Gadis Gowes (9)

Gadis Gowes (9)
Gadis Gowes

Bab. III.

“Tom Cruise” Sang Penyelamat

Pada ruang langit tanpa batas di atas bumi berkarpet  rumput , mereka telentang berlingkar dengan pandang menatap kerlap kerlip bintang dalam jarak ribuan kaki. Usai melepas suara suka cita di tengah lapang  rumput jelang senja tadi.  Surprise demi surprise mereka terima di luar jangkauan nalar mereka. Pada saatnya kita akan bahagia yang selalu di lontarkan Tedi terbukti sudah. Ibarat pepatah, berakit rakit dahulu bersenang senang kemudian sedang berlaku pada mereka, enam sahabat yang baru saja menyelesaikan sebuah perhelatan yang menggairahkan anak kampus menggowes sepeda. Betapa mereka rasakan dalam merangkai acara bagai banyak bisul tumbuh di tubuh. Semua badan terasa sakit,  makan tak enak tidur tak nyenyak. Kerikil disana sini menghadang jalan membuat jatuh bangun bagai roda berputar.

Sekarang bisul bisul telah   meletus, hati  mereka terasa plong! Seluruh rasa hilang seketika. Kini bulanpun tersenyum mendengar dengkur mereka yang bak  paduan suara tanpa  seorang choirmaster , dengan suara  sopran, alto, tenor, dan bas. Diistilahkan menyanyi secara unisono yang kadang di iringi muncratan air liur.  Atas kelelahan yang mendera mereka sekian hari.  

Tiba tiba Kalingga terjaga dan ia pun tersenyum melihat sahabat  sahabatnya dalam pelukan alam  membentuk lingkaran dan bersama mengumandangkan nyanyian dalam tidur. Terdengar layaknya pementasan paduan suara. Setelah puas menjadi penonton, Kalingga  bangkit lalu  duduk bersila dengan tangan memangku dagunya. Sebutir mutiara bahagia bergulir dari pelopok mata  membasahi pipinya nan licin. “Solidaritas kalian bagai  kumbang membentuk madu.” Ujar Kalingga pelan.

Namun walau suara Kalingga begitu pelan dan hampir tak terdengar, Tedi, memasang telinga dalam sayup  mata. Tak berapa lama Kalingga beranjak dari duduk silanya. Sesuatu yang mengganjal di hati, membawa dia berjalan menjauh dari teman temannya untuk duduk menyendiri. Ia telah membuat sebuah kesalahan terhadap teman temannya. Menjilat ludahnya sendiri. Dia yang membuat kebijakan namun dia sendiri yang melanggarnya.    Kata diri terus mengiang di telinga, sebagai ketua  menekankan kepada  teman temannya untuk tidak membuat keputusan tanpa musyawarah.  Jangan ada dusta diantara mereka. Bayangpun datang dimana diantara mereka menumpukan tangannya satu sama lain lalu serempak berteriak “Pahit dan senang kita pikul bersama, yes!” begitu yel mereka yang di patri sebagai  janji sebelum mereka membuat keputusan mengadakan lomba balap sepeda yang mereka gagas.

Dilema pun membalut diri. Gundah  gulana meraja. Pagi tadi di ruang makan,  mereka menyinggung masalah hasil dana penyelenggaraan Lomba Balap Sepeda itu. Ada yang berwacana baksos ke anak anak kolong jembatan, ke panti jompo ada juga ke yayasan yatim. Mendengar itu, sampai Kalingga tersedak.  Kini dalam langkah gontainya menjauh dari teman temannya , terbayang wajah Rani. Lunglai raga membuat Kalingga menghentikan langkah dan duduk dekat kolam. Datang bayang wajah Rani yang bercerita bagaimana sampai ia kini menjadi seorang Rani penuh pesona. Waktu itu, depresi atas bully teman temannya melanda relung hati , datang bisikan untuk pergi jauh meninggalkan raga.

Namun perjuangan kepompong yang sekian lama harus terdiam dalam belenggu serat serat yang mengikatnya, membangunkan dari mimpi buruk. Bola mata nyaris redup itu kembali menyala. Di tatapnya secara seksama kepompong itu. Lembaran haripun menulis bagaimana  sayap kepompong  mulai tumbuh, sedikit demi sedikit. Lalu makhluk kecil dalam kepompong terlihat  perlahan demi perlahan membuat lubang di tengah bagian kepompongnya lalu mencoba menembus keluar. Pencerahan menyingkirkan keputusasaan. Diamatinya bagaimana detik demi detik geliat perjuangan makhluk dalam kepompong hingga akhirnya perjuangan itu mengubahnya menjadi  kupu kupu.

Penantian yang begitu panjang untuk terlepas dari kungkungan kepompong sungguh panjang dan perlu perjuangan bukan tidak lepas dari cemooh dari sesame habitatnya, para binatang lain. Bahkan ada cerita , seekor semut yang kecil pun telah mengejeknya sebagai kepompong yang tak berdaya. Kalingga membayangkan bagaimana Rani , teman es em pe nya yang tak berdaya dengan ejekan teman teman dengan wajahnya yang cupu, penampilan  unyu unyu, tetap berjuang untuk sekolah dalam bongkahan hati nan pedih. Perjuangan yang melelahkan secara bathin dan fisik tentunya.

Ah..entah kapan Rani terbang sebagai kupu kupu. Hampir 4 tahun tak jumpa. Kalingga dan Rani memilih sekolah lanjutan yang berbeda namun kini di pertemukan lagi dalam satu universitas dengan situasi keadaan yang mengejutkan Kalingga. Relung hati mengusik, tipis helai keyakinan, terbius duniawi glamour atau angin Surga yang datang menerpa  dalam persimpangan jalan? Dalam hidup hakikinya mempunyai dua pilihan, jalan lurus atau menyimpang yang akhirnya menjadi sebuah takdir. Dalam menapak takdir , sesungguhnya ada wahyu yang akan datang bagai hujan jatuh ke bumi. Namun kadang luput dari mata hati. Kepompong  terus menerus menggeliatkan diri untuk dapat lepas menjadi kupu kupu yang dapat bebas terbang di jagat raya dan mengalami pula dalam  proses panjang bagaimana  mendapatkan cairan dari dalam tubuhnya sendiri untuk ia alirkan ke seluruh tubuhnya agar sayap yang telah terbentuk dapat mengembang dan memberi energi hidup keluar dari lubang kepompong. Menjadi kupu kupu cantik yang dapat hinggap dimana saja untuk menghisap sari bunga  agar tetap hidup.

       “Aku harus bagaimana?” Kalingga bertanya dalam tangisnya.

       “Bagaimana apanya?” Terdengar suara Tedi yang tiba tiba sudah ada disampingnya.

       “Kau?..” Kalingga terkejut. Di pandangnya Tedi dalam keremangan cahaya bulan.

       “Ada apakah gerangan ketua?” Tanya Tedi dengan senyumnya.

      “Tak ada.” Jawab Kalingga singkat sambil menyembunyikan selimut duka hati.

      “Butiran air mata saksi kau sedang bersedih. Apakah pundaku bisa jadi sandaran seorang Kalingga?” Tedi mendekatkan diri dan menyodorkan pundaknya. Namun Kalingga justru bangkit dari duduknya.                                                                       

      “Terima kasih.” Katanya lalu berlalu meninggalkan Tedi. Sejenak Tedi termangu lalu ia bersyair.

    “Resahmu, membangunkan jiwa yang tertidur. “ Syair Tedi ternyata menghentikan langkah Kalingga.

    “Rupanya loe seorang penyair juga ya?” akhirnya kata Kalingga.

    “Hahaha..goresan yang ada di hati, kadang menjadi inspirasi. Adakah kau dengar deburan ombak itu?”

         Kalingga mengernyitkan kening mencoba menelaah maksud kata kata Tedi itu. Deburan ombak?

        “Jangan merancau! Disini tak ada laut.”   Kalingga pun kembali balik badan. Namun Pupung sudah berdiri dekatnya.

         “Kita mau ke laut? Malam malam seperti ini?” Ujar Pupung.

         “ini  lagi bermimpi, di gunung mana ada laut. Hadeh!” Kalingga pun meninggalkan Tedi dan Pupung dengan wajah sewot.

        “ Langit disana, turunkanlah  bintang kejora padanya.” Teriak Tedi. Namun Kalingga tetap cuwek kembali ke tempat mereka yang masih telentang. Namun di lihatnya hanya Beb dan Fifie yang pulas tidur di atas rumput itu. sementara Bernad tanpak  sedang menikmati bulan dalam kesendirian.

       “Ehem.” Kalingga mendehem dan Bernadpun menoleh.

       “Dah bangun Nad?” Kalingga langsung duduk di samping Bernad, lelaki paling ganteng diantara tiga lelaki dalam kelompok mahasiswa yang telah menjalin persahabatan sejak SMA itu. Kalingga ikut duduk di samping Bernad. Sebagai gadis gowes yang mengedepankan logika, sangat nyambung jika bicara dengan Bernad blasteran Sunda-Inggris yang lahir di Bandung itu. Hingga keduanya sering mengobrol ngalor ngidul kadang menyerempet masalah keluarga. Kali ini Kalingga tak dapat menyembunyikan apa yang tersimpan dalam relung hatinya pada Bernad. Sambil duduk menompang dagu, ia mengakui selama ini berbohong kalau uang     30 juta dari Rani bukan uang cuma cuma sebagaimana ia katakan pada teman temannya waktu itu . Tapi uang pinjaman yang harus di kembalikan jika uang sponsor cair. Tak ajal Bernad terkejut. Dalam remang cahaya bulan, Bernad merauh wajah sahabatnya itu dari topangan dagu.                                                                                                                                             

       “Waktu itu situasi tidak memungkinkan untuk bicara apa adanya.” Suara lirih  Kalingga terdengar sendu dan ia tak dapat menahan air dalam kubangan mata beningnya. Bernad meraih kepala Kalingga dan di peluknya membuat tangis yang selama ini ditahannya jebol dan membangunkan dua sahabatnya Fifie dan Beb terbangun dari tidur pulasnya.  Tedi dan Pupung pun berlari menghampiri.serta merta Kalinggapun menarik diri dari peluk Bernad.

Bersambung........

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...