Gadis Gowes (35)

Gadis Gowes (35)
Gadis Gowes

Akhirnya merekapun berhenti menggowes setelah sampai di  kampung Bojong Koeneng dimana terdapat café bergaya eropa yang unik. Dapat melihat dari luar keindahan perbukitan Gunung Pancar.  Pupung agak kecut untuk masuk ke dalam Café itu. Pupung baru sedang menghimpun modal untuk bisnisnya. Namun Tedi menarik tangannya.

     “Ayo, jangan kayak orang udik deh!”

     “Kita sudah naik kelas nih?” Tanya Pupung kala memasuki Edensor Hills Café.

     “Mau makan di pinggir jalan seperti dulu? Hehehe”

     “Oke oke, gue lupa kalau loe sekarang seorang bos. Hahahha”

    “Gue sekalian mau numpang mandi, bro.” Bisik Tedi. Mereka pun tertawa.

      Sebagai manusia, Tedi adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Kehadiran sahabat merupakan kebutuhan mutlak untuk saling berinteraksi satu sama lain dan membantunya untuk keluar dari situasi yang membelenggunya. Jika tidak ada kehadiran sosok Pupung pada diri yang kosong dengan jiwa yang keruh oleh keadaan banyak kemungkinan terjadi penyimpangan  yang tak terkendali karena emosi. Pilihan Tedi mengajak Pupung ke café Edensor Hills bukan sebuah kebetulan. Disini pernah ada memory bersama Kalingga dalam menikmati romantisme. Duduk di atas sofa empuk dengan sinar lampu temaram sambil memandang indah Gunung Pancar bersama  kesejukannya. Tapi ternyata pada saat ini kenangan nan romantis makan bersama Kalingga itu membuatnya sesak dada. Makan jadi  tak selera. Gelisah mendera diantara butiran keringat di badan. Situasi hati Tedi dapat terbaca Pupung. Oleh karenanya Pupung pun mengajak Tedi untuk tidak berlama lama disana lalu di ajaknya  gowes  menuju danau di kampusnya dulu.

        “Gue kangen berat nih sama danau di kampus.”

        “Danau kampus?”

       “Yo’i.”

       “Let’s go!”

Merekapun langsung gowes menuju kampus. Dan pada senja di atas rumput pinggir danau, semilir angin yang berjalan satu arah memberi kesejukan kedua sahabat itu walau mereka kini duduk dalam kebisuan. Kedua pasang mata bola itu masing masing  menatap ke tengah danau dengan airnya yang tenang. Namun sorot mata Tedi terlihat kosong, menerawang entah kemana. Pelukan senja nan sejuk dirasa pasan di badan. Pupung meliriknya ,

        “Ambil nafas panjang dan buang perlahan agar jiwamu tenang.” Kata Pupung memecah kebisuan. Tanpa menoleh, Tedi mengikuti anjuran sahabatnya lalu merebahkan tubuhnya di atas rumput. Tak lama Pupung mengekor dan  Kedua sahabat itupun telentang menatap birunya langit.  Pupung Kembali  melirik,  dilihatnya Tedi  agak tenang. Lama dalam balut sepi, akhirnya bibir Tedi bergerak  mengupas kenangan masa masa indah berkumpul bersama para sahabat.  

        “Disini, di atas rumput ini, Kalingga memberi kita pecut motivasi. Di bawah langit ini pula bagaimana Kalingga menghapus kecengengan kita dengan senyum optimisnya. " kata Tedi menyibak masa lalu dengan membanggakan Kalingga sosok yang  sarat akan pecuan motivasi  ketika mereka dalam keputusasaan di titik terendah.

       "Nah, kenapa loe sekarang cengeng?" Ledek Pupung.

      “Aku tidak cengeng.”

       “Terus yang tadi nangis sambil menjerit jerit siapa dong?” Katanya Pupung sambil bercanda seperti biasanya.

       “Eh, tambun, loe belum merasakan ketiban tronton ya?” Teriak Tedi yang di sambut Pupung dengan tertawa.  

       “Hahahha...” Pupung tertawa.

       “Dasar!” Tedi pun mengelitik tubuh Pupung.  Diantara merekapun terjadi interaksi bagai adegan ulangan masa lalu.  Suasana menjadi ceria dalam canda riang.  

Seiring rajutan senja, Tedi yang merundung kembali ceria seperti Tedi yang di kenalnya semasa kuliah. Pupungpun memulai cerita bagaimana dia sampai menjadi pengantin boneka menemani ratu semalam diawali dengan dia mendapat telepon bapak Fifie yang memohon mohon bantuan sampai melihat kenyataan memilukan.

      "Kenapa loe bersedia?"

      "Bukannya gue mau menjadi malaikat penyelamat. Tapi rasa kemanusiaan mengetuk hati gue. " Pupung mengambil nafas panjang.

      “Bukankah dulu loe selalu ngejar dia?”

      “Gue akui itu. Tapi dulu.”

      “Ya nggak ada bedanya kan dengan sekarang?”

      “Ups, gue sudah ada gebetan di Hongkong. Hehehe..” jawab Pupung bangga. Sebentar ia menarik nafas Panjang tak lama kemudian melanjutkan cerita..     

      "Entah mengapa waktu bokap Fifie telepon gue merasakan kepedihan hal yangb buruk terjadi sama Fifie. Dan waktu gue datang, kehancuran itu bukan hanya milik Fifie melainkan juga ibunya tampak sangat terpukul hebat. Wanita paruh baya itu tiada henti berkubang air mata. Hati gue semakin miris melihat kenyataan yang ada. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan luar biasa. Loe bisa bayangin remuknya hati seorang wanita. Fifie dengan tatapan matanya yang kosong  terus memandang gaum pengantin glamournya serta mahkota bertabur berlian. Sementara makanan dimana mana berlimpah.  Kenapa loe bisa sekejam itu?  Malah lari ke gunung." Pada kalimat terakhir, Pupung memberi tekanan berat. Namun dengan santai Tedi menjawab sinis,

      "Pantaslah buat ganjaran dia yang sudah jahat sama sahabatnya sendiri."

     "Gue paham loe sakit hati tapi..sebagai lelaki harus gentleman!" Nada suara Pupung sangat tinggi menahan amarah dengan sikap Tedi yang sinis dan menghilangkan begitu saja arti persahabatan yang selama ini di bina.

       "Loe juga harus berpikir, dia itu lebih tidak berprikemanusiaan. Teganya dia menyingkirkan sahabatnya sendiri dengan cara kotor.” Tedi tidak mau kalah tinggi dalam bicara.  

       “Selama ini loe kenapa buta? Tidak merasakan sedikitpun apa yang dirasakan Kalingga?"

       “Ya, gue akui gue buta! Tapi kenapa loe membiarkan selama itu gue buta, hah?”

       Mereka saling menyalahkan. Ambisi Tedi sukses dengan usaha ekspor Ikan Koi, memacunya untuk terus berinteraksi dan selalu mengikuti apa yang dikatakan Fifie hingga akhirnya mereka bukan hanya menjadi patner bisnis, tapi berasmara. Dan semua sahabatnya seakan membiarkan antara Tedi dan Fifie bagai air mengalir tanpa ada yang berani jujur mengemukakan apa yang terjadi di balik asmara mereka.  Pupung terdiam oleh sebab ia membuka mata Tedi setelah semuanya terlambat. Suasana hening setelah keduanya adu mulut.

       "Tapi bro.. loe nggak bisa lari begitu saja dong. Dia sahabat kita dan secara langsung maupun tidak langsung, Fifie telah membuka peluang untuk bisnis loe. Terutama pengembangan ekspor. Dan Sebagai laki laki, tunjukan kejantanan loe. Selesaikan masalahnya baru loe melenggang." Akhirnya kata Pupung dengan intonasi rendah namun monohok, hingga kepala Tedi tertunduk. Dalam diri sangat  mengakui, kalau Fifie telah banyak berinvestasi untuk kemajuan usaha Ikan Koi nya. Pandang nanar menjangkau langit. Mulut terbuka sedikit dan bergerak gerak. Semilir angin danau hampir meredupkan mata oleh beratnya beban di kepala. Kala suasana meredup, terdengar teriakan Beb dari kejauhan.

       "Haiiiiiiii"

       "Beb?" Tedi dan Pupung terkaget dan saling pandang.

       "Loe kok tahu kita disini?" Tanya Tedi setelah bersama sepedanya   berjarak semester dengan mereka.

       "Alarm memanggil.."

Pupung terbengong dengan mulut terkunci. Beb pun iseng dengan melempar sebungkus snack ke arahnya.

        "Ups!" Pupung menangkapnya namun terlepas. Beb tertawa kecil.

        "Makanya jangan seperti sapi ompong!" Kata Beb sambil menaruh sepedanya lalu bergabung dan merekapun duduk melingkar sambil bersila.

        "Loe tahu dimana sekarang Kalingga?" Tedi langsung melontarkan pertanyaan tentang Kalingga pada Beb.

       "Itu yang akan gue tanyakan." Beb balik bertanya.

       "Kan loe lebih dekat dengan Kalingga."

       "Nah itu. Waktu dia sakit, gue sedikit sibuk. Jadi kurang update. "

       Lagi lagi Pupung hanya dapat bengong sementara Tedi tepuk jidat.

      "Tapi Fifie keterlaluan. Gemes gue sama dia. Kenapa sih merebut pacar sahabat sendiri? Dan loe juga ya Ted, mau maunya sama dia yang licik. “ Kata Beb berapi api hingga memancing emosi Tedi. Melihat situasi yang tidak kondusif, tangan Pupung segera menutup mulut Beb lalu menarik jauh dari Tedi.

      "Api sedang membara, loe jangan tambah lagi bensin!" Bisik Pupung dengan  jelas.

      "Sekarang gue lagi bujuk dia supaya mempertanggungjawabkan perbuatannya membatalkan pernikahan dan menghilang begitu saja."

      "Hah?" Beb terkejut mendengar pernikahan itu batal. Dia memang tak hadir. Undangan yang disampaikan langsung oleh Fifie dia robek tanpa dibaca lalu di lempar ke wajah Fifie lalu Beb pergi meninggalkan Fifie begitu saja.

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...