Gadis Gowes (29)

Gadis Gowes (29)
Gadis Gowes

Setelah lepas dari kuliah mereka saling pencar untuk menjalani hidup demi masa depan. Bernad berkerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta, Beb di salah satu Departemen pemerintah, Kalingga sebagai PNS sementara Pupung sama seperti Fifie, melanjutkan S2. Jika Fifie di Amerika , Pupung  di China. Tedi menjadi pengusaha Ikan Koi, meneruskan usaha  orang tuanya selama ini. Walau Tedi  kini menjadi pengusaha dan enterprenur , jika berada diantara teman temannya, tetap saja menjadi Tedi yang dulu. Mereka saling bercengkerama penuh canda dan tawa. Tidak ada batas walau oleh selembut serat sutra.  Kebersamaan yang mereka bina sejak es em a, telah menjadi the big Family. Dan Kalingga tetap menebar aura kepemimpinannya. Hingga ketika ia mengatakan akan ikut lomba balap sepeda  internasional "Tour de East Java", para sahabatnya itu antusias untuk mensuport dan terbang ke Surabaya. Dan begitu pada etape ke 2 Kalingga tergelincir, mereka seakan turut merasakan sakit dan perihnya badan melihat keadaan Kalingga. Apalagi Tedi, dia sangat panik karena cintanya baru saja diterima dan telah merencanakan setelah Kalingga turut "Tour de East Java", akan meresmikan dalam tunangan.

      Seiring beringsutnya sang surya menuju ke peraduan, senja merengkuh bersamaan keteduhan langit, kopi dan pisang goreng terhidang ludes,  Tedipun mengajak teman temannya untuk melihat lihat hasil ternaknya yang dalam sebulan ke depan akan panen.   Kalingga, dengan tongkatnyapun ikut  menuju  kolam Ikan Koi milik Tedi tersebut. Gemericik air jernih di saluran sampingnya menjadi aksentuasi ketenangan permukaan air di petak-petak cukup luas.

Senyum nyiur melambai pohon pohon kelapa menyibak sisa sisa terik sang surya dalam genggam siang menyambut kedatangan mereka. Kolam kolam ikan yang dulunya  adalah pematang sawah, dibuat cantik berbibir plesteran semen dan disana terdapat dua saung yang letaknya berjauhan namun di tata dengan apik dengan nilai seni tradisional. Saung yang cukup besar diperuntukan untuk tamu tamu yang datang sementara yang kecil untuk penjaga. Ketika Tedi menyebarkan pakan ikan, Ikan ikan merapat dengan menyembulkan kepalanya lalu berebut meraih butiran butiran berwarna coklat dengan mulut lebarnya. Merekapun tertawa riang dengan tingkah polah Ikan Koi tersebut. Tangan Panjang Bernad mencoba memberi makan dengan menenggelamkan tapak tangannya ke dalam air, mulut mulut ikan menyentuhnya tak lama kemudian Bernad loncat kegelian menarik tawa para sahabat. Kegembiraan tak habis. Pupung turun ke kolam dengan rasa  penasaran mengejar  Ikan Koi putih berukuran sedikit besar  bercorak punggung kuning mentereng. Jepang menyebutnya motif tersebut adalah varietas Kohaku dengan nama S Legend ini dalam pelelangan di Saki Fish Farm, Hiroshima tembus dengan harga jual milyaran. Namun pengejaran Pupung justrul menjadikan  Ikan Koi  semakin takut dan dengan cepat berenang lalu menyelinap diantara ikan ikan lainnya hingga sulit bagi Pupung menangkapnya. Tedi tepuk jidat melihatnya.

Fifie tampak berfikir  seperti ikan dalam air. Hidung mengendus peluang bisnis bukan sekedar bisnis. Rumput kering perlahan menampakan sinyal akan menegakan benang basah. Byurrr.. tiba tiba Fifie meloncat ke kolam yang tentu saja mengagetkan seisi kolam. Kegaduhan terjadi pada Ikan ikan Koi yang langsung menghindar  dengan berebut jalan.  Pupung segera menghampiri untuk menolong, di pikirnya Fifie terjatuh. Namun  yang terjadi Fifie menciprat cipratkan air ke wajah Pupung dengan kesal. Kekesalan Fifie dianggap canda, Pupung membalas menciprat. Mereka pun saling ciprat air kolam Ikan Koi.

       Sebelum malam menjemput, mereka meninggalkan kolam kolam Ikan Koi.

Tedi yang tak dapat berbuat apa apa atas tingkah polah temannya yang menyeburkan diri ke kolam, hanya dapat tersenyum getir. Semoga Ikan ikan itu tidak menjadi stress.  

      Malam menyapa diisi celoteh ruang hati mereka yang selama ini sibuk oleh kesibukannya masing masing. Kerinduan yang membuncah kuping seakan tersumpal hingga dentang lonceng berbunyi 12 kali mereka masih bercengkerama. Kalingga pun seakan melupakan apa yang sedang dia rasakan. Nyeri sekujur badan lepas seketika. Berada di tengah tengah sahabat memberi keajaiban padanya. Hati dan pikiran mereka yang sedekat dengan  jari manis itu nyata. Hingga larut malam menyeruak pagi, mereka baru tak dapat menahan lagi kantuk yang melanda. Merekapun tidur bergoleran seadanya di ruang keluarga beralas karpet.

      Surya menyongsong fajar mulai mengusik burung burung untuk bersiul.  Kalingga membuka mata. Sahabat sahabatnya masih pulas dengan dengkurnya. Senyum mengukir, wajah wajah itu melukis ekspresi tanpa beban. Ada yang menganga ada juga yang tersenyum bahkan di sela sela kiri kanan ujung mulut meleleh air liur. Kalingga beringsut dari duduknya sangat perlahan agar terhindar dari bebunyian yang pastinya akan mengganggu tidur mereka. Namun, ada sepasang bola mata mengintip dari tidur ayamnya atas gerakan tubuh Kalingga dengan tongkatnya itu. Ia pun secara perlahan mengikuti langkah  kaki Kalingga menuju bentangan mentari. Ia ingin meraupnya untuk kekuatan tulangnya atas penyerapan kalsium dan fosfor dari vitamin D yang ditaburnya. Sebagai Gadis Gowes ia memerlukan kepadatan tulang dan tak mau hilang yang telah terbentuknya sejak menggowes sepeda hanya karena ia harus istirahat total dari gowes sepeda selama beberapa bulan ke depan. Kalingga menyadari dalam tubuhnya tidak dapat memproduksi sendiri vitamin D dan hanya jenis makanan tertentu yang mengandung vitamin D itupun  terbatas, hingga hanya memanfaatkan kebaikan pijaran sang mentari di pagi hari.

     Di tengah tengah antara satu kolam ikan dengan kolam lainnya, Kalingga terus membiarkan diri terlumat sinar surya dengan mata terpejam diiringi musik alam air yang terus mengalir bersamaan kicau burung yang kian kemari kepak sang sayap.   Tiba tiba ketenangan itu terusik. Dari kejauhan meluncur sepeda begitu cepat. Kalingga terkejut dan ia lupa jika ia berdiri tanpa tongkat serta merta Kalingga mencoba menghindar dengan reflek naas baginya, Kalingga terseok lalu bruyyy.. masuk dalam kolam bersamaan dengan pengendara sepeda yang melepaskan sepedanya dan melompat ke kolam. Kegaduhan tak terhindar. Para penjaga kolam kolam ikan berlarian menolong. Atas kegaduhan yang ada,  Beb terbangun. Begitu ia menengok ke kerumunan orang dan tak ada Kalingga, Beb pun membangunkan teman temannya dengan panik.

     “Ted, tedi. Kalingga Kalingga..”

     “Kalingga? Kenapa Kalingga?” Mereka pun langsung  berlarian ke arah kerumunan orang orang di kolam.  

     “Kalingga…” teriak Tedi begitu melihat orang orang membantu  Kalingga yang dalam kesakitan mengangkatnya ke atas kolam. Tedi segera merangkul Kalingga yang terus merintih kesakitan lalu  membopongnya. Bernad berinisiatif mengambil mobil lalu merekapun membawa Kalingga ke rumah sakit. Dalam mobil kepanikan terus terjadi . Tedi terus memeluk Kalingga yang tak henti mengerang kesakitan. Beb yang duduk di sampingnya mencoba mengelus elus Kaki Kalingga berharap akan memberi sedikit reda dari sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dengan cekatan Pupung membuka pintu mobil untuk Tedi yang  menggendong Kalingga. Setelah diadakan penanganan sementara di IGD, Kalingga di bawa ke ruang operasi.

     Sementara menunggu Kalingga operasi kakinya , mereka menunggu dalam kecemasan, terutama Tedi. Sebab hari ini rencananya mengumumkan kepada teman temannya jika dia akan melamar Kalingga. Tedi sudah menyiapkan cincin pengikat pula. Dia sangat menyesal mengapa tidak menjaga Kalingga dengan baik. Dokter sudah mewanti wanti agar tidak terjadi lagi Kalingga terjatuh atau terkilir untuk kedua kali sebelum kakinya sembuh karena akan berakibat fatal atas musibah tergelincirnya sepeda pada balap sepeda "Tour de East Java",  oleh alur ban yang terselip kerikil pada jalan yang licin. Tedi pun menyesali mengapa ia tidak cek terlebih dahulu ban sepeda Kalingga sebelum dipakai untuk lomba. Karena sepeda baru bukan tidak mengandung resiko jika pada alur sepedanya terselip kerikil. Sebab jika alur ban terselip kerikil memungkinkan memberi kesempatan pada kerikil kerikil lainnya untuk ikut serta dikarenakan  kerikil yang sudah terlanjur menetap di alur ban mampu membuat celahnya semakin terbuka. Dan itu akan memudahkan ban tergelincir jika di pacu kencang.

     “Sudah lah bro tak usah seperti ini!” Kata Bernad yang sejak tadi memperhatikan kegalauan Tedi dengan terus mondar mandir bagai trikaan. Dan sesekali ia memukul kepalanya dengan bias wajah penuh sesal.

     “Cobalah duduk dulu. Lihat , bukan rambut loe aja yang acak acakan tapi juga muka loe terlihat kusut. “ Lanjut Bernad.

     “Iya bro, duduk lah..” Sela Pupung yang duduk berdampingan dengan Beb yang sejak tadi terus menangis. Sakit yang dirasa Kalingga seakan melekat juga dalam tubuh Beb. 

Akhirnya Tedi duduk juga setelah berkali kali Bernad mengajaknya duduk. Bernad yang telah  mengetahui hubungan antara Kalingga dan Tedi, sangat  paham mengapa Tedi terlihat shok. Kalingga telah bercerita kepada Bernad jika hubungannya dengan Tedi sudah menjurus kepada keseriusan dan Tedi akan menimangnya. Bernad sebagai muara keluh kesah dan cerita Kalingga sejak masa SMA berlanjut era mahasiswa dan sampai sekarang itu, selalu mendapat update terbaru tentang hubungan Kalingga dengan Tedi dari pada teman teman lainnya termasuk Beb yang pernah bertahun tahun tidur  satu kamar.

sebab hanya Bernad yang dapat di ajak debat serta diskusi dengan nalar nya yang mengedepankan logika. Jika tidak karena Bernad memberi semangat kepada Kalingga untuk menerima Tedi sebagai pacar, mungkin Kalingga tidak jadian dengan Tedi. Sebab pada awal awal pendekatan Tedi pada Kalingga selalu terjadi keributan oleh karena cara berpikir Tedi yang selalu mengacu pada ilmu metafisika sementara Kalingga mengacu pada logika. Sehingga tak jarang mereka selalu cecok mulut memepertahankan argumennya masing masing. Dan Bernadlah sebagai muara Kalingga dalam menumpahkan kekesalan yang ada terhadap Tedi.   

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata Tedi secara tidak langsung menelan apa yang dikatakan Kalingga. Ia mulai menyerap ilmu bisnis dengan perhitungan secara logika. Ya walau kadang Tedi masih tak bisa lepas seratus persen dari apa yang pernah digelutinya namun telah memberi suatu harapan bagi Kalingga apalagi dilihatnya Tedi begitu semangat menjadi entrepreneur yang mampu megubah diri sebagai pengusaha Ikan Koi walau atas hibah orang tua, namun Tedi mengembangkannya menurut logika jaman hingga dalam sekejap di tangan Tedi pengelolaan usaha Ikan Koi bertambah modern dan maju. Kini Tedi tidak memungkiri kalau  kiprahnya sebagai pengusaha tak lepas dari terpaan Kalingga agar ia menjadi pengusaha yang memiliki jiwa entrepreneur. Karena banyak pengusaha yang memiliki bisnis skala besar atau kecil, kadang tidak memilik jiwa entrepreneur harus menerima kenyataan pahit sebelum kepak sayap usaha berkibar ke angkasa. Tidak dengan pengusaha yang berjiwa entrepreneur, rata rata bisnisnya tetap jalan. Setelah Tedi terlihat tenang, Pupung tersadar jika diantara mereka tidak ada Fifie.

    “Fifie kemana ya?” Tanya Pupung. Atas pertanyaan Pupung  teman lainnya baru tersadar jika Fifie tidak ada diantara mereka.

    “Apa dia juga kecebur ya?” Tanya Beb yang sempat mendengar kalau ada dua wanita tercebur ke kolam ikan. Namun waktu itu Beb tidak berpikir itu adalah Fifie. Dan sudah panik dengan keadaan Kalingga yang terus mengerang kesakitan. Begitu juga dengan teman lainnya mereka lebih memberi pertolongan untuk Kalingga.

Pupung pun meminjam telepon Tedi untuk mengontak penjaga kolam.

     Fifie memang menyeburkan diri ke kolam dengan membiarkan sepeda yang di gowesnya terus meluncur.

     “Jadi?” mereka pun saling pandang.

     “Kalingga terjatuh menghindar dari sepeda?” tak ada yang bisa menjawab atas pertanyaan mereka sendiri. Karena ketika kejadian mereka masih terlelap setelah semalam begadang. Tak lama mereka membicarakan sahabatnya yang baru datang dari Amerika itu, tiba tiba dia lari tergopoh menghampiri mereka.

Bersambung...........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta.

Komentar

Loading...