Gadis Gowes (25)

Gadis Gowes (25)
Gadis Gowes

Bab. VII

Ide Gila Brooklin Bridge  

Fifie duduk termenung sendiri di kantin dengan segelas air jeruk hangat yang ia mainkan dengan sendok. Hatinya sedang mencoba mengurai kenangan kebersamaan sekian lama yang terjalin bersama para sahabat.  Rumput yang tertanam indah hasil suka dan duka bersama, kini tumbuh ilalang. Kejernihan air dalam bejana terciprat  hingga memberi warna abu dalam kelabu. Setiap waktu dicoba mengurasnya untuk tetap jernih dengan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, tidak ada abu-abu dalam kalbu namun rasa iri muncul melihat apa yang terlukis dari gerak tubuh pada rajutan hari orang yang selama ini menggoda dalam tidurnya. Sering kali diantara bongkahan hati menepis iri dengan berkata engkau adalah apa yang engkau lakukan kadang memberi makna bias dengan menoreh hitam putih dunia, pada persahabatan cabutlah alang-alang sampai akar dan jangan biarkan pagar memakan tanaman. Namun, kisi kisi dinding hati, terus melukis cinta walau sebatas  kerongkongan, terbentur dua pilihan antara teman dan cinta. Beberapa kali keinginan menghindar itu datang, hingga  lepas dari ikatan persahabatan demi luka hati yang terus menganga, namun tulisan  filsuf Aristoteles dari Yunani seakan terus mengiang di telinga, bahwa menghindari sahabat adalah pilihan yang paling berisiko. Semakin besar menghindari semakin besar pula resiko yang harus ditanggungnya.  Namun, Cinta yang bersemanyam bukan pandang pertama itu telah  mengakar dan akar itu semakin kuat mencengkerama sejak mempunyai kesempatan memberi kesembuhan atas keahliannya dalam ilmu refleksiologinya di rumah Ki Bodo. Namun pandang mata atas kejadian ketika bersama mengarungi arum jeram, satu sahabat tenggelam sahabat lain bertaruh nyawa untuk menyelamatkan,  memberi pelajaran yang berarti. Mengutip apa yang ditulis oleh filsuf Aristoteles atas syair Homer,  bahwa “Ketika yang dua bersama-sama, teman meningkatkan kemampuan kita untuk bertindak dan berpikir”. Syair yang memberi makna bahwa sahabat rela membantu sesamanya untuk berpikir dan bertindak  dalam situasi rukun untuk mengarah pada suatu kebajikan yang menghasilkan kebahagiaan. Ahh…. Dia pun ikut dalam misi pertolongan di Malang untuk membebaskan alang alang yang menghalangi kesuburan rumput, cintanya..

        Jelas terlihat  wajah berbinar pada penggoda tidur malam itu kala kala pertolongan berjalan sukses. Pemandangan kebahagiaan nan hakiki pun terlihat nyata di kebun Apel ketika menunggu  mobil penjemput datang. Tangan itu menyodorkan buah apel penuh manis lalu terjadi saling berganti gigit pada apel yang sama. Pedih perih hati mengajaknya melangkah  dan berjalan diantara buah buah apel dalam diam. Sendiri. Sementara yang lain asyik memakan apel hasil petik tanpa izin pemilik itu.  Sebelum rasa sesal terus mencubit lebih dalam, sebuah tangan dengan gerak cepat menariknya untuk segera  naik ke mobil.

      “Ah!” Fifie mencoba menepis ingatan sewaktu di Malang itu. Ditenggaknya jeruk hangat sampai tak tersisa setelahnya berlalu meninggalkan gelas kaca sendiri di meja. Dengan tas ransel di Pundak, Fifie berlenggang meninggalkan kantin. Sesungguhnya hari ini tidak ada kuliah kedatangannya  ke kampus hanya untuk meminta tanda tangan dosen atas rencananya terbang ke Amerika usai wisuda.

       “Ke Amerika?” tanya teman temannya secara bersamaan ketika usai wisuda, mereka berkumpul di gubuk Mang Engking. Sebuah restoran tradisional dengan menu ikan dan makanan khas Sunda itu.

      “Ya, ortu meminta gue melanjutkan kuliah disana.” Fifie pun bercerita atas keputusannya melanjutkan study di Amerika. Dan mereka sangat paham atas keputusan tersebut.

Kedua orang tuanya, kerap jika bertemu selalu mengatakan keinginannya agar Fifi menimba ilmu di negeri dimana patung Liberty berdiri diatas landasan setinggi 46 meter dan berat 204 ton beton berangka plat tembaga yang di rancang perancang Menara Eiffel, Gustave Eiffel. Orang tuanya berharap kelak Fifi dapat melanjutkan usaha ekspor impornya.

Namun apa yang terjadi setelah Fifie di Amerika? Sungguh di luar dugaan, dia melenceng jauh dari harapan orang tua. Disana ia justru bukan belajar ekonomi melainkan mendalami ilmu Fisioterapi. Sebuah ilmu yang tak banyak peminatnya dan masih terasa asing di telinga kedua orang tua. Dan membuat berang kedua orang tua kala mengetahuinya. Namun Fifi tetap bersikeras untuk mengambil kuliah fisioterapy. Dan menerangkan kepada kedua orang tuanya bahwa fisioterapy bukan hanya sekedar tukang pijit. Ilmu ini di Amerika sangat di hargai dan lulusannyapun langsung di pekerjakan dengan gaji cukup tinggi.

     “Gaji tinggi? Berapapun gaji itu tak dapat mencapai apa yang telah kamu punya sekarang!”  Teriak lelaki yang membuatnya lahir kedunia dengan berang. Karena kalau yang dikejar uang, orang tua Fifie mempunyai uang lebih dari cukup dan mungkin juga tak akan habis sampai beberapa keturunan. Namun seberang apapun kemarahan orang tuanya, Fifie tetap kekeh pada pendiriannya dengan  terus memberi pengertian kepada orang tuanya bahwa jurusan  fisioterapy memang tidak populer, tapi sangat menjanjikan untuk kedepannya. Dan tidak juga harus berkerja di tempat orang, namun menjadi bagian kegiatan pengembangan usaha.  Membangun lembaga kesehatan. Jurus kata Fifie membuka lebar mata kedua orang tua. Ekspor impor suatu waktu bisa menjadi roda dari  lembaga kesehatan yang tentu seiring berjalannya waktu memerlukan peralatan canggih dalam mendukung perkembangannya. Akhirnya atas kekerasan hati Fifie dan pengertian yang diberikannya itu melunakan hati orang tua. Tak di pungkiri oleh orang tuanya selama ini kalau mereka melihat kemampuan anaknya di bidang ilmu fisioterapi, sebuah ilmu yang sesungguhnya telah ada ribuan tahun silam  yang baru berkembang berkat kegigihan seorang wanita bernama Eunice Ingham di abad 19. Wanita yang berasal dari South Dakota  pada tahun 1889 ini,  adalah seorang fisioterapis yang berkerja pada Dr Joe Shelby Riley, dan oleh Fifi ditekuni secara otodidak serta menstrapormasikan ke dalam  reflexology. Dan orang pertama yang merasakan keahlian jari jari Fifi dalam menstrapormasikan ilmu Reflexology adalah Tedi, kala di padepokan Ki Bodo. Dan titik titik yang dipijitnya bukan hanya menyembuhkan melainkan tanpa disadarinya telah  mengalirkan sentuhan pada relung hatinya yang terdalam. Namun indahnya persahabatan menjadikan ia terabaikan. Apalagi telah terbina teamwork yang saling melengkapi dengan kekurangan dan kelebihan masing masing. Dengan julukan yang melekat di jaket mereka:  Kalingga terkenal dengan “Ilmu logika’, Tedi dengan “Primbonnya”, Pupung dengan Syair syairnya, Bernad dengan  jurus rayu, Beb juru ketik, Fifi  yang sangat jeli, detail, dan observan. Menganalisis sebelum bertindak, terkenal sebagai humas sukses pada setiap event.

Walau Fifi terus mengeluarkan jurus “pelunak hati” kedua orang tuanya, bapaknya tidak begitu saja dapat menerima. Letupan amarah bapak bagai percikann api yang nyaris membakar. Fifi nyaris diajak kembali pulang andai disana tidak berdiri seorang ibu yang bijak. Kebijakan seorang ibu  yang selama ini  mengetahui akan bakat yang terkandung dalam diri anaknya, mulai menunjukan peran dengan mencairkan ketegangan yang ada dengan lemah lembut. Kelembutan seorang ibu dengan aura kasih,  ternyata ampuh melelehkan hati. Batu itu akhirnya pecah oleh timpaan tetes demi tetes air . Sang bapak mengalah dan menyetujui pilihan Fifie walau harus mengulang kuliah dari awal. Karena kuliah Fisioterapy di Amerika tidak bisa membawa ijasah ilmu lain untuk ambil  Stara2.                                                 Sebenarnya Fifie mengetahui bahwa di Universitas Indonesiapun ada jurusan mata kuliah fisioterapy, namun ketika itu dia masih menuruti kemauan bapaknya untuk ambil jurusan ekonomi. Seiring waktu berjalan rupanya ada pemberontakan dalam raga Fifie untuk masa depannya. Dan kalau sekarang dia pilih kuliah di luar negeri, Fifie telah mempelajari kalau kuliah di luar negeri akan memiliki sertifikasi Internasional, training dan magang.

      Negeri Paman Sam bagi Fifie sebenarnya sudah tidak asing. Beberapa kali sebelumnya Fifie selalu diajak liburan oleh orang tuanya. Bahkan sudah memiliki apartemen sebagai tempat singgahnya dan mempunyai teman yang bernama Donal. Seorang arsitek yang sedang mendalami ilmu infrastruktur. Mereka yang telah lama kenal itu kian akrab.  Fifie  menutup masa lalunya dengan memasukan sim card Indonesia dalam kotak kecil lalu membungkusnya dengan  rapih alat penghubung yang selama ini dipergunakannya. Fifie ingin keberadaannya di Amerika benar benar untuk hidup dalam  dunia baru. Layar pun sedikit namun pasti dilipat dengan merapat pada teman baru yang bernama Donal serta bercengkerama dengan  Ilmu yang mempelajari gerak tubuh manusia seperti sendi, tulang dan otot atau di sebut juga Physical Therapy.  Dalam Fisioterapi,  diberikan basic ilmu diantaranya mengajarkan  menggunakan energi dari alam seperti pijatan untuk pemulihan suatu penyakit, yang selama ini sudah ditekuninya. Kesempatan Fifie menjadikan Donal sebagai  obyek penerapan ilmunya. Hal yang disambut gembira oleh Donal tentunya. Karena dengan sendirinya so pasti akan membentuk interaksi bathin di antara mereka. Hal yang sama dirasa Fifie, dengan pada setiap  kesempatan yang ada Donal selalu mengajak Fifie menikmati kota New York serta kota kota yang romantis yang ada disana. Fifie yang dulu ingin memberangus alang-alang pada rerumputan itu kini berbalik arah. Rumputlah yang ia biarkan termakan alang-alang. Walau hati belum terbungkus keyakinan akan cinta namun Donal sungguh memberi dunia baru.

Sebagaimana sekarang dimana Donal mengajak Fifie melewati jembatan yang membelah sungai East River  dan membentang sejauh 1.825 meter. Sebuah jembatan terpanjang, pemecah rekor dunia. Dan konon jembatan Brooklyn Bridge salah satu yang memberi inspirasi seorang maha bintang Hollywood yang menyandang gelar “Bom Sex Amerika” di eranya, Marilyn Monroe. Hingga ia menempati sebuah apartemen mewah disana yang memiliki penthouse, unit hunian mewah yang terletak di lantai teratas. Dan membiarkan diri tersiram sinar mentari setiap pagi sambil memandang Jembatan  Brooklyn Bridge dengan aliran Sungai East di bawahnya. Banyak yang mengatakan bahwa “ kegilaan”  seorang Marilyn Monroe sehingga ia mendapatkan julukan “Bom Sex Amerika” , banyaknya membaca buku yang mengulas tentang seorang insinyur pemberi ide membuat jembatan yang dapat menghubungkan antara New York dengan Long Island dengan membelah sungai East River dengan bentangan 1.825 meter tersebut. Ide jenius  Insinyur John Roebling pada tahun 1870 awal mulanya banyak mendapat cibiran dan mengatakan itu adalah ide gila walau sang insinyur telah menunjukan kepiawaiannya dengan membuat beberapa jembatan gantung dibeberapa tempat. Dan atas lebel “pengide gila” tidak membuatnya surut justru ia berteriak bahwa tetap akan membangun jembatan Brooklyn Bridge!

 John Roebling pun segera merancang ide kemudian menemui  para ahli pembangunan jembatan di seluruh dunia. Tapi apa yang didapat? Mereka bilang pada John Roebling  : “You are crazy! This imposible!”  Mendapat jawaban yang menyakitkan itu justrul membuat John Roebling semakin ingin membuktikan bahwa ia bisa melakukan ide yang dianggapnya gila itu.  Sebongkah kekecewaan, tidak membuat  John Roebling surut atas idenya. “Ide itu merupakan visi yang tidak boleh berhenti.” Katanya. Dalam kekecewaan yang ada, ia terbayang wajah anaknya yang bernama Washington Roebling, secercah cahaya pun menyelinap pada relung hatinya. Washington Roebling mempunyai gelar yang sama: Insinyur. Mimpi membuat jembatan Brooklyn Bridge pun diutarakan kepada anaknya. Gembira tiada tara kala gayung bersambut. Insinyur muda yang tengah menyambut puncak karirnya itu tergerak untuk membantu sang ayah mewujudkan mimpinya. Ide gila itu akhirnya terwujud nyata dan hal yang sama terjadi pada maha bintang Hollywod Marilyn Monroe, “kegilaannya” dalam berakting melambungkan namanya dan menjadikan dirinya maha bintang dengan bayaran termahal kemudian sampai berubah jaman, namanya tetap melegenda. Padahal Marilyn Monroe sebelumnya adalah gadis biasa, pekerja di perusahaan Radioplane, sebuah perusahaan penerbangan Amerika yang memproduksi pesawat tak berawak.

Bersambung........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...