Gadis Gowes (31)

Gadis Gowes (31)
Gadis Gowes

Bab. IX

Benang Basah & Pengantin Boneka

         Mimpi mimpi indah seakan terbakar api dan buih sebagai saksi bisu dasyatnya deburan ombak  di tengah laut. Basah aspal,  bukan sekedar oleh datangnya  gerimis, melainkan hujan badai yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Begitulah kenyataan yang melanda Kalingga. Cinta itu menjauh ribuan kilo meter kala dibutuhkan. Langit menjadi gelap. Lubuk hati terdalam perih pedih oleh sakit yang lebih dasyat dari pada patahnya sang tulang. Jiwa nyaris berpisah dari raga jika tak ada malaikat penyelamat. Oleh gambar gambar yang menghias layer kecil kala diri dalam kemalangan dan tergolek di ruang perawatan menahan sakit kaki yang terbungkus gip. Malaikat penyelamat tak membiarkan hati yang rapuh terus tergolek tak berdaya oleh sakit yang menderanya. Setiap air mata yang jatuh dari pelopok mata itu, dirasakan bagai hantaman peluru menerjang dada.

       “Kau tak boleh mati!” Katanya pada raga bagai tanpa aliran darah dalam rengkuhnya.

       “Aku tak rela kau mati.” Begitu ia terus berkata sampai raga dalam rengkuhnya itu membuka mata dan menatapnya kosong.

       “Kau harus kuat. Kau harus kuat. Ribuan kilo kau pernah menjajah aspal di atas pedal dan puluhan kali berdiri gagah bagai srikandi dengan berbagai mendali. Kau bukan hanya sekedar gadis gowes, kau lebih dari itu. Kau dambaan kita semua.” Kata kata semangat terus menggaung dari malaikat penyelamat.

      “Bangkitlah! Jangan termakan cinta buta, itu bukan dirimu yang  selalu mengedepankan logika.” Mendengar semua itu, tangispun meledak. Sang malaikatpun lebih erat merengkuh.

        “Menangislah agar terlepas himpitan beban yang ada.”

       “Kenapa dia sejahat itu padaku? Kala diri membutuhkan dia di sampingku, justru pergi bersenang dengan perempuan yang tak lain adalah seorang sahabat. Hu..hu…hu..”

       “sstt…” Bibir itu diminta berhenti bicara. Tak lama suster datang. Ia sedikit kikuk melihat pemandangan di ruang pasien itu.

       “Infusnya jangan di lepas dulu ya pak!” Ujar suster pada Bernad demi melihat slang infus terlepas dari tangan Kalingga. Bernad mohon maaf sambil mengembangkan senyum walau sesungguhnya slang infus yang tergantung tanpa pasien disanalah awal yang membuatnya terkejut lalu menyapu seluruh ruangan dan mendapatkan Kalingga sedang mencoba naik ke atas jendela dan kaki itu nyaris berdiri dibibir jendela.

Sebelum suster meninggalkan ruangan, Bernad membisikan sesuatu. Roman wajah suster terlihat terkejut. Lalu mengangguk kan kepala.

      “Baik pak, saya akan kosultasikan ke dokter.” Kata suster sebelum meninggalkan kamar. Tak lama suster itu datang kembali lalu menyuntikan cairan ke dalam infus tersebut. Hanya dalam beberapa menit, Kalingga tertidur. 

Walau muka bantal, Kalingga terlihat cantik dan tidak membosankan untuk di pandang. Fitur wajah Kalingga menunjukkan kepribadian yang sangat kuat sebagaimana kebanyakan orang asal kota Malang. Namun keputusaan atas apa yang terjadi pada dirinya,  nyaris membuatnya berbuat nekad. Dan Bernad tak mau lagi melihat hal yang sama terjadi hingga   sejak kejadian itu, Bernad tak berani meninggalkan Kalingga seorang diri.  Keberadaan Pupung yang kini di Hongkong tak memungkinkan dimintakan tolong untuk bergantian menjaga Kalingga. Ketika Bernad minta tolong Beb, jawabnya justru tangisan dengan cerita yang panjang.

       Puas memandang wajah di atas bantal, Bernad mencoba membuka gallery pada ponsel Kalingga. Keterkejutan terjadi. Kepergian Tedi dan Fifi ke negeri sakura mengumbar kemesraan yang sulit dipercaya. Waktu itu Tedi datang padanya untuk meminta tolong agar menjaga Kalingga selama ia melakukan perjalanan bisnis ke Jepang bersama Fifie. Namun Fifie banyak mengirim foto foto mesranya bersama Tedi. Bernad pun paham mengapa Kalingga ingin berbuat nekad. Ia pun menarik nafas panjang dan segera mengirim foto foto itu ke Pupung tanpa sepengetahuan Kalingga. Dan walau nalurinya sebagai lelaki ada sesuatu misi Fifie akan foto foto yang dikirimnya tersebut, namun ketika keesokan harinya dimana berkesempatan mengajak Kalingga berkeliling di taman yang terdapat di rumah sakit, Bernad mencoba menentramkan hati Kalingga.

       “Jangan terus biarkan dirimu tercengkerama oleh kesedihan. Berpositif thingking dengan apa yang dilakukan Tedi.  Mereka sedang memulai kerja sama bisnis. Ku dengar Fifie akan berinvestasi pada usaha Tedi dalam ekspor impor Ikan Koi dan mereka kesana dalam rangka study banding.” Kata Bernad membuka pembicaraan demi melihat bias wajah Kalingga masih dalam kesedihan.

      “Tapi kenapa yang dipamerkan kepadaku hanya foto foto mesra mereka?”

     “Sudahlah.. tak perlu kita bahas. Lupakan apa yang kau lihat.”

     “Tak semudah itu. Kau tahu betapa aku sangat memerlukan suportnya. Tapi justru dia berlaku menyakitkan.”

     “Kadang kita tidak bisa melihat kedalaman hati seseorang dari foto.”

     “Kau..?”
     “Maaf tak sengaja aku membuka gallery fotomu.”

     Kalingga menundukan kepala, bukan karena kecewa Bernad telah membuka buka gallery handphone nya, karena selama ini diantara mereka tak berbatas dalam bicara akan apa yang mereka alami.

    “Sekarang aku harus bagaimana. Secara logika, pergi berdua dengan lain jenis di daerah pegunungan ..” Kalingga tak mampu melanjutkan kata katanya.

Bernad memegang dua bahu Kalingga, matanya menatap kesayuan raut wajah sahabatnya itu.

     “Dengar Ling, sebelum kau mendengar langsung dari Tedi, jangan biarkan isi kepalamu terisi image yang justrul merugikan dirimu sendiri.”

     “Tapi,..”

     “Tatap aku. Dengar, aku paham akan akumulasi kekecewaan yang ada atas apa yang terjadi padamu. Tapi yakinlah kau akan sembuh , dapat kembali gagah di atas pedal, menggowes sepeda dan menemukan cinta sejati. Kau kuat dan cantik.” Bernad mencoba menghibur namun justrul membuat Kalingga tak dapat membendung air matanya. Bernadpun segera merangkul dan mendekapnya erat. Membiarkan dadanya nan bidang basah oleh air mata. Pada saat bersamaan Tedi melihat itu dan kecemburuan meraja, akan tetap kala ingin berlari dan menghajar Bernad, Fifie menarik tangannya.

       “Lebih baik biarkan mereka. Klik!” Fifie mengambil gambar mereka kemudian mengajak Tedi pergi dari tempatnya berpijak. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Tedi menurut pada Fifie. Merekapun melenggang dengan berpegangan tangan. Tiba tiba Kalingga menengok melihatnya dan ia pun lunglai seketika. Jika Bernad tak menyanggahnya, tubuh itu ambruk ke lantai. Bernadpun mencari tahu apa yang di lihat Kalingga..Ia pun hanya dapat menarik nafas Panjang.

      Hari ini visite dokter ditemani beberapa asisten dan suster dengan membawa hasil ronsen kaki Kalingga.

     “Kamu boleh pulang!” Kata dokter pada Kalingga setelah ia memeriksa hasil ronsen yang disodorkan suster. Kalingga langsung sumringah. Ia akan bebas dari slang infus dan meninggalkan ruangan yang kadang terdengar suara rintih dari kamar sebelah.

      “Hmm..sekarang ayo kita bersiap!” ujar Kalingga setelah rombongan visite dokter keluar ruangan.

      “Aku bereskan administrasi . Kau bersiaplah,”

      Sementara  Bernad mengurus administrasi, Kalingga  mengemasi barang barang termasuk pakaiannya untuk dimasukan dalam koper. Tak lama Bernad datang  lalu menenteng koper berisi baju baju dan keperluan Kalingga lainnya dan memasukannya ke dalam mobil. Kemudian Bernad kembali lagi dengan membawa kursi roda yang dalam sejarahnya pertama digunakan oleh orang Inggris di tahun 1670-an. Di lihatnya Kalingga telah siap dengan sedikit riasan di wajah. Matanya yang sembab oleh tangis yang tiada henti kembali berbinar, pipinya   memantulkan cahaya glowing. Rambut  hitamnya dikuncir ke atas dengan membiarkan sedikit rambut depannya tergerai.

     “Ini baru Kalingga.” Ujar bernad diantara keterkejutannya. Wajah kusam Kalingga yang sebentar ditinggalkannya untuk menaruh barang di mobil, berubah glowing dengan riasan rambut kuncirnya. Kalinggapun menebar senyum.

     “Memang Malang gudang gadis cantik, sedikit saja berdandan, sudah tampak glowing.” Seloroh Bernad membuat Kalingga tersipu. Bernad segera memapahnya  untuk duduk di kursi roda. Kemudian Bernadpun mndorong kursi roda tersebut dengan ocehan ocehan lucu hingga Kalingga selalu dibuatnya tertawa kecil  diantara lorong lorong rumah sakit menuju parkir mobil. Dari kejauhan sepasang mata memandang.  Matanya merah menahan amarah dan termuntahkan kala dilihatnya Bernad membopong mesra Kalingga lalu mendudukannya di kursi mobil.  Kemarahan pria itu tak terbendung. Begitu Bernad membalikan badan, serangan tinju mendadak mendarat dan membuatnya terkapar.

      “Dasar pengkhianat. Dimintakan tolong sahabat menjaga, malah makan!” Teriak pria itu yang ternyata adalah Tedi yang sebelum pergi ke Jepang meminta Bernad untuk menjaganya. Api kecemburuan menjadikan tangan yang sejak tadi mengepal meninjunya.

    “ Aku meminta tolong untuk menjaga tapi kau tikung aku! Dasar pengkhianat!” Tedi Kembali meluapkan amarahnya hingga memancing emosi Bernad yang kesakitan. Ia bangkit kemudian langsung melayangkan bogem sangat keras ke wajah Tedi hingga membuatnya terhuyung huyung.

    “Kau yang berkhianat!” Teriak Bernad. Lalu kedua sahabat itu pun adu mulut.

    “Kau..”

    “Apa? Jika kau seorang lelaki yang bertanggungjawab, tidak akan melakukan hal bodoh meninggalkan calon istri dalam musibah dengan pergi bersama wanita lain!”

    “Sejak awal sudah ku katakan aku dan Fifie ada perjalanan bisnis!”

    “Bisnis katamu? Puih!”  Bernad meludah lalu hendak masuk mobil namun di Tarik Tedi dan Tedi meminta Kalingga untuk turun. Akan tetapi  secepat kilat  Bernad kembali menarik Tedi dan langsung masuk mobil  lalu minta supir segera tancap gas. Tedi berteriak memanggil manggil Kalingga. Fifie yang sejak tadi hanya menyaksikan apa yang terjadi , melihat Tedi dalam kemarahan atas akumulasi rasa kecewa, ia pun menghampiri dengan hati hati lalu  menenangkannya. Kelembutan suara Fifie sedikit meredakan kemarahan yang ada. Peluang itu di manfaatkan Fifie dengan menggandeng Tedi menuju mobil. Kemudian merekapun meninggalkan rumah sakit.

Bersambung..........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...