Gadis Gowes (36)

Gadis Gowes (36)
Gadis Gowes

      "Serius pernikahan itu batal?" Tanya Beb dengan mimik serius.

      "Resepsi tetap berlangsung walau tanpa adanya akad".

      "Kok bisa?"

      "Gue jadi tumbal, sebagai pengantin boneka!"

      "OMG!"

Tedi paham mengapa Pupung menarik Beb dan mereka menjauh. Pastinya membicarakan dirinya dan Fifie atas pernikahan yang batal. Tedi pun bangkit dan mengambil sepedanya lalu meninggalkan mereka berdua. Melihat Tedi kabur, Pupung dan Beb segera mengambil sepeda dan menyusulnya.

      "Tedi..tunggu..."

Tedi tak peduli dengan teriakan kedua sahabatnya itu. Ia terus menggowes sampai rumah tanpa menengok, kemudian langsung mengunci diri di kamar. Pupung dan Beb saling pandang lalu mengangkat bahu. setelah mereka menunggu hampir sejam tak jua Tedi keluar dari kamar, Pupung mengajak Beb pulang.

      "Dia perlu waktu sendiri." Katanya.
       Pupung dan Beb pun meninggalkan rumah Tedi dan duduk di sebuah taman menikmati rembulan dalam pesona malam di antara kerlap kerlip bintang yang  memberi semarak birunya langit. Dua sahabat termenung pada sisa sisa kebersamaan yang di makan waktu. Di pandang tanpa kedip sepeda yang masih gagah walau kecantikan baluran cat ada yang rontok. Terbayang kebersamaan saat berkejaran bersama senyum sang rembulan. Kala itu gowesan Kalingga tiada tanding sekalipun oleh gowesan 3 lelaki. Tenaga kuda dengan otot kuat menjadi andalan Kalingga tiada tanding. Hingga gadis gowes menempel sebagai jati dirinya.

        "Kalingga dimana ya dia sekarang?" Beb membuka kata dengan mata tertuju langit.

         "Iya bersembunyi dimanakah dia?" Pupung menambahkan.

         "Kenapa Bernad pun menghilang ya?"

        "Kompak pula menutup akses jejak."

Mereka saling bersahutan lalu menarik tatapan dari langit, untuk saling menatap dan secara bersamaan bertanya tentang hal yang sama.

          "Apa mungkin mereka berdua.. " Beb tak melanjutkan kata katanya. Rasanya tak dapat menahan sakit jika ia melanjutkan.  

         " Telepati gue, mereka berdua dalam kebahagiaan.." kata Pupung. Beb menundukan kepala. Ia teringat ketika menemui Kalingga di perpustakaan. Goreng Ayam itu terjatuh kala Beb menyatakan ia jatuh cinta pada Bernad dan minta Kalingga menjadi comblang untuk mendekatkan Beb dengan Bernad.  Padahal ketika itu Tedi  sudah menjadi pacar.

        “Menurut loe dimana ya mereka?” Beb bertanya seakan menyelidik walau dia sangat paham tidak ada seujung kuku pun cinta Bernad untuknya.

        “Hmm…” Pupung mencoba membangun telepatinya.

        “Di luar negeri!” kata Pupung.

        “Jika di korelasi dengan pengalaman waktu Fifie ke Amerika, tebakan loe betul!” Beb membenarkan apa kata Pupung. Lalu secara bersamaan mereka berkata:

        “Di Inggris!” 

Setelah menyebut nama negeri dimana dua  pangeran ganteng terlahir dari The Princess of Wales Lady Diana, kedua sahabat itu saling pandang lalu secara bersamaan Kembali berucap.

       “Kita punya telepati yang sama. Hahaha”

          Telepati seorang sahabat kadang memang menunjukan suatu kebenaran. Bukan karena secara kebetulan mereka tahu kalau Bernad yang mendapat julukan bintang film legendari Tom Cruise itu di Inggris oleh sebab mempunyai darah keturunan Inggris, namun ikatan bathin seorang sahabat lah yang membenarkan kalau telepati mereka tidak salah.

        Kalingga dan Bernad sedang menikmati senja di sebuah perkebunan negara persemakmuran Inggris, 13 mil dari pusat kota London, diantara hamparan bunga berwarna ungu, tampak dua wajah sahabatnya berbalut  kebahagiaan. Kalingga yang tidak lagi memakai tongkat sebagai alat bantu kakinya untuk berjalan, sedang bersama  Bernad yang selama ini  terus melatih Kalingga untuk berjalan tanpa bantuan tongkat dengan penuh kesabaran. Keputusan Bernad membawa Kalingga ke Negeri Ratu Elisabeth oleh karena disana memiliki rumah sakit yang memiliki sistem kesehatan terbaik di dunia sejajar dengan 16 negara lainnya. Hal mana atas saran sang papi yang menghabiskan masa tua di negeri kelahirannya bersama seorang  adik. Penanganan para ahli di rumah sakit itupun mendorong Kalingga lebih semangat   untuk pulih. Di tambah lagi  Bernad terus membuka layar kesabaran yang terbentang luas bagi Kalingga dan peralatan yang ada sangat canggih mempercepat pemulihan kaki Kalingga. Di tambah lagi Bernad selalu mengajak Kalingga untuk menonton setiap acara balap sepeda unik yang kerap banyak di lakukan oleh masyarakat Inggris di bawah kepemimpinan Ratu Elizabeth II dimana  menurut sejarawan David Cannadine,  telah membuat masyarakat Inggris lebih cair, multicultural dan lebih sekuler namun tetap mempertahankan sistem monarki serta cinta bangsa Inggris kepada anggota kerajaannya masih mandarah daging.

Pada Olah raga sebagai penyedia amunisi yang dibutuhkan daya tahan tubuh, masyarakatnyapun sangat peduli. Khususnya untuk olah raga balap sepeda, banyak di adakan lomba dengan cara unik. Dari lomba sepeda balita tanpa roda dimana peserta dari kalangan anak anak tersebut bersepeda  tanpa pedal sepeda alias kaki tetap menapak pada jalanan sampai lomba sepeda jalan raya antar kurir sepeda yang sering kita temui di kawasan metropolitan London hingga Six Day London dimana perlombaan balap sepeda indoor ini di selenggarakan selama 6 hari dengan mengundang pembalap pria dan wanita elit dunia. Tentu saja semua itu memicu gadis gowes Kalingga untuk Kembali menggowes walau tidak di area kompetisi yang bersifat kompetitif melainkan berkompetisi dengan diri sendiri untuk tetap menjadi pribadi  yang tahan banting. Hingga walau sifatnya menetap sementara di negara yang menjadi kiblat industri dunia oleh karena bidang industri disana sangatlah maju, Kalingga sangat respek pada sekitarnya. Kepedihan itu terolah menjadi kebahagiaan hingga ia pun terlepas dari masalah menyakitkan yang di alami itu.

Kini Kalingga sedang merajut cintanya dengan Bernad yang kian waktu mewani dan mekar  bagai bunga lavender yang indah di Mayfield Lavender.

Bunga cinta itu juga milik Bernad yang selama ini menjadi tong bagi Kalingga dalam ulasan suka maupun duka. Kedua hati mereka sudah mengadakan kesepakatan untuk bersatu tanpa perlu genjetan sejata lagi. Asmara bersama Tedi telah pupus dan menjadi lembaran masa lalu yang telah terkunci dan tak mungkin lagi Kalingga membukanya. Hati yang terluka begitu dalam telah terobati pula oleh cinta Bernad.

      "Ayo semangat sayang. Kau pasti bisa. Songsong kembali bahagiamu dengan bertengger di atas pedal." Kata itu selalu terucap oleh Bernad di setiap waktu hinga kata itu bagai  pompa pembangkit listrik yang sangat ampuh dalam menghasilkan sinar sebagai lentera di muka bumi.

Dan pemulihan itu pun lebih cepat dari perkiraan. Hal mana tentu tak terlepas dari pelayanan tenaga medis rumah sakit yang berakreditasi baik sedunia yang terletak di wilayah London Barat, Inggris itu.

     Dan untuk kesekian kalinya Bernad membawa Kalingga ke perkebunan bunga Lavender di Banstead. Keindahan bunga yang terhampar bagai permadani berwarna ungu, sangat memanjakan pandangan mata. Keharuman nan semerbak wangi, menarik keduanya untuk selalu bercengkerama disana. Tidak ada kata bosan dari keduanya. Kenangan tak mungkin terlupakan pula bagi Kalingga yang selalu mengawali tulisan pada diary dengan lembaran baru Mayfield Lavender penuh bahagia oleh siraman cinta murni atas gejolak harmonal yang di tunjukan Bernad padanya. Di tinjau dari sudut pandang logika pun memberi kesimpulan pada Kalingga yang selalu mengedepankan logika bahwa dia telah menjadi obyek dari pengorbanan serta kasih sayang seorang sahabat bernama Bernad. Empati dan perhatian hingga pengorbanan materi tak terhitung. Kepatuhan Kalingga atas perkataan Bernad, nyata manut sebagai obyek.

       "Rasanya aku tak sabar padang lavender nan indah ini menjadi saksi bisu kita mengikat cinta."

       “Glek! “ bagai air mengalir di rongga kerongkongan, perkataan Bernad menghentikan pandang Kalingga pada mereka yang sedang mengadakan pemotretan prewedding calon mempelai. Pandangpun teralih pada  bola mata Bernad yang sedikit kehijauan itu. Makna tersirat dan tersurat, dua bibirpun menjadi isyarat sebongkah cinta telah bersemi diantara mereka sebagaimana mekarnya bunga Lavender Mayfield. (Tamat)

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...