Gadis Gowes (16)

Gadis Gowes (16)
Gadis Gowes

Bab. V

LABUAN BAJO


       Menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Keringat yang mengucur atas gowesan yang ada sampai kering di badan. Terbalut rasa resah gelisah, Tedi duduk termenung di antara lalu lalang kaki yang keluar masuk mall setalah beberapa kali menengok ke restoran Jepang yang dimaksud, namun sosok yang dicari tak ada. Diripun mengupas lembaran kenangan indah kala di Labuan Bajo bersama Kalingga dan teman temannya itu atas traktir Fifie yang tajir diantara mereka dan pada waktu itu adalah hari jadi Fifie.

       Labuan Bajo, sebuah kota kecil di ujung Flores, namun sudah menarik hati Bintang Bayern Muenchen Arjen Robben untuk kesana. Salah satu pulau dari 17.504 pulau Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kini menjadi destinasi pariwisata yang banyak dilirik para pelancong domestik maupun manca negara. Dalam sejarahnya, melansir dari Antara, jauh sebelum Indonesia berdiri, para pelaut ulung suku Bajo dari Goa Makasar bersandar disana. Melihat mirisnya keadaan masyarakat, menggugah rasa kemanusiaan yang ada. Dan senyum ramah penduduk asli, metrentramkan hati. Merasuk sampai relung terdalam hingga cinta bersemi. Suku Bajo itupun bukan hanya sekedar berlabuh di pinggir laut melainkan juga berlabuh di hati insan disana hingga  beranak pinak. Maka ketika para pelaut ulung tersebut membangun pelabuhan, untuk menghormati atas apa yang didapat para penduduk asli, pembaharuan nan hakiki, pelabuhan itupun diberi nama Labuan Bajo.

Diam diam kala Tedi menginjakan kakinya di Pelabuhan Bajo, diapun berharap cintanya pada Kalingga semakin bersemi dengan tak akan melewatkan membawa Kalingga ke bukit cinta. Beb pun terlihat memejamkan mata berharap dapat ke bukit cinta dan Bernad mengemukakan cintanya. Hal yang sama doa yang ada di hati Pupung, berharap Tuhan menjodohkannya dengan Fifi. Sementara Fifi sendiri berdoa agar pengharapan cinta yang ada di hatinya dimana selama ini terbungkus rapat dalam relung hati nan dalam, akan tersemai.

     Perjalanan yang di tempuh dari Jakarta ke belahan timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sedikit melelahkan. Namun kelelahan itu terbayarkan begitu tiba di Labuan Bajo. Sebuah pelabuhan kecil telah menyambutnya dengan nuansa langit bersiluet indah, menampakan perut bumi atas kuasa Illahi yang begitu menakjubkan.  Rasa lapar hilang andai perut perut dari gadis marathon Kalingga dan sahabat sahabatnya tersebut tidak berisik oleh lonceng  keroncong. Untung pula guide yang menjemputnya mengingatkan kalau waktunya tiba untuk di

antar makan ke  restoran Deckyard Bar & Restaurant. Merekapun mengikuti arahan guide yang memperkenalkan diri dengan nama Roman. Pupung yang memang  sudah lapar berat langsung makan lahap ketika sajian telah di meja. Sementara Bernad tampak sedang  menikmati matahari terbenam dengan sajian kopi Flores Arabika. Trio cewek kalingga, Beb dan Fifi langsung menikmati sajian sebagaimana Pupung, namun Tedi sibuk bertanya ini itu pada guide Roman. Barulah ketika Kalingga mengingatkan Tedi dan Bernad untuk makan, keduanya gabung.

 Langit mulai sedikit gelap,  merekapun beranjak menuju Hotel Bintang Flores Pantai Pede mengikuti arahan guide Roman yang telah pesan dua kamar triple. Satu untuk kaum adam dan satu untuk kaum hawa. Namun, sebelum mereka masing masing masuk kamar, membulatkan kesepakatan harus  bangun pagi lalu langsung ke Padar Island yang telah menjadi tujuan utama enam sekawan yang biasanya bermarathon kini menginjakan kaki di Pulau Komodo secara backpacker. Sejak di Jakarta mereka sangat penasaran  ingin segera berada di atas bukit  Padar Island yang selama ini hanya dapat melihat gambarnya.  Kemudian  memandang langsung indahnya laut serta pulau pulau lain yang ada di sekitarnya. Walau jalannya tidak terlalu terjal, untuk mencapai bukit ini membutuhkan waktu antara satu sampai satu setengah jam, bukan masalah bagi mereka yang masih muda apalagi mempunyai  kebiasaan  lari pagi bahkan bermarathon ria. Begitu semangatnya mereka untuk segera sampai di atas bukit Padar, setelah sholat subuh mereka langsung bersiap mendaki. Tak sabar rasanya trekking menuju bukit tertinggi dengan suguhan panorama perbukitan dan pemandangan yang sangat cantik sebagaimana cerita guide yang akan membawa mereka kesana. Teng Jam 05, Guide datang dan merekapun menuju Padar Island..

     “Taman Nasional Komodo  yang diresmikan keberadaannya  pada jaman pemerintahan president RI ke 6, Purn. Prof.  Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A.,GCB., AC. Yang lahir di Tremas , Arjosari, Pacitan – Jawa Timur, 9 September 1949. Dan oleh New7Wonders ditetapkan sebagai Heritage World setelah Halong Bay (Vietnam), Amazon (Amerika Latin), Pulau Jeju (Korea Selatan), Table Mountain (Afrika Selatan), Air Terjun Iguazu (Amerika Latin), dan Puerto Princea Underground River (Filipina). Tentu untuk mendapatkan paten keajaiban dunia, tidak serta merta begitu saja. Perlu perjuangan! Adalah bapak Yusuf kalla yang kala itu sebagai wakil president bersama tim nya berjuang bagaimana Taman Nasional Komodo tersebut masuk juga sebagai salah satu keajaiban dunia sebagaimana negara lain. Dari 400 peserta pendaftar menjadikan salah satu sebagai tempat keajaiban dunia, waktu itu susut menjadi 200 peserta, kemudian oleh para juri di perkecil menjadi 28 peserta. Dan dari ke 28 peserta, Pulau Komodo sebagai pemenangnya!” cerita guide Roman  yang membawa enam sekawan ini menuju Pulau Padar di pagi hari nan cerah itu.

     “Luar biasa bapak bapak bangsa kita ya.” Tedi menanggapi.

     “Yes, pak SBY itu suka berpuisi hingga kadang dibilang presiden melo. Gue mau buat puisi untuknya tentang Labuan Bajo!” Pupung menimpali.

     “Memang loe bisa? “ Beb meledek.

     “Eit, jangan salah, gue ini seorang penyair!” Pupung membusungkan dada. Namun tak lama kemudian ia menambahkan,

     “ Penyair buku harian. Hahahaha....”

     “Uhhhh...dasar tambun!” Fifie menonjok perut tambun Pupung. Namun walau bertubuh tambun, Pupung sangat lincah. Tonjokan Fifie tak mengena , dengan sigap tadi Pupung langsung mengeles. Merekapun tertawa. Sampai Beb terengah engah dibuatnya. Angin yang terus berlari dibawah fajar yang mulai tersenyum, kaki kaki nyang biasa menggowes itu terus mendaki dengan wajah ceria tanpa beban walau di pundak masing masing membawa beban perbekalan piknik.

     “Roman, masih jauh kah bukitnya?” Tanya Beb yag mulai kelelahan pada guide yang bernama Roman itu.

     “Tergantung jalannya nona. Kalau kita cepat, satu jam sudah sampai. Kalau lambat ya satu setengah jam!” Jawab Roman dengan logat asli Flores.

     “Ayo let’s go!” kata Beb tiba tiba penuh semangat. Lalu jalan mendahului teman temannya. Tentu saja teman temannya saling pandang. Tadi si Beb terengah engah tiba tiba jalannya lebih cepat dua langkah. Hal itu membuat teman temannya satu sama lain saling susul menyusul penuh semangat. Namun tiba tiba kala  puncak bukit sudah di pelopok mata, Fifi yang sejak naik bukit terus berjalan beriringan dengan Tedi, terpeleset, untung Tedi dengan tangkas cepat menyanggahnya.

     “Kenapa lo Fi?” Tanya Tedi cemas. Juga teman teman lainnya.

     “Aku sedikit pusing.” Jawab Fifi.

     “Perlu ditandukah?”  Roman Menawarkan tandu.

     “Tidak, tidak perlu.” Jawab Fifi cepat.

     “Baiklah kita istirahat sebentar. Mari kakinya saya pijat.” Roman menawarkan.

     “Tidak, tidak.” Jawab Fifi sambil memegang erat Tedi lalu katanya pada Tedi:

     “Kita jalan langsung. Aku berpegangan padamu ya?”

     “Wow, no problem nona manis. Tapi lo yakin kuat?” kata Tedi.

     Fifi  mengangguk sambil tersenyum.

     “Ayo lanjuttttt” Teriak Tedi dan mereka pun melanjutkan perjalanan mendaki menuju bukit pulau Padar.

Diantara tapak tapak kaki, celoteh dan canda mewarnai langkah mereka. Cuaca cerah sangat mendukung membangun suasana ceria. Pupung yang berbadan tambun, kadang kala menjadi obyek untuk digoda teman temannya, namun Pupung yang kocak selalu menangkis setiap kata yang menggelitik. Karena Pupung paham, kata yang terlontar diantara mereka adalah sebuah canda untuk membangun suasana gembira. Hingga waktu satu jam sungguh cepat dan tak terasa mereka kini berada di atas Padar Island. Lalu begitu mereka menapakan kaki di atas bukit, mereka berteriak dan berpencar memandang sekitar.

      “Masya Allah...cantiknya..”

      “OMG..Beautiful!”

      “Amazing!”

      “Exotic!”

      “Gila men..”

      “Bagus banget!”

Sementara yang lain bagai lapar mata, semua keindahan yang ada dilahap dengan ponsel ponsel yang mereka miliki, Fifi menarik tangan Tedi memintanya untuk di foto dari berbagai sudut yang ada disana. Lalu mereka berdua berselfi. Namun sedang asyiknya Fifi bergaya, tiba tiba mata Tedi melihat Bernad sedang foto bersama Kalingga di atas batu besar dengan latar laut yang dibawahnya terdapat  puluhan kapal pesiar serta pulau pulau sekitar, membuat mendidih hatinya. Tedi pun meninggalkan Fifi dan berlari ke arah Kalingga lalu memeluknya dari belakang.

      “Ih...apa apaan sih. Merusak suasana aja!” Kalingga mencoba melepas pelukan Tedi. Namun Tedi justrul mempererat pelukannya dan meminta Bernad untuk di foto. Membuat bias  wajah Fifi  mendung seketika. Padahal beberapa detik sebelumnya ia bergaya ceria. Dari kejauhan Pupung berlari dan mendekati Fifi . Mendung sedikit tersibak oleh celoteh Pupung yang mengajaknya berfoto ria. Dan Beb yang sejak awal terus memotret diri Bersama keindahan alam Padar Island , Labuan Bajo, setelah puas dia berlari dan bergabung dengan Kalingga, Bernad dan Tedi. Tak lama Pupung menarik lengan Fifi untuk dapat bergabung Bersama mereka. Akhirnya . Klik klik klik.. Ramon menjadi juru potret mereka, keluarga kecil 6 sekawan.

       Awan putih berarak di atas langit nan biru, laut terbentang dengan pulau pulau kecil ba’ lukisan, sungguh kuasa illahi yang tak dapat tertandingi. Pelukis maestro hanya dapat menggambar, tidak mencipta. Lukisan Allah sangat real dan dapat di rasakan seluruh element raga, dan dinikmati. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Padar Island hanya satu dari keindahan yang ada atas kuasa Tuhan. Mungkin dapat dikatakan ini adalah salah satu Surga dunia yang ada di Indonesia yang selama ini tersembunyi. Hingga tak banyak orang menjamahnya. Karena melihat belantara hutan dan tebing tak mudah membangun infrastruktur atas medan yang ada. Pulau Padar adalah sebuah pulau ketiga  yang terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo ini relatif lebih dekat ke pulau Rinca dari pada ke pulau Komodo. Walau harus ditempuh dengan berjalan kaki menuju bukit selama satu atau satu setengah jam, tak menjadikan para pelancong undur trekking. Karena perjuangan trekking mereka tak akan sia sia setelah berada di bukit.

Bersambung.....

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...