Gadis Gowes (17)

Gadis Gowes (17)
Gadis Gowes

      Setelah puas berfoto, merekapun melanjutkan perjalanan ke Pantai Pink. Sebuah pantai dengan pasir lembut berwarna pink dan pantai yang sedikit ombak.

     “Roman, tahukah kenapa pasir pasir ini berwarna pink ya?” Tanya Bernad ingin tahu.

     “Pasir ini adalah serpihan dari koral merah penuh Foraminifera.” Jawab Roman.

     “Apa tuh Foraminifera?” Beb menyelak.

     “Sabar nona, nanti aku bercerita lengkap!” Tampaknya Roman tak suka jika pembicaraannya di potong.

     “Sorry tuan Roman, Beb ini memang gitu orangnya. Tukang potong pembicaraan orang. Ayo lanjut ceritakan pada kami kenapa pasir ini menjadi berwarna pink.” Kalingga mencoba menetralisir dengan kata merayuk.

      “Baiklah.. “ Akhirnya kata Roman dan ia pun melanjutkan ceritanya..

      “ Pantai pasir pink orang menyebutnya Pink Beach ini berwarna pink oleh karena adanya Foraminifera, sebuah makhluk mikroskopik pemberi pigmen merah pada karang. Dalam pantai perairan Pink Beach,   banyak ditumbuhi terumbu karang cantik dengan warna warni,  ikan ikan tropis yang sangat indah. Formasi karangnya keras dan lembut. Kalian bisa Snorkeling jika ingin tahu lebih dekat, airnya dangkal dan ombaknya lembut.”

      “Mauuuuu” teriak mereka.

      “Sebelum kita menyelam, Roman foto kami ya.” Bernad memberikan ponselnya.  Lalu memberi aba aba pada teman temannya untuk berdiri sejajar.

      “Kita nanti lompat kompak pas hitungan ke 3 ya!” perintah Bernad pada teman temannya.

      “Pas kita lompat, tuan Roman langsung foto ya!” Kata Bernad pada Roman.

Roman menuruti dan paham akan kemauan clainnya. Bahkan dia foto mereka sambil tiduran di pasir, hingga hasil fotonya luar biasa indahnya. Mereka puas lalu memuji muji Roman. Yang dipuji,  tersipu sipu. Setelah itu merekapun bersnorkeling ria bersama guide yang sudah mendapat sertifikat pelatih snorkeling, sementara Roman menjaga barang barang bawaan mereka sambil melihat chat chat dalam WAnya. Lalu wajahnya tampak puas ketika melihat enam sekawanya muncul dari permukaan pantai dengan riang gembira. Rasa lelah tampak tidak dihiraukan mereka. Mereka terlihat benar benar sangat puas melihat keindahan dalam Laut Pink beach ini. Kelelahan baru terasa ketika mereka kembali tiba di hotel. Mereka langsung masuk kamar dan tidur. Namun, Pupung yang baru tertidur setengah jam itu terjaga. Dia segera keluar kamar dan menuju ke pinggir pantai. Di Lihatnya Roman sedang duduk duduk bersama teman guide lainnya. Pupungpun segera mendekat dan bergabung dengan mereka. Dia ingin tahu lebih jauh tentang Labuan Bajo...

    “Labuan Bajo asal kata dari Pelabuhan. Bajo itu sendiri ada nama salah satu suku yang ada di Goa, Makasar yang mendarat disini. Sebagai penghormatan kami suku asli pada mereka yang telah secara tidak langsung membangun ekonomi disini, maka pelabuhan ini dinamakan Labuan Bajo.” Salah satu Guide dari teman Roman bercerita.

    “Ternyata nama itu membawa berkah bagi kami. Hahaha. Puji Tuhan..” Guide itu tertawa sumringah.

    “Di pelabuhan itu dulunya tempat memasok ikan asin dari Ruteng buat penduduk. Kami hidup sangat kesulitan untuk sekedar mencari lauk. Jika memakai transportasi kaki, empat  hari dengan medan yang terjal, melewati hutan belantara, menyeberangi sungai dengan aliran air yang sangat deras.  Jika dengan perahu nelayan, bersiap nyawa menjadi taruhannya kala angin musim barat.” Tambahnya dengan mimik sedih. Pupung menjadi pendengar yang baik. Dia terus menatap Guide itu dan terus berharap mendapat cerita darinya tentang Labuan Bajo ini. Sesekali Pupung menulis sesuatu pada kertas yang dibawanya.

     “Kalau kau sekarang mau lihat kehidupan orang Labuan Bajo asli, bisa kami antar ke Pasar Wae Kosambi”  Roman guide rombongannya itu  menawarkan.

    “Dimana itu?” Tanya Pupung ingin tahu.

    “Dekat tepat wisata Gua Batu Cermin. Tak jauh dari Kantor Polres Manggarai Barat. Mudah dijangkau kok karena berada di jalan protokol.”

    “Siap. Kami backpacker, jadi bebas waktu. Hahahha” Pupung terus bertanya dengan penuh semangat. Walau mata tak dapat diajak kompromi.

    “Gua Batu Cermin semacam apakah?” Pupung ingin tahu dengan rasa kantuk terus bergelayut.

     “Sebuah bukit batu  tinggi. Orang tua kami bilang, bapak pastor Theodore Verhoven dari Belanda datang kesana untuk meneliti fosil fosil yang ada.”

    “Sebentar, kau bilang Theodore Verhoven ini seorang pastor, kok dia meneliti fosil fosil?” Pupung memotong cerita Guide Roman.

    “Walau seorang  pastor, Theodore Verhoven adalah  seorang arkeologi juga “ Jawab guide yang lain.

    “Oh gitu. Terus?” Tanya Pupung.

   “Dari apa yang bapak Theodore Verhoven teliti, katanya itu banyak bukti fosil fosil kalau  Gua Batu Cermin dulunya ada di dasar laut.Tandanya dapat dilihat dari sejumlah bagian dinding terbuat dari batu karang yang dapat menyimpan air di pori porinya hingga kau bisa lihat nanti ada pohon tumbuh di atasnya.luasnya 19 hektar dan tinggi mencapai 75 meter, namun kedalaman goa hanya 20 meter” Roman menarik nafas panjang. Membuat Pupung berkesempatan untuk bertanya.

      “Kenapa gua itu dikatakan sebuah bukit batu tinggi? ”

     “Ceritanya,  akibat gempa bumi, membuat gua menjadi naik ke atas hingga posisinya sekarang lebih tinggi dari pantai. “

    “Bagaimana kita bisa masuk ke dalamnya?”

    “Untuk masuk ada pintu dengan anak tangga di celah-celah gua. Tapi di pintu masuk area kau harus bayar dua puluh rebu.”.

    “Cingcay lah itu..lebih murah dari harga kopi. Hahahaha..” Pupung tertawa.

    “Oke terima kasih kawan. Mataku sepet sekali. Sampai jumpa besok pagi.” Pupung pamit lalu memberi salam hangat pada mereka. Kantuk yang mendera membuatnya harus pamit. Dia tidak mau mengecewakan rombongan akibat begadang dia bangun kesiangan. Namun sebelum tidur dia sempat menulis puisi di buku diary yang dibawanya.

      Keesokan harinya, mereka kembali bangun pagi. Di kamar kaum hawa, tampak Fifi sudah bangun lebih awal dan langsung bersolek. Sementara Beb masih malas malasan di atas tempat tidur. Kalingga keluar dari mandi. Keningnya berkenyit demi melihat sahabatnya bersolek. Karena tak biasanya dia bersolek.

     “Ehem, sudah cakep deh..” Goda Kalingga pada Fifi. Membuat yang digoda tersipu. Kalinggapun beralih ke Beb.

     “Hei Beb, ayo mandi. Fifi sudah cakep rambut  lo masih acak kadul. Nanti kami tinggal ya.”

     “Siap komandan..” Teriak Beb sambil lari ke kamar mandi.

     “Aku duluan break fast ya. Lapar nih.” Kata Fifi sambil memakai sepatu.

     “Jangan tinggalin gueee” Beb teriak dari kamar mandi.

    “Tenang Beb, ada gue.” Jawab Kalingga.

    “Silahkan duluan cantik.. biar aku yang menunggu Beb. Jangan sampai lo pingsan karena lapar!” Kata Kalingga pada Fifi.

    “It’s ok. Duluan ya..” Fifi berlalu keluar dengan ransel di punggung. Karena memang setelah sarapan langsung akan  berpetualang lagi menjajahi wisata Labuan Bajo.

Namun sesampainya Fifi di resto, tampak ruangan masih kosong. Padahal dia berharap sudah ada orang disana, sang primbon Tedi. Dengan sedikit berbalut kecewa, dengan gontai  Fifi berjalan menuju bangku yang ada di pojok.

     Tak lama kemudian Pupung datang dengan wajah segar walau semalam sempat tidur terlambat.

     “Hai cantik..” sapa Pupung pada Fifi yang lebih dulu datang ke resto itu. Yang disapa cuwek aja. Harapan yang datang terlebih dulu Bernad, pupus sudah.

     “Tumben lo dandan. Gue suka lihatnya. Lo glowing gitu. Topi lo juga macing sama sepatu. Keren abiz..” Pupung mengambil tempat duduk di samping Fifi. Namun Fifi tetap cuwek.

      “Putri cantikkk.. kok diam aja?” Goda Pupung.

      “Ih, cantik cantik kok bisu? Lo nggak tuli kan?” Lanjut Pupung.

      “Iiih... apaan sih. Lo ganggu gue aja deh.”  Fifi menjawab dengan  sedikit sewot.

    “ Oh... merasa terganggu? Kan disini nggak ada siapa siapa, hanya kita berdua. “     Pupung terus menggoda.

      “Udah deh, jangan bikin bete gue!”

     “Fi, beri kesempatan gue dong. Gue cinta banget sama lo.” Tiba tiba Pupung begitu saja menyatakan cintanya pada Fifi, seperti orang kebelet.

     “What?” Fifi berdiri sambil mata melotot.

     “Suer Fi, gue nggak main-main. Kita kan sama sama warga negara keturunan. Dan loe juga tahu nyokap bokap gue juga pengusaha. “

     “Eh, lo jangan berpikiran rasis, harus kawin dengan sama sama keturunan. Kita ini sudah jadi anak Indonesia. Gue tidak merasa gue anak keturunan China. Gue anak Indonesia. Dan loe maksudnya apa bilang nyokap bokap loe juga pengusaha? Loe pikir gue matre? “ dengan nada tinggi penuh emosi meluncurkan kata tanpa titik koma yang membuat Pupung terbengong. Tak biasanya Fifie seperti itu.

    “Sorry, nggak ada maksud gue bersifat rasis.  ” Pupung mencoba meredakan emosi Fifi.

    “Udah deh, jangan loe beralibi dan..” belum lagi Fifi melanjutkan bicaranya, datang suara Tedi menyapa.

Bersambung...........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...