga  mencekal pergelangan tangan Beb lalu menariknya untuk jalan. Beb yang penasaran sebatas mata memandang terus melihat ritual yang dilakukan oleh ibu kosnya. Benar saja mereka berdua datang sedikit terlambat. Teman temannya

       Atas pemandangan yang terjadi itu, sedikit Kalingga dan Beb terlambat datang rapat himpunan. Pada pintu sekretariat yang terkuak, terlihat Fifi, Bernad dan Pupung. Kecuali Tedi, sedang asyik ngobrol. 
        " Hadehhhh gimana sih? Mentang mentang ketua, datang seenaknya aja." Ujar Fifi menyambut kedatangan Kalingga dan Beb,
        "Sorry sorry, ada gangguan frekuensi waktu.” Kalingga menebar senyum lalu langsung duduk diantara mereka.

       “Sepulang jogging,  kita  lihat ibu kos ngubur dulu." Lanjut Kalingga.
        "Iya Fi, ngubur bayi cucunya. Nguburnya aneh. Si bayi dimasukan kendi ." Beb menimpali dengan mimik serius dan meyakinkan.
        "Hah bayi dimasukan dalam kendi?" Tanya Fifi, Bernad dan Pupung hampir bersamaan.
        "Suer, gw lihat sendiri! Ya kan Lingga? " Beb minta persetujuan Kalingga untuk meyakinkan teman temannya itu. Kalingga  tersenyum. Tak lama kemudian menarik nafas. Usai menarik nafas ia pun berkata atas nama keyakinan sebagai orang yang mengedepankan berfikir secara logika.

        “Tapi beb, secara logika, gue sih tidak yakin kalau yang di kubur sang bayi. Masa sih bayi bisa masuk dalam kendi? Sekecil kecilnya kepala bayi, pasti nggak muatlah dimasukan dalam kendi.” Kata  Kalingga.
        "Beb, paling yang di kubur itu ari ari bayi " Kata Pupung.
        " Soalnya gue pernah di suruh nyokap  waktu kakak gue melahirkan, untuk membuat lubang sebelum dukun beranak datang" Sambung pupung.
        "Ari ari? Kakak loe melahirkan dengan dukun? " kini giliran tiga cewek serempak bertanya.
        " Hadehhhh lo cewek cewek kok malah nggak tauk ari ari? Tobat biung......." Teriak Pupung.

       “Dan, yang gue maksud dukun, bukan dukun beranak kaliiii... tapi dukun pijit bayi yang biasa urus segala sesuatunya setelah seseorang melahirkan!” Lanjut Pupung.
        "Emang apa ari ari itu?" Tanya Kalingga semakin ingin tahu. Pupung langsung jawab,
        " Kata nyokap gue, ari ari itu saudara halus kita. Soulmeth kita. Konon, Sejak kuno, spiritualitas Jawa mengakui bahwa setiap orang mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Dalam pemahaman spiritualitas universal dinyatakan bahwa setiap manusia  selalu didampingi oleh spirit guide atau pengawal sukma, alias  kakak kawah ari ari. Konon juga berwujud sinar. "

Kalingga masih pasang mimik nggak percaya seorang Pupung yang bokapnya keturunan Tiongkok percaya juga soal ari ari.

     “Nggak usah loe terlalu pikir soal gue deh Ling. Sampai kening berkerut pula. Nyokap kan Jawa totok!” Lanjut Pupung seakan dapat membaca pikiran Kalingga.

Dan rupanya tanpa sepetahuan mereka, Tedy sejak tadi sudah berdiri di pintu sekretariat, menyimak obrolan mereka tentang ari ari.

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta.

Komentar

Loading...