Gadis Gowes (20)

Gadis Gowes (20)
Gadis Gowes

Tedi langsung gembira lalu mempersilahkan Rani bersama temannya untuk masuk ke Mall. Dia sendiri langsung menelpon satu persatu sahabatnya untuk mengabarkan apa yang telah ia dapat dari Rani lalu meminta para sahabatnya untuk  bersiap siap menuju kampung dimana Kalingga berada.

     “Apa?”

     “Ke Malang?”

     “ Malam ini?””

     “Ok!”

       Atas nama solidaritas sebuah persahabatan, Beb, Fifie, Bernad dan Pupung langsung sibuk bersiap. Tedi pun dengan gowesan yang dasyat, super cepat , bagai angin, ia telah sampai di rumahnya dan langsung bersiap. Kesibukan bukan hanya pada Tedi, juga pada ke 4 temannya, terutama Fifie dan Beb,  keduanya sibuk memasukan barang barang bawaan. Dari kebutuhan mandi sampai make up. Bahkan Fifie membuka menjarah kulkas, mengambil minuman, coklat, buah, sampai telur rebus ia sikat dan masukan dalam ransel. Tepat lonceng berbunyi 9 kali, Fifie melajukan mobilnya yang mempunyai body lebar panjang dengan julukan si kulkas oleh sebab barang apa saja bisa ia masukan. Dan bagai supir angkot, Fifie menjemput teman temannya yang sudah siap menunggu di jalan. Dengan semangat persahabatan, merekapun melaju di jalan raya, mendekap malam diiringi cahaya rembulan.  Perjalanan yang akan mereka tempuh kurang lebihnya 16 jam itu, tanpa henti kecuali waktunya ganti kemudi, isi bensin dan kebelet ke toilet. Selanjutnya gas pol.  Isi perut cukup dengan apa yang telah dibawa mereka dengan memamah biak dalam mobil.  Namun sesampai di kota  Solo yang terkenal dengan julukan Spirit of Java dan Bengawan Solo itu, mata  Tedi tiba tiba terpincut oleh  sebuah bangunan yang bernuansa warna biru, beratap tumpeng tiga dengan berpundak mahkota di jalan  Kauman. Ia pun segera minta  Bernad yang sedang kendalikan mobil untuk menepi. Bernad  langsung menepikan mobilnya  tepat depan gerbang. Lalu Tedi  meminta kesepakatan teman temannya untuk rehat sejenak guna melenturkan tubuh yang sekian jam menempuh perjalanan tanpa henti. Mereka pun sepakat untuk berhenti sejenak melepas lelah. Akhirnya mobilpun masuk parkiran Masjid Agung yang dibangun tahun 1763 oleh Pakubuwo III dan menjadi salah satu icon Kota Solo.

Masjid dalam balut atas sentuhan tangan yang sangat kuat berkiblat pada kultur Jawa, di bangun di atas tanah 1 hektare  memberi menghembuskan angin sejuk penuh pesona. Gerbang tampak berdiri gagah dengan 3 pintu, bergaya arsitektur Pintu Gerbang Utama Persia. Pengapit pintu utama di sisi utara dan selatan berhias relief Arab pada sebuah panel kayu. Sementara relief kayu yang terdapat di pintu tengahnya tertuang symbol bumi, bulan, matahari, dan bintang dengan mahkota raja di atasnya. Masjid  Agung memberi nafas keagungan Tuhan tidak hanya dari segi spritualitas keislaman melainkan  juga budaya Jawa untuk tetap lestari di Kota Bengawan Solo ini. Hingga masyarakat berlalu lalang disana tidak sebatas  melakukan ibadah namun juga berkebudayaan. Bahkan pada waktu waktu tertentu ada kegiatan yang namanya Tinggalan Dalem Jumenengan disetiap tanggal 2 Ruwah Tahun Jawa  dan  Kirab Pusaka pada setiap tanggal 1 Suro tahun Jawa. Masjid Agung pun berperan sebagai pusat pelaksana panatagama atau pengatur  para Raja Surakarta. Hingga masyarakat tidak asing lagi dengan kegiatan keagamaan yang dikemas dalam acara Garebeg, sebuah upacara tradisional pada hari raya Idul Adha yang puncaknya ditandai dengan Hajad Dalem Gunungan dibawa dalam prosesi dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung. Dan jangan heran jika di Masjid Agung tersebut terdapat dua bangsal yang keperuntukannya menyimpan gamelan dan akan dimainkan untuk umum pada acara perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang di sebut Sekaten. Dan masyarakat akan berbondong bondong mendengarkan alunan musik gamelan yang dimainkan oleh para abdi dalem. Tradisi yang mengingatkan pada penyebaran Islam di pulau Jawa oleh para Wali Songo yang banyak dilakukan melalui budaya kearifan lokal. 

       Setelah parkir merekapun turun dari mobil kemudian masing masing melenturkan tubuh dengan gerakan-gerakan olah raga ringan. Perjalanan sekian jam nyaris tiada henti membuat urat mereka sedikit kaku dan tegang.  Setelah badan mereka terasa lentur, mereka pun langsung mencari letak dimana toilet serta  tempat wudhu dengan bertanya pada penjaga yang ada lalu atas petunjuk itu mereka pun pergi ke tempat wudhu yang mencerminkan budaya lawas dan setelah mereka membersihkan muka, kesegaran laksana berdiri di bukit. Energi timbul bersamaan semangat yang ada.                                                                

Ketika mereka berdiri di depan bangunan Masjid Agung decak kagum akan pelestarian yang ada. Pada ruang utama, menjulang pilar pilar terbuat dari kayu jati lawas, arsitektur kental dengan budaya Jawa bernafas Islam dan sedikit sentuhan gaya arsitek Belanda.  Sejenak , wajah mereka  terlihat bingung dengan bangunan masjid  utama bersayap kembar itu. Namun kebingungan itu tak lama. Salah satu pengurus masjid segera menghampiri.  Kemudian  setelah Tedi memberitahukan maksud dan tujuan singgah di Masjid Agung,  Tedi dan Pupung dipersilahkan memasuki ruang utama yang menghembuskan kesejukan hingga beberapa jamaah ada ketiduran walau sudah ditulis larangan untuk tidur. Sementara Beb di persilahkan ke salah satu sayap di bagian selatan  bernama pawestren. Sebentar mereka terlibat percakapan sebelum petugas Masjid berlalu ke bagian sayap utara, yang disebutnya sebagai balai yogaswara, pusat pengurus masjid beraktifitas.

Sementara Tedi , Pupung dan Beb melakukan sholat, Bernad yang beragama Katholik dan Fifie beragama Budha  terlihat larut dalam kekhusuan doa sambil duduk dengan melipatkan kaki. Mereka cukup lama di Masjid Agung yang sekelilingnya terdapat selokan itu. Sebuah selokan yang dulu para Wali Songo mefungsikannya sebagai tempat bersuci bagi mereka yang akan masuk masjid.     Hal mana mengingat masyarakat Solo yang pada saat itu belum dapat di paksa untuk melakukan wudhu sebelum sholat maka mereka mengawalinya dengan mengajarkan harus bersuci, minimal membersihkan kaki  jika hendak masuk masjid dan sholat. Bangunan yang berdekatan dengan keraton dan alun alun ini, merupakan inspirasi para raja atas  Masjid Agung Demak yang dibangun lebih dulu di dekat keraton dan alun alun.

Kota Solo merupakan wilayah otonom dengan status kota yang berada dibawah Provinsi Jawa Tengah itupun  ditinggalkannya dengan penuh kesejukan diri untuk kembali melanjutkan perjalanan  menuju Malang melalui Tawang Mangu, sebuah perjalanan yang menjanjikan pemandangan indah tiada henti. Namun kantuk yang terus bergelayut, meninabobokan mereka kecuali Tedi yang kini menyetir itu.    

       “Malang..” teriak Tedi membangunkan seisi mobil yang tertidur pulas. Perjalanan dengan jarak tempuh 254 km sungguh tak terasa. Dera letih lenyap seketika begitu membuka mata dan menembus pandang kaca. Hamparan pemandangan menyegarkan dengan keindahan alam nan luar biasa. Malang dengan dataran tingginya itu menyambutnya dengan full oxygen.  Mata mereka pun bersinar dan dapat puas  melihat pemandangan alam  tanpa batas. Bangunan yang ada , dari rumah penduduk sampai hotel banyak bergaya tradisional dengan sentuhan arsitek yang penuh seni. Kota Malang yang terkenal dengan Kota Apel, sesungguhnya harus berterima kasih dengan wilayah Batu. Karena  Apel itu melimpah ruah di daerah Batu yang letaknya 15 Km dari kota Malang. Namun, justru Kota Malang identik dengan Kota Apel. Dan masalah Kota Malang, ada beberapa teori yang mendiskripsikan asal, makna dan kata dari kota   Malang. Diantaranya menyebutkan bahwa kota Malang  berasal dari nama sebuah daerah di wilayah kota Malang, yakni berasal dari nama salah satu puncak di gunung Buring yang terletak di sebelah timur kota Malang saat ini.

Namun, ada juga ahli yang mengatakan bahwa nama ini berasal dari desa Malangsuko yang saat ini terdapat di Tumpang. Dan dalam sejarah, Kota Malang yang memiliki nama lengkap Malang Kucewara, berarti Tuhan akan membantu kita menaklukan yang bathil (jahat) berawal dari ketika terjadi invasi Sunan Mataram dalam memperluas pengaruhnya dan menguasai wilayah Jawa Timur, Sulthan Agung yang hebat dan  hidup 1600 tahun yang lalu, menginginkan seluruh pulau Jawa takluk dalam satu kekuasaan Kerajaan Mataram.  Namun, ketika salah satu regu diantara 8000 pasukan yang disebar,  kelompok jalur tengah yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-alap tengah melewati daerah Ngantang, merasa kesulitan dalam menempuh jalur tersebut. Ia harus menempuh pegunungan yang terbentang dari Utara ke Selatan, menghadapi 5 gunung (Gunung Penangguhan, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, Gunung Kawi, dan Gunung Kelud), serta melewati 2 sungai besar, yaitu Sungai Metro dan Sungai Brantas.

Kesulitan tidak sebatas itu. Kala memasuki daerah Malang, terdapat perlawanan rakyat Malang dengan menutup jalur masuk oleh ribuan pohon yang mereka tebang dan tumbangkan di jalan-jalan. Akhirnya sebelum melanjutkan perjalanan pasukan Tumenggung Alap-alap kerja keras membersihkan pohon pohon tumbang tersebut. Namun sifat keras masyarakat Malang ini , perlawanan datang dari pasukan daerah Malang yang dipimpin oleh Bupati Malang saat itu, Ronggosukmo dengan menghadang mereka untuk tidak masuk kota Malang. Pasukan Bupati Ronggosukmo jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Tumenggung Alap-alap, pasukan Bupati Ronggosukmo ini mampu menumpas dengan mudah pasukan kerajaan Mataram. Daerah Malang pun berhasil dipertahankan dari serangan pasukan Mataram.

Kekerasan jiwa Kalingga yang di warisi nenek moyangnya itu untuk menjadi Gadis Gowes , mengikuti jejak Ratu BMX ASEAN, Elga Kharisma Novanda yang menjadi idolanya itu pupus sudah dalam angannya. Kini Kalingga hanya dapat berkubang dalam air mata atas kebanggaan yang pernah ada sebagai atlit balap sepeda. Dulu banyak orang terbelalak atas gebrakan  prestasinya di usia muda dimana dapat kesempatan memperkuat tim Jawa Timur untuk perhelatan tingkat Nasional.  Bahkan beberapa kali menjadi bintang pada BMX lokal. Bintang itu masih bersahabat ketika duduk di bangku es em a yang harus pindah dua kali oleh karena jadwal latihan menyita waktu belajar.  Namun sang bintang mulai redup  kala harus masuk universitas yang tak mungkin selalu bolos. Apalagi bapaknya sudah mentargetkan Kalingga harus lulus tepat waktu menjadi beban  di pundak amat berat. Hingga ia harus memilih meninggalkan bintang ketimbang ilmu. Untuk sebuah kebanggaan bagi kedua orang tua dan sebagai panutan bagi ketiga adiknya. Namun demikian Kalingga masih menyimpan harapan usai selesai kuliah dia akan melanjutkan angannya sebagai Gadis Gowes dengan sebuah bintang.Tapi apa lacur, kini angan itu harus dibuang jauh. Kalingga tersandera oleh kewajiban menyelamatkan orang tua dan ketiga adiknya dari ancaman seorang rentenir.

      Adalah berawal dari musim kemarau  dengan kriteria panjang hingga ekstrem, drop air dari pemda maupun hujan tadah tidaklah mencukupi, orang tua Kalingga  mengalami  gagal panen hingga menjadikan  kedua orang tua Kalingga yang sedang menyekolahkan empat orang anak, sangat kesulitan keuangan. Walaupun orang tua Kalingga sudah mengantisipasi ‘pendaringan’ atas himbauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa akan terjadinya kekeringan meteorologis (iklim) namun kebutuhan tidak hanya cukup makan saja, melainkan masih banyak kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Pendidikan ke 4 anaknya. Terutama Kalingga yang setiap bulan harus dikirim untuk bayar kos dan kebutuhan makan. Dalam musim paceklik itulah pak Suko datang menolong ba’ seorang dewa. Meminjamkan kebutuhan sekolah ke empat anak anak orang tua Kalingga. Atas mulut manis dan kebaikan kebaikan yang ditunjukan oleh pak Suko, membuai orang tua Kalingga hingga mengalami ketergantungan meminjam untuk memenuhi bukan saja kebutuhan bagi pendidikan ke empat anaknya melainkan juga untuk sandang dan pangan.

Orang tua Kalingga tidak memahami jika sifat dan prilaku pak Suko dilakukan karena ada udang di balik batu. Sesuai dengan namanya , Suko, dia sangat suka menumpuk kekayaan dengan tipu daya. Dan uang yang dipinjamkan itu dengan sesuka hati akan menjerat orang yang meminjam dengan bunga yang cukup tinggi. Hal itu baru orang tua Kalingga sadari ketika tiba tiba pak Suko menjadi garang dan datang menagih hutang dengan  sejumlah bodyguard, kemudian secara paksa serta ancaman  meminta surat surat tanah dan sawah. Sebagai petani kampung dengan sawah atas warisan turun temurun yang buta hukum, dengan ketakutan yang teramat, akhirnya melepaskan apa yang diminta pak Suko yang selama ini dianggapnya sebagai dewa penolong itu.

Bersambung..........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta
 

Komentar

Loading...