Gadis Gowes (8)

Gadis Gowes (8)
Gadis Gowes

Ini juga  berkat kerja keras Pupung yang terus menerus share flayer di sosmed. Juga berkat Bernad yang datang ke kampus kampus dan melobby para ketua BEM untuk menurunkan anggotanya yang bisa bersepeda. Jenis atau katagori lomba yang diambil pun mungkin menjadi salah satu pertimbangan peserta pemula mau ikut.  Jenis Cross-country short circuit hanya berjarak 2 km dengan maksimum durasi 60 menit. Disamnping itu Pupung sungguh lihai bermain kata pada  flayer untuk disebar di medsos. Diapun terus menerus menampilkan wajah cantik Brand Ambassador  yang akan memberi semangat para peserta serta foto both bergambar sang ambassador.

      Fajar menghampar sinar di tengah kemeriahan semangat peserta Lomba Balap Sepeda antar Kampus itu.  Teng jam 06 star baru akan di mulai namun jam 5 pagi  peserta sudah berdatangan. Panitia yang sejak malam mempersiapkan perhelatan, terlihat tetap semangat. Bahkan para birokrat yang akan membuka lomba  sudah hadir seperempat jam sebelum lomba di mulai.  

       Universitas kebanggaan negeri yang memiliki luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer green campus karena hanya 25% lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan kemahasiswaan. 75% wilayah Universitas dapat dikatakan adalah area hijau berwujud hutan kota.  Hamparan sinar mulai menelungsup diantara pepohonan memeluk hangat mereka yang lalu Lalang dengan sepeda aneka warna dan rupa. Diawali grup sepeda jaket kuning, lomba dimulai. Bendera star di angkat bersamaan dengan suara  sirene membakar semangat peserta. Gowesan demi gowesan pembalap sepeda terus terpompa semangatnya sepanjang rute.  Yel yel para supporter menambah semarak serta memberi energi para pembalap untuk terus menggowes sepedanya.  

Namun banyak juga yang bertumbangan sebelum masuk garis finis. Terutama para pemula dan mereka yang sekedar ikut ikutan gowesannya sangat santai dan baru beberapa gowesan akan berhenti atau membasahi tenggorokan dan mengusap wajah yang tersapa mentari. Sementara itu tampak para mahasiswa kedokteran yang sedang koas, menjadi  suka relawan lomba, dan berada di titik titik rawan rute lomba itu  terlihat sibuk.  Memberi pertolongan pertama pada para peserta lomba yang kelelahan.

       Ibarat naik roller coaster, kadang rasanya datar tapi suatu waktu bisa naikin adrenalin. Membuat emosi memuncak, baik oleh rasa bahagia maupun rasa marah. Itulah yang kini di rasakan oleh Kalingga. Tak terhitung beberapa kali dia emosinya tak terkontrol melihat cara kerja diantara teman temannya itu. Namun tak terhitung pula ia memuji kerja panitia yang hebat. Bahkan pelukan hangat ia berikan pada mereka yang kerjanya bagus. Itulah, menjadi ketua sebuah event memang harus mempunyai kematangan jiwa dan dapat memanage emosi hinga ketika hidup memberi benturan, diri sudah siap.Tak di pungkiri Kalingga mempunyai ambisi dalam perhelatan akbar Lomba Balap Sepeda  antar Kampus ini. Ambisi untuk meraih angannya menjadi sebuah kenyataan. Angan ingin menunjukan pada warga kampus bahwa olah raga itu penting sebagai penyeimbang otak yang terus berkerja untuk sebuah IPK. Angan untuk merealisasikan cita cita sejak es em a untuk dapat menyelenggarakan sebuah event dimana dulu dia pernah terjun sebagai lomba balap sepeda.

    “Lingga, Lingga, “ Fifi memanggil Kalingga lalu menyeretnya ke tempat yang sepi.

    “Ada apa Fi?” Tanya Kalingga heran.

    “lihat tuh temen loe, Rani !” Fifi mengarahkan mata Kalingga ke arah dimana Rani dan lelaki paruh baya berdiri di sampingnya. Kalingga tertegun sejenak. Kepompong itu benar benar telah menjadi kupu kupu. Pria di sampingnya mungkin pantas sebagai bapaknya, dan  sepertinya Rani  tak ambil peduli pada mereka yang melihat. Kalingga geleng kepala. Tak lama Kalingga mendapat telpon. Dia pun langsung pamit ke Fifi dan berlari kearah dimana sepeda di parkir lalu dengan cepat gowes sepedanya menuju dimana sang penelpon memberi alamat.

    “Ayo duduk! “ seseorang yang menelpon Kalingga  mempersilahkan duduk. Ternyata mereka adalah para senior juga alumni.  Mereka memberi pujian pada Kalingga. Kalingga hanya senyum saja mendengar puja puji seniornya disamping menjadi pendengar yang baik dan manggut manggut mendengar apa yang dikatakan para senior. Namun yang pasti kalingga begitu sumringah setelah keluar dari ruangan dimana para senior ada. Andai waktu finis peserta masih lama, Kalingga bisa dipastikan terus “dijegal “ diskusi para senior.

      Kalingga sedikit mengerem gowesnya begitu beberapa meter lagi sampai dimana tempat finis peserta lomba.  Sorak sorai para supporter riuh dan penuh semangat setiap peserta lomba sudah beberapa meter lagi masuk garis finis. Bahkan jika yang akan masuk ke garis finis adalah  wanita, emosi penonton tak terkendali. Mereka melepaskan teriakan teriakan bagai trompet di malam tahun baru masehi.  Termasuk Kalingga, satu detik lagi peserta wanita gapai garis finis, ia berteriak histeris lalu memberinya botol minum.

     “Luar  biasa, sungguh luar biasa  untuk peserta wanita Lomba Balap Sepeda antar Kampus ini, mereka tetap bugar dengan tubuh berototnya. Tak henti hentinya Kalingga membiaskan keceriaan di wajah ayunya. Ia bangga dapat mendorong para mahasiswa  bergairah mengikuti lomba balap sepeda.  Dan hampir saja Kalingga pingsan ketika pada detik detik  penyerahan hadiah, ada yang berbisik pemenang tercepat mendapatkan bea siswa. Hal yang tak pernah diduga sebelumnya. Ini kejutan rektor! Surprise yang tak terduga, spontan membuat Kalingga diangkat teman temannya. Lomba Balap Sepeda  ini turut memberikan stimulus tumbuhnya atlet-atlet khususnya di dunia kampus. Dikatakan juga bahwa lomba balap sepeda  antar kampus ini dapat menjadi pelecut semangat atlet ke sea games.

         Tepuk tangan riuh membahana ke seanterio kampus. Bagi para peserta, lomba di area kampus terfavorite  ini, memiliki keunikan tersendiri karena dilaksanakan di sekitar site atau lokasi dimana tempat para mahasiswa mengasah otak. Panitia dalam membuat rute pun sangat unik. Star dan finis di pinggir danau Kenanga, salah satu danau yang ada di universitas tersohor itu yang konon ada cerita kalau danau itu ada hantunya dan sang hantu akan muncul jika air danau pasang. Cerita ini hampir saja menjegal Kalingga untuk tidak menyelenggarakan star dan finis di danau Kenanga. Karena dikhawatirkan tiba tiba air danau pasang. Jika air danau pasang, hantupun datang. Namun Kalingga adalah gadis gowes yang mengedepankan logika, ia tetap mempertahankan  tempat tersebut sebagai tempat star dan finis lomba balap sepeda kendati Tedi terus ngotot pindah tempat.

      “Selesai juga!” Kalingga membuka kata kala 5 sahabat itu melepas capek dengan selonjoran bahkan ada yang tiduran di pinggir danau. Namun bersamaan datangnya semilir angin dari arah tengah danau, tiba tiba Tedi berteriak ada hantu. Tentu saja teman temannya langsung kocar kacir. Bahkan Pupung lari tunggang langgang karena dia pernah mendapat cerita dari seniornya kalau dari dasar danau tersebut akan timbul harimau jika air danau pasang. Melihat teman temannya kucar kacir, Tedi terbahak bahak. Melihat Tedi terbahak.  Kalingga langsung balik badan dan  hampir saja mendorong Tedi ke Danau. Namun Fifie menghalangi. Bernad yang tadi asyik tiduran akhirnya mengguyur Tedi dengan air galon.

Bersambung......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...