Gadis Gowes (13)

Gadis Gowes (13)
Gadis Gowes (13)

Kalingga tepuk jidat dan tak berselera lagi makan paha ayam itu. Dia hanya menjawab dengan senyum getir. Dan rasanya membosankan ngobrol dengan Beb. Kalinggapun  pamit karena harus ke lantai 2 juga untuk mengembalikan buku yang di tangannya. Wajah Beb sedikit kecewa namun Kalingga memberi alasan kuat untuk dia harus balik ke lantai dua. Merekapun berpisah.

     Sesampainya di lantai dua, Kalingga melihat senior Abdul masih setia di tempat tadi dia duduk. Abdul pun  tersenyum serta melorotkan kaca matanya kala Kalingga datang kembali dan duduk di hadapannya.

         Tiba tiba langit biru tertutup awan hitam  tebal. Mentari yang sejak tadi malu untuk tersenyum pun menghilang. Kilat petir datang bersamaan dengan suara gemuruh. Kalingga menengok jendela kaca. Tampak  dari arah timur terlihat hujan berlarian  lalu menetes deras di samping jendela. Samar dilihatnya sosok Beb berjalan gontai.

        Entah apa yang ada di kepala Beb. Dia biarkan diri diguyur hujan.  Sementara  angin pun begitu kencang berhembus. Suara petirpun saling sambar menyambar. Walau Kalingga bukanlah seorang kekasih Beb, namun cintanya pada Beb bagai cinta pada kekasih.  Beb telah menjadi bagian dari hidupnya. Kalinggapun segera berlari ke Abdul.

       “Bang, tolong. Tolong!”

Abdul yang tak paham dengan napa yang dikatakan Kalingga, dia dengan santai hanya melorotkan kaca matanya.

       “Tolong apa?”

       “Telpon Bernad. Telpon Bernad.”

       “Kenapa harus telpon?”

Kalingga menarikn Abdul untuk berdiri dari tempat duduknya dan menengok ke arah jalan dimana Beb melangkah gontai dibawah derasnya hujan dan petir yang bersahutan.

     “Itu, itu Beb. Tak mungkin kan aku kesana?”

     “Kenapa dia begitu?”

    Kalingga tak peduli dengan pertanyaan Abdul, namun ia terus memohon mohon agar Abdul segera menelpon Bernad teman satu kamar. Abdul pun segera mengeluarkan HP jadulnya yang ada di saku baju. Namun, yang ditelpon memberi jawaban yang menjengkelkan. Abdulpun berteriak kencang yang membuat seisi perpus menengok ke arahnya. Tak lama satpam datang dan meminta Abdul untuk keluar.  Namun, Abdul tak terima di usir. Bola mata di balik kaca mata tebalnya hampir keluar menatap satpam tersebut.

     “Aku lagi minta pertolongan.  Di luar sana seseorang akan bunuh diri!” Seiring pertengkaran Abdul dan satpam , Kalingga bergegas turun sambil menelpon semua teman temannya. Tak lama Abdul pergi ke locker untuk mengambil tas karung goninya.

      Kalingga dan teman temannya dengan jas hujan menggowes sepeda menuju dimana Beb berada. Namun sesampainya disana, Beb sudah dalam gendongan Bernad. Kalingga menghela nafas panjang dan hatipun merasa lega.

      Keesokan harinya, Beb terkejut kala membuka mata. Tempat tidur Kalingga kosong dan dilihatnya ada secarik kertas. Beb pun membaca tulisan dalam kertas itu. “Aku harus pulang kampung”.

      “Kenapa mendadak?” Beb bertanya pada diri. Iapun hanya dapat menatap surat itu dengan duduk di pinggir pembaringan.

       Sementara itu, di dalam bus tampak Kalingga menembus pandang kaca   menerawang, hati terbelah. Cinta itu abstrak sulit ditulis nyata. Kedekatannya dengan Bernad dirasakan tentram dan nyaman. Setiap permasalahan, dipaparkan solusi yang masuk dengan logika Kalingga. Namun dalam renungan, tersibak wajah Tedi dengan lontaran syair dan puisi yang terus mencoba menembus jantung hati dengan gaya seorang pujangga. Waktu itu   dibawah temaram sinar bulan dan kerlap kerlip bintang di langit, Kalingga sempat terpaku mendengar Tedi bersyair tentang sang Khaliq atas kuasanya yang kadang tak terjangkau nalar. Sekali dengan nyata pula di hadapan Kalingga Tedi bersyair tentang cinta dengan mata menatap penuh harap pada Kalingga. Hati Kalingga pun pernah merasakan kehangat di bukit kaki gunung. Sementara dingin menggigit sampai tulang sumsum, bibir  terasa beku, syair Tedi memberi kehangatan.

Waktu ombak berkejaran di hamparan laut rupawan pantai Kuta,  ketika Kalingga duduk sendiri di sudut ruang himpunan maupun menepakan kaki di lorong kampus, Tedi selalu mencuri waktu dengan syairnya. Kalinggapun menarik dari pandang tembus kaca beralih pada hati berada dan berbisik,  duhai Kalingga, mengapa pada waktu diujung senja dan engkau tak akan lagi memeluk mentari dalam canda, baru tersadar? Tanya diri yang selalu berlogika dalam setiap lontar kata kehidupan.  Kalingga menyudutkan diri pada ruang penyesalan ketika inti stabilitas insting sangat kuat terhadap sang fenomena yang tak mampu di cerna. Sebutir Mutiara jatuh bersamaan hadirnya kilat dari langit yang mengagetkan. Di luar jendela, rintik hujan tiba tiba begitu deras.  Biru langit tertutup gumpalan gumpalan awan hitam. Walau gemuruh itu terjadi di dalam awan dengan radius jangkauan ribuan kaki, suaranya sangat menakutkan. Dan pada jiwa yang tak tenang itu, seakan terdengar rintih hati oleh tancapan belati. Cinta tak berlogika. Cinta terasa bias.  Kala mekar seakan itu kelekar. Kala kuncup,  hati tak sanggup terdekap rindu. Hati bagai berselimut kabut dalam bentuk angka dan logika. Sangat sulit melihat sahabat.. deru mesin cinta datang kala sendiri dalam sepi membayang hari hari dalam indahnya rajutan kebersamaan persahabatan. Sejumput senyum pada bibirnya nan ranum mengingat berebut ikan asin kala makan bersama dalam sebaskom nasi, usai membagi sembako di kolong jembatan. Dan sewaktu keselak , dengan reflek Tedi mengasongkan air minumnya lalu begitu saja Kalingga meminum air dari gelas Tedi.  Waktu Kalingga menangis oleh kenyataan mata memandang kehidupan anak anak di kolong jembatan, Tedi segera menghapus air mata itu. Kalingga menarik nafas Panjang kemudian kembali menatap keluar jendela, terlihat seseorang berjalan di atas trotoar yang tergenang air semata kaki. Jas hujan membungkus badannya walau berpayung.  Tiba tiba datang angin kencang dan orang itu tak mampu mempertahankan pegangan payungnya. Payung itupun terbang. Kalingga terhentak teringat Beb. 

      “Oh Tuhan.” Dada Kalingga terasa sesak. Namun lebih sesak lagi ketika sudah sampai di rumah, orang tuanya mengabarkan kalau dirinya sudah dilamar.

      “Di lamar?” Kalingga terkejut  begitu orang tuanya memberitahu alasan mengapa lamaran itu terjadi. Kalinggapun dengan lunglai pergi ke kamarnya langsung melemparkan diri ke pembaringan.

      Di ruang himpunan, suasana terlihat hambar tak ada gadis gowes Kalingga. Inspirasi mereka terasa buntu. Sinfony indah yang terbangun dari sebuah persahabatan seakan terkoyak.

     “Ruangan kenapa sepi seperti di kuburan?” Pupung membuka suara.

     “Hallo hallo, dengar nih yang gue baca  dari buku Kafka on the Shore.  Haruki Murakami punya. Dia bilang,

     “..Siapa pun yang jatuh cinta adalah mencari bagian yang hilang dari diri mereka sendiri.”

      “Apa sih. Nggak banget!” potong Fifie. Pupung tak peduli dia lanjut bicara.

      “Jadi, siapa saja yang mencinta pasti akan bersedih ketika mereka memikirkan tentang kekasih mereka yang bersedih.”

      “Eh kuya, jangan nyindir.” Kata Tedi.

     “Lho? Memang loe lagi sedih?”

     “Lah iyalah.. do’i menghilang tanpa pesan.”

     “Iya masa sih kita mau diam saja?” Bernad menyambung. Kemudian mendekati Beb, teman sekamar Kalingga.

       “Beb, selain pesan di selembar kertas, dan di White Bord Kalingga tak bicara apa apa?” tanya Bernad. Beb menggelengkan kepala. Bernad mencoba mengingat apa yang dikatakan teman sekamarnya, Abdul.

       “ Oh ya, Abdul pernah bilang  sama gue, kalau Kalingga sering ke perpus. Dan anehnya yang dibaca buku hukum adat.”

       “Wah, pasti ada hubungannya dia pulang kampung.”  Tedi mencoba menebak.

       “Coba deh Beb, loe telpon lagi Kalingga.” Lanjut Tedi.

      “Off!” Pupung yang menjawab.

      “Kita cari tahu ke Rani, siapa tahu Kalingga berkabar sama Rani, teman es em pe di kampungnya.” Kata Bernad.

      “Alasan. Bilang aja pingin ketemu Rani.” Komentar Beb dengan menyimpan kecemburuan.

      “Ya sekalian lah..” Jawaban Bernad membuat merah padam wajah Beb. Bernad benar benar tak merasakan apa yang Beb rasa. Untung teman temannya tak begitu memperhatikan Beb, hingga Beb dapat menarik nafas lega. Merekapun langsung menggowes sepeda menuju dimana biasanya Rani nongkrong. Namun yang di cari tak ada. Akhirnya mereka gowes sepeda mengelilingi danau lalu bubar.

     Wanita paruh baya berbalut kebaya dan  kain batik pesisir, rambut  bersanggul tanpa sasak, pada daun telinga memancar sinar Mutiara, tersenyum melihat Bernad datang dengan baju yang basah oleh peluh.  Melihat senyum wanita paruh baya yang  bagai pelangi melingkar memberi warna ceria sedikit memberi adem hati. Bernadpun menghampiri lalu dengan lirih mengucapkan kata tempo.

    “Belum ada kiriman tokh?” tanya wanita paruh baya itu. Bernad manggut. Bibirpun memulas senyum malu.

   “Cepat ganti bajumu, nanti masuk angin.” Lanjut wanita paruh baya yang membuat Bernad langsung ceria dan bergegas ke lantai dua dimana tempatnya bernaung sejak kuliah.

Bersambung......

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...