Gadis Gowes (6)

Gadis Gowes (6)
Gadis Gowes

Bab. II

Gowes

      Gowes, istilah popular untuk bersepeda. Berawal dari  negeri Eropa yang pada abad ke 19  mengajak masyarakatnya untuk berolah raga dengan biaya murah, bersepeda.  Sambutan antusias masyarakatnya terhadap olah raga bersepeda, dan melihat hasilnya terhadap pembentukan tubuh dan penguatan otot atas olah raga bersepeda, maka era  baru bersepeda di Eropa, dengan cepat menyebar luas  ke Amerika dan seluruh belahan dunia. Livestrong dan 24hrfitness.co.uk, mengulas manfaat besar dari bersepeda , olah raga ini semakin menjamur.

Di paparkan bahwa  manfaat dari bersepeda selain  membantu pembentukan  tubuh yang ideal dengan otot yang kuat, serta mengencangkan area paha, otot betis dan daerah panggul. Juga  melancarkan sirkulasi darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi ke semua otot seluruh tubuh.  Yang tak kalah penting, sepeda baik untuk kesehatan kardio (jantung ). Bagi Gadis Gowes Kalingga, menggowes sepeda memberi energi baru dan kadar stress pun  akan ke titik nol.  Berat badan stabil.                                 

Itulah mengapa Kalingga sangat berambisi mengadakan Lomba Balap Sepeda. Ia ingin mengajak generasi muda untuk hidup sehat dengan otot kuat. Namun rupanya tak mudah untuk melakukan hal itu. Sebuah event memerlukan biaya tidak sedikit. Apalagi sebagai pemula menyelenggarakan event, ibarat bayi berlatih berdiri.     Berkali kali harus terjatuh dan hanya dengan bantuan , ia benar benar bisa berdiri.

Begitulah adanya dengan lomba balap sepeda yang akan di selenggarakan Kalingga dan teman temannya tersebut. Masih memerlukan biaya. Kalingga sudah  mencoba menghibur diri dengan melihat  target-target kecil dengan membuat to-do list atau target harian yang harus diraihnya, sebagai bahan evaluasi juga tentu nya. Namun rasanya ingin muntah melihat banyak target tak tercapai. Otak rasa buntu, entah harus berbuat apa lagi.

Untungnya penyesalan  yang datang menyelip di antara relung hati, segera di jepit. life is a choice (hidup adalah pilihan ) begitu kata sisi hati yang lain dari kalingga. Ia pun hanya bisa menatap jauh sebatas pandang danau disamping sepeda kesayangannya. Tak lama kemudian ia pun bicara dengan seseorang di ujung telepon. Sebersit harapan datang. Lomba tetap berjalan. Kalingga pun berteriak gembira selepas menutup telpon. Semangat yang hampir pupus , kembali bangkit. Dengan sigap, Kalingga mengambil sepedanya lalu menggowes dengan kecepatan tinggi. “Aku harus ke sekretariat.” Namun, sesampainya di sekretariat, rembulan di wajah Gadis Gowes Kalingga meredup. Ruang itu kosong. Ia coba telepon Tedi , ternyata dia sedang Latihan silat  di padepokan. Diapun hanya dapat menarik nafas panjang.

     “Ok, besok kita bicarakan. “ begitu jawab Tedi ketika Kalingga mengutarakan maksud ia telepon. Mendapat jawaban di ujung telepon, mulut Kalingga manyun. Padahal ia berharap Tedi dapat di ajak diskusi tentang kabar yang baru saja ia terima melalui telepon di pinggir danau. Kalingga pun termangu sendiri diantara kacaunya letak kursi. Disaat logika Kalingga tumpul, dan berharap Tedi dapat membantu masalah yang di hadapinya dengan ilmu “terawang” yang ia punya, Tedi tak bisa di harap.

Alhasil, walau disela bulan bersembunyi ada titik sinar kecil,  untuk lomba balap sepeda, gadis gowes Kalingga tak dapat memencingkan mata. Di tengoknya  ranjang Beb,  tampak sahabatnya itu  sudah terlelap memeluk guling.  Kegelisahan yang meraja, membuat Kalingga bangkit dari tidur lalu diambilnya sepeda. Tak lama kemudian, gadis gowes itu “time out” dengan bersepeda sekencang kencangnya diantara hembusan angin malam. 

Kalingga memang bukan tipe orang dalam melawan gundah gulana hati dengan  nonton drama Korea atau gegoleran di kamar. Dia adalah tipe perempuan dinamis dan optimis sebagai gadis gowes. Setelah ia benar benar letih, baru ngandang ke kamar dan tidur pulas. Hingga Beb yang ada janji dengan dosen sebelum jam kuliah bergegas ke kampus tanpa membangunkan Kalingga. Tentu saja membuat Kalingga kelimpungan kala Mentari menembus sela jendela dan di lihatnya tempat tidur Beb kosong. Ia pun lekas ke kamar mandi dan hanya mandi bebek. Kemudian dandan seadanya lalu bergegas mengambil sepeda dan menggowes ke kampus.

      Usai jam kuliah,   Kalingga  langsung menggowes sepedanya keluar kampus tanpa mampir ke sekretariat dimana teman temannya sudah menunggu. Pada jalan yang cukup ramai kendaraan, Kalingga terus menggowes sepedanya menuju alamat yang kemarin diberikan seseorang padanya. Walau jarak tempuh ke alamat tersebut kiloan meter, Kaki Kalingga terlihat tetap kuat menggowes sepedanya. Debu debu yang terkadang berterbangan di terpa angin , untungnya hanya  menghalangi jarak pandang Kalingga, karena kepalanya tertutup Helm sepeda. Dan dengan helm itu  Kalinggapun aman dari polusi udara akibat kentut mobil lawas dan jarang uji emisi.

Akhirnya gadis gowes sampai juga di sebuah mall dimana terdapat alamat restoran jepang  yang terkenal dengan kelezatan  Sushi nya,  sebuah  menu andalan  yang banyak penggemarnya. Kadang untuk makan disana harus pesan sehari sebelumnya kalau tidak mau antri panjang. Gadis gowes Kalingga tersenyum kecut melihat kenyataan itu. Dalam benaknya berkata , mereka seakan lupa kalau negara asal sushi tersebut pernah menjajah negerinya bahkan banyak perempuan perempuan Indonesia di zaman penjajahan Jepang yang dijadikan budak nafsu seks yang dalam istilah Korea Selatan adalah Jugun Ianfu.

Bukan itu saja, ketika adanya keberanian dari seorang Kim Han Sook, penyintas 'ianfu' asal Korea Selatan memberikan kesaksian secara terbuka kepada publik pada 1992, mantan Jugun Ianfu dari Indonesia pun ada yang berani buka suara tentang kekejaman Jepang pada waktu itu. Mereka bukan hanya dijadikan budak seks saja melainkan juga mengalami kekerasan secara fisik lainnya. Hingga banyak juga diantara mereka mempunyai Rahim yang busuk. Sementara para prianya di rekrut kerja rodi, romusha.

        Gadis Gowes Kalingga  memarkir sepedanya lalu  menarik nafas panjang. Helm yang dikenakannya tadi ia masukan dalam ransel gendongnya. Tak lama kemudian bergegas menuju resto yang dimaksud. Sesampainya depan pintu resto, mata Kalingga  menyapu ruang resto dari sela sela kayu. Terlihat  kursi kursi terisi penuh dan mereka yang sedang makan sungguh menikmati hidangan yang tersaji. Mata Kalingga pun tertuju pada sekelompok wanita yang duduk di dekat pintu masuk resto Jepang itu. Di lihat dari wajahnya, usianya rata rata sama dengan dirinya kecuali yang berambut keriting, dia agak tua. Dengan seksama Kalingga melihat satu persatu para wanita yang duduk bergerombol itu. Styling rambut mereka rata rata memberi sanggul kecil atau ceplok di atas kepala dengan wajah terbungkus make up tebal, lipstik merah merona dan alis hitam hasil sulam. Melihat itu, Kalingga pun ragu untuk masuk karena tak ada orang yang di maksud. Dan tak mungkin juga jika Kalingga masuk ke dalam dengan pakaian ala kampusnya serta wajah polos tanpa make up.

Sementara mereka yang datang  bergaya selebriti, wajah terhias,  menjingjing tas branded, bersepatu hak tinggi. Kalingga mencoba menilai apa yang di pakai dirinya, kemeja dan jean ala kebanyakan yang di pakai anak kampus, dan sepatu cats. Tas yang tergantung di pundakpun hanya terbuat dari bahan kanvas. Kalingga pun balik badan untuk kembali ke parkir sepeda.

Namun ketika keluar lobby, dilihatnya mobil mewah berhenti lalu keluar gadis cantik yang membuat matanya terbelalak.  Kalingga tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Gadis cantik itu ternyata Rani, teman es em pe nya yang mengaku banyak belajar dari kepompong itu dan telah mengundangnya Kalingga kemarin di ujung telepon untuk ketemuan di resto Jepang. Betapa Kalingga tidak membelalakan mata, ia ingat betul ketika masih sekelas dengannya di sebuah  es em pe di kampungnya. Rani yang dulu terkenal dengan panggilan gadis cupu, tampak turun dari mobil mewah dengan anggun dan tubuh berbalut kimono sutra. Rambutnya di sanggul modern dengan cepol di atas. Kakinya yang kini ramping dan mulus itu memakai sepatu berhak 9 centi menambah kesan seksi. Tas yang di apit lengannya walau kecil namun bermerk menjadikan dia  tampak terlihat berkelas. Semerbak parfum yang di pakainya terendus sampai dimana Kalingga berdiri.

Kalingga benar benar dibuat terpesona atas  penampilan teman es em pe nya itu. Gayanya melebihi selebritis! Pancaran sinar dari langit nan cerah, menciutkan hati Kalingga seperti buah terjemur. Ia terus terbengong seperti sapi ompong. Untuk ia segera tersadar oleh dering telp dalam tas nya. Ia pun segera mencari hp dalam tas ranselnya. Belum juga gadis gowes tersebut mendapatkan hp nya, Rani sudah berdiri dihadapannya.  

    “Kalingga..” Ujarnya sambil langsung memeluk Kalingga.

    “Sudah lama nunggu ya?” tambahnya setelah melepas pelukannya. Kalingga seakan masih terpaku.Ia hanya dapat terdiam.

    “Kenapa Ling? Ayo masuk!” Rani langsung menggandeng Kalingga menuju restoran dimana teman temannya telah kumpul. Namun begitu Kalingga depan pintu restoran, ia melepaskan cekalan tangan Rani.

     “Lebih baik aku balik ke kampus!” Ujar Kalingga.

     “Ups, kenapa? Ayo biar aku kenalkan dengan teman temanku.”

     “Terima kasih ya. Lain kali saja kita ketemuan lagi. Di kampus.” Kalingga membalikan badannya. Namun baru beberapa langkah, temannya berkata.

     “Hari ini gue narik arisan 30 juta. Bukankah loe butuh buat acara lomba balap sepeda?” Demi mendengar kata balap sepeda, Kalingga menghentikan langkahnya.

Rani menariknya kembali untuk masuk. Dengan terpaksa, Kalinggapun mengikuti langkah temannya itu. Mereka disambut ramah kedua gadis berkimono seragam resto tersebut. Kalingga merasa tersihir dengan interior dan ornamen serasa di Jepang. Di sudut terletak pohon bunga sakura yang walau terbuat dari kertas, sekilas terlihat asli. Warna bunga pink memberi kesan ceria seorang wanita. Di dinding terpasang cermin bulat terbingkai kayu antik. Pada langit langit restoran bergelantungan lampion berwarna merah cantik. Belok sedikit ada jembatan kecil terbuat dari semen dengan action bambu yang mana dibawah jembatan berseliweran ikan koi berwarna warni.

Setelah melewati jembatan kecil itu baru tampak kelompok wanita  sedang menyantap makanan ala Jepang dengan sumpit di tangan. Tiba tiba mata Kalingga tertuju pada perempuan berkimono dengan gelungan rambut dia atas dan alis terlukis ba' bulan sabit. Sementara di sampingnya seorang perempuan yang membiarkan  rambut ikal tergerai  bagai gelombang ombak. Disana sini tercium Wangi semerbak parfum berbagai rupa. Di lihat dari wajah wajah mereka mungkin usianya tak jauh beda dengan Rani. Apakah mereka mahasiswi seperti Rani teman es em penya yang terkenal dengan sebutan “ayam kampus?” selalu memakai parfum dengan wangi menggoda? Ah… Kalingga termangu. Make up mereka mungkin juga berharga mahal. Wajah wajah mereka licin, glowing. Apakah mereka negitu mudah mendapatkan uangnya? Kalinggapun menghitung teman teman arisan Rani. Jumlahnya tidak banyak tapi kata Ririe jika menang arisan akan mendapatkan uang 30 juta. Berapa per bulan arisannya? Kalingga menelan ludah.

   “Hai Lingga....” suara Rani membuyarkan lamunan Kalingga. Terlihat bagaimana Kalingga sangat gugup. Rani tersenyum lalu memperkenalkan Kalingga pada teman temannya.

Bersambung......

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus Harian IWAPI Jakarta

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...