Gadis Gowes (14)

Gadis Gowes (14)
Gadis Gowes

Wanita itu memang sangat bermurah hati pada anak anak yang bernaung di tempatnya itu. Sebuah rumah kos dimana banyak mahasiswa dari berbagai daerah indekos di tempatnya. Tidak pandang pilih siapa saja boleh menempatri kamar kamar yang dibuatnya dua lantai itu. Dan tak ada kata silahkan pergi walau pemburu ilmu itu selalu bayar bertempo kadang tempo pertama berubah menjadi tempo kedua bahkan ke tiga. Namun bukan berarti wanita paruh baya ini tak memberi sangsi. Walau hatinya bersih dari noda pikiran kapitalis, dan bersifat sosialis, dia bukanlah penganut Marxisme. Ibu paruh baya ini sangat religius dan percaya pada Tuhan yang Maha Kaya dimana investasi kebajikan yang dilakukannya akan mendatangkan kekayaan lahir bathin, dunia akhirat.

Untuk itu setiap mereka yang menunggak pembayaran kosnya, maka diberi sanksi membuat sebuah resume dari buku pelajarannya. Tak ada ultimatum pengusiran. Yang ada mereka  hanya pergi menjalankan “tugas” yang kadang dilakukan di kamarnya dan banyak juga di  perpustakaan. Dan itu tak diketahui para pemilik rumah rumah kos di seputar daerah itu.  Sehingga gosippun berkembang kalau ibu kos berstatus  janda, doyan daun muda. Dan memanfaatkan pengekos yang nunggak untuk membayar dengan asmara. Tuduhan palsu yang hanya dianggap angin lalu olehnya. Darah ningrat yang ada padanya menjadikannya mengukur diri dalam berucap dan bertindak. Wajahnya selalu membiaskan ketenangan bak air danau.

Suatu hari, datang seorang satpam dengan sepeda bututnya dan meminta dirinya untuk ke kantot er we, dengan penuh senyum ia mematuhinya dengan berjalan kaki. Namun betapa terkejutnya dari kejauhan terlihat sudah banyak orang berkumpul di kantor er we.  Ternyata hari itu adalah hari yang tak pernah ia lupakan. Bagai seorang pesakitan, dirinya dicecar berbagai pertanyaan oleh pak er we, atas laporan warga yang mengatakan bahwa rumah kos yang dibangun khusus pria itu dibuat mesum olehnya. Mereka yang menunggak bayaran, harus membayar dengan memberi kepuasan.

      “Apakah bapak melihat saya seperti wanita jalang? Apakah bapak bapak dan ibu ibu pernah pergoki saya bergumul di kamar dengan mereka? Tak perlu pak er te terus mencecar saya dengan berbagai pertanyaan yang menggelikan itu. Lebih baik pak er te ikut saya sekarang.” Jawab ibu kos dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat kepala pak er te menggeleng beberapa kali. Tak banyak cakap lagi, ibu kos bangun dari duduknya tak lama kemudian pak er te dan satpam mengekor. Merekapun berjalan dengan pandangan penuh tanya dari warga. Pak er te  di ajaknya ke suatu ruang gudang yang ada di ruang yang mirip perpustakaan, terletak 

     “Silahkan bapak lihat isi kamar ini!” Ibu kos membuka pintu dan mempersilahkan pak er te serta staf masuk.

     “Maksudnya apa ini bu?” Tanya pak er te tak mengerti demi melihat deretan kertas kerta berjilid tersusun rapih di rak kayu jati.

     “Ambilah salah satu dan bacalah!” Jawab ibu kos. Dengan sedikit agak ragu pak er te mengambil salah satu kertas ukuran folio yang dijilid tersebut. Lalu dibacanya dengan seksama. Betapa ia tercengang.

     “Jadi..?”

    “Ya, itu cara saya mendenda mereka yang menunggak bayar kos! Setelah 3 bulan mereka harus membuat skripsi menunggak!” Jawab ibu kos tegas. Merah padam wajah pak er te yang langsung menjadikan ibu kos bagai seorang pesakitan depan para warga tanpa investigasi terlebih dahulu atas laporan warga.

Dalam lembaran terjilid tersebut tertulis judul, hari, tanggal dan tahun pembuatan. Tentu nama penulis lengkap dengan foto berartibut universitas mereka terpampang juga dengan menulis dibawahnya , jika ada uang segera membayar.

     “Mereka itu para intelektual calon pewaris negeri. Tak pernah terlintas dibenak saya seperti yang di tuduhkan kepada saya. “

Pak er te dan staf serta satpam itupun menunduk malu dan pamit pulang.

---

        Setelah mandi, Bernad mendekati seniornya Abdul yang sekamar yang sedang asyik mengusik lembaran demi lembaran buku. Bernad menebak pasti ia sedang mendapat proyek. Dilihatnya cangkir kopi depan Abdul sudah kosong. Bernadpun membuatkan kopi untuknya.

      “Bang kopi.” Ujar Bernad sambil meletakan secangkir kopi di meja Abdul.

      “Tumben loe. Nggak ada hujan nggak ada angin,  buatin kopi buat gue.”

      “Hehehe…abang lagi ada proyek ya?”

      “Kenapa memangnya? Mau ngebon?”

      “Kalau boleh bang. Tadi bu kos udah nagih.”

     “Berapa bulan belum bayar.”

     “Hanya 2 bulan bang.”

     “Tunggu saja sampai 3 bulan biar loe buat skripsi menunggak.”

    “Jangan gitu dong bang..please..pasti dibayar deh.”

    “Tampang aja loe   kayak Tom Cruise. Dompet bokek!”

     “Hehehe…”

     Abdul membuka laci kemudian mempersilahkan Bernad mengambil uangnya disana.

     “Bener bayarin ya jangan loe buat ngajak Rani ke café!”

     “Abang gue memang super baik.” Bernad memeluk Abdul dari belakang setelah itu ngacir turun untuk bertemu ibu kos. Namun betapa terkejutnya Bernad ketika memberikan bayaran uang kos tersebut ibu kos mengatakan sudah di bayar.

      “Sudah di bayar?” tanya Bernad heran.

     “iya sudah di bayar.”

     “Oleh siapa?”

    “Oleh siapa ya Namanya tadi?” Ibu kos coba mengingat nama yang membayarkan tunggakan kos Bernad.

   “Ah…pokoknya wong wedo. Pas kamu naik ke atas dia datang dengan sepeda.”

Mendengar kata sepeda, Bernad paham. Pasti dia adalah salah satu temannya. Tapi siapakah dia? Apakah si tajir Fifie? Tebak Bernad.

     “Baiklah bu. Terima kasih banyak.” Bernad pamit dan mengembalikan uang Abdul kembali.

      “Lho, kok loe kembaliin?”

     “Si tajir Fifie sudah bayarin.” Jawab Bernad singkat lalu ia merebahkan badannya di atas tempat tidur yang hanya pas untuk sebadan itu. Tak lama Abdul mendengar dengkurnya. Bernad langsung terlelap.

     Sementara itu Kalingga jauh di kampung sana tidak dapat memencingkan matanya. Sejak tadi ia berselimut resah gelisah. Bayang tempat curhatnyapun datang. Dalam bimbang hati, Kalingga akhirnya mencoba menghubungi sahabat tempat curhatnya, Bernad. Namun beberapa kali ia telpon, Bernad tak mengangkatnya. Mungkin dia sedang bermimpi berdansa dansi dengan para gadis. Pikir Kalingga. Kalinggapun melempar hand phonenya ke atas tempat tidur lalu menggowes ke pematang sawah dengan sepeda ontel milik bapaknya.

     Di tengah pematang sawah itu, tampak gerimis melanda area pipinya. Sawah hasil turun temurun keluarga bapaknya itu telah tergadai untuk dia kuliah. Kuliah belum usai, bunga sudah segunung dan sulit didaki. Yang membuat sesak dada, bunga akan terhapus dengan satu syarat, Kalingga menjadi pengantin perempuan bagi anak semata wayangnya! Kalingga pun berteriak marah pada Tuhan yang menurutnya telah berbuat tidak adil terhadap dirinya serta keluarganya. Orang tua yang menginginkan anak anaknya sekolah tinggi harus dibenturkan pada rentenir. Membiarkan leher terjerat nyaris tak ada pita suara. Sampai jelang fajar, Kalingga belum juga hengkang dari pematang sawah. Andai ibunya tak datang menyusul, mungkin Kalingga akan tetap disana. Maka usai peluk tangis diantara anak ibu itu meninggalkan pematang sawah.

       Pagi itu entah mengapa Tedi sudah berada di ruang sekretariat himpunan. Sudah dua hari Kalingga tak berkabar. Di tatapnya tulisan Kalingga di white bord “Gue mau mencari ruang dan waktu. Sendiri. ”  Tedi terus bertanya ada apa dengan Kalingga? Keadaan terakhir mereka kumpul tak ada sedikitpun bahasa tubuhnya yang  beda. Semua sama seperti hari hari sebelumnya. Penuh canda gurau dengan memuntahkan optimisme  dan logikanya. Mata indahnya tak sedikitpun terlihat adanya kesedihan. Bahkan sebelum menghilang, Kalingga menggores warna Pelangi diantara mereka. Sangat aneh jika Kalingga pamit seperti itu. Awalnya Tedi dan teman teman  menganggapnya tulisan Kalingga di white bord adalah sebuah lelucon.  Kalingga sedang memainkan trik “April Mop.” Sebagaimana terjadi di negara Kanada, Prancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat yang memainkan lelucon secara bebas sepanjang hari. Tidak harus di bulan April sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Hingga mereka sepakat membalas tulisan lelucon Kalingga dengan menulis lelucon yang ada di kepala mereka. Bahkan  diantara mereka terinspirasi mengadakan festival kuno seperti Hilaria sebagaimana orang Roma mengadakannya – dimana peserta festival diwajibkan memakai pakaian yang mengaburkan identitasnya. Inspirasi yang datang di otak Pupung, disambut oleh teman temannya  sebagai ide yang cemerlang. Dan pastinya akan menjadi ajang keseruan luar biasa. Mereka sudah membayangkan betapa antusiasnya sambutan para anggota himpunan atas acara yang mereka gagas itu.

Merekapun segera membuat konsep, mencari tanggal dan bulan yang tepat, menyusun acara sampai mengumpulkan nama nama yang akan diundang ke festival itu. Ini akan menjadi kejutan buat Kalingga! Teriak mereka. Sangking begitu antusiasnya akan membuat kejutan untuk Kalingga, mereka tak sadar petang itu telah berganti malam. Dan Kalingga tidak datang. Para sahabat membiaskan wajah resah. Merekapun masing masing melihat hand phonenya. Pikiran mereka sama:  Siapa tahu  Kalingga chat mereka. Namun, mereka harus gigit jari hand phone mereka  nihil dari chat Kalingga. Mereka mulai cemas. Terutama  Tedi. Beb teman sekamar Kalingga menjadi sasaran pertanyaan demi pertanyaan dari Pupung dan bernad, Tedi dan Fifi. Pertanyaan pertanyaan mereka ada yang bersifat curiga, hingga  Beb marah karena dianggap sebagai  seorang pesakitan.  Namun Tedi langsung meredakan emosi Beb dan teman temannya. Hingga akhirnya memutuskan pergi mencari tahu ke sahabat es em pe Kalingga, Rani.

Tedi terus menatap white bord itu dan mencoba menelaah kata demi kata yang ringkas itu secara spiritual.  Tedi, mencari makna  apa yang ditulis Kalingga. Tedi sempat berpikir apakah Kalinggapun mengalami gejolak hati sebagaimana yang di alami Tedi hingga ia memerlukan kesendirian dalam menata hati.  Tedi pun maklum, hal yang logis jika Kalingga menulis seperti ini. Sebagai manusia  pada saat saat tertentu memerlukan privaci diri.  Siapa tahu Kalingga ingin menemukan titik dimana dia  bisa mengeluarkan karya. Kalingga memang  sangat piawai menyembunyikan perasaan. Tedi pun keluar dari ruang himpunan lalu bertemu ibu secretariat. Tak dinyana, ibu secretariat menarik pergelangan tangan Tedi untuk sedikit minggir.

Bersambung.......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...