Gadis Gowes (3)

Gadis Gowes (3)
Gadis Gowes

    “Terima kasih atas penilaian loe. Gue harap loe bisa memaafkan mereka. Karena gue yakin mereka panggil loe cupu tak ada maksud apa apa. Loe terlalu sensitif”

     “Mungkin benar kata loe, waktu itu  gue sensitif karena keadaan. Tapi sekarang kepompong telah memberi inspirasi dan  merubah gue jadi seperti sekarang ini!.“ jawab Rani.

         “Sekali lagi atas nama temen temen kita, aku minta maaf ya!”

         “hahahaha.. don’t worry be happy.!”  

         “Lingga…Lingga…” Tiba-tiba suara Beb memutus percakapan Kalingga dan Rani.

          “It’s ok.  Kapan pun, loe perlu bantuan buat Balap Sepeda, gue siap! Gue pamit. Ada temen loe tuh!” Dah..” Kaki mulus Rani pun melenggak lenggok meninggalkan Kalingga begitu Beb mendekat.

    “Ngapain tuh ayam kampus deketin lo?”  Kata Beb setelah berjarak semeter dengan kalingga dan Rani telah hilang dalam pandang.

     “Ayam kampus?” Kalingga mengernyitkan kening dan Beb manggut dua kali. Sejenak Kalingga terlihat berfikir. Bagai hembusan angin yang tak akan memberi hembusan pada jalan yang sama , Kalingga membiarkan angin itu berlalu dan kembali fokus pada rencana yang ada, balap sepeda.melangkahkan kaki menuju ruang rektor.

    “Bagaimana soal pendaftaran, Beb?” Akhirnya kata Kalingga sambil kaki terus melangkah.

    “Wah...sudah membludak! Siapa dulu dong seksinya? Hahaha” jawab Beb sebagai seksi pendaftaran dengan rasa bangga. Kalingga berhenti melangkah. Di tatapnya Beb dengan seksama.

    “Serius?”

    “Seratus rius!”

    “Yes! loe memang sahabat gue yang hebat!” Kalingga meluapkan kegembiraannya dengan memegang kedua pipi Beb yang cubi. Lalu dengan riang gembira kembali meneruskan langkahnya dan Beb mengekor. Langkah Kalingga super cepat membuat Beb terseok seok dan ngos ngosan. Kalingga tersenyum lalu  mengerem gas langkahnya.  

     “Dari tadi kek loe jalannya santai. Gue kan nggak ngos ngosan kayak gini.” Gerutu beb.

    “Gue nggak mau rektor menunggu kita!” Pungkas Kalingga.

    “Oh.. gue kira loe kebelet!”

    “Ups, jangan canda kita sudah sampai!” Kalingga memperingati Beb untuk tidak canda. Mereka sudah sampai depan ruang rektor. Keduanyapun menarik nafas lalu mengaturnya agar kembali normal.

Langit begitu cerah awan berarak tanpa kelabu. Bintang keberuntungan datang. Hanya butuh 5 menit menunggu. Nafas pun terasa lega, mereka langsung di persilahkan masuk dan tanpa basa basi, begitu masing masing pantat di atas kursi tamu,  bagai air mengalir sang rektor memberi pengarahan tanpa jeda waktu untuk bertanya. Arahan tanpa titik koma, berinti lomba balap sepeda harus menjaga marwah kampus. Usai bermuara kata,  Kalingga di persilahkan paparkan acara tak lebih dari  5 menit. Rektor manggut manggut mendengar apa yang di paparkan Kalingga. Gamblang dan cerdas. Dalam pemaparan, Kalingga menunjukan  semangat juang 45. Rektor puas.

     “Bagus! Bagus!” puji rektor. Sumringah menghias wajah Kalingga. Sementara Beb hanya terbengong bengong sejak tadi.

      Kalingga bersiul selepas keluar dari ruang rektor. Lalu langsung  mengajak Beb ke ruang himpunan untuk mengabarkan kabar baik kepada teman temannya atas dukungan pak rektor. Merekapun bergegas dengan mengambil langkah super cepat menuju ruang himpunan. Namun, begitu membuka pintu ruangan himpunan, hanya ada bangku bangku kosong. Mata Kalinggapun menyapu seisi ruangan, bangku terlihat berantakan dan ups, Kalingga terkejut begitu kedua pasang bola matanya menatap papan tulis. Seketika tangan Kalingga mengepal! Rasanya ingin meninju teman temannya.   

    “Kemana kira-kira mereka?” Akhirnya kata Kalingga pada Beb.

    “Di lihat coretan soal ari ari di papan tulis, apa mungkin mereka  pergi ke Ki Lido? Kemarin mereka penasaran soal ari ari dan menyebut nama Ki Lido” Jawab Beb.

   “Ya Tuhan…” Kalingga geram menahan amarah. Rasanya ia ingin muntah dengan situasi seperti ini. Dana belum ada, lomba balap sepeda antar kampus di depan mata, mereka penasaran soal ari ari bukan berfikir bagaimana segera dapat sponsor.

   “Kita samperin mereka saja, Ling.” Usul Beb.

   “Anjrit!” Kalingga teriak kesal.

     “Sabar Ling...”

   “Bagaimana gue harus sabar Beb? Ibarat mau perang, musuh kita sudah depan mata!”

   “Ya..ini kan kerjaan sosial..nggak bisa juga loe salahin mereka!”

   “Apa kata loe? Kerjaan sosial? “ mata Kalingga melotot.

  “Ini organisasi kampus. Harus punya komitmen dan integritas kalau sudah putuskan untuk terjun. “ Lanjut Kalingga.

   Beb terdiam.

   Kalingga tampak berpikir keras.

   “Ayo kita samperin mereka!” akhirnya kata  Kalingga pada Beb.

     Mereka pun mengayuh sepeda menuju padepokan Ki Lido yang ada di ujung kali. Tak jauh dari kampus. Ki Lido adalah guru silat Tedi yang mempunyai talenta indra ke 6 dan mempunyai ilmu spiritual. Berkat kedekatannya dengan Ki Lido, Tedi pun menjadi sangat menyukai konsep spiritual yang mengenal tentang kekuatan kekuatan gaib dan  kekuatan tak kesat mata itu. Maklum, Tedi sejak dulu sangat menyukai bacaan buku buku yang mengupas tentang spiritual dan primbon. Hingga ia di juluki teman temannya sebagai mas primbon.

     Tebakan Beb nyata. Di halaman padepokan Ki Lido berjejer sepeda teman temannya. Kalingga dan Beb pun mejejerkan sepedanya diantara sepeda sepeda teman temannya.

     “Ya ampun.. “ Kalingga tepuk jidat melihat mereka begitu kusyu mendengarkan  mendengar kuliah Ki Lido sambil duduk bersila. Termasuk  Fifi, seksi sponsor yang harusnya sekarang bersibaku mencari sponsor. Tapi malah terlihat begitu asyik dan menikmati sekali dengan apa yang dikatakan  Ki Lido.  Kalingga mengernyitkan jidat hingga kerutan panjang muncul berbaris. Keinginan  semprot mereka dengan kata kata yang telah di untai sepanjang jalan tadi, lenyap sebatas mata memandang mereka semua begitu serius. Akhirnya mau tak mau Kalingga pun duduk di belakang teman temannya. Beb mengekor.  Mereka turut duduk dan mendengarkan  apa yang utarakan Ki Lido.

    “Siapa saja saudara halus itu?” Terdengar Tedi bertanya pada Ki Lido
   “Saudara halus – sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa  selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan paugeran – ketentuan dari Gusti. Dan jumlahnya banyak.” Jawab Ki Lido.

   “Banyak?” Serempak para mahasiswa yang ada disitu bertanya dengan rasa heran. Tidak dengan Kalingga. Sementara Beb yang ingin bersuara, mulutnya langsung di tutup oleh tangan Kalingga. Berharap keberadaannya yang secara diam-diam tidak diketahui teman-temannya. Namun tiba-tiba Ki Lido berujar:

    “Dua gadis cantik di belakang, tak perlu sembunyi, duduklah di depan.”

Mendengar apa yang dikatakan Ki Lido membuat teman-teman Kalingga serentak menoleh ke belakang dan kaget. Kalingga dan Beb ada di belakang mereka.

      “Kalingga? Beb?” Kata Tedi, Pupung, Bernard dan Fifi.

      Beb terlihat  gugup, namun tidak dengan Kalingga. Dengan kecerdasannya Kalingga berkata:

     “Terima kasih Ki Lido, biar kami tetap disini disini saja.” Tegas Kalingga.
      “Baiklah, kita lanjut. Saudara halus itu jumlahnya banyak,
Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti. Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua. Mereka tidak ikut dilahirkan melalui gua garba ibu. Mar yang paling tua merefleksikan perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi. Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup. Dan Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu. Secara mistis warnanya berupa cahaya putih bersih dan kuning muda jernih.
Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya ,hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih.  Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.” Ki Lido menceritakan sejarah saudara ari ari menurut ilmu kejawen.

     “Maaf ki, gua garba itu apa ya?” Bernad bertanya sambil tersenyum senyum.

     “Kantong peranakan atau rahim” Jawab  Ki Lido singkat.

     “Oh…” Bernad manggut-manggut.

     “Di lanjut?” Tanya Ki Lido.

     “Lanjut ki, lanjut!” seru para mahasiswa.
     “Saudara empat yang kelima pancer, yaitu Kakang Kawah.  Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum sibayi. Warnanya putih, tempatnya di Timur.
Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya kuning, tempatnya di Barat.
Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah,

tempatnya di Selatan.Puser atau Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam, tempatnya di Utara. Pancer, yakni  bleger , merupakan wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik. Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah ,artinya : Kiblat empat, yang kelima ditengah.” Papar Ki Lido.

Bersambung........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta.

Komentar

Loading...