Gadis Gowes (5)

Gadis Gowes (5)
Gadis Gowes

Melihat Kalingga terampun ampun, merekapun tertawa lalu  saling canda. Namun kala  Ki Lido datang, mereka langsung diam dan patuh akan arahan Ki Lido. Duduk melingkar dengan bersila. Lalu semua diminta untuk  berkonsentrasi mata tertuju ke arah triplek kecil yang diletakan Ki Lido di tengah tengah mereka. Lalu dengan cekatan tempak  Ki Lido  memutarkan alat yang mirip bandul kalung di atas triplek itu. Walau Ki Lido terlihat fokus pada bandul di atas triplek, ia berteriak ketika tiba tiba Kalingga berdiri.

     “Sebelum ku baca mantra, tidak ada orang yang berdiri.”

      Semua pandangan tertuju pada Kalingga, ta kajal Kalingga pun  menggelosorkan tubuhnya untuk Kembali bersila diantara teman temannya itu.

    “Duduk semua!” tegas  Ki Lido . merekapun patuh.

Setelah semua duduk melingkar, Ki Lido memejamkan matanya. Kemudian memulai baca mantera:

     “Marmati sedulurku. Papat Kalimo Pancer Kakang Kawah Adhi Ari ari. Gertih lan puser sing dadi sanak kadangku kabeh. Gosok no paningal, pangambu, pangucap la. Rosoningsun. Rewang rewanggono ingsun, sak kabehe tindak lakuku sak rinane sak wengine karono Gusti Alloh, Laaillahaillallah Muhammad Rosululloh…” setelah membaca mantera ini Ki Lido terus memejamkan mata lalu kumat kamit tanpa suara. Kemudian meminta Tedi berdiri.

Setelah Tedi berdiri, Ki Lido pun berdiri kemudian memberi Tedi minum air kelapa yang sudah dibacakan mantra oleh Ki Lido. Selesai minum air kelapa, Tedi diminta  untuk mengikuti apa yang dikatakan Ki Lido. Di kegelapan jelang pergantian hari,   ritual yang sedang dilakukan Ki Lido sunguh membuat teman-teman Tedi takut. Bahkan Beb sampai tidak bisa menahan pipis karena ketakutan. Untung dia pakai baju tidur batik gombrong hingga teman temannya tak mengetahui. Kecuali Kalingga yang duduknya bersebelahan mulai merasakan ada air hangat dan bau pesing menghampiri. Bola mata Kalingga serta merta melotot kea rah Beb. Namun sebelum kemarahannya termuntahkan, Beb memohon maaf dan mohon tak bersuara dengan Bahasa isyarat . andai ritual itu belum di mulai, Beb pastinya kena bogem Kalingga.

       Suasana malam itu sangat beda terasa kala Tedi mengikuti  Ki Lido membaca mantra. Sepoi angin seakan diikuti bisikan suara membuat bulu kuduk bangun.  Tak lama kemudian, terlihat Tedi  mulai mengoceh  tak jelas. Menjadikan Beb  sangat ketakutan. Kalingga bangun karena air mulai menyentuh kulitnya. Namun oleh Ki Lido di perintahkan duduk kembali. Kalinggapun menurut dengan minta Fifi bergeser. Akhirnya mereka saling bergeser. Pergeseran duduk membuat Pupung berteriak.

       “Air..ada air ada air..”

 Hal tersebut membuat Ki Lido marah bukan main. Prosesi  pemanggilan arwah menjadi terganggu. Dengan wajah merah padam, serta merta Ki Lido  menyiramkan air putih  ke muka Tedi lalu pergi begitu saja. Tedi terkulai lemas. Melihat itu Kalingga bangkit dari duduknya dan mencegah Ki Lido untuk jangan pergi.

      “Ki, Ki Lido, bagaimana bisa Ki Lido pergi dengan Teman kami terkulai bagi tanpa tulang?”

      Namun Ki Lido mendorong tubuh Kalingga lalu tetap melangkah dengan diam seribu bahasa. Kalingga ingin mencoba mencegah kembali, namun nyalinya menjadi ciut kala mata Ki Lido yang bagai mata kucing di kegelapan,  menatap tajam,  ba’ siap menerkam.  

       “Siapa yang kencing sih?” Pupung marah sebelum para sahabatnya menghakimi karena menggagalkan ritual malam ini.

       “gu..gu..gue...” Beb menjawab terbata bata dengan ketakutan.

        “Ya ampunnnn beb, loe tuh kan mahasiswa!” teriak Fifi sambil membangunkan Tedi yang terkulai lemas itu. Lalu memijit tubuh Tedi pada titik titik tertentu.

        “Muke gile lo beb, gue di kencingin!” teriak Pupung.

        “Udah udah, gue yang pertama di kena rembesan kencing dia. Nih, baju gue bau pesing.”

        “Maafin gue temen temen.. gue nggak bisa nahan...takutttt”

        “Maaf maaf, enak aja loe ngomong gitu! Lihat akibatnya!”

       “Lo mestinya pakai pempers!” 

       Beb pun bagai udang di siram air panas, mengkeret gitu.  Bernad melihatnya tak tega. Ia pun  mencoba menengahi.

       “Sudahlah...Loe pade ributin apaan sih? Kasihan tuh Tedi, dia lunglai. Ayo Pung bantu papah Tedi pulang!”

       “Biar aku pijit dulu!” potong Fifi sambil terus memijit Tedi.

       “Keren loe Fi, ngerti juga ilmu refleksi!”

       “Gue Fifi Young, harus bisa ilmu leluhur!” Fifi yang keturunan China itu membanggakan diri.

        “Pijat refleksi sebenarnya sepanjang sejarah ada di berbagai belahan dunia. Tidak hanya Asia, Eropa dan Amerika. Di Amerika orang India secara turun temurun memberikan alternative pengobatan dengan pijit refleksi. Makanya gue tertarik mempelajarinya.” Lanjut Fifi.

       “Sejarah pertama kali ada ilmu pijit refleksi ceritain dong! ?”  Pupung terlihat tertarik dengan ilmu refleksi rasa ingin tahunya menggelitik hati. Pupung pun menggosor dan duduk di samping Fifi.

       “Modus!” teriak Bernad.

      “iya modus. Hahaha… bilang saja mau duduk sebelah Fifi.” Timpal Beb.

      “Terserah apa kata loe pada deh. Gue serius pingin tahu sejarah pijit refleksi.” Bantah Pupung setengah hati. Karena sesungguhnya bukan rahasia umum lagi Pupung suka dengan Fifi.

      “Rumit ah bicara sejarah siapa pertama kali yang menemukan ilmu pijit refleksi. Yang pasti Mesir merupakan salah satu bangsa di dunia yang memiliki sumbangsih yang cukup besar untuk dunia pengobatan, astronomi, dan Teknik memijat dan sebuah papirus Mesir dari tahun 2500 SM menyertakan sebuah gambar tentang para ahli pengobatan yang sedang melakukan pemijatan pada kaki dan tangan. Termasuk pada kaki dan tangan putri Firaun. Tapi Tiongkok lebih terkenal dengan pijit refleksi ini.”

      “Tak sangka, loe sedalam itu nyelam di dunia  ferleksi. Gue bangga punya teman seperti loe, Fi.” Ujar Tedi usai Fifi bercerita. Seketika wajah Fifi sumringah mendengar apa yang dikatakan Tedi.

     “Gue juga bangga punya temen bseperti loe yang tetap mempertahankan warisan nenek moyang “ Fifi melempar senyum sambil terus memijat Tedi.

      “Ted, loe jangan pura pura sakit gitu deh!” Ujar Pupung ketus.

      “Pung, otak loe panas? “ Kalingga menempelkan telapak tangannya ke jidat Pupung.

      “Maksud loe?”

        “Maksud loe maksud loe, Dasar otak konslet. Jelas jelas kita semua lihat Tedi lunglai bagai tak  bertulang,  loe bilang pura pura. Hadeh!”

        “Ling, mata Tedi tuh dari tadi curi pandang si Fifi.” Pupung mencoba bela diri

       “Dan...loe cemburu gitu? “ pungkas Kalingga yang membuat Pupung mati kutu.

Pertanyaan Kalingga membuat  wajah Pupung merah padam menahan malu. Lalu dengan sewot, pria  bertubuh gempal itu meninggalkan mereka tanpa permisi.

         “Pung, Pung....”Kalingga memanggil Pupung.

Yang di panggil tak sedikitpun nengok. Ia terus meninggalkan teman temannya.

Keruan saja para sahabatnya saling tatap. 

   “Sudah biarin aja Ling, Pupung emang gitu. Nanti juga dia balik. Percaya ama gue!” Suara Fifi seperti di sengaja, ia besarkan volume agar terdengar oleh kuping Pupung. Dan bagai anak panah yang melesat , perkataan Fifi langsung mengenai sasaran. Pupung membalikan badannya.

   “Suara loe, merdu banget Fi! Hehehe...” Pupung yang balik badan sambil cengengesan, membuat wajah wajah sahabatnya ceria.

   “Dasar loe ya, dalam situasi kayak gini masih aja akting. Anjrit!” Kata Bernad  sambil ninju perut buncit Pupung.

   “Sial, gue ketipu. Hahhaha...” Kalingga tertawa lebar lalu mengibaskan bajunya yang terkena air kencing Beb kea rah Pupung.

    “Ampunnn..” Pupung menghindar dan Kalingga mengejar. Merekapun akhirnya berkejaran.

    Minus satu bulan lomba balap sepeda antar Kampus, belum juga dapat sponsor dana. Sementara kampus hanya memberikan piala bergilir dan fasilitas tempat.  Walau ada yang berpartisipasi itupun berupa produck buat hadiah dan kaos panitia.  Untung mobilitas dan konsumsi keseharian anak anak Himpunan yang terlibat dalam kepanitiaan masih dapat sokongan kocek orang tua. Kalingga pusing kepala. Nggak mungkin  acara batal. Para peserta yang sudah daftar sudah membludak. Dan tentu mereka sudah melakukan persiapan fisik sejak mendaftar.   Latihan fisik untuk ikut balap sepeda bukanlah sesuatu yang bisa lakukan dalam beberapa minggu. Gowes sepeda  mengerahkan seluruh energi tubuh, termasuk tendon, ligamen, tulang, kesehatan jantung dan paru, dan akan sama beratnya pada stamina mental. Dimana akan memerlukan setidaknya beberapa bulan untuk melatih tubuh  beradaptasi dengan medan yang akan Anda dilalui, terutama bagi pemula. Kalingga paham sekali akan hal itu. Sebab dulu dia salah satu atlit balap sepeda di sekolahnya ketika masih es em pe dan es em a. Namun sejak masuk kampus , sulit baginya mengikuti lomba lomba. Dan adalah dambaannya sejak dulu suatu saat dapat melaksanakan lomba balap sepeda. Sebuah angan yang selalu di mintanya ke langit kala bintang bertaburan atau di atas sejadah kala mencium bumi.

     Pada balap sepeda ini pastinya peserta berharap mendapat juara dan hadiah. Minimal sepeda yang akan lebih memberi semangat menggowes. Kesuksesan tersebut tentunya tidak dapat  diraih begitu saja. Tapi harus konsisten menambahkan jarak latihan bersepeda agar tubuh kita dapat beradaptasi dengan gowes sepeda dalam jangka waktu tak biasanya. Kalingga sangat yakin walau yang di lombakan untuk  katagori Cross-country short circuit (XCC) dimana sirkuitnya adalah jalan seputar kampus dan berjarak hanya 2 km dengan durasi 60 menit, bagi pemula pastinya akan berlatih guna mempersiapkan diri. Apa jadinya hati mereka jika lomba di batalkan? Dan kemana pula wajah akan bersembunyi dari birokrat kampus?

     “Oh Tuhan.. bantulah aku!? “.. Kata yang terus di ulang Kalingga di setiap nafasnya. Kalingga bukan anak tajir melintir kayak Nuri, anak fakultas manajemen yang tahun lalu adakan gelar budaya. Sponsor jeblok dia tinggal minta cek sama orang tua. Atau si Bayu, yang adakan Pentas Seni, harus kandangin mobil ke pegadaian kalau tidak dia harus masuk penjara karena tak bisa melunasi pembayaran ke vendor. Kalau Kalingga? Mau minta duit sama orang tua, dia masuk kuliah juga berkat jual sawah. Mau gadaikan sepeda? Hu..hu..hu.. Kalingga menangis di ruang himpunan.  Namun tak lama karena dia mendengar suara kencang  bernada gembira dari Fifi.  Kalinggapun segera menghapus air matanya dan mencari arah suara.

     “Gol, gol , gol.. ale ale ale..” Fifi bernyanyi sambil memutari Kalingga.

    “Maksud loe, sponsor ada yang gol?” Tanya Kalingga setelah suara nyanyian berhenti.

    “Yes, yes, yesss..” Fifi memeluk Kalingga. Kalingga membalas dengan lebih erat.

    “Kabar gembira ini harus di ketahui mereka yang urat nadinyanya hampir putus!” ujar  Kalingga yang langsung menelpon satu persatu teman temannya untuk datang ke secretariat.

Apa yang dikatakan Kalingga bahwa urat nadi temen temennya hampir putus bukan sebuah ilusi. Kemarin, sewaktu buka pintu sekretariat himpunan, dilihatnya wajah Bernad bagai hamparan salju Capodicia. Pupung bagai sapi yang sedih akan di gorok. Tedi berwajah kusut dan lemas seakan belum makan sehari walau tadi sudah sarapan di kantin sama sama. Bahkan Beb yang biasa ceria juga terlihat lesu menempatkan dagu dan kepala di atas meja  sambil memainkan pinsil.

      “Halloooooooooo” Akhirnya suara Kalingga bagai peluit sangkakala yang sekejap membangunkan mereka dari tidur.

      “Bagaimana ;o,ba balap sepeda akan sukses jika sementara kalian semua kayak kue apem yang melempem?” Teriak Kalingga dengan bola biji mata hampir keluar.

        “Sorry...sorry Ling!” Serempak ujar Bernad, Pupung, Tedi dan Beb dengan mimik yang menurut Fifi sangat lucu hingga dia hampir saja ngakak..

        “sudah berulang kali aku bilang, kalian saja pesimis!” Lanjut Kalingga dengan intonasi suara tetap supran.

       “Seharusnya kalian bantu Fifi cari sponsor!”

       “Gue kan udah cari juga Ling, nah tuh minuman gue yang dapat!” Akhirnya jawab Bernad.

       “Gue dapat roti.” Lanjut Beb.

       “Ya...gue sih jujur...memang nggak bantu cari sponsor. Gue bisanya Cuma bantu doa. Termasuk gue minta bantuin doa sama Ki Lido!” Timpal Tedi yang membuat temen temennya tertawa dan Kalingga tepuk jidat. Temen yang satu ini memang ajib!

       “Hehehehe....gue sibuk desain dan sosmed cuyyyyy” Pupung tak mau kalah untuk bicara.

      “Ok, ok, gue tau loyalitas kalian sama lomba  ini. Tapi kita masih membutuhkan dana segarrrr.” Semua mingkem. Tak tahu harus bilang apa lagi. Kalinggapun hanya dapat menarik nafas Panjang.

Namun kali ini Kalingga meniup peluit panjang agar teman temannya yang bergegas menuju secretariat lebih mempercepat jalan. Setelah mereka kumpul, kegembiraanpun meledak. Mereka berebut memeluk Fifi.

      “Ups, stop stop!” Teriak Kalingga diantara kegembiran mereka.

     Sekejap suasana sepi.

     “Gue nggak di peluk?” Kata Kalingga sambil merentangkan kedua tangannya.

     “Jeahhhhhhh..... “ teriak mereka rame rame kemudian menyerbu Kalingga untuk memeluknya.

    Kalingga tertawa dan merekapun larut dalam kegembiraan. Kemudian Bersama berteriak,

     “Sukses, yesssssss........” suara mereka lepas. Berharap sampai ke langit tujuh.

Bersambung.......

Halimah Munawir, Novelis dan Pengurus Harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...