Gadis Gowes (7)

Gadis Gowes (7)
Gadis Gowes

 “ Beb beb...kenalin nih temen es em pe gue, namanya Kalingga!”

   Mereka serentak menjawab hai......

   “Dia mantan atlit Balap Sepeda, lho....” sanjungan Rani membuat Kalingga justrul serba salah.

   “ Ayo sini gabung!” Seseorang tampak ramah pada Kalingga.

Kalingga hanya menjawab dengan senyum.

        Rambut boleh sama, namun isi kepala pasti beda. Jika tadi ada seseorang menyambut ramah Kalingga,  tidak dengan yang duduk di sebelahnya. Ia memandang Kalingga dari ujung kaki sampai ujung rambut lalu dengan sedikit sinis, melontarkan pertanyaan:

   “Mau ikut gabung arisan ?” Tanyanya dengan suara tak yakin karena penampilan Kalingga yang kucel.

   “Per bulan arisannya 3 juta lho...di luar makan dan bayar fotografer!” Seseorang menyambar dengan mimik yang juga tak yakin Kalingga bisa ikutan gabung dengan mereka. So, apa yang menempel di badan Kalingga dan tas kucelnya saja mungkin tak sampai ratusan ribu. Bagaimana bisa mengeluarkan duit jutaan. Pikir mereka. Sungguh membuat merah padam wajah Kalingga. Kupingpun terasa panas dibuatnya.  

   “Aduh... dia kesini hanya mau ketemu gue dan atas undangan gue juga!” Rani mencairkan suasana.

   “Dia temen es em pe gue. Sekarang satu kampus sama gue dan dia jadi ketua Himpunan juga ketua panitia Lomba Balap Sepeda Antar Kampus!” Jelas Rani

   “Oooooo” koor mereka.

   “Trus, loe ngapain panggil dia kemari beb?” Celetuk salah seorang dari mereka.

   “Mau kasih dia ini!” Rani memberikan segepok uang yang baru saja di dapatnya dari arisan. Tentu saja hal itu membuat mereka terbengong tak percaya.

   “Hah? Uang arisan itu…?” belum mereka lanjut dengan perkataannya, Rani berucap,

    “Kampus gue mau adakan lomba, so harus partisipasi dong..” celoteh Rani dengan gaya manja. Kemudian di tariknya tangan Kalingga lalu uang yang baru diterima itupun berpindah tangan. Kalingga tampak tak langsung menerima uang tersebut. Di tatapnya sahabat masa es em penya itu. Bibir Rani yang full gincu merah mengembang. Ia tersenyum sambil pegang erat tangan Kalingga.

   “Mau makan dulu atau langsung ke kampus?”

   “oh, eh ng..” Kalingga tergugup. Perutnya keroncongan setelah menggowes sepeda kiloan meter itu. Namun tak mungkin ia gabung makan Bersama mereka. Kalinggapun pamit dan  Rani mengantar Kalingga sampai di ujung jembatan kecil penghubung resto dan lorong masuk dan keluar ruang resto. Sekilas terdengar oleh Kalingga, hujanan pujian buat Rani dari teman teman arisannya. Mereka pikir, Rani sangat peduli pada event olah raga di kampusnya. Hanya hanya tebar pesona dengan senyum kepompong yang telah menjadi kupu kupu. Tak lama kemudian hand phone Rani berdering. Di  ujung benda kecil yang canggih itu, bibirnya yang mungil mendesah desah dan berkata manja,

   “Yang, aku tadi narik arisan. Tadinya untuk beli cincin berlian, eh.. anak kampus datang minta sumbangan.”

    “Apa?”

   “ Nanti kita ke Melawai? Asyikkkkk..” Rani berjingkrak setelah menutup telphon nya. Teman temannya yang tahu akal bulus Rani pun tertawa. Mereka tahu Melawai yang dimaksud adalah tempatnya surga berlian mewah.

    “Dasar kupu kupu!” ujar teman temannya serentak. Dan Rani cuwek. Tidak dengan Kalingga. Dia yang masih berdiri karena ragu dengan uang pinjaman tersebut, mendadak sakit perut. Di lihatnya terus amplop coklat di tangannya. Tak lama Kalingga balik badan akan mengembalikan uang itu ke Rani namun terbayang lomba bisa ambyar kalau uang itu dikembalikan.  Kalingga kesal sendiri. Akhirnya kembali balik badan dan bergegas menjauh dari restoran Jepang itu. Dan sepanjang jalan gowes menuju kampus kembali , terngiang pada buah telinga gadis gowes itu percakapannya dengan Rani.

      “Di dunia ini tidak ada yang gratis dan uang tidak begitu saja jatuh dari langit dan  Rani mengumpakan dirinya bagai bunga mawar dengan duri yang tajam. Bunga terpetik, badan harus sudah siap tertusuk duri.  

     “Coba loe lihat keindahan bunga mawar itu! “ Rani  mengarahkan telunjuknya pada pohon bunga mawar yang tertanam di luar. saat kuncup terlihat sangat segar dan cantik. Sama seperti gadis remaja yang beranjak dewasa. Ketika mekar, kelopak bunganya akan terbuka sedikit demi sedikit dan akhirnya memperlihatkan kecantikannya yang sempurna. sama seperti wanita dewasa yang sudah memasuki usia matang. Di sisi lain, keragaman warna mawar dapat dianalogikan sebagai sifat dan karakter kecantikan hati yang berbeda beda dari setiap wanita.

      “Maksud loe?” Tanya Kalingga tak mengerti.

      “Ya... bunga mawar itu memberi keharuman di sekitarnya. Tapi banyak duri dalam tangkainya.

Kalingga mencoba menyimak kata kata Rani lalu mencari kolerasi nya.

     “Ketika gue harus memilih ingin tampil seperti kupu kupu cantik yang branded, ya harus siap menerima resiko.” Lanjut Rani yang menurut Kalingga kok nggak nyambung antara cerita bunga mawar yang sangat filosofis dengan kupu kupu cantik. Selama ini apa yang di lihat Kalingga di hampir semua tempat, kupu kupu itu bentuk dan warnanya sangat cantik. Karena itu banyak seniman memanfaatkan kupu kupu untuk menjadi hiasan dinding yang antik dan exlusif dengan terlebih dahulu di awetkan dengan air keras hingga kupu kupu tersebut menjadi kaku. 

Bahkan dibeberapa tempat seperti di Bali, Jakarta, Malang, Kebumen dan Makasar mengabadikan kupu kupu di sebuah museum. Dan yang paling berkesan diantara museum museum kupu kupu tersebut, Hanya museum Kupu-kupu Bantimurung, Maros. Selain ratusan Kupu kupu yang di awetkan dan  terpajang di etalase kaca yang berbentuk atap kerucut, kita juga dapat menyaksikan langsung banyaknya spesies kupu kupu  jenis papilo androkles dan papilo blumei di Maros, Makasar. 

     “Ran, memang banyak jalan menuju Roma, tapi jalan yang loe buat terlalu berbelit. The to point aja kenapa?” akhirnya kata Kalingga.

     Rani tertawa.

     “Baiklah....” Kata Rani sambil mengembangkan senyumnya.                          

     “Gue mau bantu loe, tapi nggak gratis. Dan kalau loe macam macam sama gue, gue tak segan untuk membaret badan loe pakai duri!” Jelas Rani diantara kerlip lampu malam.

     "Hah? Gue nggak salah denger kan? " tanya Kalingga kaget.

     "Kuping loe masih waras kan?" Rani balik bertanya.

     "Ya gue ngomong apa adanya." Lanjut Rani dengan tegas.

    “Yang gue tahu tentang filosofi bunga mawar, nggak seperti itu Ran.” Kalingga mencoba membuka pengetahun tentang bunga mawar yang sebenarnya pada Rani.

   “ Benar tanaman bunga mawar banyak durinya. Tapi duri itu untuk melindungi diri. Dan justrul sosok tanaman bunga mawar yang kuat dan berduri inilah yang menjadi dasar filosofi bunga mawar sebagai lambang wanita yang kuat walapun berjiwa lembut dan penuh kasih sayang. Duri-duri itu untuk melindungi bunga mawar dari sentuhan asing orang yang ingin mengambil bunganya.”

   “ Aku juga harus melindungi diri dong..” sanggah Rani.

   “ Beda presepsi kali...masalah hutang piutang dengan makna yang terkandung dalam filosofi duri pada bunga mawar” Kalingga menarik nafas panjang. Lalu lanjutnya

    “ Mungkin sangat tepat duri itu menggambarkan kekuatan wanita untuk melindungi kehormatan dan harga dirinya. Seperti yang kita pahami sejak dulu wanita sangat rentan terhadap eksploitasi dan ancaman dunia bebas, oleh sebab itulah wanita dibekali dengan karakter yang kuat seperti duri yang tajam pada bunga mawar yang bisa dengan mudah melukai orang yang tidak hati-hati dan bahkan mencoba untuk menggenggamnya. Tapi di dalamnya diciptakan hati yang bersinar dan penuh kasih. Jadi duri itu bukan untuk dengan sengaja melukai orang.”

    Rani terdiam mendengar kata wanita itu sangat rentan terhadap eksploitasi dunia bebas. Kalinggapun berkesempatan kembali bicara.

    “Tapi, gue bukan tipe perempuan tak bertanggungjawab kok. Mungkin itu bisa loe lihat sejak kita sama sama di es em pe. Hingga gue di percaya sebagai ketua osis. Satu satunya perempuan yang berhasil jadi ketua osis sejak adanya osis di sekolahan. Jangan khawatir duit loe tidak kembali. Ada sponsor berupa tunai tapi diberikan setelah acara selesai.” Pungkas Kalingga.

    Rani menatap tajam Kalingga. Mencari tahu kebenaran apakah memang Kalingga mempunyai sifat yang tak berubah seperti dirinya membuat Kalingga terlihat serba salah. Namun tak lama kemudian Rani mencairkan suasana setelah ia menulis sesuatu di secarik kertas yang ia robek dari buku pelajaran.

    “It’s ok. Gue percaya loe. Besok kita ketemuan di Restoran Jepang. Ini alamatnya” Akhirnya kata Rani sambil memberi alamat restoran Jepang yang tadi di kunjungi dan membuat perut gadis gowes  Kalingga mual. Pastinya  ayam kampus itu hidup di atas penderitaan para nyonyah rumah.  Kalingga tersenyum kecut. Membayangkan para anak kampus yang bergaya sosialis tadi.  

    “Ku rasa dia bukan saja belajar banyak dari kepompong tapi juga dari sinetron!” namun tak lama di ujung hati gadis gowes itu mengakui kelamnya kehidupan teman es em pe nya tersebut masih ada rasa prikemanusiaannya.

         Hari bersejarah tiba. Kehebohan pun terjadi di pagi buta dari membludaknya peserta. Semangat mereka  melampaui ruang dan waktu, Kalingga, Fifi, Beb, Pupung, Tedi dan bernad panitia pentolan tampak kompak di lapangan. Mereka dapat menyihir kampus menjadi ajang lomba berprestise. Jalan jalan yang akan di lalui para balap sepeda selain dipenuhi  hiasan umbul umbul dan spanduk   yang bertuliskan untuk membangkitkan semangat peserta, juga dibuat gundukan buatan dari akar dan bebatuan. Pada titik yang telah di tentukan, yunior yunior sudah siap dengan aqua di tangan untuk diberikan kepada para peserta yang kehausan selain itu juga panitia menyiapkan water station yang menyiapkan minuman  berion dan air biasa. Karena Kalingga paham, para peserta lomba  pasti membutuhkan minuman berion untuk menjaga stamina nya juga  untuk menyiramkan ke kepalanya agar segar.  

Bagian kebersihan dengan topi petani siap dengan penjepit sampah dan tas kresek hitam besar. Pasukan pita biru, pasukan gabungan peran seni dan lagu dengan di sudut tertentu siap memberi yel yel semangat.  Bagian regristasi ulang duduk berdekatan dengan bagian tempat penitipan tas (drop bag area) peserta untuk memudahkan peserta menitipkan barang bawaannya. Meja regristasipun ada dua puluh puluh meja untuk menghindari antrian panjang yang akan mengganggu mereka berjalan ke area star. Karena banyak mahasiswa turun gunung untuk ikut lomba balap sepeda pemula ini. Apa yang di lakukan Kalingga untuk all out terhadap kerja lomba balap sepeda antar Kampus  ini benar-benar bikin air liur kampus lain menetes. Yang daftar bukan hanya mereka yang biasa ikut balap sepeda, melainkan juga para anak kampus yang tadinya bersepeda hanya sekedar ingin membakar karbo di tubuh, ikut meramaikan.

Bersambung......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...