Gadis Gowes (4)

Gadis Gowes (4)
Gadis Gowes

Mahasiswa ekonomi itu pada bengong. Masing-masing mencari korelasi ari-ari sebagai saudara yang jumlahnya cukup banyak namun hanya satu yang tidak abstrak, ya mereka itu, yang berwujud manusia-manusia.

   “Ki, apa bisa kita bertemu dengan mereka semua? Memanggil roh mereka?” Tanya Tedi.

   “Mengapa tidak?”

    “Caranya?” Tanya para mahasiswa serempak.

    “ Harus pakai benda ini.”  Ki Lido mengeluarkan benda mirip bandul kalung berdiameter  1x3 centi. Bentuknya mirip telur puyuh, terbuat dari kayu dengan di ikat benang sol sepatu warna hitam. Perhatian para mahasiswa ekonomi itupun semua tertuju ke benda yang di keluarkan oleh Ki Lido.

    “Siapa yang mau dipanggil saudaranya?” Tanya Ki Lido.

Tentu saja semua menunjuk Tedi. Karena Tedi yang mengawali keingintahuan itu.

    “Siapa takut? Ini ilmu metafisika. Perlu kita tahu juga selain ilmu ekonomi. ” kata Tedi yang memang suka dengan ilmu metafisika itu.

     “Benar kamu mau bertemu?” Tanya Ki Lido pada Tedi.

     “Iya. Benar.” Jawab Tedi tegas meyakinkan.

     “Sanggup dengan syarat-syaratnya?” Tanya Ki Lido lagi.

     Mendengar pertanyaan itu, tiba tiba ada  yang menciut di lubuk hati Tedi. Sekilas wajahnyapun bagai bulan nan redup.

     “Maksud Aki?” akhirnya kata Tedi dengan rona wajah menahan rasa takut.

     “ Sanggup nggak?”

Pertanyaan Ki Lido semakin menciutkan hati Tedi yang tadinya begitu bermekar ria dengan ilmu metafisika tersebut.

      Teman teman Tedi saling pandang lalu kompak memberi kekuatan pada Tedi.

     “Ayo Tedi, bilang sanggup.” Kata Pupung yang di amini teman yang lain lalu mereka serempak bilang:

“Sanggup! Sanggup! Sanggup!”

      Ternyata, persahabatan nan hakiki, antusiasnya semangat yang diberikan para sahabat, menjadikan nyali  Tedi kembali mekar bagai bunga soka. Dengan penuh keyakinan, Tedi pun mengiyakan dan berkata  sanggup.

       “Hore....” sorak sorai dan tepuk tangan memecahkan keheningan.

      “Ini bukan di arena lapangan bola!” teriak Ki Lido dengan kemarahannya. Seketika mereka terdiam dan suasana kembali hening senyap.

      “Mendekat!” Akhirnya perintah Ki Lido pada Tedi. Serta merta Tedi langsung beringsut dan mendekat  Ki Lido.

      “Cabut 7 helai rambutmu!” Perintah Ki Lido.

Bagai  kerbau di cucuk hidung, Tedi menuruti perintah Ki Lido. Tegang menguasai seluruh raga teman temannya. Detak jantung merekapun menjadi berdebar. Terdengar gerak  jantung Fifi bagai deburan ombak di pantai. Sementara Kalingga mencoba apa yang dilakukan Ki Lido dikaitkan dengan konsep logika. “Tak masuk diakal.” Gumannya.

      “Simpan di atas kain ini!” Kata Ki Lido sambil meletakan sepotong kain putih.

      “ Gunting kuku tangan dan kakimu cukup tujuh potong. Dan letakan kembali di atas kain putih itu!” Perintah Ki Lido kembali sambil menyodorkan gunting kuku setelah Tedi mencabut 7 helai rambut dan menaruhnya di atas kain putih itu.

Tedi pun melakukan apa yang di perintahkan oleh ki Lido. Ketakutan mencekam setiap wajah teman temannya tak kecuali Kalingga.  Rasa gelisahpun terlihat pada Fifi.  Pupung yang duduk bersebelahan dengannya merasa aneh dengan Fifi.

     “Ada apa dengannya?” tanya Pupung dalam hati.

Setelah Tedi memotong kukunya dan menaruhnya bersamaan dengan rambutnya di atas kain putih itu, Ki Lido menggulung kain putih itu lalu mengambil jeruk purut dan memerasnya sambil  meneteskan air jeruk purut tersebut ke atas gulungan kain putih yang berisikan 7 helai rambut dan 7 potongan kuku Tedi sampai pada tetes perasan jeruk terakhir, semua mata memandang tak berkedip.

      “Barang ini kamu simpan di halaman rumah. Setelah tujuh hari kita sama-sama ke tempat dimana kamu letakan barang ini.”  Kata Ki Lido pada Tedi.

      “Di kubur maksud ki Lido?” Tanya Tedi.

       “Tak perlu.” Jawab Ki Lido.

       “Lho, nanti kalau ada yang iseng dan mengambilnya bagaimana?”

       “Ya kamu letakan di tempat yang kira kira orang tidak akan menjamahnya.”

       Tedi mutar otak dan membayangkan keadaan seputar halaman rumahnya.

      “Baik Ki,” akhirnya kata Tedi.

        “Tentukan tempatnya dan kita ketemu disana!” Kata ki Lido.

        “Jam 12 malam?” Kata Tedi dan teman-teman serempak.

        “Ya, jam 12 malam!” tegas Ki Lido lalu mempersilahkan mereka untuk pulang. . Merekapun satu sama lain saling berpandangan lalu berhamburan ke sepeda masing masing. Dan sebelum mereka mengayuh pedal, terus memberi semangat Tedi yang sudah terlanjur basah melakukan ritual spiritual itu. Tidak dengan Kalingga. Sebab menurutnya itu sesuatu yang tidak masuk dalam ilmu yang mengedepankan logika.  Kalingga pun mencoba menyadarkan Tedi dan teman temannya untuk tidak melanjutkan aksi perintah Ki Lido.

       “Sekarang sudah zaman teknologi. Dan kita orang ekonomi yang segala sesuatunya di hitung pakai angka. Pakai logika.” Jelas Kalingga.

       “Ilmu spiritual adalah warisan leluhur yang perlu kita mengetahuinya.” Bantah Tedi.

       “Iya Ling, dalam hidup semuanya tak hanya berpegang pada logika. Ada siang ada malam. Ada Fiksi ada non Fiksi. Ada Yin ada Yang” Fifi ikut bicara. Teman temannya setuju dengan pemikiran Fifi. Baru Kalingga akan kembali menjawab apa yang dikatakan Fifi, Ki Lido mendehem. Serta merta semua mata memandang ke arah suara.

      “Kami pamit , ki.” Akhirnya kata mereka lalu masing masing menggowes sepedanya.

       Hari ke 7 telah tiba. Tedi bersama teman temannya kecuali Kalingga sudah duduk di atas tikar yang di gelar di bawah pohon mangga.

      “Beb, lo telepon Kalingga dong.” Pinta Tedi Beb.

     “Waktu gue berangkat dia masih mendekap guling. “ Jawab Beb.

     “Sudah berulang kali dibangunkan. “ Lanjut Beb.

     “Nggak ada salahnya loe telpon!” Bernad buka suara.

    “Baiklah..” Beb pun menelpon.

    “HP nya off!”

      “Sudahlah, biar aja dia nggak datang, kita semua kan sudah pada datang.” sela Fifi.

      “Nggak begitu dong Fi, kita kan bersahabat. Dan sudah ikrar, ringan sama di jinjing berat sama di pikul”  Pupung menimpali.

      “Tapi benar kata Fifi, Pung. Karena kan kita tahu siapa Kalingga. Dia segala sesuatunya harus pakai logika.” Kata Bernad.

      “WA aja!”

     Beb pun menulis pesan singkatnya untuk Kalingga,

   “Lingga, gue tahu lo sayang kita-kita. Dan antara kita ibarat sepasang sepatu. Kita semua ada disini, di rumah Tedi ingin membuktikan ilmu metafisika. Karena logika tidak cukup untuk hidup di bumi Indonesia.”

Kalingga tersenyum melihat teman temannya yang mengharapkan kehadirannya itu. Serta merta ia pun melompat dan mengagetkan mereka.

    “Jreng.. gue ada disini tauk..” Karuan saja mereka yang dalam posisi tegang dalam hembusan angin malam, berloncatan. Beb dan Fifi lari dari tempatnya berdiri.

     “Hei…pada mau kemana? Ini gue, Kalingga.” Kata Kalingga.

     “Ya ampun Kalingga…lo bikin gue takut aja!”

     “Hahaha..bisanya bikin gue takut!”

    “Sorry, sorry..” Kalingga minta maaf.

Namun teman temannya yang kaget tidak bisa terima maaf Kalingga begitu saja. Merekapun mengacak ngacak rambut Kalingga.

     “Ampun.. ampun..”

Bersambung....

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus Harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...