Gadis Gowes (27)

Gadis Gowes (27)
Gadis Gowes

“Berapa pun jarak yang kita tempuh jika hati enjoy, nggak terasalah..”

     “hahahha iya juga ya!”

     “Aku benar benar  enjoy  selama perjalanan ini. Apalagi dapat menu sejarah tentang adanya jembatan yang spectakuler atas ide gila John Roebling dan anaknya Washingthon Roebling.”

     “Ups, aku juga enjoy duduk berlama lama dalam mobil dengan ditemani gadis cantik.” Lagi lagi Donal memuji. Fifie mengernyitkan keningnya. Lalu tersenyum simpul dan jari itupun mencubit pinggang Donal kala ia meliriknya dengan genit.

     “Ampun fi, aku lagi nyetir!”

     “Makanya fokus saja nyetir ya.”

   Sedang asyiknya bercanda,  tiba tiba sebuah mobil menyalip dengan kencang yang membuatnya kaget keduanya.

     “Gila tuh mobil!” Teriak Fifie.

     “ini Amerika!”

     “Nggak takut nyawa melayang ya?”

     “Kayak nggak pernah nonton film Amerika saja!”

       “Hadeh! “ Fifi tepuk jidat. Tiba tiba matanya dengan jelas melihat rambu bergambar kunci di silang merah yang terpampang di sepanjang jembatan itu dan terpampang kata, “No Locks.. Fine $100”. Keningnya mengernyit. Donal tersenyum dan katanya,

     “Jangan heran dan jangan samakan  jembatan Brooklyn Bridge dengan Namsan Tower di Seoul, Korea atau Rialto Bridge di Venice, Italia,  dimana ratusan bahkan ribuan gembok cinta tergantung di sepanjang sisi jembatan.”

      “Tapi banyak jembatan terkenal dibelahan dunia ini seperti di Paris, Dublin hingga Moscow para turis menyematkan kunci di sepanjang jembatan”

     “Tak di pungkiri, karena mereka menganut mitos kalau cinta mereka akan terkunci dan abadi selamanya ketika memasang gembok dengan menuliskan nama mereka dan kuncinya di lempar ke sungai.” Donal menarik nafas panjang.

     “Namun tidak di jembatan Brooklyn Bridge yang membelah  sungai  East River sekarang. Dulu sih memang  para turis sempat menaruh gembok di sepanjang jembatan ini namun penduduk lokal terganggu dengan menumpuknya gembok gembok itu. Merekapun mengeluh dan akhirnya pemerintah membersihkan jembatan dari gembok gembok tersebut dan menerbitkan larangan!”

    “Oh…” Fifie manggut manggut.

     “Bukan itu saja. Menurut Departemen Perhubungan New York, keberadaan gembok itu pemeliharaannya juga mahal disamping berbahaya bagi lalu lintas di bawah jembatan, pejalan kaki, dan pengendara motor.” Lanjut Donal. Perjalanan panjang di atas jembatan  kebanggaan warga The Big Apple ini sangat tak terasa dengan obrolan sepanjang jalan. Mereka kini sudah  keluar dari ujung jembatan Brooklyn Bridge yang kini telah menjadi landmark kota New York itu. Kemudian  menepi untuk memberi kesempatan Fifie mengambil moment indah jembatan dari kota Brooklyn. Tak lama kemudian Donal memutarkan mobilnya menuju tepian sungai Timur lalu memarkir mobilnya di sebuah anjungan di tepi pantai. Lalu dengan ceria ia menarik lengan  Fifie  menuju dermaga dimana dapat aman untuk berdiri di bibir pantai. Lalu menatap kota Manhattan di  arah barat.

      “Kita seperti ada di bawah jembatan Brooklyn, ya.” Ujar Fifie sambil  menikmati bagel isi lox.

    “Yes! John Roebling dan anaknya  sungguh super jenius. Benar benar memberi inspirasi aku. “ Donal terus memuji bapak dan anak yang telah membangun jembatan Brooklyn tersebut sambil terus asyik  dengan makanan bagel. Bosan dengan bagel, merekapun menikmati sensasinya rasa Salmon Asap yang menurut orang Italia, Lezato. Apalagi sambil menikmati senja di bawah jembatan Brooklyn  sambil  duduk di  tepian sungai yang sangat indah itu. Kian senja  romantisme bertambah syahdu. Tak lama kegemerlapan  tampak manakala senja merambah dan sang temaram mentari sembunyi ke peraduan, dan malam pun menyapa, tampaklah dari kejauhan titik titik cahaya lampu memancar dari gedung gedung pencakar langit yang ada di Manhattan memberi ketakjuban bagi penikmat malam di tepi pantai itu.  Bias wajah Fifie memantul kebahagiaan diantara kekaguman yang mendalam atas  ide gila John Roebling. Hal yang sama dirasakan Donal yang kerap kali sering berkunjung di setiap luang waktu yang ada. Namun sekalipun ia sering berkunjung hanya kali ini ia merasakan kehidupan yang berwarna. Dulu ia selalu sendiri kesini sambil mencari inspirasi kini dengan ditemani Fifie, taka da kesepian dalam penceharian pada ruang inspirasinya.

    Begitulah, selama Fifie bergulat dengan ilmu fisioterapynya di negeri Paman Sam, Donal selalu mengajaknya menyeberangi jembatan Brooklyn lalu menikmati keindahan senja menuju dekapan malam. Keakraban diantara mereka pun semaki nyata.  Pada waktu luang yang sedikitpun mereka menghabiskan waktu bersama walau hanya sekedar kuliner atau minum minum di kedai kopi. Donal pun telah mampu melupakan Fifie dari bayang masa lalu bersama dengan 5 sahabatnya serta rumput cinta yang bersemayam di lubuk hatipun semakin kering. Namun kala kelulusan itu datang, orang tuanya minta agar Fifie kembali ke Indonesia, seakan layar itu berkembang kembali. Kerinduan itu datang. Fifie pun membuka laci dimana tersimpan kotak kecil terbungkus rapih berisi sim card. Lalu memandangnya lama..

Cukup lama Fifie memandang kotak itu namun hanya memandang semata. Di tutupnya kembali laci itu. Kaki melangkah mencari angin menerjang kenangan yang datang menggoda. Dingin yang menggigit tulang dibiarkannya hingga bibir bergetar. Beruntung seputar apartemen banyak kedai kopi, Fifie pun menghangatkan badan dengan meneguk kopi. Fifie sedikit mengalami disosiatif ringan, namun walau diri dalam lamunan, ia sadar dari sudut seseorang memperhatikannya. Dia pun segera beringsut dari duduknya dan keluar dari kedai kopi itu. Mata penatap sangat jalang. Jemarinya gatal ingin menekan nomor Donal di layar kecil itu namun ia urungkan. Ponsel itu kembali masuk kantong dan hati mengajak kakinya keluar dari kedai itu terus melangkah kembali ke kamar apartemen. Fifie menatap diri pada cermin. Dua sosok pria hadir namun segera ia menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Lalu merebahkan badan di atas pembaringan. Kalau artis legendaris Marilyn Monrow  yang bom sex Amerika di zamannya dalam melampiaskan kemerahannya pada Boneka yang kadang orang memandangnya sangat aneh pada artis kondang itu.  Bahkan ada pula yang nyinyir Marilyn Monrow kerap disebutnya si tukang stress. Mempunyai kepribadian ganda dikenal dengan sebutan Gangguan Identitas Disosiatif (Dissociative Identity Disorder). Namun bagi  Joshua Logan,  sutradara yang telah mengenal baik artisnya itu. Dia sangat paham dengan Marilyn Monroe yang mempunyai gangguan kepribadian ganda. Hingga ia kerap menenangkan sang maha bintang jika dalam kondisi amarah. Dan biasanya apa yang dilakukan Joshua Logan sangat ampuh, bintang pujaan berambut pirang itu akan segera luluh dibuatnya. Dimata  Joshua Logan, Marilyn Monrow yang telah menjadi idola orang sejagat Amerika bahkan dunia adalah asset Amerika yang harus di jaga terlepas dari kelebihan serta kekurangan yang ada.

Sementara itu  apa yang terjadi pada Fifie hanya mengalami disosiatif ringan oleh cinta terhalang. Dalam lamunan, ia menerawang  langit kamar dalam  nanar menghadirkan bayang wajah ke 5 sahabatnya secara bergantian. Rindu mengusiknya untuk membuka laci dan mengeluarkan isi dalam kotak kecil itu.

Tak lama ia melihat begitu banyak kiriman foto para sahabatnya. Merekapun mengirim video sedang menggowes sepeda bersama diantara tambak tambak ikan. Gowes bersama di pelataran Candi Borobudur, menerobos kebun jeruk, dan banyak lagi foto foto dan video keseruan mereka para sahabat  ketika memberi semangat Gadis Gowes Kalingga dalam Tour de East Java. Dengan sedikit kalimat dibawahnya, “..gue tahu loe sibuk di Amerika, semoga dengan video ini loe tetap kangen sama kita..” begitu tulis Beb yang rajin memberi info kegiatan mereka. Kalimat itu tidak di gubrisnya namun kala melihat wajah Tedi di video dengan melontarkan kata “loe nggak kangen sama gue?” membuat Fifie langsung pesan tiket pulang ke Indonesia..

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

  

Komentar

Loading...