Gadis Gowes (32)

Gadis Gowes (32)
Gadis Gowes

Sejak kejadian itu jejak Kalingga tak terdengar. Hp tak lagi bisa dihubungi. Begitu juga dengan Bernad, entah sembunyi dimana. Tedi mencoba mencari dan mendatangi tempat kerja Bernad maupun Kalingga hasilnya nihil, mereka sudah mengundurkan diri. Tedi yang sesungguhnya sangat mencintai Kalingga mencoba kontak teman temannya yang lain namun  Pupung  keberadaannya sekarang di Hongkong, justru terkejut akan pencarian Kalingga dan Bernad itu. Ketika menghubungi Beb, yang ada mendapat memuntahkan makian  pedas yang membuat kuping panas. Dan pada akhir bicara,  dengan tegas Beb mengatakan jangan pernah menghubunginya lagi. Buntu sudah pencaharian itu. Tedi sempat frustasi dengan selalu mengurung diri di kamar, tak peduli dengan perusahaannya. Bahkan tak peduli kala ikan ikan sekarat. Perusahaan nyaris lumpuh. Untunglah dengan darah dingin Fifie, perusahaan Ikan Koi Tedi bisa diselamatkan dari kebangkrutan.

Sebulan dua bulan tiga bulan hingga mencapai enam bulan tak ada kabar berita dari Kalingga. Fifi yang tebal muka terus berusaha mencuci bersih hati Tedi dari masa lalu dengan Kalingga. Pupuk cinta disebar. Kini  baginya, kebahagiaannyalah yang utama bukan orang lain walau orang lain itu adalah  seorang sahabat. Kepalanya yang kotor sudah teracuni oleh individualis dalam mencapai kehendak. Ia  menentang intervensi dari Pupung yang memegang “kartunya” tentang kesengajaannya dalam mencelakai Kalingga. Mata Fifie telah buta oleh cinta walau sepihak. Karena nyatanya, jika dalam kesendiriannya, bayang Kalingga masih menghantui dan kenangan yang indah terus membayang Tedi. Jasa Kalingga tidak bisa dipandang sebelah mata untuk sifat entrepreneur Tedi.  Obor semangat membuka usaha budidaya Ikan Koi pun yang menyalakan adalah Kalingga. Namun dengan hadirnya Fifie disetiap saat, cintanya  pada Kalingga  nyaris habis tergerogoti oleh kian masifnya cinta Fifie. Dan oleh karena malu dengan lingkungan, tuntutan untuk menikahi Fifie tercetus dari orang tua Tedi. Air yang terus mengalir dan pupuk yang selalu disebar pada pohon kering, akhirnya berbuah tunas. Tedi pun mengabarkan rencana pernikahannya dengan Fifie pada dua sahabatnya yang masih dapat dihubungi yakni Pupung dan Beb. Kedua sahabat itupun terkejut dengan keputusan Tedi tersebut. Pupung yang sejak lama menaruh hati pada Fifie tak dapat menerima keputusan itu. Sementara Beb hanya menjawab datar. Walau Beb mengetahui sebab menghilangnya Kalingga karena kekecewaan pada Tedi atas foto foto mesranya dengan Fifie, tak dapat berbuat apa apa. Ia mengetahui “tangan kotor” Fifie demi terlaksananya pernikahan dirinya dengan Tedi. Fifie telah membeli “kartu sekakmat” dari pengacara termahal untuk Kalingga yang secara resmi masih berstatus istri orang oleh karena tidak ada pencabutan berkas ketika mereka sama sama menculiknya dari pengantin pria.

     “Benar benar licik loe ya. Sama sekali gue secuil pun tak menyangka loe akan berbuat sejahat ini!” Hanya itu yang keluar dari mulut Beb kala Fifie menemuinya dan mengumbar sepak terjangnya untuk mendapatkan cinta Tedi.

Jika Beb tidak dapat berbuat apa apa untuk mengembalikan cinta Tedi pada sahabat terdekatnya itu, tidak dengan Pupung. Pria yang sering dipanggil Tambun oleh Fifie, terbang dari Hongkong untuk menemui Tedi di pinggir pantai di tengah Jakarta. Kemudian menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Tedi tidak  begitu saja percaya oleh omongan Pupung. Karena Tedi mengetahui sejak dulu Pupung sangat mencintai Fifie namun cintanya bertepuk sebelah tangan.

     “Apakah loe mengatakan semua ini karena sesungguhnya loe menyimpan hati pada Fifie?” Tanya Tedi setelah Pupung menceritakan kebenaran adanya kesengajaan Fifie mencelakai Kalingga hingga Kalingga harus operasi.

     “Gue tidak menyangkal kalau gue memang cinta sama dia. Tapi apa yang gue katakan adalah sebuah kebenaran yang bisa loe tanya pada penjaga kolam.” Tegas Pupung. Sejenak Tedi berpikir. Lalu kata Tedi,

      “Sudah tak pentinglah bro. Kalingga sendiri juga sudah menghilang bersama bajingan Bernad.”

      “Salah kalau loe menganggap Bernad bajingan. Dia adalah malaikat penyelamat!”

      “Malaikat penyelamat kata loe?”

      “Asal loe tahu, Kalingga hampir terjun dari jendela kamar perawatan, kalau saja Bernad tidak menyelamatkanya, kita semua kehilangan dia!”

      “Apa? Kenapa dia mau berbuat nekad?”

      “Ini!” Pupung melempar foto foto mesra Tedi bersama Fifie selama di Jepang.

      “Karena foto foto itu dia nekad mau bunuh diri! Paham?” lanjut Pupung melihat Tedi tak dapat berkata apa apa. Wajahnya membias pucat pasi. Tangannya mengepal seperti ingin meninju seseorang.

      “Fifie bukan hanya mengirim foto itu saja tapi juga mengirim chat seperti ini!” Pupung menunjukan chat yang di kirim Fifi ke Kalingga yang oleh Bernad di screenshot. Tedi lagi lagi hanya dapat diam lalu  menunduk lesu lunglai.

      “Coba loe bayangin perempuan mana yang tidak shok dengan foto foto mesra kekasihnya dimana dia dalam keadaan dia sakit? Perempuan mana yang tidak putus asa lamaran itu gagal  dan sang kekasih pergi bersama perempuan lain? “ Pupung terus memojokan Tedi.

      “Seharusnya loe berterima kasih sama Bernad yang bertangan Malaikat itu! “ Pungkas Pupung.

Tak diduga dan tak dinyata, tiba tiba Tedi histeris dan memanggil kencang nama Kalingga.

      “Kalingga..”

     “Penyesalan itu selalu datang terlambat!”

     “Kalingga, dimana Kalingga? “ tanya Tedi sambil menarik kerak baju Pupung.

     Pupung diam saja.

     “Dimana Kalingga?” tanya Tedi berulang ulang.

     “Tak perlu loe bertanya tentang Kalingga dimana. Loe akan menikah dengan Fifie.” Tandas Pupung.

      “Berita pada pertemuan kita ini agar loe tahu siapa Bernad dan kenapa Kalingga menjauh.” Lanjut Pupung yang membuat Tedi menyesali atas keputusannya menikahi Fifie. Dia tak dapat membendung air matanya.

     “Katakan dimana Kalingga? “ Tedi memohon mohon kepada Pupung.

     “Hanya Tuhan yang tahu tentang keberadaan dia!” mendapat jawaban  Pupung itu membuat badan Tedi lunglai bagai tak bertulang. Tempurung kaki pun tak dapat lagi menyanggah tubuh hingga Tedi pun ambruk dan bersimpuh di lantai.

       “Tidak hanya sebatas itu Fifie bertindak untuk menyingkirkan Kalingga dari loe. Dia pun telah menyewa pengacara untuk mengusik masa lalu Kalingga yang pernah menikah walau sehari. Dan itu dengan pongah dikatakan pada Beb. Kalingga tak dapat menikah karena secara hukum dia masih sah istri seseorang oleh karena belum mencabut berkas dan melakukan sidang perceraian!”

       Bagai tersengat tawon, tiba tiba Tedi berteriak histeris memanggil nama Kalingga dengan derai air mata.

       “Kalinggaa..”

        Sementara Tedi dalam kesedihan, sebaliknya Fifie terlihat dalam puncak kebahagiaan. Kesibukan yang luar biasapun sedang terjadi di rumahnya yang luas bagai istana.  Fifie adalah satu satunya anak  perempuan  dari seorang pengusaha kaya, hingga rencana resepsipun  akan diselenggarakan di sebuah hotel mewah dengan mengundang ribuan orang.

Fifie yang akan menjadi ratu sehari dipingit dan tak boleh menemui calon pengantin pria. Keseruan terjadi kala mendekor kamar pengantin. Karena banyak kerabat membantu mendekorasi kamar  dengan nuansa merah  itu. Fifie yang selalu menekankan pada Pupung bahwa dia anak Indonesia, tetap saja menganut kepercayaan nenek moyang sebagai  keturunan negeri tirai bambu. Dan menurut mereka,  warna  merah melambang kebahagiaan dan semangat hidup. Kamarpun dibuat semarak oleh lentera dengan tujuan kelak akan menerangi pasangan dalam melangkah kehidupan bersama.

Dengan hati berbunga bunga, Fifie terus memandangi gaum pengantin yang akan di kenakannya itu. Baju pengantin berbahan sutra berwarna putih, bertabur mutiara laut selatan hasil dari kerang Pinctada Maxima yang memberi kilau dan pantulan cahaya  indah serta lembut.  Dalam pengaplikasiannya langsung ditangani perancang gaum pengantin Internasional  ternama berkelas dunia. Sementara mahkota yang akan dikenakan penuh kilau puluhan berlian yang dipesan khusus dari Diamond International Corporation, sebuah mahkota yang melambangkan status, kekuatan serta kecantikan. Fifie benar benar dimanjakan kemewahan untuk menjadi ratu sehari.  

Setelah puas memandang mahkota dan gaum pengantin itu, rasanya tak sabar menanti datangnya hari pelaksanaan pernikahannya dengan Tedi. Dipandangnya foto mesra ketika di kota benteng Kastil Shimabara, wilayah bersejarah di Nagasaki yang berlimpah kekayaan alam atas meletusnys gunung berapi Unzendake.              

       “Akhirnya aku dapat meraih yang kuimpikan. Kemustahilan itu terkalahkan. Hahaha..” Fifie tertawa bangga. Situasi bagai benang basah dapat dirubahnya dengan kepicikan. Ilmu bisnis kotor teraplikasi baik ditangan Fifie. Tak kenal lagi arti sahabat. Nurani pun terkunci dalam mengedapankan kebahagiaan orang lain. Dia yang dulu selalu mengutamakan kebersamaan dan menjadi “donatur” setiap proposal “piknik bersama” dari teman temannya itu tetap bahagia walau hati gersang oleh cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dulu, persahabatan lebih penting dari sekedar cinta. Kini terbalik, cinta lebih penting dari persahabatan!

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

 

Komentar

Loading...