Gadis Gowes (34)

Gadis Gowes (34)
Gadis Gowes

Bab. X

Pada Padang Lavender Mayfield

      Keletihan masih membekas di wajah Pupung yang rela menjadi pengantin boneka. Bibir rasanya dower oleh senyum yang tidak henti. Kaki pun bisa di bayangkan pegalnya sekian jam berdiri. Namun itu semua lenyap oleh tali persahabatan yang terpatri dalam diri. Dengan semangat yang terus terpompa, Pupung menggowes sepeda menuju Gunung Pancar sebelum fajar membuka diri. Dulu, gunung dengan banyak menyimpan mitos yang di percaya penduduk setempat itu, merupakan satu satunya gunung yang menjadi tempat pelarian atas kepenatan urusan kampus bersama dua sahabatnya Tedi dan Bernad. Atau hanya untuk sekedar berekstrim ria tanpa sahabat wanita. Karena Gunung Pancar satu satunya gunung yang terdekat dengan tempat kos dan memiliki jalur sepeda. Entah mengapa pula pada hati Pupung terbesit sebuah keyakinan jika salah satu sahabatnya yang seharusnya semalam menjadi raja sehari ada disana sehingga Pupung terus mengejar gunung pancar yang memberi arti pasak bumi itu dengan sepeda gunungnya. Gunung dalam buah bibir masyarakat seputar sangat mistis dan banyak menyimpan misteri, konon di percaya pula terdapat kerajaan makhluk gaib dan sebagai awal mula terjadinya bumi dan kelak akan ada peperangan antar makhluk halus penghuni gunung sebelum kiamat dan sebagai pemenangnya adalah makhluk halus yang bertahta di Gunung Pancar.

Mentari mulai tak malu tersenyum dan Pupung terus menggowes diantara kemacetan jalan yang sempit dengan kendaraan angkutan umum yang semerawut menuju atas gunung melalui sisa sisa aspal dari Sea Games 2011. Walau Gunung Pancar Ketinggiannya hanya 800 di atas permukaan laut, namun Jalan menuju ke atas, terutama bagi pesepeda, cukup menantang. Tapi tidak bagi Pupung yang downhill bike. Tenaga nya cukup prima kendati acara semalam sedikit menguras energi, dengan pengaturan nafas yang ada dan medan yang sudah sangat di kuasai, bukan halangan baginya menaiki jalan yang terus menanjak. Apalagi hamparan Hutan Pinus menemani sepanjang jalan hanya membiarkan sinar mentari menerobos di sela sela. Sesekali Pupung berhenti sekedar melenturkan otot atau meraup muka galaunya dengan air mineral yang dibawanya. Kalau bukan karena sahabat, mungkin Pupung tak akan menjadi sukarelawan dengan menguras seluruh energi yang ada sementara di Hongkong dia baru saja merambah bisnis dan banyak hal yang harus di lakukan.

Betapa suka citanya Pupung. Kini ia sampai di puncak dimana tempat biasa melepas letih bersama Bernad dan Tedi. Di lihatnya sebuah tenda dan sepeda. Pupung segera parkirkan sepedanya. Kata kata yang telah di persiapkannya sepanjang jalan rasanya tak sabar di semprotkan ke wajah Tedi. Namun demi melihat terkuaknya pintu tenda keluar sepasang muda mudi, kerongkongan menjadi kering dan sulit mengeluarkan  kata. Wajah berubah merah bagai buah semangka. Ia pun ngeloyor menahan malu tak terkira kemudian  kembali menaiki pedal sepedanya. Keningnya berkerut namun tak lama setelahnya  kedua kakinya  menggowes dengan kecepatan tinggi  meninggalkan dua sejoli yang memandangnya aneh.

       Dalam perjalanan tak tentu arah entah harus kemana, sekilas seakan ada kilatan cahaya kuning. Bulu kuduk berdiri. Takut menyelimuti. keringat mengucur deras. Teringat cerita cerita mistis penduduk akan gunung landai itu. Ia pun berniat urung melanjutkan pencaharian Tedi namun bayang Tedi yang suka akan hal hal klenik, mengaduk pikirannya. Entah mengapa pula sepeda itupun meluncur ke suatu tempat dimana banyak orang mencari wangsit. Sebuah kemustahilan yang selalu di buru orang. Pupung tak dapat mengendalikan diri dan terus menerobos perkampungan dengan wajah wajah datar tanpa ekspresi sang penghuni. Gowesan itu berhenti kala banyak orang duduk bersila dan diantaranya ada yang sedang mengelap makam. Hidung mencoba mengendus bau Tedi, tak tercium juga. Pandang menyapu setiap sudut, tak ditemukan sosok yang ia cari. Pupung putus asa. Badan basah dengan bau tak sedap mengajaknya melupakan Tedi dan pergi mencari kesejukan air terjun yang ada disana diantara banyaknya pepohonan rindang yang serat mesra suasana hening.

Cukup lama Pupung menikmati relaksasi bunyi musik alam dari  air terjun. Ketika badan kembali merasa bugar, terdengar panggilan lapar. Dilihatnya persiapan makanan sudah ludes. Dalam ranselnya hanya tersisa sebotol air. Dengan cepat ia menenggaknya lalu kembali menggowes  menuju dimana kuliner banyak di jual. Dalam pesona ribuan pohon piunus dengan aneka satwa yang ada,  Gunung Pancar  juga menyajikan aneka kuliner. Banyak pengunjung yang datang walau gunung tersebut berselimut mistis.

Diantara gowesannya yang mulai kendor, Pupung terkesimak oleh lengkingan suara yang tidak asing baginya menjulangnya ke langit , menerobos celah pohon pohon pinus. Pupungpun  menghentikan gowesan. Kupingnya di buka lebar agar dapat menyimak jelas kata yang terpental dari lengkingan suara itu.

      "Kalingga?" Pekiknya.

      “Ya benar, suara itu menyebut nama Kalingga. Tidak salah!”  guman Pupung. Namun ketika Kembali kakinya menginjak bantalan gowesan, hatinya sedikit ada keraguan mengingat dimana sekarang ia berpijak penuh dengan cerita mistis dari masyarakat sekitar.  

     “Apakah ini hanya halusinasiku saja?” pikir Pupung.

    “Ahhh…” Pupung kesal sendiri dan mencoba meyakinkan  diri bahwa panggilan  dalam lengkingan itu adalah nama Kalingga. Dan suara itu sangat ia hafal. Pertempuran bathin terjadi antara keyakinan dengan cerita mistis.  

    “Persetan dengan cerita cerita itu!” Pupung mengikuti kata hati dan kembali menggowes sepedanya dengan semangat 45 menuju arah dimana suara itu datang.

      “Kalingga..” kembali suara itu menggema ke angkasa dan  bumi pun seakan berguncang , bagai gempa 9 rihter. Dalam jarak pandang tak jauh  Pupung menangkap sosok sahabatnya. Ia mencoba mengucak matanya. Lagi lagi keyakinan mengatakan bahwa itu adalah sahabatnya yang ia cari. Air matapun meleh demi melihat sosok sahabatnya tanpa kendali jiwa. Ia pun segera turun dan membiarkan sepeda tergeletak begitu saja. Di tangkapnya tubuh sang sahabat dengan hati yang  remuk redam.

     "Tedi, Tedi, sadar bro. Sadar!" Pupung mencoba menyadarkan sahabatnya itu. Namun Tedi meronta dan kembali berteriak memanggil manggil nama Kalingga. Lalu berlari kian kemari bagai sedang mencari seseorang dalam permainan tak umpet.

     “ Engkau pasti bersembunyi.” Ujar Tedi seperti orang tak waras. Pupung terus mengejar dari belakangnya  akan tetapi Tedi bagai belut, sulit di tangkap.

Dalam kebingungannya bagaimana menyadarkan sahabatnya itu, seseorang yang sejak tadi memperhatikan mendekatinya dan membisikan sesuatu. Dengan seksama Pupung mendengar bisikan itu lalu  menganggukan kepala. Tak lama kemudia orang tersebut pergi menapaki jalan berbatu kasar dan licin menuju  dimana sumber air panas mengalir dari Gunung Pancar kemudian diambilnya air tersebut sebanyak 1 ember lalu  kembali ke tempat dimana Pupung menunggu di iringi paduan suara nyanyian tonggeret dan memberikannya pada Pupung dengan imbalan lembaran merah.

Tanpa  pikir panjang, Pupung segera menyiramkan air itu ke wajah sahabatnya. Tentu saja siraman air itu menjadikan Tedi gelagepan. Aneh tapi nyata, setelahnya Tedi tersadar.  Pupung tercenga atas apa yang terjadi, namun ia tak peduli apakah terjadinya karena korelasi variabel yang secara kebetulan atau bermuatan mistis. Yang pasti Tedi menjadi sadar akan kehadirannya dan ia pun tidak menyesal mengeluarkan lembaran merah dari koceknya untuk sang pembisik. Pupung segera memeluk sahabatnya.

      "Kalingga kemana?" Suara parau Tedi dalam peluk Pupung diantara derai air mata.

      "Dia ada. Tapi dia tidak disini. Ayo kita turun dan cari dia!" ajak Pupung.

      "Tapi, diisini, tempat ini, kita berencana sebagai tempat pemotretan prewedding. Hu..hu..hu.." Tedi terus menangis dan Pupung membiarkan sahabatnya itu memuntahkan cerita yang ada bersama Kalingga.

       “Dan Ia tertawa bahagia kala merancang segala sesuatunya untuk pernikahan di bawah pohon pinus ini. Hu..hu..hu.." Lanjut Tedi hingga terkuras semua yang ada dalam benaknya. Hingga lelaki yang dulu mendapat julukan ahli primbon seakan baru saja terlepas dari beton yang menindihnya. Perlahan ia melepaskan pelukan sang sahabat. Seiring tangis semakin reda, ia mendengar  perutnya keroncongan.

     "Gue lapar." Katanya.

     Pupung tersenyum lalu menggoda,

     "Loe sudah sadar?"

     “Maksud loe? “ Tedi melotot.

     “Lap dulu tuh wajah!” Pupung melempar handuk kecil yang ia bawa.

     "Aku juga lapar. Ayo kita gowes ke tempat kuliner!"

Dua sahabat lama itupun beriringan diantara hembusan sepoi angin pohon pinus. Sinar Mentari yang menembus diantara celah pohon pinus menambah ceria burung burung yang berterbangan kian kemari. Ikatan jiwa kedua sahabat itu begitu kuat satu sama lain. Satu jiwa merana, jiwa lain merasakannya. Namun bukan berarti  tak ada badai dalam kehidupan mereka. Karena laut yang tampak tenang, bisa secara tiba tiba  bergejolak oleh gelombang yang menghantam.  Jika ada yang berkehendak yang yang tak mungkin dapat menjadi mungkin. Adalah itu sebagai pengujian iman dan kemampuan logika, atas tujuan yang sama, persahabatan itu pastinya tetap ada.  Suka duka dibiduk bersama.

Bersambung.........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...