Gadis Gowes (26)

Gadis Gowes (26)
Gadis Gowes

Lalu ditemukan seorang yang mempunyai mata tajam, seorang fotografer dari US Army Air Force’s First Motion Picture Unit yang awalnya mengemban tugas membidik perempuan di pabrik amunisi untuk sebuah tujuan khusus.

     “Suatu saat, saya ingin membuat ide gila untuk negeri!” Tiba tiba Donal memecahkan kesunyian diantara mereka karena Fifie terus mengambil moment indah sepanjang jembatan Brooklyn Bridge yang membelah sungai East River itu. Mendengar apa yang dikatakan Donal, Fifie yang duduk disebalah Donal langsung terperajat.

      “What?”

     “Mengapa terkejut? Ide gila dibutuhkan untuk mengubah dunia!” Jawab Donal sambil terus menyetir mobil mewahnya.

     “Kau jangan pernah menyepelekan seseorang yang melemparkan ide.”

    “Bukan itu maksudku.”

    “Sebuah peradaban dunia tak akan ada tampa sebuah ide!”

    “Aku setuju itu Donal. Keterkejutanku bukan tidak mempercayai kemampuan seseorang. Tidak! Aku pun suka membaca tentang sejarah.”

    “Bagus kalau begitu. Ternyata kau gadis brilian yang menghargai sejarah.”

    “Jangan membuat aku tersanjung. Hehehehe”

    “Kau memang gadis brillian dan manis!” Pujian Donal membuat wajah Fifie bersemu merah dan lonceng berbunyi pada jantung merahnya. Jalan panjang di atas Jembatan  Brooklyn Bridge pun menjadi saksi ada rajut cinta diantara mereka.   Tawa canda  mewarnai perjalanan mereka menuju Long Island. Dan Fifie selalu menjadi  pendengar yang baik ketika Donal menceritakan kegigihan serta optimisme bapak dan anak pembuatan jembatan yang mempunyai nilai seni tinggi dan berstruktur kuat itu. Dan tiba tiba pula Donal meminta Fifie memandang ke suatu tempat.

    “Kau tahu, disana, di apartemen teratas, unit yang sangat mewah itu adalah tempat dimana dulu aktris terkenal Hollywood  Marilyn Monrow tinggal.”

     “Serius?”

     “Yes. Konon dari cerita,  setiap ia datang ke apartemen mewahnya tersebut, dia akan berdiri dan memandang sungai  East River  dan jembatan Brooklyn Bridge ini.”

    “Oh ya?”

    “Yes. Seperti cerita orang dekat Marilyn Monroe.”

   “Hebat kau di sini bisa dekat dengan orang seputar maha bintang!”

    “Hahahaha... orang seperti Donal mana bisa. “

     “Lalu?”

     “Dari baca sejarahnya lah..”

     “wkwkkwkwkwk” mereka tertawa renyah. Donalpun kembali bercerita..

     “Yang pasti, aku yakin maha bintang itu  pernah  berguman yang ditujukan kepada John Roebling atas kerja kerasnya dalam mewujudkan mimpinya. Dengan berdiri di pinggir pagar penthousenya. Donalpun menirukan gaya bicara bintang Bom sex Amerika itu.  “.. kelakpun aku akan sepertimu, menjadi legenda yang membuat orang Amerika bangga.” Fifie tertawa dibuatnya. Lalu katanya,

      “Sok tahu!”

     “Hahahha.. buktinya sang bintang dalam sepak terjangnya didunia perfilman Hollywod dan kehidupannya selalu melakukan hal yang beresiko tinggi yang kadang membuat orang menganggapnya gila.”

     “Iya juga sih” Fifie terlihat berfikir. Lalu katanya,

     “Memang  kamu juga datang ke Amerika ini mempunyai visi misi menjadi seorang yang melegenda?” mendengar pertanyaan Fifie, Donal langsung membusungkan dada.

      “Tentunya ..Aku Donal akan menjadi sang legenda.. Walau sejarah telah mencatat bahwa ide dan kerja keras kadang merenggut nyawa, sebagaimana yang terjadi pada sang penggagas ide  Mega-project jembatan  Brooklyn Bridge pembelah sungai  East River  ini, tak menyurutkan aku untuk membuat jembatan yang spectakuler di negeriku”

    “Wow keren..”

    Fifie mengacungkan jempol. Donal menyambut dengan senyum. Lalu bagai air mengalir, Donal dengan semangat menceritakan awalnya pembangunan mega proyek jembatan Brooklyn Bridge yang membelah  sungai  East River. Bahwa pada  beberapa bulan berjalan mulus. Namun kemudian terjadi kisah determinasi dan persistensi. Setelah proyek berjalan beberapa bulan tersebut, kecelakaan tragis terjadi dan menewaskan sang penggagasan John Roebling!

     “Ih, aku jadi merinding. Udah ah ceritanya. Takut!”

     “Takut kenapa?”

     “Jangan jangan arwahnya ada di jembatan ini.”

    “Woi, kejadian itu sudah berabad!”

    “Tapi mungkin aja kan sang arwah pembuat jembatan ini terus berada di tempat yang dia buatnya.”

    “Jangan terbius oleh film horor deh!”

    “Bukan begitu...”

    “Ya sudah, cerita ini mengandung sejarah. Dan sejarah penting untuk diketahui secara detail atas kejadian yang ada. Jembatan yang  kini kita di atasnya, mungkin sebagian orang menganggapnya biasa, sebagaimana juga seperti gambar yang ada di film film. Padahal sejarah dalam pembuatannya luar biasa!”

     “Oke, oke, kau menang deh. Silahkan lanjut!” Akhirnya kata Fifie dan Donalpun melanjutkan ceritanya.

     “Bukan hanya seorang bapak yang mempertaruhkan nyawanya demi terciptanya jembatan ini. Anaknyapun yang bernama Washington Roebling, tak surut nyali untuk terus membangun jembatan yang membelah sungai  East River  sepanjang 1.825 meter ini walau terjadi kecelakaan yang menewaskan bapaknya itu. Dan kau tahu apa yang terjadi pada Washington Roebling?”

     “Yeah...mana ku tahu. Kan aku belum membaca sejarahnya?”

    “Dia pun mengalami kelumpuhan untuk mega proyek ide bapaknya!”

    “Oh My God!”

    “Washington Roebling  terserang gangguan penyakit yang sering membuat cidera para insinyur yakni caisson disease.”

     “Apa itu caisson disease?”

     “Sebuah cidera yang dapat membuat seseorang mengalami kelumpuhan.”

    “Oh My God. Washington Roebling mengalami kelumpuhan?”

    “Yes! Seratus buat nona cantik!”

    “Terus?”

    “Washington Roebling bukan hanya mengalami kelumpuhan. Seiring waktu berjalan dalam pembuatan mega proyek ide bapaknya, iapun mengalami kesulitan untuk berbicara.  Alhasil, orang orang yang selama ini meragukan visi pembangunan jembatan tersebut mencemooh dengan mengatakan mereka orang orang gila  dengan mimpi gila. Bapak dan anak yang sangat bodoh mengejar mimpi yang mustahil.”

      “Tapi nyatanya jembatan ini ada?”

     “Nah itu dia! Karena fokus dan tetap berkerja keras walau apapun terjadi.”

     “Luar biasa...”

     “Ups, kita sudah mau sampai di ujung jembatan. “

     “Wow, tak terasa kita.”

Bersambung............

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...