Gadis Gowes (23)

Gadis Gowes (23)
Gadis Gowes

  Tedi yang sejak awal melihat tingkah Kalingga, ikut  tertawa dan tergoda untuk  menghampiri Kalingga.

    “Sangat menyenangkan ya bermain dengan koi.” Ujar Tedi yang sedikit membuat kaget Kalingga yang baru saja tertawa oleh rasa geli digigit ikan koi.

        “Ih, Buat orang kaget aja.”

        “Hahaha sorry cantik..”

        “Apaan sih, bilang cantik segala.”

       “Loh, memang dikau lebih cantik dari ikan ikan Koi.”

      “Heh ikan peda, jangan samain gue sama ikan!”

      “Nah lo lebih parah, manggil gue ikan peda.”

     “Auk ah, gelap!” Kalingga cemberut.

      “Loe lebih cakep kalau cemberut.  Ayo lihat dari tengah jembatan.” Tedi langsung menarik tangan Kalingga menuju jembatan lalu merekapun berdiri di tengah jembatan.  Lalu dengan cepat Tedi menunjukan ikan Koi dengan kulit berwarna menyerupai marmer.

     “Nah, lihat ikan yang banyak warnanya kayak marmer, itu namanya  Koi Showa. Harganya bisa tembus jutaan!” Jelas tedi. Kalingga yang bagai kerbau di cucuk hidung tadi, tercengang. Keinginannya untuk marah menjadi penasaran untuk bertanya dengan apa yang dikatakan Tedi.

     “Serius loe?” tanya Kalingga dengan mimik tak percaya.

     “Suer, jenis ikan yang punya nama asal Showasansoku dan lebih dikenal dengan Koi Showa ini memang mahal. Setara jajan kita sebulan. hahahha ”.

     “Wih, asyik juga ya kalau kita jadi juragan ikan. Hahahha...”

     “Serius mau jadi juragan ikan? Bukan gadis gowes?”  Tedi meledek

    Kalingga pun tertawa. Lalu menunjuk ikan koi berwarna kuning keemasan yang melintas di depannya. Lalu ia pun bertanya tentang ikan tersebut.

    “ Itu jenis koi ogon. Memang nih ikan kayak loe, cakep banget! “

    “Ihhh apaan sih, gue serius Tedi...”

    “Hahaha...hidup jangan terlalu serius ah. Santai dikit. Hmm.. oke oke. ikan itu namanya memang Koi Ogon. Konon dulu ditemukan oleh orang yang bernama Sawati setahun setelah Indonesia merdeka, ditahun  1946. Atas  persilangan antara Koi berpunggung kuning dengan jenis koi Shiro-Fuji. Dan hasilnya luar biasa setelah beberapa kali diadakan percobaan. Koi Ogon emas super eksotis ini bandrolnya lebih mahal dari  Koi Showa.”

     “Ups, loe ternyata selain suka yang klenik klenik, rupanya tahu juga soal ikan koi. Kalau gue taunya ikan koi tak ubahnya ikan emas. Hahaha”

    “Yang bener kerabat ikan mas, Kalingga..”

    “Hahaha...loe tuh benar benar tahu begitu soal ikan koi Ya?”

    “Tedi gitu loh...gue kan juga juragan ikan!”

    “Hahaha.. bukan juragan primbon?”

    “ Hahaha.”

Tedi dan Kalingga terus mengobrol dengan diselinggi canda dan tawa. Tedi yang berasal dari Blitar  sesungguhnya memang  juragan ikan Koi. Dalam sebulan kedua orang tuanya akan  pulang pergi ke Blitar beberapa Kali bahkan jika musim panen, kedua orang tuanya akan lama tinggal di Blitar, sampai ikan ikan habis terangkut pelanggan. Namun, Tedi dengan pembawaan sederhana  menyembunyikannya dari teman temannya siapa sesungguhnya dia. Hingga teman temannya lebih menjuluki raja primbon dari pada juragan ikan dengan kolam kolam ikan yang dibangun di atas tanah lebih dari 1 hektare.  

Awal mulanya  Tedi menjadi anak juragan ikan koi, bapaknya petani ikan tambak itu  melihat peluang dan prospek ikan koi ketika mulai buming di Indonesia tahun 1991. Berawal dari pemberian cinderamata Kaisar Jepang yang bernama Akihito kepada presiden pertama Indonesia , Ir. Soekarno. Cindera mata itu lain dari pada yang lain. Berupa ikan ikan koi dengan nama nama berbau Jepang tentunya. Karena pada mulanya ikan koi populer di Jepang dan  oleh karena banyak warna  sulit bagi orang Jepang untuk membedakan jenis dan ciri tubuh pada ikan Koi, untuk itulah mereka memberi nama dan mengklasifikasikan jenis ikan yang satu kerabat dengan ikan mas dan mempunya tiga warna dasar: putih, hitam dan orange itu dengan nama nama berbau Jepang.Dan walau  telah diketemukan buku yang membahas tentang ikan Koi berasal dari Cina, oleh  sebuah buku temuan arkeologi itu tak mengubah presepsi orang bahwa ikan Koi berasal dari negara sakura. Karena memang  pengembangan varietas koi hingga jumlahnya ratusan terjadi di sana

Dari kejauhan teman temannya terus memperhatikan Tedi dan Kalingga dan mereka tampak  senang melihat Tedi dapat mengembalikan  Kalingga ceria. Namun tidak dengan Fifie, dibalik senyum manisnya,  tergores cemburu melihatnya ada layar cinta disana.  Dadapun terasa terpecik api. Tak mau api itu terus berkobar, Fifie mengajak Beb, Pupung dan Bernad  hengkang dari taman lalu mengajak mereka ke ruang karaoke. Fifie memilihkan lagu lagu melo namun teman temannya minta lagu rock. Jadilah mereka jojing ala disco dengan ketawa ketiwi sepuas hati karena rumah sedang sepi.  Setelah lelah mendera, mereka lapar. Namun tak lama kemudian terdengar alunan lagu Sixpence None The Richer - Kiss Me oleh Fifie. Pupung terhentak lalu  menyimak lagu yang dilantunkan oleh Fifi dengan hidung kembang kempis. Dipikirnya lagu tersebut dipersembahkan untuknya, maka dengan tak sabar menunggu bait terakhir, Pupung langsung cium pipi Fifie. membuat Fifi kaget dan kedua penonton, Beb serta Bernad  terbengong.

     “Kurang ajar!” Plak! Fifie menampar Pupung.

     “Kok loe nampar gue? Kan loe yang minta dicium?” Kata Pupung sambil mengusap pipinya yang tembem.

    “Siapa yang minta dicium sama loe tambunnnn. Ih.....” Fifie mengelap bekas ciuman Pupung. Beb dan Bernad tertawa.

    “Tau nih, loe kenapa nyosor begitu bro? Hahahha ..” Bernad nimbrung.

   “Cinta loe sama Fifie? “ Tambah Bernad. Pupung cengengesan

   “Ih...nih lagi Tom Cruise palsu ngomong apaan sih?” Fifi terlihat senewen, ngambek.

   “Udah udah, kita jojing lagi aja. Ayo Fi!” Beb menyetel lagu rock dan mereka pun kembali berdisco ria.

Sementara itu Kalingga setelah puas bermain dengan ikan ikan koi, ia mengajak Tedi untuk duduk di bawah pohon manggis yang rindang. Pohon manggis dengan nama latin Garcinia mangostana  yang berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, asli Indonesia walau dapat tumbuh di negara beriklim tropis seperti Thailand, Malaysia, dan India bagian selatan. Tapi tidak toleransi dengan iklimnya Eropa dan Amerika. Sayang pohon manggis yang pendek dan rindang di kebun Fifi baru menampakan bunga. Namun cukup asyik untuk berteduh. Di bawah pohon manggis itu Kalingga duduk di atas rerumputan bersebelahan dengan Tedi  dengan mendekap kedua kakinya. Matanya menerawang jauh. Bagai layang layang yang melayang  layang sang ingatan melayang ke rumah dimana ibu bapak dan adik adiknya berada. Dia membayangkan pastinya  terjadi kehebohan  dan bagaimana nasib mereka? Mendung bergelayut di wajahnya  ayunya. Sebutir mutiara pun menetes di kedua pipi nya nan halus. Tedi menggeser lebih dekat ke Kalingga. Dengan lembut ia mengusap air mata itu. Pembiaran Kalingga atas apa yang dilakukan Tedi itu, menambah energi keberanian Tedi.

    “Kenapa wajahmu kembali berselimut duka?” Tanya Tedi dengan meniru gaya seorang pujangga.

     “Gue kepikiran bagaimana nasib ibu bapak dan adik adik. Hu hu hu..” Kalingga menangis lalu Tedi meraih kepalanya untuk disandarkan di dadanya.

   “Kalau loe mau nangis, menangislah sampai puas agar beban yang ada lepas. Namun yang perlu loe tau, tak akan terjadi apa apa terhadap keluarga , bapak ibu dan adik adik. Kakaknya Abdul adalah pengacara kondang di Malang dan  sewaktu kita tinggalkan Malang,  kakak Abdul datang untuk mengurus sesuatunya.” Ujar Tedi, mendengar itu Kalingga langsung menarik kepalanya dan menatap Tedi dengan cukup serius.

    “Serius?” Tanya Kalingga.

    “Seribu rius!” Jawab Tedi yang kemudian ia pun bercerita bahwa ketika  Bernad berkemas, Rani Telepon. Usai menerima telepon Abdul pun  bertanya. Kemudian  Bernadpun menceritakan  apa yang Rani katakan. Ternyata Rani setelah memberi alamat ke Tedi ia mencari tahu tentang Kalingga kepada saudaranya yang secara kebetulan bertetangga dengan Kalingga. Mendengar cerita saudaranya itu, Rani langsung Telpon Bernad yang kini sedikit akrab.  Mendengar cerita Bernad,  Abdul langsung telpon kakaknya yang pengacara di Kota Malang itu.

    “Ya Allah..terima kasih..” Kalingga memeluk erat Tedi. Kalingga pun kini merasakan kedamaian. Hati Tedi tertancap panah atas pelukan Kalingga. Dadanya begejolak bagai deburan ombak.

    Beb melihat adegan pelukan itu dari balik kaca, bibirnya menoreh senyum.  Dan serta merta Beb duduk  merapat ke Bernad lalu bergelayut manja. Hal yang sangat mengejutkan Bernad. Dengan refleks tangan Bernad  menyingkirkan Beb dari bahunya.  

Bersambung.........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...