Breaking News

Gadis Gowes (19)

Gadis Gowes (19)
Gadis Gowes

       “Yeahhhhhh” Beb teriak kegirangan diantara mereka yang takjub melihat Golden Sunset.

       “Jangan kayak orang udik deh!” Pupung nyenggol sambil beri isyarat turis turis pada nengok ke arah Beb.

       “Hehehehe... sorry.. “ Beb tersenyum malu lalu pergi mencari posisi cantik untuk selfi begitu juga dengan yang lain masing masing sibuk dengan kameranya. Tedi yang asyik sedang berselfi ria dengan Kalingga tiba tiba tangannya ditarik  Fifie lalu meminta Kalingga untuk memotret dirinya dan Tedi. Benak Kalingga sedikit merasa aneh. Fifi memeluk mesra Tedi. Yang di peluk nyengir aja. Namun moment indah untuk Fifie hanya berlalu beberapa detik karena tak lama kemudian Beb menyeruduk ikut foto dengan posisi diantara Tedi dan Fifi. Untung Beb ambil pose jongkok hingga Fifi masih bisa tersenyum karena foto Beb bisa dicropping. Namun baru beberapa jepretan, datang Pupung nimbrung, tak lama bernad datang juga untuk ikut foto akhirnya Kalinggapun menyerahkan kamera ke Roman sang guide agar mereka difoto bersama.

      Bukit Sylvia, begitu masyarakat flores menyebut bukit cinta. Konon kala itu dimana belum ada turis datang, merupakan sebuah bukit yang menjadi tempat memadu kasih kalangan muda mudi sana kala senja hari dimana dari ufuk barat langit akan melukis indah dengan warna orange keemasan.  Akhirnya tempat tersebut pun  terkenal dengan nama Bukit Cinta.  Sebuah bukit nan indah dengan penuh cinta hingga kadang sampai malampun mereka tetap memadu kasih disana diantara semilir angin dan pemandangan kota Labuan Bajo.

     Untuk memandang  golden Sunset di Bukit Cinta sesungguhnya tidaklah  harus sampai ke ujung bukit yang akan memakan waktu untuk mendaki sekitar 30 menit. Oleh sebab kaki bukit maupun di tengah bukit moment Golden Sunset juga dapat di abadikan. Hal itu menjadikan turis turis yang ada disana tampak menyebar di setiap titik yang tepat untuk memandang golden sunset. Perlu tahu adanya,  senyum  mentari di Nusa Tenggara Timur ini masih tetap ramah dengan wajah bias menderang walau waktu telah menunjukan pukul 17.00 WITA. Dan memang untuk melihat Golden Sunset di Bukit Cinta sangat tepat di sore hari dimana mentari sangat bersahabat walau berdiri di ujung hamparan bukit cinta. Jika datang di siang hari, terik mentari akan menyengat. Tentu sangat tidak nyaman bukan ? Selain peluh akan membasahi diri, kulit kita gosong adanya.

     “Nah, benar kan sayang jika kesini sore hari mentari bersahabat, udara semilir sejuk dan langit indah seindah wajahmu.”  Kata Pupung yang mengambil posisi duduk di samping Fifie disenja pada Bukit Cinta itu. Mendengar apa yang dikatakan Pupung membuat Fifie tampak jengkel. Pupung sangat tidak paham mengapa Fifie begitu ngebet ingin cepat di Bukit Cinta.

      “Ih... nggak usah duduk mepet gue kenapa sih.” Fifie mendorong tubuh Pupung yang  tambun itu.

      “Ups, di bukit cinta ini, memang harus romantis. Jangan galak gitu ah!” Pupung tetap menggoda Fifie. Lalu ia berdiri dan menghadap teman teman temannya yang duduk berjajar itu.

     “Ok, teman teman, sekarang aku akan menghibur kalian dengan sebuah puisi indah.” Ujar Pupung.

          “hahahaha... kenapa loe tiba tiba jadi seorang penyair? Mau nyaingin gue” Tedi buka suara.

         “Hati yang berbunga di bukit cinta menjadikan gue sebagai penyair. Hahaha” Balas Pupung.

         “Lanjutttt....” Bernad.

        “Tepuk tangan dong..”

Para sahabatpun bertepuk tangan riuh namun tidak dengan Fifie, wajah dengan dagu tirusnya membuang muka. Dan walau puisi itu belum dibacakan, rasanya perut mules. Melihat gelagatnya sejak di pulau Bajo, Fifie  menebak puisi itu puisi cinta untuknya sementara ia berharap cinta bukan darinya. Namun ternyata apa yang ada dalam pikiran Fifi meleset. Puisi yang dibuat dan dibacakan Pupung adalah sebuah puisi tentang Labuan Bajo..

“Engkau yang seksi,
Bagai gadis belia tak bersolek
Kusam dan tak menarik
Hanya tempat pemasok ikan kering untuk Ruteng.
Jika memakai transportasi kaki, empat hari dengan medan yang terjal,
melewati hutan belantara,
menyeberangi sungai dengan aliran air yang sangat deras.
Jika dengan perahu nelayan,
bersiap nyawa menjadi taruhannya kala angin musim barat.

Kini engkau menjadi gadis pesolek
Paras mu cantik.
Exotic,
Sexy,
Menghipnotis dunia
Rasa Lapar mata memandang
Pada setiap insan
Rindu menderu bercekerama
Pada alammu Labuan Bajo.

Pink Beach,
Terhampar bagai perona pipi peragawati
Manta ray, spot, point fantastik!
Water sport, ajib!
Bermacam terumbu karang, melanbai-lambai bak padi di sawah.

Ikan ikan pari manta no sting.
Bergerak seperti burung nan anggun,
Bagai penari gamyong yang gemulai.
Manja manja manis membelai
Mengajak adrenalin berenang bersama
Dengan kita dapat memandang mereka menyantap sang koloni ubur ubur.

Labuan Bajo,
Air mu sebening kristal
Bukit mu ba’ perahu di tengah laut,
Hijau terhampar.
Pantul cahaya merefleksikan bayangan air, bagai cermin pada Goa Batu Cermin..
Ribuan kadal raksasa, kura kura laut dan kalilawar berseliweran dengan damai.
Senjamu di bukit cinta Mendatangkan sensasi sunrise Golden sunset.
Angel Island nan menawan,
Membuat dahaga mata memandang.
Rindu menderu setiap kalbu. “

    “Hi Tedi, sedang apa kau golekan di situ?” tiba tiba sebuah suara membangunkan lamunan Tedi tentang keseruan di Labuan Bajo itu. Ia yang terperajat, dan melihat siapa yang menyapa langsung bangkit dari duduk.

     “Ya ampun Ren, berapa jam gue sudah menunggu loe disini.” Kata Tedi.

     “Apa? Menunggu gue? Kok tumben? Di Mall lagi!”

     “Ya .. loe susah di temui di kampus. Hp off terus.”

     “Ya ampun..gue memang baru pulang kampung. Hp sengaja gue matiin.”

     “Pulang kampung? Mengantar Kalingga?”

     “Mengantar Kalingga? Maksud loe? Gue pulang sendiri. Memang kenapa Kalingga?”

     “Dia pulang kampung.”

     “Hah? Ada apa gerangan dia pulang kampung?”

        “Nah itu yang kita kita nggak tahu.”

Lalu Tedi pun mengatakan maksud dan tujuan ketemu Rani. Rani pun segera memberi alamat rumah Kalingga di kampung.

Bersambung......

Halimah Munawir,novelis dan pengurus harian IWAPI Pusat

    

   

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...