Gadis Gowes (33)

Gadis Gowes (33)
Gadis Gowes

      Bunga sedap malam dalam pot bunga kristal bukan hanya menebarkan keharuman di setiap sudut, melainkan juga  kemewahan serta  penyeimbang dari dominasi warna merah di hampir setiap elemen dekorasi yang ada. Irisan daun pandan di atas piring piring porselen putih itupun memberi  sensasi wangi tersendiri. Menambah semangat mereka yang hadir di tengah hari bahagia itu.  Bujang dan dara cantik dengan blazer hitam berhias bunga anggrek di sisi kiri dada,  tampak sibuk mengatur tamu dengan terus saling berkoordinasi melalui benda kecil yang tergantung di telinga. Sebagian di arahkan ke taman samping rumah yang telah di siapkan aneka snack dan makanan, ada juga di ruang  tamu sayap kanan dan kiri. Khusus kerabat dekat diposisikan di ruang keluarga dimana akan terjadi ritual sakral, sebuah prosesi pengikatan janji nikah antara Fifie dan Tedi. Kursi meja khusus untuk akad tertata rapih dengan seperangkat alat dan  hal yang terkait. Di kamar Fifie telah siap dengan balutan kebaya modern rancangan desainer terkemuka berwarna putih menjuntai ke bawah, di bawah perut dibiarkan terbuka serta bahu menonjolkan  kulitnya yang putih bersih  oleh  model off-the-shoulder. Wajahnya tampak kemilau dengan untaian berlian di leher di kuping serta mahkota di kepala.  Sempurna menuju ratu sehari.

      Sesuai perjanjian, penghulu serta asisten datang tepat waktu. Namun, kedatangan penghulu bukannya memberi keceriaan pada yang mempunyai hajat, justru yang ada kecemasan. Pelangi yang menghias di wajah wajah mulai redup tertiup angin gelisah. Prosesi sakral yang di tunggu belum juga di mulai. Sudah sekian kali pula pak penghulu melihat jam yang melingkar di tangannya. Butiran keringat mulai menonjol di atas riasan wajah orang tua Fifie yang sudah memakan waktu berdandan hampir 2 jam.  Kegelisahan itu juga menjadi milik Fifie yang mencoba berulang kali menghubungi Tedi  ke dua nomor yang dimiliki, hasilnya selalu nihil. Nomor itu mati. Wajah cantik Fifie berubah pucat pasi ketika kedua orang tua mendatanginya dengan wajah memerah. Berulang kali ponsel Tedi dihubungi tetap dalam diam. Sejam ditunggu tak datang penghulu pulang. Para tetamu pun satu per satu meninggalkan acara. Sampai akhirnya ruang itu hanya berteman keharuman bunga sedap malam dan bukan hanya Fifie yang tergoler pingsan bersama gaum pengantinnya, wanita yang melahirkannya pun ambruk ke lantai menanggung resiko budaya timur, dimana bukan hanya pihak keluarga dan tetangga yang diundang namun melibatkan kerabat dan kolega yang di kenal. Hingga kegagalan akad nikah membuat ibu bagai tertindih beton. Nafas sesak dan pandang gelap. Sementara pada seorang lelaki, beban itu tak seberat yang dirasakan wanita. Walau bagai terhunus pedang, masih mencoba berfikir jernih dan tenang. Hanya guratan di kening menunjukan dia sedang berpikir keras atas apa yang terjadi. Dia pun menelpon seseorang. Setelah lama berbicara di layar kaca itu, ada senyum menghias sudut bibirnya. Tirai langit gelap, tersibak. Ada awan putih di ujung sana. Fifie tersadar dari pingsannya. Tatapnya menerawang kosong jauh entah kemana. Namun ketika papanya mengatakan resepsi tetap berlangsung dengan pengantin lelaki boneka, serta merta Fifie seakan tersadar dari mimpi buruk kembali pada mimpi yang sama.  menolak rencana ayahnya agar resepsi itu tetap berlangsung dengan pengantin boneka. Hingga terjadi perdebatan. Dan Fifie tetap pada pendiriannya mengatakan tidak mau bersanding bersama pengantin boneka.

     “Tidak, aku tidak mau!”

Mendengar jawaban anaknya, bagai singa siap menerkam, sang bapak mengeluarkan tanduk dengan biji mata hampir keluar. Membuat Fifie mengkeret.

     “Dasar bodoh. Wajah kita mau dilempar kemana hah?”

Fifie  hanya dapat terdiam.

      “Kita tidak mungkin membatalkan resepsi seperti aladin. Yang pasti kita harus keluar dari kegagalan dengan wajah tetap tegak!” bapak menarik nafas panjang lalu ingin kembali memuntahkan kekecewaannya, ada suara diantara mereka.

      “Ubah mindset loe. Sekarang ada dua pilihan, bangkit dari kegagalan atau loe terpuruk.” Tiba tiba sebuah suara yang di kenal Fifie menengahi perdebatan bapak dan anak.

      “Kau?” Fifie terkejut mengapa  dia datang begitu cepat. Sepengetahuannya dia di Hongkong dan sudah mengatakan tak bisa hadir pada pernikahan itu.

      “Ya, papi telpon dia dan menceritakan apa yang terjadi.” Jelas pria paruh baya itu seakan mengatahui apa yang tersirat dalam hati anaknya. Mereka, dua pria itu memang sudah saling bertukar nomor hand phone ketika ada kesempatan mengobrol di pesawat menuju Hongkong. Sebelumnya, jika bertemu pun mereka hanya saling senyum saja. Entah mengapa dalam kekacauan diri terlintas pikiran menelpon orang yang selama ini di kenal, setelah dalam badan pesawat bersama. 

Suasana hening dari kata. Mereka yang ada dalam kamar pengantin itu semua diam. Tak ada suara kecuali  isak tangis seorang ibu. Kejadian tadi pagi di tengah tamu undangan membuat kesedihan yang amat dalam. Padahal sebelumnya wajah cantik itu selalu dihiasi senyum bahagia. Dalam menyambut pernikahan anaknya itupun dia orang yang tersibuk. Saat ini mungkin yang merasakan sedih dan kecewa terdalam atas kehancuran hati anaknya adalah dia. Hingga tangis itu tak henti walau anaknya menunjukan frustasi sebagai emosi murni atas kegagalan itu tidaklah extrim.

    “Bicaralah kalian berdua.” Akhirnya kata laki laki paruh baya dengan bias wajah antara temaram  dan pengharapan.  Lalu mengajak istrinya keluar dari kamar meninggalkan Fifie serta sahabatnya. Kode itu ditangkap. Jadilah juru selamat. Lelaki yang sering di panggil tambun itu pun mulai membangkitkan semangat sahabatnya yang sedang dalam keterpurukan.  Misi kali ini bukan untuk hatinya yang dulu memang mengejar cinta wanita itu karena sudah ada wanita lain di hatinya. Apa yang dilakukannya sekarang adalah misi kemanusiaan demi menghindarkan berkibarnya bendera kuning. Bagaimanapun sahabatnya itu telah banyak membawa dia dan rombongan pada cakrawala indahnya persahabatan dengan travelling bersama.

    “Kesedihan atas amarah dan kecewa, bisa gue rasakan. Tapi bukan sifat loe harus hancur dan tidak berdaya seperti ini.” Katanya.

Sejenak suasana kembali hening. Kedua pasang mata bola Fifie nan sembab menatap pria di hadapannya. Bibirnyapun mulai bergerak dan melontarnya tanya.

    “Jadi yang di maksud penganti boneka oleh papa itu adalah loe?” 

    “Tidak salah. Pilihan langit mengirim gue ke bumi sebagai  Dewa Zeus karena Dewi Kwan Im menangis.” Pupung mencoba menghibur. Mendengar dirinya disebut sebagai Dewi Kwan Im, mengingatkan dia  pada novel Perjalanan Ke Barat dimana sang tokoh adalah Sun Go Kong, panglima gagah menemani pendeta Tong dalam perjalanannya.

      “Karpet sudah digelar makananpun siap terhidang melimpah dengan tamu para eksekutif, ku temani kau menyambut mereka. “

      Tak ada respon dari Fifie.

      “Jangan salah tafsir. Orang baik lebih bijaksana setelah melewati suatu kegagalan.”  Pupung memenggal kata dari William Saroyan,  dalam menghadapi suatu kegagalan,

      “Kenapa loe mau menolong gue pada situasi seperti ini?” suara Fifie parau.

      “Karena gue sahabat loe yang tak akan membiarkan loe terpuruk dan terpojok oleh ribuan suara nyinyir. Ayo semangat! Usai resepsi, gue cari Tedi.”

      “Nggak perlu!”

      “Why?”

     “Move on!”

     “Banyak hal kemungkinan terjadi tidak datangnya Tedi. Kita cari tahu dulu baru loe ambil keputusan!”

     “Apa alasan loe jadi pengantin boneka? Loe tahu gue jahat.”

     “Bagaimana pun loe sahabat gue.”

     “Walaupun jahat?”

     “Bukan jahat. Tapi loe terjebak pada ilusi. Cepatlah bersiap.”

There no choice membuat Fifie mengikuti apa yang dikatakan Pupung. Dalam hal ini

Pupung tidak mengeluarkan kata sebagai manusia tidaklah sempurna sebagaimana orang selalu menyebut untuk tameng kesalahan yang telah diperbuat. Tapi rasanya  ingin mengungkap kata dari seorang sastrawan Yunani, Sophochel,  bahwa lebih baik gagal secara terhormat dari pada sukses dengan kecurangan, namun hati menolaknya. Karena kecurangan yang telah diperbuat Fifie terhadap sahabatnya untuk meraih apa yang diinginkannya, sudah nyata berbuah karma.

Dan jika boleh berkata jujur, mengapa Pupung bersedia menjadi pengantin bonekanya Fifie, bukan hanya sekedar karena Fifie adalah seorang sahabat melainkan juga atas penyesalan yang ada. Dimana pada detik detik pernikahan itu, Pupung membuka tabir mengapa Kalingga mengalami patah tulang serta nyaris bunuh diri, berakibat fatal seperti apa yang dilihatnya sekarang ini. Hal ini tidak pernah diduga sebelumnya. Dan ketika  itupun Tedi tidak memberi sinyal akan melakukan hal ini walau berulang memanggil nama Kalingga dengan penuh penyesalan. 

Bersambung.........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...