Gadis Gowes (30)

Gadis Gowes (30)
Gadis Gowes

“Ted, bagaimana Kalingga? Bagaimana Kalingga?” Tanya Fifie dengan panikTedi menjawab hanya dengan menunjuk ke kamar dengan tulisan ruang operasi.

    “Di ruang operasi?” Fifie terlihat kaget demi melihat apa yang ditunjuk Tedi. Namun tidak menunjukan kesedihannya. Beb mengernyitkan kening. Sebuah tanda tanya besar melingkar disana. Rasa kaget Fifie jelas terlihat Pupung juga sebagai “kaget basa basi”. Dia ingat betul waktu cerita kepergiannya ke Amerika untuk menyiram agar rumput yang terus tumbuh subur dalam diri kering dan mati. Rumput yang nyaris mati tegak kembali ketika Tedi mengirim video dan mengatakan “apakah loe nggak kangen gue?”. Fifie berpikir Tedi pun kangen padanya hingga memutuskan kembali ke Indonesia. Dan bertekad bulat untuk menegakan benang basah yang melilit rumput cintanya pada Tedi. Dan waktu Pupung mengatakan bahwa Tedi sudah jadian dengan Kalingga dan sudah ada rencana bertunangan, Fifie shok lalu matanya menerawang jauh entah kemana.

      Operasi Kalingga berjalan sukses, setelah masuk ruangan perawatan, dan  Kalingga siuman dari pengaruh anestisi obat bius untuk mengurangi rasa nyeri dan menjaga stabilitas pasien selama dan setelah prosedur bedah, Pupung pamit ke Tedi untuk mandi. Bernad dan Beb mengekor pamit juga. Tinggalah Fifie dan Tedi menunggui Kalingga. Tedi yang terus menciumi punggung tangan Kalingga, membuat Fifie nyingkir dari kamar lalu pergi ke kantin.

       Sementara itu sebongkah penasaran dalam benak Pupung, membuat dia berinvestigasi tentang kejadian yang menimpa sahabatnya, Kalingga. Mendapat cerita penjaga kolam ikan, tangan Pupung mengepal. Wajah membias merah menahan amarah. Kemudian tanpa pamit ke Bernad dan Beb , Pupung langsung meluncur ke rumah sakit. Lalu kemarahannya tidak dapat tertahan ketika masuk ruang rawat dimana Kalingga ada, dilihatnya tidak ada Tedi dan Kalingga tertidur sementara Fifie sedang memegang tali impus, Pupung pun langsung mencekal tangan Fifie dan menyeretnya keluar. Fifie mencoba menarik tangannya dari cekalan Pupung namun tangan Pupung terlalu kuat dalam mencekal.

      “Loe mau apain Kalingga, hah?” bentak Pupung pada Fifie setelah menjauh dari kamar Kalingga.

      “Maksud loe apa? Lepasin gue!”

      “Loe sengaja kan mau tabrak Kalingga hingga dia loncat?”

      “Jangan fitnah!”

      “Roda..” baru saja Pupung akan menyebut bahwa lepasnya roda sepeda hingga sepeda tersebut menggelincir adalah sebuah kesengajaan dilakukan oleh Fifie,

Tedi tampak sedang berjalan munuju ke arah mereka. Pupung pun melepaskan cekalannya dan untuk mengalihkan  Fifie yang terlihat kesakitan, Pupung langsung menyambut Tedi dan mengatakan kalau dia beli goreng pisang untuk ganjel perut sambil menggandeng Tedi ke dalam kamar.

     Dokter mengatakan,  dalam pemulihan pasca operasi, akan cukup lama Kalingga harus menjalani perawatan. Giat  menggowespun harus berhenti total. Sebagai gadis gowes, tentu saja kabar itu bagai pukulan petinju yang membuatnya langsung KO. Baru dalam tahun ini Kalingga kembali dapat berlaga sebagai gadis gowes, setelah sekian tahun berhenti, kini harus berhenti total kecuali ada keajaiban dari Tuhan. Kalingga pun merasa tidak ada keadilan untuk dirinya. Ia nyaris putus asa namun berkat terpaan kata semangat dari para sahabatnya, pupuslah keputusasaan itu tapi tak dipungkiri air mata itu jatuh kala ia sendiri. Seharusnya sekarang ia tidak di rumah sakit dengan kaki beralat fiksasi, gip,  agar tulang yang patah pada bagian kakinya cepat pulih. Melainkan menerima lamaran Tedi depan teman temannya yang sudah di rancang usai "Tour de East Java". 

Kalingga ingat betul bagaimana Dia dan Tedi sempat berdebat ketika Tedi ngotot mencari hari baik untuk acara lamaran tersebut, semua buku primbon yang di punya ia baca. Dalam primbon ditulis kalau masing masing hari mempunyai karakter dan watak yang berbeda, hingga di perlukan kecocokan kapan saat yang tepat membuat hajat.  Perdebatan  terjadi, Kalingga yang mengedepankan logika dalam berfikir, meminta Tedi untuk berfikir terstruktur dan terarah yang sesuai kesempatan luang yang ada, sementara Tedi kekeh pada kerja piker metode metafisika yang bersifat supranatural dengan memakai basis primbon. Namun akhirnya diambil jalan tengah setelah usai "Tour de East Java". 

      Selama Kalingga di rumah sakit, Fifie sering mengunjungi Tedi di tempat budidaya Ikan Koi milik nya. Fifie percaya Ikan Koi merupakan simbol cinta itu akan memberi aura cinta pula. Maka pada Tedi, Fifie yang orang tuanya mempunyai usaha ekspor impor mengatakan berminat kerja sama. Rupanya gayung bersambut,  Tedi selama ini memang mempunyai mimpi dapat ekspor Ikan Koi nya ke luar negeri. Merekapun sangat rutin mengadakan pertemuan untuk membicarakan membangun bisnis kerajaan Ikan Koi bersama . Setelah melihat reaksi Tedi yang menggebu merealisasikan impiannya,  Fifie mengajak Tedi ke Negeri Sakura yang sudah sejak abad 19 budidaya Ikan Koi hingga menjadi negara produsen Ikan Koi terbesar di dunia yang hasilnya 90% di ekspor. Awalnya Tedi bimbang karena Kalingga masih dalam perawatan rumah sakit. Namun cerita Fifie tentang pulau Kyushu, Jepang, bernama Shimabara, dimana Ikan Koi pun terdapat di selokan dengan air yang sangat jernih, akhirnya Tedi termakan bujuk rayu. Dan Fifie yang selalu menekankan perlunya study banding dalam pengembangan sebuah usaha, Kian waktu Tedi semakin tertarik dengan rayuan Fifie apalagi selama ini Tedi berandai dapat meniru kecanggihan para peternak Ikan Koi Negeri Sakura hingga menghasilkan ikan ikan berkwalitas tinggi dan unggul dari segi pertumbuhan serta warna ornamen Ikan Koi nya. Maka ketika Fifie datang dengan tiket di tangan, jadilah mereka berdua terbang ke Jepang.

Diawali dengan mengunjungi Shimabara, daerah yang menyemburkan puluhan mata air, sekitar 60 mata air akibat Gempa Bumi dan Tsunami 1792 Unzen yang menewaskan lebih dari 15.000 orang namun kini menjadi daerah wisata yang banyak di serbu turis mancanegara oleh karena air yang disemburkan 60 mata air itu sangat murni itu sejak tahun 1978, Ikan Koi dipelihara di sana oleh pihak yang berwenang. Bukan hanya di tempat tertentu melainkan di setiap selokan yang disulap menjadi  berair jernih dimana air limbah warga dibuat pembuangan khusus di bawah selokan hingga air yang terus melimpah itu tetap jernih walau melalui selokan warga , kita dapat melihat Ikan Ikan Koi besar besar  berenang disana kian kemari bahkan sering kali Ikan Koi itu berenang melawan arus.

      Setelah puas dengan destinasi yang ditawarkan oleh Shimabara, Fifie mengajak Tedi ke Prefektur Shimane, dimana terletak kota kecil cantik Tsuwano
 dengan bangunan bangunan rumah kuno berdesain dinding Kabe dan rumah rumah samurai yang sudah berdiri ratusan tahun sejak Tsuwano masih berfungsi sebagai kota istana. Sepanjang jalan pada sisi kanan kiri jalan depan rumah rumah tersebut mengalir air jernih pada kanal kecil yang disebut Horiwari, dimana ikan ikan Koi berenang dengan bebas pada air yang sangat jernih. Jumlah ikan ikan Koi tersebut bukan hanya dalam hitungan ratusan melainkan ribuan. Tsuwano memang autentik sebagai perkampungan dimana adanya awal mula Ikan Koi di Negeri Tirai Bambu, yang di kelilingi bukit dengan pemandangan khas Jepang yang masih  jarang terjamah para turis dan belum terlalu tersentuh unsur modern pula. Dengan apa yang di lihat Tedi, konsep konsep pun mulai tergores dalam angan, copy paste Tsuwano untuk Blitar.  Sepanjang jalan kampung dibuat selokan berisi ikan ikan Koi dengan air jernih. Walau masalah air tidak ada masalah karena sumber air cukup banyak di Blitar, namun mungkinkah orang orang yang melewati jalan itu akan membiarkan para ikan ikan  Koi sebesar itu berenang dengan aman? Untuk membesarkan ribuan benih  saja membutuhkan waktu setidaknya ada lima fase penyortiran selama enam bulan pertama, itupun  mungkin hanya 10 persen yang bertahan hingga bulan kelima atau keenam. Walau sudah ada pionir selokan dengan air jenih membiarkan Ikan Koi besar berenang di  ponggok polanharjo ,Klaten.

“Butuh ide besar.” Guman Tedi dalam hati.

       Bunga Plum mulai menunjukan keindahannya disambut pucuk sakura menandakan kehadiran musim semi tidak mengibas dinginnya udara di pegunungan itu. Apalagi dibeberapa titik tertentu  masih  terlihat gundukan salju. Namun berdua bersama Tedi disana memberi kehangatan tersendiri. Bagai jejaring ikan , Fifie menjerat hati Tedi dengan kemanjaan berselimut duit. Dan Tedi yang sedang dalam jerat jarring Fifie, terjebak dengan foto foto mesra berdua dimana Fifie  berpose  mengumbar keromantisan, tidaklah memahaminya. Di kepalanya banyak persoalan tentang pengembangan bisnis Ikan Koi yang harus di pecahkan dan Fifie yang dianggapnya sahabat itu tetaplah menjadi sahabat di hati Tedi. Hingga ketika di Tokyo Tedi memborong oleh oleh untuk Kalingga seburat rasa kecewa menghias wajah Fifie yang sebelunya sangat ceria punuh tawa. Namun akal penjerat kembali muncul kala keluar toko ia melihat “Anting Origami Bangau” di jual vending machine , tangannya menarik Tedi.

    “Ini lucu ya.”

    “Iya lucu.”

    “Terbuat dari kertas origami tahan air.”

    “Kenapa bentuknya burung bangau ya?”

    “Kan sejak dulu burung bangau adalah burung yang ramah di Jepang, mungkin untuk mengingatkan kepada orang agar dengan sesame harus  ramah hehehe.”

    “Keren banget nih pengrajinnya. Bisa membentuk ikan bangau imut seperti ini.”

    “Pilihin dong buat gue.”

Dengan kemanjaannya Fifi bukan hanya minta dipilihkan warna yang cocok untuk dipakai melainkan juga meminta Tedi memakaikannya anting tersebut ke daun telinga setelah ia melepas anting yang di pakai. Hal yang sangat berkesan di hati Fifie hingga walau Jepang tidak menyambutnya dengan keindahan bunga sakura, hati Fifie selalu berbunga sejak pulang dari Jepang. Ikan Koi bukan hanya sebagai simbol cinta .. 

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta   

Komentar

Loading...