Gadis Gowes (15)

Gadis Gowes (15)
Gadis Gowes

“Kenapa Kalingga cuti kuliah?” Tanya ibu secretariat. Bagai di sambar petir di siang bolong, Tedi langsung loncat mendapat pertanyaan itu. Begitupun dengan teman teman yang lain, semua terkejut ketika Tedi mengabarkan kalau Kalingga cuti kuliah. Merekapun segera berkumpul di ruang himpunan.

     “Ada apa tuh anak. Tak biasanya dia ambil keputusan tanpa bicara dulu sama gue.” Ujar Bernad.

      “Coba cek hand phone masing masing apakah ada kabar dari Kalingga.” Kata Pupung dan merekapun membuka layar kecil masing masing.

      “Ya Tuhan.” Teriak Bernad.

      “Kenapa Nad?” Teman temannya ingin tahu.

      “Semalam rupanya Kalingga beberapa kali menghubungi gue. Ya ampun.. kenapa gue nggak denger.” Bernad memukul kepalanya sendiri.

      “Ya ampun nad, masa kuping loe budeg?”

     “Gue ketiduran.”

     “ini masih jam 7 malam, loe sudah tidur?” Kata Tedi yang merampas Hand Phone Bernad dan melihat jam berapa Kalingga memnghubungi Bernad.

      “Duh, tidak biasanya gue tidur sore sore.” Bernad menunjukan penyesalan yang sangat dalam sambil memukul berkali kali kepalanya.

     “Dasar bodoh, bodoh, bodoh..” teriak Bernad.

    “Ya sudahlah, hal sudah terjadi tak usah di sesali tapi sekarang kita cari solusi!” Kata Fifie. Mendengar suara Fifie, Bernad mendekati Fifie.

     “terima kasih ya sudah bantu gue.” Ujar Bernad pada Fifie.

     “Gue jadi bisa lolos dari makalah keterlambatan bayar kos.”

     “Hah? Maksud loe apa? “

     “Bukan loe datang ke tempat kos gue dan bayarin bulanan gue?”

     “Gue yang datang.” Beb menjawab pertanyaan Bernad sebelum Fifie menjawab.

Bernad hanya dapat terpana akan jawaban Beb. Akhir akhir ini Beb menurut Bernad bersikap aneh. Tidak biasanya. Dan mau apa pula dia ke tempat kos?

     “Kebetulan gue lewat, dan dengar percakapan loe sama ibu kos, “ lanjut Beb.

    “Kebetulan?” Pikir Bernad. Nggak mungkin jika hanya kebetulan dia mendengar percakapan itu.

     “Kuya, kenapa loe bengong begitu sih? Bagaimana soal keberadaan Kalingga? Kita seperti anak ayam kehilangan induknya.” Pupung menyadarkan Bernad dari terpana. Secepat kilat ia menguasai diri lalu mengajak teman temannya berembuk bagaimana caranya menemukan Kalingga. Harapan satu satunya adalah mencari tahu pada Rani, teman es em penya itu. Namun sangat sulit ditemui. Telepon maupun chat Bernad tak di jawabnya. Di cari ke fakultasnya, tak ada juga batang hidungnya. Hingga akhirnya Bernad kembali ditugaskan teman temannya untuk mencari Rani sampai ketemu. Namun secara diam diam Tedi melakukan penceharian sendiri.

       Harapan itu pupus. Ambisinya untuk menjadi gadis gowes terkenal hanya menghasilkan penyesalan yang menyesakan dada. Kalingga berandai, jika dulu ia  fokus belajar dan masuk kelas akselerasi,  tahun ini sudah wisuda, bukan menikah. kejadian ini bisa dicegahnya. Keambiusan diri menjadi gadis gowes dengan mendapatkan  berbagai penghargaan, menjadikan Kalingga lupa jika  lembaran harinya  menguras lumbung padi. Bapak hanya seorang petani yang penghasilannya menunggu musim panen tiba sementara iuran sekolah harus dibayar setiap bulan ditambah keperluan harian dengan 2 anak  membuat bapak gali lubang tutup lubang. Apalagi jika paceklik melanda oleh kemarau panjang dan serbuan hama ke padi siap panen, nyaris tak bisa tutup lubang.  Namun nasi telah menjadi bubur, kenyataan kini Kalingga menjadi tumbal agar lubang hutang tertutup.  Kalingga harus menikah dengan anak semata wayang rentenir yang telah meminjamkan uangnya pada bapak dan tak terbayar walau sawah sudah di lepas pada sang rentenir.

        Sementara itu ketika para sahabat Kalingga berputus asa mencari Kalingga sampai larut malam tak juga ketemu, mereka semua balik ke tempat kos masing masing dengan catatan, kecuali Tedi. Ia menggowes sepedanya menuju ke suatu mall. Kalingga pernah cerita padanya kalau Rani suka masakan Jepang. Uang sebanyak 30 juta pun Rani serahkan di restoran Jepang. Tedi tak dapat menerima Kalingga cuti kuliah. Kalingga tak pernah sekalipun ada masalah dengan mata kuliah apalagi remedial. Kalingga bukan saja memiliki power dalam kepemimpinan, dia pun berotak cerdas. Tedi pernah berhutang budi juga ketika jatuh sakit dan tugas tugas belum dikerjakan, Kalinggalah yang menuntaskannya dan mendapat nilai A. Dan walau antara Tedi dan Kalingga sering tak klop dalam banyak hal oleh karena Tedi menyukai pada masalah masalah berbau klenik sementara Kalingga adalah tipe perempuan yang selalu berpikir dengan mengedepankan logika.

Bersambung.....

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...