Breaking News

Gadis Gowes (21)

Gadis Gowes (21)
Gadis Gowes

      Kekejaman tidak sampai disitu. Menurut pak Suko, jumlah pinjaman nominal dari sawah dan ladang ternyata dalam hitungan mereka belumlah bisa melunasi hutang, untuknya. Alhasil  orang tua Kalingga harus berkerja menggarap pada sawah yang kini telah di kuasai mereka secara paksa dan sepihak dengan upah yang tidak sepadan hingga menjadikan  orang tua Kalingga tetap terjerat hutang atas bunga berbunga. Dan kini, pak Suko akan menganggap hutang lunas jika Kalingga menjadi istri dari anak semata wayangnya yang mempunyai keterbelakangan motorik.

      Kalinggapun hanya dapat menatap piala piala serta medali yang ia gantung di kamarnya. Di pandangnya foto diri yang ia sandingkan dengan seorang atlit balap sepeda kebanggaannya. Kalingga menarik nafas panjang. Sebutir air bergulir dari matanya. Segera ia usap lalu merebahkan diri pada ranjang yang sudah lama tak di tidurinya. Sesungguhnya bermalas dipembaringan dengan gemuruh dada penuh gelombang marah adalah suatu yang di benci Kalingga. Selama ini jika  rasa malas, jenuh, serta lelah pikiran melanda, gadis gowes ini akan segera mengolahnya menjadi sebuah kebahagiaan dengan menggowes atau memuntahkan masalah itu pada sahabatnya yang bernama Bernad.  Tapi pada saat ini, dia disudutkan pilihan seseorang yang tak bisa dibantah. Jika sewaktu masuk jenjang universitas dibenturkan dengan pilihan berprestasi di sekolah untuk sebuah kebanggaan orang tua atau mengejar kebanggaan diri dengan berprestasi di olah raga sebagai atlet, Kalingga masih dapat memilih pada pilihan pertama walau potensi sebagai atlet balap sepeda berprestasi tingkat dunia terbuka oleh karena ia dapat menjaga konsistensinya dalam menjaga performa menggowes untuk sebuah prestasi.

       Gadis gowes ini cukup perkasa. Energinya masih melimpah oleh positivisme diri yang di bangunnya untuk sebuah kebahagiaan. Bahagia menjadi seorang gadis gowes. Dan sebagai orang yang telah terbiasa dengan berpikir lebih mengedepankan logika dari pada perasaan, iya bukan saja ahli dalam gowes sepeda,  melainkan juga berpikir cepat dan tepat menurut nurani. Orang lain mengatakan hal yang dilakukannya tak masuk akal, baginya tiada sesuatu yang tidak mungkin.  Dirinya yakin dalam permainan logika dia akan keluar dari ruang gelap walau melalui lubang kecil sekalipun. Tapi pada saat ini Kalingga benar benar buntu dalam berlogika. Tak ada satupun terlihat sebuah lubang kecil. Dunianya telah menjadi runtuh. Angan pupus terbawa alur angin puting beliung.

       Jika Kalingga sedang dalam pusaran angin puting beliung, Tedi bagai di sambar petir disiang bolong demi melihat arak arakan yang menghalangi jalan mobil mereka. Dimana Tedi sangat jelas melihat siapa yang diarak itu. Sepasang pengantin.  Pengantin perempuan  adalah Kalingga, sahabat yang sedang dicarinya itu. Ya, Tedi tetap hafal dengan wajah Kalingga yang kini tertutup make up tebal dengan riasan hitam di kening yang disebut paes dan merupakan symbol dari kecantikan kedewasaan seorang wanita. Walau rambutnya disanggul dengan hiasan Kembang Goyang Padma di kepalanya, Jamaus Makutho Keprabon, Urna dan Subang Kundala yang menawan.

     “Kalingga? Itu Kalingga!” Teriak Tedi. Serta merta membuat kaget se-isi mobil.

    “Kalingga???” teriak mereka.

     “Iya itu Kalingga. Kalingga di atas kereta pengantin.”

     “Apa???”

     “Menepi menepi. Turun! Turun! “ Teriak Tedi panik. Membuat Pupung yang mengemudi mendadak ngerem lalu mereka berhamburan keluar dari mobil kemudian berlari menerobos rombongan iring iringan penganti itu. Hal mana membuat heboh keadaan. Memancing mata Kalingga yang sepanjang jalan mendung tanpa senyum. Sementara pria berperut buncit  yang duduk di sampingnya terlihat sangat sumringah dan membalas setiap lambayan tangan masyarakat yang berjejer di sepanjang jalan menonton arak arakan pengantin itu.

        “Tak habis pikir!” Beb geram. Selama ini walau mereka satu kamar tak pernah satu kalimatpun Kalingga berkata tentang pernikahannya tersebut.

      "Kalingga...l Kalingga... ! “ Teriak Tedi, Bernad, Pupung , Beb dan Fifie secara berbarengan dengan terus mencoba menerobos pagar ayu yang berjumlah puluhan orang itu. Namun ketika ingin mencoba menerobos pada kelompok penari di depan kereta kuda atau delman, mereka dihalau. Tiba tiba  secepat kilat Kalingga menarik saputangan di saku baju pengantin pria di sampingnya itu  lalu menulis di atas saputangan dengan tinta paes yang melukis keningnya kemudian dilemparnya saputangan tersebut tepat ke wajah Bernad. Bernadpun langsung menangkapnya dan tertulis di atas saputangan kata “Tolong”. Seketika Bernad terkejut lalu saputangan itu di rebut Tedi.

     “Tolong?”

      Kata tolong di atas saputangan, membuat para sahabatnya berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang tak beres atas pernikahan Kalingga yang terkesan mendadak itu.  Merekapun berembuk untuk menolong Kalingga. Secara kebetulan mereka bertemu dengan adik Kalingga dan sang adik menceritakan  alasan terjadinya  pernikahan Kalingga dengan pria yang mempunyai keterbelakangan motoric itu.             Pernikahan tersebut ternyata untuk sebuah pembebasan! Membebaskan kedua orang tuanya yang terbelit hutang rintenir dan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Jeratan rentenir bukan hanya meruntuhkan perekonomian keluarga Kalingga secara sistematis melainkan juga menyandera cinta. Wajah Tedi  merah padam menahan amarah atas cerita adiknya Kalingga. Begitupun dengan teman temannya yang lain. Maka secepat kilat Tedi berbisik ke Bernad lalu bernad ke Pupung menyambung ke Fifie dan Beb serta adiknya Kalingga.

    Sementara itu, pesta pernikahan itu digelar penuh kemeriahan. Tamu yang datang membanjiri ruang diantara alunan suara merdu mendayu dari wedding entertaint yang mengusung tema romantisme. Penggelar hajat yang sebelumnya terkenal pelit, malam ini terlihat bermurah hati ,  memanjakan lidah para undangan dengan masakan yang melimpah ruah dan menghibur dengan grup  musik entertaint termahal di Malang. Perias pengantinnyapun di pilih yang terbagus diantara yang ada di kampung dan Kalingga di dudukan ba’ seorang putri di singgasana penuh hias bunga warna warni.  Namun di balik kecantikan dimalam resepsi,  resah gelisah mengisi ruang wajahnya. Atas gelisah yang ada orang orang yang menyalaminya memberi asumsi tak sabar dengan malam pertamanya. Hingga berkali kali Kalingga mendengar kata “..sudah tak sabar ya..” yang membuat mules perut. Di lubuk hati Kalingga yang terdalam, beribu doa terpanjat “kata tolong” yang ia tulis di atas saputangan dapat dipahami para sahabatnya. Ia tak sabar untuk  cepat keluar  dari situasi itu sebelum malam pengantin.  Kalingga tak dapat membayangkan neraka di malam pengantin.                                                 

Sebaliknya dengan pengantin pria, ia memang sungguh gelisah dan tak sabar untuk usainya acara resepsi. Maka ketika para tamu mulai pulang satu persatu dan tak ada lagi yang datang, serta merta tangan Kalingga langsung ditariknya untuk meninggalkan bangku pelaminan dan menuju kamar pengantin. Ketakutan mencekam diri Kalingga. Keringat dingin bercucuran. Hatinya terus menjerit memohon pertolongan para sahabat. Air mata mulai jatuh satu persatu. Pengantin pria begitu kencang memegang tangannya dan matanya sudah merah pula bagai macan siap menerkam. Pengantin pria langsung meminta Kalingga berganti pakaian setibanya di kamar pengantin. Nafsu yang membara atas  kencantikan Kalingga dan ingin segera melumatnya di malam pengantin itu, membuat pengantin pria lupa mengunci  pintu kamar. Kalingga tak berdaya ketika tubuhnya diraba nakal sang pengantin pria dari atas sampai bawah.

      “Cepatlah buka kancing bajunya..”  

       Kalingga masih terdiam. Namun tiba tiba logika mengampiri otaknya.

      “Baik aku ke kamar mandi dulu.” Akhirnya jawab Kalingga. Pengantin pria itu tersenyum.  Di liriknya  segelas susu di meja.

       “Susu? Bagus!”  Pengantin pria itupun meneguknya.

       “Aku perlu stamina di malam pertama!” Lanjutnya setelah menghabiskan segelas susu itu. Lalu iapun membuka baju. Namun kala Kalingga keluar dari kamar mandi dengan baju piyama, pria pengantin sudah terkapar di atas ranjang pengantin berhias bunga warna warni serbak mewangi.. Kalingga terkejut namun keterkejutannya hanya beberapa detik. Seseorang secepat kilat membekap mulutnya dengan saputangan hingga  Kalingga pingsan.  Lalu kedua mempelai itupun dibawanya ke sebuah tempat, ruang penyimpan padi dengan tangan dan mulut terikat. Kalingga yang sadar terlebih dulu mencoba meronta, namun salah satu penculik berbisik agar diam sambil mengerlingkan matanya. Kerling mata yang tak asing dan suara yang sangat ia hafal dalam keseharian. 

      “Kau???” Kalingga tercenga.  

     “Hssttt” mulut Kalingga dibekapnya.

     “Kau diam saja dan patuhi tim penyelamat!”

    Kalingga sangat paham dengan kata yang didengarnya. Ia pun berpura tak berkutik walau rasanya nafas tercekik. Dilihatnya pengantin laki laki terkulai tak berdaya dalam keadaan kaki dan tangan terikat. Sejak tadi tak juga siuman. Membuat tak sabar salah satu penculik. Serta merta dia mengambil air se-ember dan diguyurkan pada pengantin pria tersebut. Seketika  pengantin pria itupun terjaga dari mimpi di malam pengantin.  Ia langsung terkejut dengan keadaan dirinya yang sudah dalam ruang padi dengan cahaya remang remang, tangan dan kaki terikat. Seingatnya dia sebelumnya berada di kamar pengantin dengan harum semerbak dengan cahaya yang cukup. Dilihatnya orang orang di sekitar lumbung padi itu, mereka diantaranya mengayuh ngayuhkan parang pemotong padi. Keringat dingin mulai mengucur, sekujur badan bergetar. Mulut ingin berteriak  meminta pertolongan, namun lakban merekatnya. Ia mencoba mengumpulkan tenaga lalu meronta.  

      “Sudah sadar rupannya.” Salah satu dari penculik membuka lakban tersebut. Serta merta pengantin pria itupun mengambil nafas panjang dan dengan tergagap bertanya,

      “Siapa kalian?”

      “Jangan banyak tanya, tulis yang ku katakana di atas kertas ini!” bentak salah satu dari mereka sambil menyodorkan kertas dan pulpen.

     “Bagaimana bisa nulis? Tanganku kau ikat!”

     “Ups, pinter juga! “ salah satu dari merekapun membuka ikatan tangan pria pengantin. Sang pengantin pria mencoba melirik pengantin wanitanya. Keremangan lampu templok membuatnya tak jelas apakah dia sudah siuman atau belum.

     “Cepat!”

    “Oh, ng.. aku , aku.. ada permintaan.” Dengan tergagap pengantin pria itu mengajukan permohonan.

    “Apa?”

   “Biarkan aku mencium pengantin wanitaku.. “

   “Plak! Plok!” permohonan di jawab dengan tamparan keras.

   “Cepat tulis!”

   Tak ada pilihan bagi pengantin pria di malam pengantinnya kecuali menulis apa yang di minta para penculik. Tamparan yang keras membuatnya pucat pasi melayang dibenaknya bayang parang menebas lehernya.  Pengantin pria itu pun melupakan hasrat malam pengantin yang  membakar jiwa dan telah dinantinya sekian tahun itu.

    Usai pengantin pria menanda tangani apa yang di tulisnya, salah satu dari penculik membiusnya kembali. Para penculik yang ternyata adalah sahabat sahabat Kalingga, pun berebut memeluk Kalingga. Kemudian merekapun segera membawa Kalingga  keluar.  Pengantin pria itu bermalam pengantin sendiri  di atas tumpukan jerami.

Bersambung........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...